Sejenak Perenungan Hidup

source: Rumah Pintar Kembahr

Untuk jiwaku, yang sekarang sedang gundah, yang sekarang sedang gelisah…

Gelisah karena kau ingin segera tahu nasibmu kelak.. Apakah kau bisa membahagiakan keluargamu atau tidak? Apakah kau bisa membahagiakan orangtuamu atau tidak? Apakah kau bisa membahagiakan orang terkasihmu atau tidak?

Sabarlah wahai jiwaku, upaya hari ini memang bukan untuk kau tuai hari ini. Kau diciptakan untuk jadi orang besar, untuk jadi penerang disekitarmu, karena sebagian cahaya ada dalam dirimu.

Jiwaku yang sedang berhenti dan bingung.

Jika kau memang mau, berhentilah sejenak, nikmati kesedihanmu, rasakan kelelahanmu. Karena mungkin selama ini aku memaksamu terlalu keras. Tapi aku minta, jangan terlalu lama, karena aku membutuhkanmu, temanku membutuhkanmu, orang-orang terkasihmu membutuhkanmu.

Mereka rindu dengan diriku yang telah kau buat menjadi hebat, menjadi besar, menjadi pemimpin atau pemberani yang sering mereka lihat selama ini. Mereka ingin bertemu lagi dengan diriku yang telah kau buat menjadi penyemangat bagi orang lain, inspirator bagi kawan dan juga mentor bagi diriku sendiri dan orang terdekatku.

Selamat menikmati waktu istirahatmu wahai jiwaku… esok atau mungkin lusa atau mungkin kelak hari, ketika kau sudah siap menemaniku lagi, aku akan menyambutmu dengan diri yang lebih bijak dan tangguh, diri yang tak banyak mengeluh dan lebih mawas.

Dan saat itu, kau bisa menemaniku lagi untuk berbuat sesuatu hal yang membuat orang berdecak kagum. Dan saat itulah kita bisa menunggu hasil kerja kita dan kita tuai bersama hasilnya.

Dari Diriku..untukmu Jiwaku…

Pengorbanan

In order to get something, you have to sacrifice something equal.

Pernah dengar quote diatas? Bagi yang belum pernah dengar, quote diatas merupakan postulate (kalau boleh saya menganggap demikian) untuk melakukan transmutasi benda dalam dalam Full Metal Alchemist. Apakah saya akan memberikan langkah-langkah untuk melakukan transmutasi pada postingan kali ini? Tentu saja tidak. Selain karena saya bukan pendukung Mr. Lamarck dengan teorema transmutasi makhluk hidupnya, saya juga tidak terlalu menguasai dengan segala yang berhubungan dengan biologi. Lalu apa yang akan saya bahas disini? Kebenaran dari postulate di atas! Tentu diluar aspek alkimia dan sejenisnya.

Saya teringat lagi dengan quote diatas (salah satu quote favorit saya) ketika beberapa teman saya meminta bantuan untuk mengerjakan tugas mereka. Permintaan mereka sama, bagaimana agar tugas itu selesai, namun pengorbanan yang dilakukan tentu saja berbeda. Saya mengklasifikasikan menjadi 3 macam:

  1. Buddy. Jenis yang pertama ini memanfaatkan pertemanan untuk keuntungan mereka. Biasanya mereka akan meminta dengan muka memelas untuk dibantu mengerjakan tugas. Parahnya, pada akhirnya saya bukan sebagai advisor, yang memandu mereka dalam mengerjakan tugas. Tapi sebagai orang yang mengerjakan tugas itu sendiri. Dan rata-rata orang indonesia masuk ke dalam kategori ini. Apa yang mereka dapat? Nilai. Selebihnya? Nothing. Dan percayalah, tugas boleh jadi selesai, tapi pada saat exam, saya hampir yakin mereka akan kesusahan.
  2. Client. Tipe yang satu sedikit lebih baik dari tipe pertama. Setidaknya mereka memberikan imbalan untuk apa yang saya lakukan. Akan tetapi sama seperti tiper pertama, mereka tidak akan mendapatkan ilmu apapun dari tugas tersebut. Rata-rata orang Arab masuk ke dalam kategori ini.
  3. Partner. Ini adalah jenis orang yang paling saya suka. Mereka ikut andil dalam penyelesaian masalah. Sehingga setidaknya mereka juga mengetahui bagaimana tugas itu diselesaikan. Sekalipun saya tidak mendapatkan bayaran atau apapun, saya lebih memilih untuk berhadapan dengan tipe orang seperti ini. Karena ini berarti ilmu yang saya punya akan bermanfaat. Biasanya yang masuk dalam kategori ini adalah mereka yang sudah senior, dalam artian 3 sampai 4 tahun kuliah. Karena mereka sudah sadar bahwa mereka tidak akan mendapatkan apapun ketika mereka bertindak sebagai buddy atau client.

Dari contoh diatas, saya yakin anda bisa menyimpulkan apa yang akan mereka dapat dari 3 jenis orang tersebut. Bagi tipe Buddy, mereka tidak akan mendapatkan apa-apa. Tugas yang terselesaikan pun hanya sebatasnya saja. Sapa sih yang mau mengeluarkan usaha berlebih ketika mereka tidak mendapatkan apapun? Dan tentu saja, karena hanya bertindak sebagai Buddy, mereka tidak bisa demand untuk hal yang lebih.

Tipe client tentu sedikit berbeda. Sama halnya dalam berbisnis, yang membayar anda berhak untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, tentu saja tergantung dari perjanjian yang telah dibikin sebelumnya. Setidaknya tipe ini lebih berhak untuk meminta kepada pihak penawar jasa. Tipe partner lebih bagus lagi, karena mereka ikut mendampingi bagaimana tugas itu dikerjakan, mereka bisa sewaktu-waktu bertanya untuk hal-hal yang tidak mereka ketahui. Dan karena mereka sudah mempunyai dasar pengerjaan, maka ketika mereka mempunyai ide, hal itu bisa dapat di implementasikan segera.

Anda lihat, apa yang mereka dapat sesuai dengan apa yang mereka korbankan. Mereka yang tidak mengorbankan apa-apa, maka jangan harap akan memperoleh hasil maksimal. Mereka yang mengorbankan uang, maka mereka akan memperoleh hasil sesuai dengan jumlah uang yang mereka keluarkan. Namun mereka yang mengorbankan waktu, mereka akan mendapatkan ilmu yang tidak akan lekang oleh waktu.

Lalu bagaimana dengan aspek lainnya? Saya kira postulate diatas juga berlaku. Pengorbanan yang kita lakukan akan sebanding dengan hasil yang kita terima. Tentu berbeda mereka yang belajar dengan sistem SKS dengan mereka yang belajar setiap harinya. Dan tentu saja berbeda mereka yang bekerja dari pagi saat matahari terbit hingga matahari terbenam dengan mereka yang duduk-duduk saja di rumah, dalam skala yang sama. Maka jangan harap anda akan memperoleh hasil yang, jangankan lebih, sama saja mungkin sudah bagus, jika anda tidak mengorbankan apapun. Namun tentu saja, sebagaimana terdapat pengecualian dalam postulate Koch, postulate di awal postingan ini tentu memiliki pengecualian. Apakah itu? Silahkan simak di postingan berikutnya! (Jika masih ada kesempatan)

Waktumu dan waktuku

Pernah gak sih ngerasa waktu 24 jam itu gak cukup? Ngerasa kalo tugas kita terlalu banyak sedangkan waktu kita begitu sedikit? Kalo kamu ngerasa seperti itu, well, selamat deh! Karena aku masih belum ngerasain itu sampai sekarang. Kalo dipikir-pikir, sewaktu aku SMP, sekalipun seolah-olah kegiatan di pondok sangat padat, toh ternyata aku masih punya banyak waktu luang. Sekalipun ya kadang-kadang harus curi-curi juga sih. Kayak pas waktunya sekolah malah tidur di asrama. Atau cabut ke kantin lama banget. Keluar tanpa ijin setelah jam sekolah habis. Tapi jujur deh, sekalipun aku gak ngelakuin itu semua dan jadi anak baik-baik, masih banyak kok waktu yang tersisa.

Menginjak masa SMA, sepertinya juga tdak jauh beda. Ikut organisasi intra dan extra sekolah gak bikin aku ngerasa waktuku sangat dikit. Berjalan cepat sih iya, cuman ngerasa kurang? Kayaknya enggak deh. Toh aku masih bisa main, belajar *seadanya*, atau keliling-keliling. Emmm... Oke, I admit it. Keliling-keliling ini gak sampe luar kota. Males aja keluar kota cuman 2 hari, sabtu sama minggu. Sayang uangnya.

Nah, saat SMA aku berpikir kalo jadi mahasiswa berarti waktuku bisa penuh. Berdasarkan pengalaman senior yang udah jadi mahasiswa sih gitu. Tapi ternyata, ya tidak jauh beda. Bahkan sekalipun aku ngambil 24 SKS, waktu yang tersisa juga masih banyak. Masih bisa bermalas-malasan, main-main, ngerjain kerjaan orang.

Kelar jadi undergraduate student, aku pikir hari-hariku bakalan sibuk. Setidaknya seharusnya begitu. Berangkat ke kampus pagi dan baru balik sore lalu belum lagi supervise teman dan ngerjain project, aku rasa aku cukup punya alasan untuk berpikiran bahwa hari-hariku akan penuh. Akan tetapi ternyata tidak juga, setidaknya yang aku rasakan sampai hari ini. Project dan supervising tetap berjalan, tapi tetap saja ada waktu kosong. Seperti saat ini. Maka jika kamu ngerasa bahwa waktu kamu yang 24 jam itu tidak cukup, kasih tau donk gimana caranya. Karena aku masih punya banyak waktu, yang sayangnya, masih kurang berguna.

Labels:

Jika

Jika ada satu kata yang sangat akrab diucapkan oleh hampir setiap orang, maka aku yakin kata itu adalah 'JIKA'. Dengan 'jika', kita bisa melepaskan diri dari kenyataan, dan bergelut dengan impian tentang hal yang kita harapkan terjadi. 'Jika', entah itu seorang pemuda yang tegar ataupun seorang gadis yang cengeng, pasti ada suatu saat dimana dia merasa 'jika' adalah hal yang seharusnya dia lakukan. Tetapi tentu saja, kenyataan tidak akan berubah bahkan dengan beratus-ratus 'jika', bukan? Eh, maaf aku salah. Ternyata ada satu 'jika' yang bisa mengubah masa depan. 'Jika' yang diucapkan oleh mereka yang mempunyai pikiran jauh ke depan, atau mungkin mereka yang terlalu banyak pikiran? 'Jika' yang berfungsi sebagai pencegah. Pencegah untuk melakukan suatu keburukan, atau malah sebagai penghalang atas kebaikan yang akan kita lakukan. 'Jika' yang diucapkan oleh pencuri yang akan mencuri sesuatu karena takut akan hukuman yang akan dia terima, tentu adalah sebuah 'jika' yang baik. Sebaliknya, 'jika' yang diucapkan oleh seorang yang kaya yang akan menyumbang sebagian hartanya lalu takut hartanya akan berkurang. Nah, dari berbagai macam 'jika' diatas, aku masih bingung 'jika aku tidak mengenalmu' ini sepantasnya ditaruh mana. Penyesalan? Mengenalmu adalah suatu keberuntungan dalam hidupku, bagaimana aku bisa menyesal? Pencegahan? Well, jika memang menikahimu, yang memang adalah rencanaku, adalah suatu keburukan, maka bisa jadi pikiran itu adalah suatu hal yang baik. Jadi 'jika' yang itu, kira-kira masuk ranah yang mana ya?

Kenapa harus Menyesal?

Once you choose, don't ever regret it.
- Historina Safitri Hakim

Diantara salah satu sifat jelek saya adalah gak mau kalah dengan orang lain. Apalagi ketika saya mempunyai kemampuan untuk mendapatkan hal tersebut, tetapi tidak saya lakukan karena pilihan yang berbeda. Sebagai contoh, ketika masa-masa awal internship, saya pernah merasa 'menyesal' kenapa tidak melamar untuk magang di petronas. Karena dalam bayangan saya saat itu, dan sebagian besar teman saya, bahwa dengan diterima magang di perusahaan ternama, maka untuk mencari kerja bisa jadi lebih mudah. Ternyata kenyataan tidak semanis pengharapan. Beberapa teman saya yang magang di perusahaan besar bercerita kalau ilmu yang mereka dapat tidak sebanyak dengan mereka yang magang di perusahaan kecil. Dan tentu saja, perusahaan kecil disini bukan perusahaan yang skala UKM di Indonesia, melainkan perusahaan yang jaringannya sudah multinasional sekalipun jumlah karyawan tidak seberapa. Akhirnya saya menyadari bahwa saat itu saya sudah membuat pilihan yang tepat.

Apa yang saya rasakan saat awal internship itu, rupanya saya rasakan lagi saat ini, ketika masa job hunting untuk para fresh graduate. Mungkin saya harus belajar untuk lebih bersyukur lagi kali ya. Saya merasakan sedikit rasa iri ketika teman-teman saya bercerita perusahaan tempat mereka akan bekerja dan salary yang akan mereka terima. Rasa iri ini muncul karena jika saya mau, saya yakin insya Allah saya bisa mendapatkan hal yang sama, atau bahkan lebih. Darimana keyakinan itu datang? Pertama, anjuran dari mereka yang sudah diterima di berbagai perusahaan. Mereka berkata kalau mereka saja bisa, maka seharusnya saya pun bisa. Kedua, karena beberapa dari mereka ada yang meminta bantuan saya untuk menyelesaikan soal interview. Dan mereka lolos.

Bermula dari application process yang lumayan ribet, karena saya belum officially graduated, dari situ sempat berulang kali saya berpikir untuk melepas saja tawaran scholarship dan mencari kerja saja sebagai gantinya. Berpikir sendiri ternyata masih bingung, maka saya berdiskusi dengan senior dan kawan. Tapi hasilnya pun sama saja. Saya masih tetap belum mantap untuk melanjutkan studi. Jika bukan karena dorongan dari orangtua saya, maka saya pasti sudah melepas tawaran itu. Hingga akhirnya saya pun pasrah dan melakukan hal yang sama seperti saat saya memilih universitas, meminta petunjuk dari Dia yang Maha Tahu akan Segalanya. Apa yang saya minta simple saja, jika memang melanjutkan studi adalah jalan yang terbaik buat saya, maka saya minta agar dimudahkan jalan menuju kesana dan jika tidak, maka saya minta petunjuk untuk jalan yang terbaik bagi saya. Dan ternyata jalan yang dimudahkan adalah melanjutkan studi. Jadi sudah tidak seharusnya saya mundur saat ini, karena saya yakin inilah jalan saya. Dan jika saya merasa kurang atas apa yang saya dapat saat ini atau yang akan datang, semoga begitu membaca postingan yang ini saya kembali teringat, bahwa tidak seharusnya saya menyesal atas pilihan saya sendiri. Karena ini jalan saya, dan akan saya buktikan bahwa saya tidak akan kalah dengan mereka yang memilih untuk bekerja. Let's see !!

Labels: ,

What Happened

Ada begitu banyak yang ingin saya ceritakan. Tentang pusingnya saya karena postgraduate application yang ribet, job pertama saya sebagai freelancer, dan pindahan barang dari rumah saya yang lama ke yang akan saya tempati. Tapi betapapun inginnya saya untuk cerita, saya sampai tidak tau harus mulai darimana. Bagaimanapun dan apapun, saya semakin yakin akan satu hal, kuasa Allah di atas segalanya. Dan jujur saja, saya sering merasa 'kurang ajar' kepada Allah. Setelah Dia memberikan begitu banyak nikmat, dan saya juga sering meminta, saya masih terlalu sering lalai akan setiap kewajiban saya sebagai hamba-Nya. Maka tidak heran jika abi saya selalu mengingatkan untuk selalu menjaga sholat malam. Bahkan beliau setiap chat selalu bertanya, bagaimana sholat malam saya, yang parahnya saya jawab seadanya. Karena beliau tau, bahwa segala kemudahan yang saya dapat, didapat dari kedekatan saya dengan Allah, dan saya sadar akan hal itu. Maka semoga tulisan ini membuat saya terus mengingat dan bersyukur akan segala nikmatNya.

Labels: ,

'I Love You'

oleh: Darwis Tere Liye

Satu pemuda dgn mata berbinar-binar, di bawah temaram lampu kota Jakarta, dengan pemandangan jalanan yg super-macet, akan bilang dengan suara bergetar: "Aku cinta padamu!" Sementara di belahan China sana, di lorong-lorong toko yang ramai, kencan di bawah hiasan lampion dan naga-naga merah, asap mie kuah mengepul, serakan bebek peking, mereka akan bilang: "Wo ai ni". Lain pula satu pemuda bavaria, di dekat sisa tembok Berlin yang sekarang jadi hiasan toilet, menggunakan syal Bayern Muenchen, dia akan berbisik mesra ke pasangannya: "Ich liebe dich…" Sedangkan di India sana, dgn sedikit kerling mata, sedikit aca-aca, diiringi banyak tari dan lagu, mereka akan bilang: "Mein Tumse Pyar Karta Hoon", atau "Tane Prem Karoo Choo" bagi dialek Gujarat. Si cewek mengangguk, bukankah dia juga selama ini sudah "Kuch-kuch hota hai" pula? Bukan main….

Ah, di bawah menara Eiffel yg elok, bermandikan cahaya, lihatlah seorang pemuda Perancis, akan mengatakan dengan gagah kalimat: "Je t’aime"… Konon, katanya bahasa Perancis adalah bahasa yg paling indah, jadi bayangkan betapa super-indahnya pernyataan cinta itu ketika dikatakan. Indah di atas indah… Lain kisah teman Jepang kita yang sedang berduaan sambil menatap gunung Fuji yang juga indah, sakura-san akan bilang: "Kimi o ai shiteru". Dan pasangannya akan mengangguk malu-malu. Besok mereka akan bertamasya ke Menara Tokyo yang terkenal itu. "Ana behibek" kata pemuda Arab sambil tersipu ke pasangannya, maka sang gadis akan menjawab, "Ana behibak". Tak kalah tersipunya. Tp, jgn salah kalimatnya. Ada behibak, ada behibek. Huruf a dan e bisa membedakan arti di gurun pasir sana, kalian bisa disangka suka sesama jenis jika salah pakai….

Kakek-nenek kita dulu yang masih mengalami penjajahan Belanda, pasti pernah mendengar meneer dan nyonye Belande saling bilang: "ik hou van jou"… dan lucunya, kakekku dulu juga suka menirunya, cuek bilang: "ekhopanjo, istriku-" Tak masalah separuh2 begitu, tak masalah salah2 lafal, kan bibirnya tetap bibir inlander pribumi. Yang penting nenek mengerti, dan balas bilang "ekhopanjo juga". Beruntung kita tidak dijajah bangsa Hongaria atau Kazakhastan, kan susah banget nulis kalimat cinta mereka: "Szeretlek te’ged", "Men seny jaksy kuremyn"…. puh, apalagi pas bilangnya, tambah syusah, kebanyakan huruf konsonannya… tapi meski susah banget bagi lidah kita, nih kalimat mungkin sudah setengah mati ditunggu seorang gadis yang selalu menatap penuh harap seorang pemuda yang selalu berjalan lambat di gang depan rumahnya di kota Budapest yang eksotis itu… Oh, katakanlah "Szeret-zeret tadi padaku…."

"Mahal kita" kata orang Filipina, "Ya lyublyu tebya" kata orang Rusia, "Tora dust daram" seru orang Persia, "Ti amo" kata orang Italia, dan seterusnya dan seterusnya… Begitu banyak versi kalimat I Love You di belahan dunia. Saking banyaknya, tak terhitung… Karena bahasa-bahasa setempat juga punya versi sendiri. Di Indonesia saja ada lebih 300 bahasa lokal, maka akan ada 300 pula versi kalimat "Aku cinta padamu?" Di Sumedang, Banten sana, Padang, Pulau Enggano, Pelosok Papua, Sulawesi, pedalaman Kalimantan, dan entahlah…

Teman, pernahkah ada yang berpikir bagaimana manusia mengungkapkan "I Love You" pada jaman pra-sejarah? Saat bahasa belum ada? Saat manusia masih ber "a-a-a, u-u-u, a-a-a-a"… masih mengejar2 dan dikejar2 dinosaurus? Kan mereka belum punya kalimat sama sekali, jangankan "I Love You", mau bilang makan saja susah, "a-a-a-a… i-i-i…" Menurut temanku, yang amatiran soal antropologi dan sejarah manusia, katanya mereka menyampaikan rasa cintanya dengan pentungan batu. Benaran. Pakai pentungan batu. Jdut! Sang cowok akan memukul kepala cewek idamannya, terus berteriak-teriak…."i-i-i…u-u-u…" Nah, loh! Celakanya lagi, katanya semakin dalam cintanya, maka semakin keras sang cowok akan menggunakan pentungan batu yang sehari-hari buat melempar gajah purba tersebut. Si cewek mati karena digebuk? Ah, mana ada "kalimat cinta" membuat mati seseorang. Semaput sih iya. Si cewek cuma pingsan dikit, lantas akan siuman, kemudian tentu saja akan membalas memukul tak kalah kerasnya, "i-i-i…u-u-u…." Aku cinta kamu juga. BANGET LOH".

Teman, pernahkah kalian juga berpikir bagaimana pula dengan pasangan yang cacat, kurang beruntung? Pasangan yang buta dan tuli misalnya? Bagaimana mereka akan bilang cinta? Melihat tak bisa, mendengar juga tak bisa… Ah, Tuhan selalu punya skenario hebat untuk urusan ini… Aku pernah terkesima menyaksikan sepasang buta yang naik kendaraan umum. Mereka saling berpegangan tangan sejak memasuki pintu kereta. Mesra nian. Meski umur mereka berbilang lima puluhan. Yang laki dengan gentle membimbing yang wanita menuju kursi memakai tongkat-nya (meski sebenarnya penumpang lain yang membantu mereka menyibak padatnya kereta). Lantas mereka duduk bersisian. Yang wanita lantas meraba2 sakunya, mengambil dua butir permen. Membukakan satu untuk pasangannya, satu untuk dirinya sendiri. Mereka buta, jadi amat menyentuh hati melihat kemesraan dua butir permen Hexos itu. Butuh dua menit untuk membuka dua permen itu… Aku menghela nafas panjang… Bagi mereka, sungguh kecantikan wajah tak ada gunanya, ketampanan pasangan tidak penting… Cara tangan mereka meraba2, menyentuh lengan kekar pasangannya sudah bilang sejuta cinta… Dan aku mendadak jengah! Malu. Ya Tuhan, bandingkan cinta mereka dengan cinta yang kupahami dan kuinginkan… Sungguh mereka mengajarkan makna cinta yang sesungguhnya….

Teman, kita punya banyak cara menyampaikan cinta kita. Punya banyak kalimat. Bahasa. Tapi sadarilah, cara terbaik untuk menyampaikan cinta adalah dengan perlakuan. Dengan perbuatan. Dengan pengorbanan yang tulus. Tidak peduli apakah seseorang itu akan membalas cinta kita atau tidak. Tidak peduli apakah perlu kalimat itu diucapkan atau tidak… Ucapkanlah dengan memberi tanpa mengharap, memberi tanpa mengambil, itulah simbolisasi cinta yang paling indah…

Makanya tak perlu heran jika menemukan sepasang kekasih, berumur 90 tahun. Sudah menikah 70 tahun. Memiliki anak 12, cucu 30, cicit 67. Tinggal sederhana di kaki Gunung Kerinci. Kemarin lusa sang istri tercinta pergi… Dan saat sang suami yang tua menatap sedih butir demi butir tanah dimasukkan menutupi jasad istrinya, meski menangis, dia tersenyum rela… Sadahal sempurna. Dia sempurna tidak pernah bilang "Aku cinta padamu" kepada almarhum istrinya. Tidak pernah selama 70 tahun kebersamaan mereka. Karena kalimat itu selalu kelu saat akan diucapkan. Selalu tersumbat saat akan dikatakan… Tapi almarhum istrinya tahu persis, suaminya amat mencintainya… karena kalimat itu terukir indah bersama hari-hari mereka yang hebat… 25.500 hari… hari2 suka-cita, hari2 pertengkaran, hingga hari2 kepergian…

Depok, 11 April 2007

[+] Cinta bukan sekadar kata, eh ?

Ilmu Bisul

Jika Anda bertanya kepada saya apa ilmu yang didapat dari sebuah bisul, ditinjau dari segi kesehatan atau hukum fisika manapun, tidak ada korelasi apapun antara ilmu dengan bisul. Akan tetapi bagi saya, bisul yang saya alami memberi saya setidaknya satu ilmu baru, secara tidak langsung tentu saja. Apa yang saya dapat bermula dari bisul yang tumbuh di kaki saya sejak beberapa hari yang lalu. Tidak ada masalah jika bisul itu terletak di tempat yang tidak strategis, seperti paha atau lengan misalnya. Sayangnya, bisul saya yang ini tumbuh di tempurung lutut sedikit melebar ke kanan. Apa bedanya ? Bayangkan saja ketika Anda sholat, dimana bagian tubuh yang pertama kali menginjak tanah pada saat hendak sujud adalah lutut, tepat di tempat itu pula terdapat luka. Sakit sekali bukan ? Itu untuk sholat, bagaimana ketika Anda jalan ? Dimana untuk berjalan lutut akan secara simultan menekuk dan melurus lagi, yang berakibat kulit di sekitar tempurung akan mengalami kontraksi dan relaksasi. Dengan kata lain, bisul saya ini seperti layangan yang ditarik dan diulur ketika saya berjalan. Jangan tanyakan kepada saya betapa tidak enaknya merasakan hal itu. Maka saat berjalan pun saya menyeret seperti orang pincang sebelah.

Efek dari bisul ini pula yang membuat saya membatalkan rencana saya sebelumnya untuk pergi ke Taylor University untuk mendukung roommate saya yang berpartisipasi di cabang basketball. Dan ini membuat saya menghabiskan weekend ini di kamar, sekalipun mau tidak mau besok atau senin saya harus pergi ke Melaka untuk mengurus persyaratan kelanjutan study saya selanjutnya. Bosan di rumah dan tidak tau harus berbuat apa, saya melakukan hal yang biasa saya lakukan saat bosan, mencari tulisan yang menarik untuk dibaca. Setelah blogwalking ke beberapa blog yang saya bookmark, saya membaca tulisan saudara Prama yang berkaitan tentang paradigma yang salah di sekolah. Saya tidak mengenal dia, sekalipun dia sekolah di STAN dan ada beberapa teman saya yang juga sekolah disana. Saya pertama kali membaca tulisan dia di kaskus dan suka ide dari tulisan yang dia pada bacaan pertama karena sebagian besar yang dia tulis, itu mirip dengan apa yang pernah saya pikirkan atau diskusikan.

Inti dari tulisan itu sebenarnya sederhana saja,

Sekolah itu tempat untuk mencari ilmu, bukan untuk mencari sertifikat. Dan ilmu yang didapat dari pendidikan itu sebisa mungkin membuat kita menjadi lebih bermanfaat kepada orang lain. Karena untuk apa Anda sekolah tinggi-tinggi, jauh ke luar negeri, jika nanti yang berhasil hanya bermanfaat untuk Anda seorang ?

Hal itu langsung membuat saya teringat dengan apa yang saya sering saya lakukan, mengajar. Sebenarnya, dibanding dengan mengajar, apa yang saya lakukan lebih ke arah memberikan les. Saya cenderung tidak bisa menolak ketika ada orang yang membutuhkan bantuan dalam memahami suatu pelajaran dimana saya cukup paham. Bahkan sekalipun saya harus datang ke rumahnya di malam hari atau dia datang ke rumah disaat itu jam santai saya, saya tetap bersedia. Bukan bayaran yang membuat saya melakukan hal tersebut, karena mereka hampir tidak pernah membayar apapun, yang saya cari adalah kebermanfaatan ilmu dari yang saya miliki. Bayangkan jika saya bisa menulis program untuk smartphone lalu ilmu tentang itu saya sebarkan, berapa banyak yang bisa mengambil manfaat dari hal kecil itu ? Dan hal yang paling menggembirakan bagi saya adalah ketika teman saya tersebut memahami apa yang saya pahami. Ini lebih terasa efek bahagianya dibanding saya hanya sekadar menerima bayaran.

Jika Anda bertanya, apakah tujuan dari tulisan ini untuk membesar-besarkan apa yang telah saya lakukan ? Well, it's not what I meant. Saya hanya ingin kita menerapkan inti dari pendidikan yang telah kita tempuh selama ini. Bukan gelar S.T, Lc.,B.Sc, Ph.D, Dr., atau apapun itu. Yang paling penting dari Anda menuntut ilmu adalah manfaat yang bisa Anda bagi setelah Anda mendapatkan ilmu tersebut. Bukankah ilmu yang bermanfaat akan menemani kita hingga di alam barzah bersama dengan amal dan doa anak yang shaleh ? Apa gunanya jika seorang yang bergelar Ph.D tapi tidak lebih bermanfaat dari seorang yang tidak tamat kuliah semacam Bob Sadino ? Apa yang Anda inginkan untuk diingat orang ketika Anda meninggal ? Tidak ada seorangpun yang akan mengingat gelar Anda. Bahkan orang akan lebih mengingat Bjarne Stroustrup sebagai inventor C++ daripada professor di Texas A&M University. Pernah dengar apa gelar Isaac Newton ? Saya jamin Anda bahkan tidak tau kalau Isaac Newton adalah seorang profesor di Trinity College. Jadi untuk apa sekolah tinggi-tinggi jika yang dicari adalah selembar kertas ?

Nah, untuk bisa berpikir seperti itu, maka peran orangtua tentu sangat dibutuhkan untuk membentuk pola pikir. Seperti apa yang saya alami. Orangtua saya selalu menekankan untuk bermanfaat bagi orang lain. Bagi umi atau abi, nilai jelek bukanlah suatu musibah. Sekalipun mereka tetap bangga ketika anak-anaknya mendapatkan nilai yang terbagus. Tidak hanya itu, abi saya bahkan mempunyai grand design untuk membangkitkan nama Islam. Salah satunya adalah dengan membangun sekolah yang bukan sembarang sekolah. Ini dimulai dari menyebar anak-anaknya ke berbagai bidang ilmu dan menyatukan mereka ketika sudah tiba saatnya. Sehingga tidak akan ada dikotomi antara ilmu dien dengan ilmu eksak. Berkaitan dengan sekolah ini pula, saya sudah mempunyai angan-angan akan seperti apa sekolah saya nanti. Visi, misi, target, dan tingkat keberhasilan. Saya akan membahas tentang sekolah ini suatu saat nanti. Sekalipun sekolah dalam pandangan saya mirip dengan yang dipikir oleh Prama disini. Well, I assume you already got the point of this post. If you did, it will be much better if you start to implement it immediately. In the end, together we will make the world better.


-----
[+] Tulisan tentang mitos uang belum sempat saya lanjutkan karena saya harus mencari beberapa data lagi yang berkaitan. Semoga bisa selesai secepatnya.

Mitos Uang : Bagian II

Bagian ini merupakan kelanjutan dari bagian I yang sudah saya post sebelumnya. Yang terdapat di bagian ini adalah klimaks dan permasalahan yang terjadi setelah Oliver memulai sistem perbankan miliknya. Ini bukanlah akhir dari 'dongeng' tentang mitos uang. Masih ada bagian berikutnya yang berisi pendapat dari Louis Even serta apa yang saya dapat setelah membaca cerita ini.

9. Sebuah Masalah Arimatika


Uang dari Oliver beredar dengan cepat di pulau tersebut. Perdagangan, karena dipermudah oleh adanya uang, pun meningkat dua kali lipat. Semua orang bahagia. Si bankir pun mulai mendapat status dan rasa hormat dari kelima orang tersebut.


Tetapi, mari kita lihat… Mengapa si Tom tampak murung? Karena Tom, sama seperti teman-temannya, telah menandatangani surat perjanjian kepada Oliver. Dalam waktu satu tahun, $200 + $16 bunga harus dikembalikan. Tetapi Tom hanya menyisakan beberapa dolar sekarang, dan waktu untuk membayar sudah semakin dekat.

Sudah lama juga dia bimbang.. Oliver meminjamkan $1000 kepada mereka berlima, tetapi uang yang harus dikembalikan adalah $1080. Sekalipun mereka berlima mengembalkan semua uang di tangan kepada Oliver, mereka masih kekurangan $80. Tak seorang pun memiliki $80 ini.

Memang mereka yang memproduksi barang, tetapi mereka tidak memproduksi uang. Oliver pada dasarnya bisa mengambil alih seluruh pulau ini, karena mereka berlima sama sekali tidak sanggup membayar kepada Oliver sesuai perjanjian.

Tom pun mulai berdiskusi dengan keempat temannya, Tom berhasil menjelaskan kepada mereka tentang anehnya sistem ini. Teman-teman Tom mulai mengerti, dan mereka pun memutuskan untuk mengadakan pertemuan dengan Oliver.

10. Bankir Yang Baik Hati

Lima orang ini pun berdebat dengan Oliver tentang masalah ini.


“Mana mungkin kami sanggup membayar $1080 kalau semua uang yang eksis hanya $1000?”

Oliver mendengarkan dengan tenang, dan kemudian menjawab kepada mereka, “Bankir yang baik selalu beradaptasi dengan keadaan. Mulai sekarang kalian hanya perlu membayar bunganya saja kepadaku. Pokok pinjaman bisa Anda simpan terus.”

“Maksudnya $200 pinjaman kami dianggap lunas?” Tanya salah satu dari mereka.

“Tentu saja tidak. Bankir tidak akan menghapuskan hutang. Yang saya maksudkan adalah mulai sekarang Anda hanya perlu membayar bunganya saja, $80 per tahun kepada saya. Mungkin di antara kalian ada yang kekurangan uang karena kurangnya perdagangan. Kalau begitu, organisasikan komunitas Anda seperti sebuah bangsa. Buat sebuah sistem kontribusi, yaitu apa yang kita sebut dengan pajak. Orang yang punya lebih harus membayar lebih, dan yang kekurangan membayar lebih sedikit.”

Kelima orang ini pun pergi dengan diam, tetapi dalam hati mereka masih bingung.

11. Oliver Yang Bersuka-Ria


Oliver kembali sendiri. Dia berpikir: “Bisnis lagi bagus. Orang-orang ini memang pekerja yang rajin, tetapi mereka bodoh. Ketidaktahuan dan kenaifan mereka adalah kekuatan saya. Mereka meminta uang, dan yang saya berikan kepada mereka adalah rantai perbudakan.”


“Tentu saja, mereka bisa saja membuang saya ke laut. But hei… Saya punya tanda tangan mereka. Mereka orang-orang jujur, mereka akan menepati perjanjiannya. Orang jujur dan pekerja keras memang ada di dunia untuk diperbudak para ahli finansial.”

“Oh Mammon! Saya merasakan kegeniusan perbankan merangkai keseluruhan hidupku. Oh Tuanku! Betapa benarnya kamu saat kamu berkata: Izinkan saya mengontrol uang sebuah negara, dan saya tidak peduli siapa yang membuat hukumnya. Sayalah tuan di pulau ini karena sayalah yang mengontrol uangnya.”

“Jiwaku penuh dengan antusiasme dan ambisi. Aku bisa mengenalikan seluruh alam semesta. Apa yang aku, Oliver, lakukan di sini bisa aku lakukan terhadap seluruh dunia. Oh! Andaikan saja saya bisa meninggalkan pulau ini, saya tahu pasti saya bisa mengendalikan seluruh dunia tanpa perlu mengenakan mahkota raja.”

“Kebahagiaan tertinggi saya adalah kalau saya bisa menerapkan filosofi ini di pikiran orang-orang yang akan memimpin masyarakat: bankir, industrialis, politisi, reforman, guru, jurnalis, dll, semuanya akan menjadi budakku. Publik akan merasa puas hidup dalam perbudakan di saat para elit di antara mereka akan menjadi pengawas mereka.”

12. Biaya Hidup Yang Tak Terjangkau


Situasi perlahan-lahan bertambah buruk di pulau ini. Produksi memang meningkat, dan aktifitas barter turun ke minimum. Oliver menerima bunga pinjamannya secara teratur. Yang lain harus berpikir bagaimana menyisakan uang untuknya. Dengan demikian, uang tidak benar-benar beredar dengan bebas.

Mereka yang membayar lebih banyak pajak memprotes. Mereka menaikkan harga jual barangnya sebagai kompensasi atas kerugiannya. Mereka yang tidak membayar pajak akhirnya harus menghadapi biaya hidup yang terus meningkat. Bila seseorang akhirnya bekerja untuk yang lain, dia akan terus-menerus meminta kenaikan gaji untuk memenuhi ongkos hidup yang terus meningkat.


Moral sudah sangat rendah, tidak ada lagi kesenangan dalam hidup. Tidak juga semangat dalam bekerja. Untuk apa juga? Penjualan sangat sulit. Kalaupun menjual, akhirnya harus membayar pajak. Ini benar-benar sebuah krisis. Dan kelima orang ini saling menuduh satu sama lain bahwa mereka menuntut terlalu banyak sumbangan dari yang lain.

Suatu hari, Harry, yang duduk merenungkan situasi mereka, akhirnya tiba pada sebuah kesimpulan akhir. Perubahan sejak kedatangan si perancang sistem moneter baru mereka telah merusak segalanya di pulau itu. Tentu saja, mereka berlima juga memiliki kesalahan, tetapi tetap saja sistem dari Oliverlah yang menyebabkan kerusakan terbesar.

Harry berhasil menjelaskan kepada teman-temannya. Satu demi satu dari mereka akhirnya paham, dan mereka pun memutuskan untuk mengadakan pembicaraan lagi dengan Oliver.

13. Diperbudak Oleh Oliver


Pertengkaran hebat pun terjadi.

“Uang benar-benar kurang di pulau ini kawan, karena Anda mengambilnya dari kami! Kami membayar dan membayar, dan tetap saja kami berhutang sama banyaknya seperti sebelumnya. Kami sudah bekerja dengan sangat keras, tetapi kondisi kami bahkan lebih buruk dibanding sebelumnya. Hutang! Hutang! Yang ada pada kami hanyalah hutang!”


“Oh, kawan, bicaralah yang masuk akal! Kehidupan kalian sudah lebih baik, terima kasih kepadaku. Sistem perbankan yang baik adalah aset terbaik sebuah bangsa. Tetapi supaya bisa berfungsi maksimal, Anda harus mempercayai bankirnya. Datanglah padaku seperti datang pada ayahmu. Apakah uang yang Anda inginkan? Tidak masalah, simpanan emasku masih cukup untuk menerbitkan ribuan dolar yang lain. Saya akan meminjamkan kepada kalian seribu dolar lagi, Anda tinggal menjaminkan aset Anda kepadaku.”

“Jadi sekarang hutang kami menjadi $2000! Dan kami harus membayar dua kali lipat bunga sepanjang sisa hidup kami!”

“Ya, benar --- Tetapi saya akan meminjami kalian lagi saat nilai properti Anda meningkat. Kalian tidak perlu membayar saya apapun selain bunga. Kalian bisa menggabungkan semua hutang kalian menjadi satu, kita akan menyebutnya konsolidasi hutang. Kalian bisa menambah hutang itu, tahun demi tahun.”

“Dan menaikkan pajak, tahun demi tahun?”

“Tentu saja, tetapi pendapatan Anda kan juga akan meningkat setiap tahun.”

“Jadi, semakin pulau ini maju karena usaha kami, semakin besar hutang publik kami!”

“Iya, emangnya kenapa! Sama seperti di manapun di peradaban yang lain. Tingkat peradaban sebuah komunitas selalu bisa dilihat dari seberapa besar ukuran hutang mereka kepada bankir.”

14. Srigala Memakan Domba


“Itukah yang namanya sistem moneter yang sehat, Pak Oliver?”


“Bapak-bapak, semua uang yang baik adalah berbasis emas, dan muncul dari bank dalam bentuk hutang. Hutang nasional adalah hal yang baik. Ini akan mencegah kalian merasa puas diri. Ini akan membuat pemerintahan manapun lebih bijak, yang diturunkan oleh bankir. Sebagai bankir, sayalah obor cahaya peradaban di pulau ini. Sayalah yang akan mendikte politik dan mengatur standar hidup kalian.”

“Pak Oliver, kami bukan orang berpindidikan, tetapi kami tidak ingin peradaban seperti itu di sini. Kami tidak akan meminjam satu sen pun lagi dari Anda. Tidak masalah uang baik atapun tidak baik, kami tidak ingin lagi bertransaksi denganmu.”

“Bapak-bapak, saya benar-benar kecewa dengan keputusan kalian. Tetapi bila kalian mengingkari perjanjian ini, ingat, saya punya tanda tangan kalian. Bayar saya semuanya – pokok pinjaman dan bunga.”

“Tetapi itu mustahil, Pak. Kalaupun kami mengembalikan semua uang yang ada di pulau ini, kami masih tidak bisa melunasinya.”

“Saya tidak bisa membantu. Kalian sudah menandatangani perjanjian ini sebelumnya, bukan?”

“Berdasarkan isi kontrak, dengan demikian saya berhak menyita semua properti kalian. Kalian harus mentaati apapun yang saya katakan sekarang. Kalian akan terus mengeksploitasi pulau ini, dan terus melayani saya. Sekarang kalian keluar! Dan tunggu perintah dari saya besok.”

15. Mengendalikan Media


Oliver tahu pasti siapa yang mengendalikan uang, dialah yang mengendalikan bangsa. Tetapi dia juga sadar, untuk mempertahankan kekuasaan, sangat penting untuk mempertahankan agar masyarakat tetap bodoh, dan terus mengalihkan perhatian masyarakat ke hal yang lain.

Oliver mengamati bahwa dari 5 orang itu, 2 termasuk konservatif dan 3 adalah liberal.

Harry, yang termasuk netral di antara mereka berlima, menyadari bahwa mereka semua memiliki kebutuhan dan aspirasi yang sama, menyarankan agar dibentuk sebuah perserikatan bersama, untuk memberikan tekanan kepada penguasa. Serikat semacam ini, tentu saja tidak diizinkan oleh Oliver. Ini akan berarti akhir dari kekuasaannya. Tidak ada diktator dan ahli finansial manapun yang sanggup menghadapi masyarakat yang bersatu, masyarakat yang terdidik.

Dan dengan demikian, Oliver pun mulai menciptakan perpecahan di antara mereka. Dia membiayai dua jenis Koran. “The Sun” untuk para liberal, dan “The Star” untuk para konservatif.


Topik umum “The Sun” adalah: Penderitaan terjadi karena kaum pengkhianat konservatif telah menjual kepentingan bersama kepada perusahaan besar. Dan topik umum “The Star” adalah: Hancurnya negara, bisnis pada umumnya, dan hutang publik adalah karena tanggung jawab para liberal.

(bersambung)

Teruntuk Orang Mulia

Salah satu dari beberapa nasihat abi saya yang masih saya ingat adalah perbedaan antara orang mulia dan orang biasa.

Apa yang dianggap biasa dilakukan oleh orang biasa, boleh jadi dianggap tercela jika dilakukan oleh orang yang mulia

Sebagian besar manusia ketika menganggap seseorang sebagai sosok yg mulia (atau jika dia belum sampai ke taraf mulia, anggap saja lebih baik dari kebanyakan orang) maka tidak mengharapkan adanya cela terhadap sosok tersebut. Sekalipun tak ada manusia yang tanpa cela.

Berkaca dari pengakuan salah seorang anggota DPR yang ketahuan membuka video porno, yang jadi masalah bukanlah apakah beliau sengaja atau 'tidak' sengaja untuk membuka video tersebut. Akan tetapi kapasitas beliau sebagai salah seorang kader dari partai yang mengaku sebagai bersih ini. Apapun alasan beliau, agaknya akan sulit bagi masyarakat untuk 'memaafkan' beliau. Pun jikalau 'termaafkan', stigma partai tempat beliau bernaung sudah tercoreng. Untuk kader partai, hal-hal seperti ini 'mungkin' tidak menggoyahkan keyakinan mereka untuk setia kepada partai. Akan tetapi bagaimana dengan pandangan orang awam? Apa yang mereka ketahui akan selalu berdasarkan informasi yang beredar di media. Maka bukan salah mereka jika nanti yang tertanam di dalam pikiran mereka adalah hal-hal semacam ini:

Ternyata semua partai sama saja ya. 'Bersih' itu hanya self-proclaimed.

Atau yang lebih menusuk lagi:

Orang yang katanya islami ternyata suka nonton video porno. Apa bedanya dengan orang biasa?

Dan saya yakin hampir seratus persen, sama yakinnya dengan ketika program saya sudah bug-free, bahwa itu yang kebanyakan orang pikirkan saat ini. Lalu apa yang sebaiknya dilakukan? Well, saya bukanlah seorang yang cukup mulia untuk menasihati para asatidz di partai tersebut, hanya saja saya ingin mengulang kembali apa yang abi saya sampaikan di awal:

Apa yang dianggap biasa dilakukan oleh orang biasa, boleh jadi dianggap tercela jika dilakukan oleh orang yang mulia

Hal inilah yang harus dicamkan terhadap setiap kader partai tersebut, apalagi yang bukan kader 'grass-root'. Begitu Anda memutuskan bergabung dengan partai itu, berarti Anda harus sudah siap untuk 'dicap' sebagai orang mulia. Tolong berhenti berpikir bahwa apapun yang Anda lakukan itu adalah hak Anda. Sebaliknya, tolong pikirkan apa dampak atau efek jika Anda melakukan suatu hal. Jika Allah tidak cukup membuat Anda takut, cukup Anda ingat dampak dari perbuatan Anda untuk anak-anak Anda. Tidakkah mereka malu melihat bapaknya dicap sebagai seorang yang porno? Yang korup? Apabila itu tidak cukup membuat Anda sadar, maka saya meragukan niat Anda ketika masuk ke partai tersebut. Atau malah niat sebagian besar kader dari partai tersebut.


Kuala Lumpur, 11 April 2011
Di sela-sela waktu break lunch


----

[+] Untuk informasi, yang bersangkutan sudah mengundurkan diri. Dan saya salut kali ini. Semoga menjadi pelajaran bagi beliau.

Mitos Uang : Bagian I

Ketika membaca serial BBB karya Darwis Tere-Liye yang di posting hampir setiap hari di facebook milik beliau, disitu beliau membahas tentang asal mula bank, walau hanya satu paragraf. Namun dari satu paragraf tersebut saya jadi teringat kembali akan karangan Louis Even yang berjudul "Money Myth Exploded". Kebetulan saat itu saya membaca versi terjemahannya di artikel ini. Membaca ulang artikel itu, saya berkesimpulan bahwa artikel ini harus disebarluaskan. Kenapa? Agar kita sadar asal muasal bank, bagaimana mereka mengambil keuntungan, dan apa yang sebenarnya terjadi. Well, ini memang hanya sebuah cerita yang tidak seberapa panjang. Manfaat yang akan Anda dapat, tergantung dari sejauh mana Anda memahami inti dari cerita ini. Dan yang paling saya harapkan, setelah membaca cerita ini Anda menyadari bahwa dinar dan dirham sudah sepatutnya menjadi nilai tukar disamping uang. Berhubung ceritanya sedikit panjang, saya akan membaginya menjadi 2 bagian. So, go grab your snack and your tea, and have a nice time reading this article.

--------
Judul Asli : MONEY MYTH EXPLODED
Pengarang : Louis Even


1. Korban Kapal Tenggelam


Karena suatu kecelakaan sebuah kapal tenggelam. Pada akhirnya, tinggal 5 yang selamat, mereka menaiki sebuah rakit dan dibawa oleh arus ombak.
Kelima orang ini: Frank, si tukang kayu. Paul, seorang petani. Jim, peternak. Harry, penanam agrikultur. Dan Tom, seorang mineralogist.

2. Sebuah Pulau Yang Diberkati


Bagi kelima orang ini, menginjakkan kembali kaki ke daratan, bahagianya ibarat baru bangkit dari kuburan. Syukurnya pulau yang mereka datangi ini adalah tanah yang subur. Jim, si peternak, sepenuhnya yakin dia bisa beternak dengan baik binatang-binatang di pulau itu. Paul juga meyakini tanah di pulau ini mudah untuk ditanami. Harry menemukan bahwa beberapa pohon buah-buahan di sana, bila dirawat dengan baik, akan menghasilkan panen yang lumayan. Pulau itu juga penuh dengan pohon, Frank si tukang kayu akan dengan mudah mendapatkan kayu dan mulai membangunkan rumah-rumah. Dan si Tom, walaupun kekurangan alat kerja, tapi dengan keahliannya, masih sanggup menambang secara sederhana kekayaan alam di sana.

3. Kekayaan Yang Sebenarnya

Inilah mereka yang sedang bekerja. Si tukang kayu membangun rumah dan perabotan. Awalnya mereka mencari makanan seadanya. Tetapi dengan berlalunya waktu, tanah-tanah mulai dikerjakan dengan rapi di ditanami, dan si petani pun mulai bisa menikmati panennya.


Waktu terus berlalu, dengan kerja keras dari kelima orang ini, pulau yang mereka datangi ini pun menjadi semakin kaya. Kekayaan mereka bukanlah dalam bentuk emas atau kertas uang perbankan, tetapi kekayaan dari barang-barang yang benar-benar memiliki nilai, kekayaan dalam bentuk makanan, pakaian, hunian, dan segala yang lain yang diperlukan oleh manusia.

Setiap orang mengerjakan apa yang dia bisa. Surplus dari produksinya mereka saling bertukar satu sama lain. Walaupun kehidupan tidak gampang, karena masih banyak hal lainnya yang mereka nikmati sebelumnya sebelum kapal mereka tenggelam sekarang masih tidak ada, tetapi setidaknya mereka sekarang terbebas dari yang namanya pajak, atau rasa takut akan sitaan harta. Mereka hidup dengan sulit tetapi setidaknya bisa menikmati buah dari pekerjaan mereka.

Sambil berupaya untuk hidup, mereka tetap berdoa, berharap suatu hari mereka bisa kembali lagi berkumpul dengan keluarga mereka seperti dulunya.

4. Sebuah Ketidaknyamanan Yang Serius

Dengan berlalunya waktu, akhirnya mereka menemukan sebuah hal yang sangat menggangu, mereka tidak memiliki uang sebagai medium pertukaran yang lebih baik. Produk yang mereka pertukarkan, tidak selalu ada di tangan saat sebuah transaksi dijalankan. Contoh, kayu yang diberikan kepada petani tidak bisa dibayar oleh si petani sebelum 6 bulan masa tanam berakhir. Kadang-kadang lagi, seseorang memiliki sesuatu yang nilainya lebih besar daripada yang barang yang ada di tangan rekan dagangannya.


Orang-orang ini, walaupun mereka tahu cara memproduksi barang, kekayaan yang sebenarnya, tetapi bagaimana menciptakan uang, simbol dari kekayaan, adalah di luar kemampuan pikir mereka. Tentu saja, orang-orang berpindidikan juga kadang-kadang sama, demikian juga para pejabat di pemerintahan, semuanya tidak tahu bagaimana uang harus diciptakan.

5. Datangnya Seorang Pendatang

Suatu hari, saat kelima orang ini sedang duduk-duduk di pantai, mendadak datang sebuah kapal kecil dengan seorang penumpang. Orang ini ternyata adalah seorang korban yang selamat dari kapal lain yang juga tenggelam, nama orang ini adalah Oliver.


Bahagia karena memiliki teman baru, kelima orang ini memperlakukan dia dengan sangat baik, dan mereka pun bercerita kepada Oliver tentang kesulitan mereka karena tiadanya uang untuk digunakan.

“Oh, beruntunglah kalian” Kata Oliver, “Karena saya sebenarnya adalah seorang bankir. Dalam waktu singkat, saya akan merancang sebuah sistem keuangan yang saya jamin akan memuaskan kalian semua. Kalian akan mulai kembali ke peradaban.”

Kelima orang ini pun bersyukur luar biasa atas datangnya bankir tersebut, ibarat malaikat yang diutus oleh Tuhan. Bukankah kita-kita, yang hidup dalam peradaban yang maju, memang terbiasa memuja para bankir, sang penguasa dan darah dari sistem finansial kita?

6. Dewa Peradaban


“Oh Bapak Oliver, sebagai bankir kami, tugas Anda satu-satunya adalah menjaga uang kami, Anda tidak perlu bekerja di lapangan.”


Oliver mulai mengambil barang-barang yang dia selamatkan dari kapalnya yang tenggelam, kertas dan sebuah mesin cetak, lengkap dengan tintanya, dan juga sebuah tong besar.

Tong ini, kata Oliver, “Berisi harta yang paling berharga… Emas!”

“Wow…. Hebat, benar-benar malaikat utusan Tuhan. Barang kuning ini, walaupun lebih sering disembunyikan dan tidak kelihatan, tetapi senantiasa memiliki kekuasaan yang amat besar, bahkan bisa mempengaruhi nasib dari sebuah bangsa."

“Kawan-kawan, emas ini lebih dari cukup untuk kalian semua. Tetapi emas ini tidak untuk disirkulasikan. Emas harus tersembunyi. Emas adalah jiwa dari uang yang sehat, dan yang namanya jiwa selalu tidak kelihatan. Saya akan menjelaskannya nanti saat Anda mendapatkan suplai uang Anda yang pertama.”

7. Galian Rahasia


Oliver bertanya kepada kelima orang ini tentang berapa kira-kira yang mereka butuhkan untuk memulai perdagangan, dan mereka menjawab “$200 sudah cukup.”

Kelima orang ini bahagia sampai tidak bisa tidur, dalam kepala mereka sekarang penuh dengan gambaran emas di tangan mereka.


Oliver sendiri, bekerja penuh semangat karena bahagianya dia akan nasibnya sebagai bankir. Mula-mula dia menggali sebuah lubang untuk meletakkan tong yang berisi emas itu. Kemudian dia pun sibuk mencetak uang-uang kertas $1 baru sebanyak $1000.

“Hebat, betapa sederhananya membuat uang. Semua nilainya datang dari produk yang bisa dibelinya. Tanpa produksi, kertas-kertas ini sebenarnya sampah. Kelima customer saya yang naïf tidak menyadari ini. Mereka benar-benar berpikir uang ini nilainya datang dari emas. Kebodohan mereka adalah alasan mengapa saya adalah tuan mereka.”

Besoknya, kelima orang ini pun menghampiri Oliver.

8. Siapa Pemilik Uang Ini?


Lima set uang sudah siap di atas meja.


Oliver berkata, “Sebelum Anda mengambilnya, saya ingin perhatian dari Anda. Basis dari uang ini adalah emas. Dan emas yang saya simpan adalah emas saya. Konsekwensinya, uang ini adalah uang saya. Tapi jangan bersedih, saya akan meminjamkannya kepada Anda. Namun, Anda harus membayar bunga. Mengingat uang sangat susah didapat, saya rasa 8% tidaklah terlalu tinggi.”

“Oh, tentu saja, Pak Oliver,” Kata kelima orang itu.

Oliver menyambung, “Hal yang terakhir kawan, bisnis adalah bisnis, walaupun antara kawan akrab. Sebelum Anda mengambil uang ini, masing-masing dari Anda harus menandatangani surat ini. Anda berjanji akan membayar bunga dan juga pinjaman pokok, bila tidak saya akan memiliki hak untuk menyita aset Anda. Tentu saja, ini hanya formalitas. Properti Anda tidaklah menarik bagi saya, saya hanya ingin uang. Saya yakin saya akan mendapatkan uang saya kembali, dan Anda juga tidak akan berpisah dengan harta Anda.”

“Hm, masuk akal Pak Oliver. Kami akan bekerja lebih keras lagi supaya bisa membayar Anda kembali.” Dan kelima orang ini pun mengambil uang tersebut dan mulai menggunakannya.

9. Sebuah Masalah Arimatika


Uang dari Oliver beredar dengan cepat di pulau tersebut. Perdagangan, karena dipermudah oleh adanya uang, pun meningkat dua kali lipat. Semua orang bahagia. Si bankir pun mulai mendapat status dan rasa hormat dari kelima orang tersebut.


Tetapi, mari kita lihat… Mengapa si Tom tampak murung? Karena Tom, sama seperti teman-temannya, telah menandatangani surat perjanjian kepada Oliver. Dalam waktu satu tahun, $200 + $16 bunga harus dikembalikan. Tetapi Tom hanya menyisakan beberapa dolar sekarang, dan waktu untuk membayar sudah semakin dekat.

Sudah lama juga dia bimbang.. Oliver meminjamkan $1000 kepada mereka berlima, tetapi uang yang harus dikembalikan adalah $1080. Sekalipun mereka berlima mengembalkan semua uang di tangan kepada Oliver, mereka masih kekurangan $80. Tak seorang pun memiliki $80 ini.

Memang mereka yang memproduksi barang, tetapi mereka tidak memproduksi uang. Oliver pada dasarnya bisa mengambil alih seluruh pulau ini, karena mereka berlima sama sekali tidak sanggup membayar kepada Oliver sesuai perjanjian.

Tom pun mulai berdiskusi dengan keempat temannya, Tom berhasil menjelaskan kepada mereka tentang anehnya sistem ini. Teman-teman Tom mulai mengerti, dan mereka pun memutuskan untuk mengadakan pertemuan dengan Oliver.

10. Bankir Yang Baik Hati

Lima orang ini pun berdebat dengan Oliver tentang masalah ini.


“Mana mungkin kami sanggup membayar $1080 kalau semua uang yang eksis hanya $1000?”

Oliver mendengarkan dengan tenang, dan kemudian menjawab kepada mereka, “Bankir yang baik selalu beradaptasi dengan keadaan. Mulai sekarang kalian hanya perlu membayar bunganya saja kepadaku. Pokok pinjaman bisa Anda simpan terus.”

“Maksudnya $200 pinjaman kami dianggap lunas?” Tanya salah satu dari mereka.

“Tentu saja tidak. Bankir tidak akan menghapuskan hutang. Yang saya maksudkan adalah mulai sekarang Anda hanya perlu membayar bunganya saja, $80 per tahun kepada saya. Mungkin di antara kalian ada yang kekurangan uang karena kurangnya perdagangan. Kalau begitu, organisasikan komunitas Anda seperti sebuah bangsa. Buat sebuah sistem kontribusi, yaitu apa yang kita sebut dengan pajak. Orang yang punya lebih harus membayar lebih, dan yang kekurangan membayar lebih sedikit.”

Kelima orang ini pun pergi dengan diam, tetapi dalam hati mereka masih bingung.

(bersambung)

Unicode Collation Error

If you have such an error when you are trying to execute any SQL command:

CDbCommand failed to execute the SQL statement: SQLSTATE[HY000]: General error: 10007 Unicode data in a Unicode-only collation or ntext data cannot be sent to clients using DB-Library (such as ISQL) or ODBC version 3.7 or earlier. [10007] (severity 5) [(null)]

There are some solutions for this matter. The first and the simplest is to change any data type from unicode type (nvarchar, ntext, nchar) to non-Unicode support type such as varchar, char, text. The next solution is to install the most update ODBC. And the last solution is using casting like the following :

SELECT CAST(field1 AS TEXT) AS field1 FROM table

It took me half days to find the solution for such simple problem. Wish this helps you.

Labels: , ,

Indonesia dalam Pandangan Investor Asing

Saya masih teringat dengan perkataan saya kepada ustadz saya tentang penduduk Indonesia yang menjadi 'sapi perah' tanpa sadar akibat pola konsumsi yang tak terkendali. Televisi menjadi salah satu media ampuh untuk menyebarkan virus konsumerasisasi ini. Ditambah dengan lemahnya pendidikan moral, etika, serta skala prioritas kepada remaja sekarang, maka jadilah penduduk Indonesia menjadi target dari para produsen baik luar maupun dalam negeri. Permasalahannya adalah, apakah kita sadar kalau selama ini investor asing melihat Indonesia sebagai target yang sangat potensial? Anda boleh percaya atau tidak, tapi berikut akan saya sertakan artikel yang ditulis oleh George Joseph (seorang konsultan strategi yang tinggal di Amerika Serikat) di Business Times, sebuah surat kabar berbahasa Inggris di Singapura, yang memfokuskan kepada masalah ekonomi dan bisnis yang juga diulas oleh Aris Ananta, ekonom Indonesia, di sini.

Indonesia a Land of Opportunity for S’pore Firms
George Joseph

Business Times, 7 Februari 2011


INDONESIA is one of the hottest markets for businesses looking at tapping Asia’s rapid growth, and Singapore companies which already know the country should start looking at its mineral-and energy-rich eastern islands.

That’s the view of Stephen Bailey, chief executive officer of the Frontier Strategy Group (FSG), a Washington- based political risk consultancy with offices in the major markets of the world. In an interview with BT, Mr Bailey pointed out that given the size of its population and steady increases in household income, Indonesia is catching up with many higher-profile markets in Asia.

‘At 230 million, its population is significantly larger than Brazil’s. Income per capita is still low, comparable to India’s,but we expect to see 2010 having registered a 25 per cent increase. That translates into a huge opportunity for consumer-facing industries, which we expect to grow at least 15 per cent per year over the next four years,’ he said.

However, Mr Bailey cautioned against looking at Indonesia as one vast country. Rather, it should be viewed as a diverse mix, with multiple languages, significant intra-country transportation costs, and a pervasive ‘insider’ culture. With that in mind, executives are being advised to take a staged approach to investment – that is, start in Jakarta and the island of Java and then move to the eastern islands.

But Mr Bailey suggested that Singapore companies which know Indonesia well should start looking at the eastern islands, where the discovery and production of natural gas and other resources is drawing investors and funds from the region. This is despite the eastern islands being currently underdeveloped and underserved. These islands have significant business potential that is currently untapped by foreign companies, he added.

Big investments in agriculture too can be expected over the next five years as Indonesia adds a range of food crops to its plantations to support its booming population. ‘We are encouraging companies to build relationships with key government players now to position themselves for investment incentives for seeds, fertilisers and other inputs.’

The business mentality too is changing in the country as a new generation takes over family-owned businesses, bringing new demands for professional and technical services. ‘The previous generation would own a portfolio of small businesses and maintain less profitable businesses for the sake of relationships or diversification. The younger generation now taking over is focused on the bottom line and is selling non-core assets, expanding regionally, and upgrading the infrastructure. We recommend that executives in ICT, banking and other professional services focus on these opportunities.’

The business environment is also being helped by a forward-looking government in Jakarta, he said. This latest call to look to Indonesia comes just as the populous country moves closer to attaining a top investment rating. Rating agency Moody’s recently upgraded Indonesia’s sovereign debt to within one notch of investment grade at Ba1, placing Indonesia just slightly below the BRIC nations (Brazil, Russia, India and China).

Indonesia has also found favour with foreign investors in the past two years for having handled the global financial crisis well. The stock market was among the world’s top performers last year and its inflation has been kept reasonably under control. ‘Indonesia’s economic resilience is accompanied by sustained macroeconomic balance,’ Moody’s said when announcing the rating upgrade.

For the Frontier Strategy Group – which has now opened offices in Shanghai and Chengdu in China – Indonesia-watching has taken on a higher profile with more of its Western clients showing interest in diversifying and seizing opportunities in Asia. ‘Based on our ongoing tracking of executive priorities, Indonesia is the sixth most-watched country across global markets, coming in just after the BRIC nations and Mexico. This is up from 10th place in 2009,’ Mr Bailey told BT. ‘In 2009, only 30 per cent of our clients were monitoring Indonesia through our proprietary Market- View software. In 2010, that number passed 40 per cent and it is only going higher. Today, most consumer- oriented businesses remain centred in Jakarta and on the island of Java. But we see opportunities being thrown up in the eastern areas as growth accelerates and the economy opens up.’

While highlighting the positive aspects of Indonesia as a lucrative investing opportunity, the corporate attorney-turned-business and political risk consultant acknowledges that there are some major challenges in tackling this huge market. Corruption, distribution and product localisation are the key risks, he said.

‘Some questions had been raised about the (Indonesian) president’s commitment to fighting corruption. Still, many of the executives I speak to believe that Indonesia’s level of corruption is lower than Thailand’s or the Philippines.’ ‘We think Indonesia is squarely in the middle of the road when you compare its risk levels to other emerging markets in the region. Though we have seen a number of highly publicised political challenges in 2009, Indonesia’s democracy appears to be strong, and it is not plagued by the currency challenges that have destabilised Vietnam.’

Distribution is another major hurdle, given the scale and physical complexity of the region. Many multinationals choose to take a staged approach to investment, starting in Jakarta and on Java island, where modern retail is an attractive distribution channel. To penetrate deeper in the market, many MNCs rely on local wholesalers and distributors, and often face challenges monitoring and incentivising their partners.

‘A common mistake I see companies make is not conducting due diligence around consumer preferences and product localisation,’ said Mr Bailey. He pointed out, for instance, that multinationals often enter the market offering large packages that are too expensive for Indonesian consumers. ‘The consumer market is large enough that it is well worth the investment to conduct extensive market research,’ he advised. (*)

Jika Anda sudah merasa 'sedikit' sadar setelah membaca tulisan uncle George di atas atau malah sudah menyadarinya jauh sebelum saya menulis artikel ini, apakah Anda masih tetap akan berpikir untuk membeli iPad 2 'hanya' demi gengsi? Harap diingat, dalam setiap hal yang hendak kita lakukan, ada efek secara tidak langsung bagi orang-orang di sekeliling kita pada khususnya.

Islam dalam Pandangan Demokrasi

oleh : Emha Ainun Najib

Kalau ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak Depag, Polsek, dan Danramil harus menyalahkan Ustadz, sebab kalau tidak itu namanya diktator mayoritas. Mentang-mentang Ummat Islam mayoritas, asalkan yang mayoritas bukan yang selain Islam - harus mengalah dan wajib kalah. Kalau mayoritas kalah, itu memang sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan minoritasnya Kristen. Tapi kalau mayoritasnya Kristen dan minoritasnya Islam, Islam yang harus kalah. Baru wajar namanya.

Kalau Khadhafi kurang ajar, yang salah adalah Islam. Kalau Palestina banyak teroris, yang salah adalah Islam. Kalau Saddam Hussein nranyak, yang salah adalah Islam. Tapi kalau Belanda menjajah Indonesia 350 tahun, yang salah bukan Kristen. Kalau amerika Serikat jumawa dan adigang adigung adiguna kepada rakyat Irak, yang salah bukan Kristen. Bahkan sesudah ribuan bom dihujankan di seantero Bagdad, Amerika Serikatlah pemegang sertifikat kebenaran, sementara yang salah pasti adalah Islam.

"Agama" yang paling benar adalah demokrasi. Anti demokrasi sama dengan setan dan iblis. Cara mengukur siapa dan bagaiman yang pro dan yang kontra demokrasi, ditentukan pasti bukan oleh orang Islam. Golongan Islam mendapat jatah menjadi pihak yang diplonco dan dites terus menerus oleh subyektivisme kaum non-Islam.

Kaum Muslimin diwajibkan menjadi penganut demokrasi agar diakui oleh peradaban dunia. Dan untuk mempelajari demokrasi, mereka dilarang membaca kelakuan kecurangan informasi jaringan media massa Barat atas kesunyatan Islam.

Orang-orang non-Muslim, terutama kaum Kristiani dunia, mendapatkan privilege dari Tuhan untuk mempelajari Islam tidak dengan membaca Al-Quran dan menghayati Sunnah Rasulullah Muhammad SAW, melainkan dengan menilai dari sudut pandang mereka.

Maka kalau penghuni peradaban global dunia bersikap anti-Islam tanpa melalui apresiasi terhadap Qur'an, saya juga akan siap menyatakan diri sebagai anti-demokrasi karena saya jembek dan muak terhadap kelakuan Amerika Serikat di berbagai belahan dunia. Dan dari sudut itulah demokrasi saya nilai, sebagaimana dari sudut yang semacam juga menilai Islam.

Di Yogya teman-teman musik Kiai Kanjeng membuat nomer-nomer musik, yang karena bersentuhan dengan syair-syair saya, maka merekapun memasuki wilayah musikal Ummi Kaltsum, penyanyi legendaris Mesir. Musik Kiai Kanjeng mengandung unsur Arab, campur Jawa, jazz Negro dan entah apa lagi. Seorang teman menyapa: "Banyak nuansa Arabnya ya? Mbok lain kali bikin yang etnis 'gitu..."

Lho kok Arab bukan etnis?

Bukan. Nada-nada arab bukan etnis, melainkan nada Islam. Nada Arab tak diakui sebagai warga etno-musik, karena ia indikatif Islam. Sama-sama kolak, sama-sama sambal, sama-sama lalap, tapi kalau ia Islam-menjadi bukan kolak, bukan sambal, dan bukan lalap.

Kalau Sam Bimbo menyanyikan lagu puji-puji atas Rasul dengan mengambil nada Espanyola, itu primordial namanya. Kalau Gipsy King mentransfer kasidah "Yarim Wadi-sakib...", itu universal namanya. Bahasa jelasnya begini: apa saja, kalau menonjol Islamnya, pasti primordial, tidak universal, bodoh, ketinggalan jaman, tidak memenuhi kualitas estetik dan tidak bisa masuk jamaah peradaban dunia.

Itulah matahari baru yang kini masih semburat. Tetapi kegelapan yang ditimpakan oleh peradapan yang fasiq dan penuh dhonn kepada Islam, telah terakumulasi sedemikian parahnya. Perlakuan-perlakuan curang atas Islam telah mengendap menjadi gumpalan rasa perih di kalbu jutaan ummat Islam. Kecurangan atas Islam dan Kaum Muslimin itu bahkan diselenggarakan sendiri oleh kaum Muslimin yang mau tidak mau terjerat menjadi bagian dan pelaku dari mekanisme sistem peradaban yang dominan dan tak ada kompetitornya.

"Al-Islamu mahjubun bil-muslimin". Cahaya Islam ditutupi dan digelapkan oleh orang Islam sendiri.

Endapan-endapan dalam kalbu kollektif ummat Islam itu, kalau pada suatu momentum menemukan titik bocor - maka akan meledak. Pemerintah Indonesia kayaknya harus segera mervisi metoda dan strategi penanganan antar ummat beragama. Kita perlu menyelenggarakan 'sidang pleno' yang transparan, berhati jernih dan berfikiran adil. Sebab kalau tidak, berarti kita sepakat untuk menabuh pisau dan mesiu untuk peperangan di masa depan.

Just A Second

The minute you are thinking of giving up, think about the reason why you held on so long. --Luqe

Labels:

Lanjutkan Pendidikanmu

Prolog:

Dulu saya pernah bertanya-tanya, untuk apa seorang wanita membutuhkan pendidikan yang tinggi jika nanti 'hanya' akan menjadi seorang ibu rumah tangga? Toh, untuk menjadi seorang ibu tidak harus menjadi seorang sarjana. Lalu ilmu yang didapat sampai sarjana, apa ada manfaatnya? Masih mending kalau jurusan yang diambil berkaitan dengan ilmu-ilmu sosial, bagaimana dengan anak teknik sipil misalnya? Mau diajarin membuat bangunan? Dan karena pertanyaan diatas pula saya sempat membuat jengkel beberapa orang. Rupanya Allah baru memberi jawaban beberapa saat yang lalu melalu note di Facebook seorang teman. Jawaban itu bisa anda simpulkan sendiri setelah membaca note beliau di bawah ini:


Lanjutkan Pendidikanmu, Lalu Jadikan Itu Bermanfaat

Waktu itu, sekitar tahun 2000, datang seorang mahasiswi kepada seorang dosen. Dia menghampirinya dengan wajah yang muram, dan kemudian berkata,"Pak, beasiswa Program Magister dan Doktor saya lolos". Hanya itu saja kata2 yang keluar dari mulutnya, tanpa diikuti ekspresi apapun dari wajahnya. Padahal di luar sana berjuta - juta orang memimpikan pencapaian ini. Sang dosen tertegun, kemudia dia berkata, "Bagus dong dek, kamu bisa bikin bangga banyak orang, dan itu merupakan jalan hidup yang sangat baik. Lalu apa yang membuat kamu terlihat bimbang dek?"

Akhirnya mahasiswi itu bercerita kepada sang dosen. "Pak, sekolah hingga S2 dan S3 merupakan cita-cita saya sejak kecil, ini adalah mimpi saya, tidak terbayangkan rasa bahagia saya saat memperoleh surat penerimaan beasiswa ini. Tapi pak, saya ini akhwat, saya wanita, dan saya bahagia dengan keadaan ini. Saya tidak memiliki ambisi besar, saya hanya senang belajar dan menemukan hal baru, tidak lebih. Saya akan dengan sangat ikhlas jika saya menikah dan suami saya menyuruh saya untuk menjadi ibu rumah tangga. Lalu, dengan semua keadaan ini, apa saya masih harus sekolah?? saya takut itu semua menjadi mubazir, karena mungkin ada hal lain yang lebih baik untuk saya jalani."

Pak dosen pun terdiam, semua cerita mahasiswinya adalah logika ringan yang sangat masuk akal, dan dia tidak bisa disalahkan dengan pikirannya. Dosen itu pun berfikir, memejamkan mata.

Kemudian pak dosen berkata seperti ini kepada mahasiswinya

"Dek, sekarang bertanyalah kepada hati kecil mu, apa dia masih menginginkan dirimu untuk melanjutkan pendidikan ini hingga puncak nanti.."

Sang mahasiswi bingung, dia menunduk, air mata turun dari kedua matanya, seakan dia merasakan konflik hati yang sangat besar yang saling ingin meniadakan. Dosen itu melanjutkan nasehatnya.

"Dek, saya ingin bertanya kepadamu, kapan pertama kali engkau berhadapan dengan seorang S3 dan mendapat ilmu darinya?"

"Sejak saya kuliah di ITB , Pak." Jawab sang gadis.

Kemudian dosen itu melanjutkan "Ya dek, betul, saya pun demikian, saya baru diajar oleh seorang lulusan S3 semenjak saya kuliah di kampus ini. Tapi dek, coba adek pikirkan, bahwa saat engkau memiliki anak, maka orang pertama yang akan menyapih rambut anakmu adalah seorang lulusan S3. Orang yang pertama mengajaknya berjalan adalah seorang ilmuwan tinggi, dan sejak dia mulai membaca, dia akan dibimbing dan dijaga oleh seorang Doktor. Itulah peranmu sebagai ibu nanti, apakah engkau bisa membayangkan betapa beruntungnya anak manusia yang akan kau lahirkan nanti."

Dan itulah jawaban Allah SWT melalui pak dosen. Mahasiswi itu tersadar dari konflik panjangnya, dan ia tersenyum bahagia, sangat bahagia, air matanya menjadi air mata haru, dan ia berdiri, mengucapkan terima kasih nya kepada sang dosen, dan berkata , "Pak, terima kasih, akan saya lanjutkan pendidikan ini hingga tidak satupun puncak lagi yang menghalangi saya."

Betapa hidup itu sangat berarti, dan jadikan ia bermakna. Bukan uang yang nanti akan membuatmu bahagia, tetapi rasa syukur mu lah yang akan menjadi kebahagiaan yang hakiki,.

Labels:

FPI atau Ahmadiyah ?

Beberapa hari ini portal berita Indonesia sedang hangat-hangatnya mewartakan tentang 2 hal. Demo yang terjadi di Mesir dan kerusuhan yang terjadi di Cikeusik yang berkaitan dengan Ahmadiyah. Kedua hal tersebut menarik perhatian saya dan disela-sela waktu belajar untuk final exam, saya menyempatkan untuk mencari informasi tentang Mesir dan Cikeusik. Pada kesempatan kali ini, saya tidak akan membahas tentang demo di Mesir, sekalipun ada banyak hal dan pertanyaan yang ingin saya sharing. Akan tetapi saya lebih memilih untuk menyampaikan pendapat saya tentang hal yang kedua, yaitu Ahmadiyah. Asal mula kenapa saya memutuskan untuk membuat artikel sendiri tentang hal ini bermula dari diskusi di status FB salah satu adik kelas saya semasa SMA yang mendukung Ahmadiyah dan menyarankan untuk pembubaran FPI. Apa yang saya tulis disini adalah alasan yang dia kemukakan dan jawaban saya. Sebagai informasi, saya tidak berada di pihak FPI ataupun warga yang berbuat kekerasan di Cikeusik dan saya tahu bahwa kapasitas saya masih jauh dari seorang alim. Apapun yang saya share disini tidak lepas dari kesalahan dan saya berharap koreksinya.

Tentang Ahmadiyah

Agar kita berada dalam satu paham dan alasan mengapa Ahmadiyah dianggap sesat, ada baiknya saya memulai dari penjelasan singkat tentang ajaran Ahmadiyah. Penjelasan tentang paham mereka saya ambil langsung dari situs resmi mereka : http://www.alislam.org. Berikut adalah penjelasan singkat tentang Ahmadiyah oleh mereka sendiri.

The Ahmadiyya Muslim Community is a dynamic, fast growing international revival movement within Islam. Founded in 1889, it spans over 195 countries with membership exceeding tens of millions. Its current headquarters are in the United Kingdom.

Ahmadiyya Muslim Community is the only Islamic organization to believe that the long-awaited Messiah has come in the person of Mirza Ghulam Ahmad(as) (1835-1908) of Qadian. Ahmad(as) claimed to be the metaphorical second coming of Jesus(as) of Nazareth and the divine guide, whose advent was foretold by the Prophet of Islam, Muhammad(sa). Ahmadiyya Muslim Community believes that God sent Ahmad(as), like Jesus(as), to end religious wars, condemn bloodshed and reinstitute morality, justice and peace. Ahmad’s(as) advent has brought about an unprecedented era of Islamic revival. He divested Islam of fanatical beliefs and practices by vigorously championing Islam’s true and essential teachings. He also recognized the noble teachings of the great religious founders and saints, including Zoroaster(as), Abraham(as), Moses(as), Jesus(as), Krishna(as), Buddha(as), Confucius(as), Lao Tzu and Guru Nanak, and explained how such teachings converged into the one true Islam.

Ahmadiyya Muslim Community is the leading Islamic organization to categorically reject terrorism in any form. Over a century ago, Ahmad(as) emphatically declared that an aggressive “jihad by the sword” has no place in Islam. In its place, he taught his followers to wage a bloodless, intellectual “jihad of the pen” to defend Islam. To this end, Ahmad(as) penned over 80 books and tens of thousands of letters, delivered hundreds of lectures, and engaged in scores of public debates. His rigorous and rational defenses of Islam unsettled conventional Muslim thinking. As part of its effort to revive Islam, Ahmadiyya Muslim Community continues to spread Ahmad’s(as) teachings of moderation and restraint in the face of bitter opposition from parts of the Muslim world.

Similarly, it is the only Islamic organization to endorse a separation of mosque and state. Over a century ago, Ahmad(as) taught his followers to protect the sanctity of both religion and government by becoming righteous souls as well as loyal citizens. He cautioned against irrational interpretations of Quranic pronouncements and misapplications of Islamic law. He continually voiced his concerns over protecting the rights of God’s creatures. Today, it continues to be an advocate for universal human rights and protections for religious and other minorities. It champions the empowerment and education of women. Its members are among the most law-abiding, educated, and engaged Muslims in the world.

Ahmadiyya Muslim Community is the foremost Islamic organization with a central spiritual leader. Over a century ago, Ahmad(as) reminded his followers of God’s promise to safeguard the message of Islam through khilafat (the spiritual institution of successorship to prophethood). It believes that only spiritual successorship can uphold the true values of Islam and unite humanity. Five spiritual leaders have succeeded Ahmad(as) since his demise in 1908. It’s fifth and current spiritual head, Mirza Masroor Ahmad, resides in the United Kingdom. Under the leadership of its spiritual successors, Ahmadiyya Muslim Community has now built over 15,000 mosques, over 500 schools, and over 30 hospitals. It has translated the Holy Quran into over 60 languages. It propagates the true teachings of Islam and the message of peace and tolerance through a twenty-four hour satellite television channel (MTA), the Internet (alislam.org) and print (Islam International Publications). It has been at the forefront of worldwide disaster relief through an independent charitable organization, Humanity First.

Bagian-bagian yang saya bold adalah bagian penting untuk pembahasan selanjutnya. Untuk memudahkan, saya akan merinci point-point tersebut:

  1. Di Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang Penyelamat yang telah lama ditunggu.
  2. Ahmad mengklaim dirinya sebagai titisan Jesus dan utusan Tuhan yang kedatangannya telah diramalkan oleh Nabi Muhammad (red: Imam Mahdi).
  3. Dia juga menerima ajaran-ajaran kebaikan dari pendiri ataupun pemuka agama termasuk di dalamnya penyembah api, Ibrahim AS, Musa AS, Isa AS, Krishna, Buddha, COnfucious, Lao Tzu, dan Guru Nanak dan menjelaskan bagaimana ajaran-ajaran tersebut disatukan menjadi Islam yang benar.
  4. Dia juga dengan tegas menegaskan bahwa jihad dengan pedang tidak ada dalam ajaran Islam dan sebagai gantinya adalah jihad dengan pena.

Kebebasan Beragama

Banyak orang mendengung-dengungkan kebebasan beragama ketika isu Ahmadiyah ini terangkat ke permukaan. Saya pribadi menghargai keputusan seseorang dalam memilih agama mereka, karena Allah SWT sendiri telah berfirman dalam Surat Al-Kafirun ayat 6:

Bagimu agamamu dan bagiku agamaku

Ayat diatas merupakan panduan bagi seluruh muslim bahwa urusan antara manusia dengan Tuhan adalah hak setiap orang. Apakah dia hendak menjadi seorang Majusi, Nasrani, Yahudi, atau bahkan Atheis sekalipun tidak ada larangan. Akan tetapi ini menjadi salah kaprah ketika hal tersebut diterapkan di dalam agama yang sudah ada. Semisal seorang muslim berkata bahwa Nabi Muhammad bukanlah nabi terakhir. Pada saat dia meyakini hal tersebut, maka seketika itu pula status dia sebagai muslim sudah tercabut. Karena sebagaimana yang telah kita ketahui, syarat mutlak seorang muslim adalah Rukun Iman dan Rukun Islam. Lantas bagaimana dengan mereka yang meyakini bahwa Nabi Muhammad bukanlah nabi terakhir ? Mereka wajib memperbarui syahadat mereka. Lalu apakah Ahmadiyah masih pantas dianggap sebagai muslim ? Secara garis besar, Mirza Ghulam Ahmad mengakui sebagai Imam Mahdi. Adapun kriteria dari Imam Mahdi sudah dijelaskan dengan rinci dalam hadist dimana salah satunya adalah merupakan keturunan dari Rasulullah dan merupakan seorang dari bangsa Arab[1]. Dan secara otomatis, Mirza Ghulam Ahmad tidak sesuai dengan kriteria tersebut, dikarenakan dia terlahir di Punjab, India.

Pluralisme

Ketika kebebasan beragama tidak lagi bisa menjadi hujjah yang kuat, maka muncullah alasan berikutnya, yaitu asas Pluralisme dimana secara garis besar mempunyai pemahaman bahwa semua agama adalah sama benarnya. Dengan alasan ini, maka kehadiran Ahmadiyah adalah sesuatu yang 'diperbolehkan' karena dalam pluralisme tidak ada satu agamapun yang dianggap salah.

Sebagai seorang muslim, kita harus bisa membedakan antara pluralitas dan pluralisme. Pluralitas berarti terdapat keberagaman agama dalam satu tempat. Dengan kata lain, kita tetap mengakui bahwa terdapat agama-agama lain selain Islam dan tetap menghormati mereka. Berbeda dengan pluralisme ketika kita menganggap tidak ada satu agamapun yang salah. Suatu hal yang mustahil sebenarnya. Karena dalam silogisme matematika, jika seseorang beragama Islam, maka dia akan meyakini bahwa agama dialah yang paling benar. Kalau di saat yang sama dia juga meyakini bahwa Kristen juga benar, maka silahkan saja menjadi seorang agnostic.

Madzhab

Adapula anggapan bahwa pada dasarnya Ahmadiyah itu hanyala sebuah madzhab. Anggapan ini tentu saja keliru. Sebab munculnya madzhab-madzhab adalah dikarenakan perbedaan penafsiran atau pendapat mengenai ayat dalam Al-Quran ataupun hadist. Selama dalam tahap yang diperbolehkan (tidak menyangkut tauhid), madzhab-madzhab tersebut diperbolehkan. Perbedaannya dengan Ahmadiyah adalah ajaran dalam Ahmadiyah sudah melewati batas yang diperbolehkan, yaitu sudah masuk dalam ranah tauhid. Maka secara otomatis status dari Ahmadiyah tidak bisa dikatakan sebagai madzhab.

Islam dan Kekerasan

Pada akhirnya, semua ini bermuara pada kekerasan yang dilakukan oleh warga Cikeusik terhadap jemaat Ahmadiyah. Dalam kasus ini, Ahmadiyah sebagai pihak yang teraniaya, tentu saja mendapatkan porsi simpati yang lebih besar. Sehingga rakyat umum pun langsung mencela warga (kalau di media disebutkan sebagai FPI) dan mendukung Ahmadiyah. Buntutnya, mereka menolak pembubaran Ahmadiyah dan lebih mendukung pembubaran FPI. Memang, saya pribadi kurang setuju dengan dakwah dengan kekerasan, sekalipun ada tuntunannya. Akan tetapi saya lebih tidak setuju lagi dengan adanya aliran sesat. Jika kita mau berpikir rasional, anggaplah FPI bersalah dengan melakukan kekerasan. Itu tidak akan menyebabkan mereka keluar dari Islam. Berbeda dengan Ahmadiyah. Apa yang mereka yakini, itu sudah menyebabkan mereka keluar dari Islam (dengan alasan yang telah disebutkan di atas). Ketika anda mampu bersikap objektif, maka anda akan mengetahui siapa yang mempunyai tingkat kesalahan paling besar dalam Islam.

Propaganda

Mungkin karena saya terlalu banyak baca tentang teori konspirasi, maka saya pun tidak langsung menentukan sikap ketika saya membaca kerusuhan Cikeusik untuk pertama kalinya. Di saat orang lain sibuk menghujat dan mencerca FPI, saya lebih memilih untuk melihat lagi apa yang sebenarnya terjadi. Karena berita yang ditampilkan hanya merupakan suatu akibat, maka harus ada sebabnya. Dan saya beruntung mendapatkan catatan dari seorang wartawan senior antv tentang kejanggalan pada peristiwa Cikeusik disini.

Kesimpulan

Secara garis besar, point penting dari apa yang saya bahas diatas adalah:

Melakukan tindak kekerasan atas nama agama itu bisa jadi salah. Akan tetapi penodaan agama itu jelas salah.

Sebagai tips, apabila tidak ingin terjadi tindak kekerasan lebih lanjut, ada baiknya Ahmadiyah mengikuti anjuran banyak orang yaitu dengan mendeklarasikan sebagai agama baru. Dengan begitu maka tidak ada kewajiban bagi umat Islam untuk ikut campur tentang keyakinan mereka.

----
[1] Diriwayatkan oleh Abu Na’im dalam Shifah al-Mahdi. Lihat ‘Iqd ad-Durar hlm. 36.

Menghitung Waktu

Pepatah mengatakan “Time is Waktu”, hehe.. intinya bahwa waktu bisa berarti uang, bisa juga ilmu, bisa juga amal baik, semua tergantung dari para pemakai waktu tersebut. Untuk itulah kita perlu mengetahui bagaimana mengelola waktu, agar bisa mendapatkan hasil yang optimal dari waktu yang kita lalui ini. Secara yang namanya waktu itu benar-benar rajin, dia tidak pernah berhenti barang sedetik pun. Semua orang diseret oleh waktu, suka atau tidak suka.

Gadis yg cantik bahenol suatu hari bisa berubah menjadi nenek-nenek yang ompong, bawel, keriput & encoknya sering kambuh. Pria yang ganteng dan gagah, nantinya bisa pula menjadi engkong-engkong yg ngompol, peyot & pikun.

Apakah hidup hanya seperti itu ? Sekolah, kuliah, kerja, lalu tua, dan mati ?

Tidak juga, kalo dilihat lebih teliti… Ada orang yg hidupnya singkat tapi sangat bermakna, ada orang yg hidupnya sangat panjang tapi sia-sia. Nah, kalau anda ingin agar hidup tidak sia-sia, mungkin tips berikut ini akan bisa memberi masukan kepada anda… yaitu bagaimana cara menghitung waktu dengan benar !!

Ada 4 cara menghitung waktu.

1. Cara Penjumlahan
Kalau hari ini kita berumur 17 tahun, maka tahun depan umur kita akan bertambah 1 tahun menjadi 18 tahun. Ini adalah cara menghitung umur yg paling sederhana, paling sesuai bagi anak kecil.
(kalau anda masih menghitung umur dengan cara ini, anda masih anak-anak)

2. Cara Pengurangan
Setelah semakin sering kita ber-ulang tahun, akhirnya kita sadar bahwa setiap kali kita ulang tahun, sebenarnya umur kita bukannya bertambah, tapi berkurang ! Setiap kali ulang tahun maka sisa umur kita semakin sedikit, kita semakin dekat pada akhir hayat. Orang yg sudah menyadari bahwa sisa hidupnya makin hari makin sedikit adalah orang yg sudah Dewasa.

3. Cara Perkalian
Setelah sadar bahwa umur kita terus berkurang, maka kita harus tahu cara menghitung waktu yg ketiga yaitu bagaimana caranya melipatgandakan waktu yg kita miliki.

Misalnya saat kena macet dijalan, kita membaca buku. Ini adalah contoh bagaimana kita melipatgandakan waktu.
Prinsipnya adalah : dalam waktu yg sama, kita memperoleh lebih banyak.
Contoh lain adalah :
McDonald membuka cabang diseluruh dunia. Saat pemiliknya sedang tidur pun, masih ada cabangnya dibagian belahan dunia lain yg sedang menghasilkan uang. Coba kalau McDonald hanya punya satu cabang, berapa waktu yg dibutuhkan untuk mengumpulkan uang sebanyak yg dimilikinya sekarang ? Mungkin butuh ribuan tahun… Cara ketiga ini adalah cara yg dipakai oleh orang-orang yg paling pandai diseluruh dunia. Mereka memikirkan bagaimana agar dalam hidup yg singkat bisa melakukan produktifitas yg lebih besar, bisa memperoleh sebanyak mungkin. Kalau kita berhasil memahami cara menghitung waktu yang ketiga maka kita adalah orang Pandai ! Tapi kita belum bisa dikatakan sebagai orang yg Bijaksana bila belum mengerti cara menghitung waktu yg keempat.

4. Cara Pembagian
Setelah berhasil melipatgandakan waktu yg kita miliki dan mendapat begitu banyak hal dalam hidup kita, maka yg harus kita lakukan kemudian adalah : Membagikannya. Kalau kita mendapat banyak ilmu, sebarkan semua sebelum kita mati, kalau kita mendapat banyak harta, bagikan semua sebelum ajal menjemput. Seorang filsuf berkata, “orang yg mati dalam keadaan kaya adalah orang yg paling bodoh” Maksudnya, uang itu buat apa ? kan gak bisa dibawa mati bukan ? Memang sudah menjadi tugas kita untuk membagikan semua berkat yg pernah kita peroleh kepada orang lain.

Dengan memahami cara menghitung waktu yg keempat maka hidup kita menjadi bermakna. Maka kita tak akan menyesal kapanpun kita harus mati.

Resume
4 Cara Menghitung Waktu
1. Cara Penjumlahan (caranya anak Kecil)
2. Cara Pengurangan (cara orang Dewasa)
3. Cara Perkalian (cara orang Pandai)
4. Cara Pembagian (cara orang Bijaksana)



source: milis sebelah

Salahkan Diri Anda

Saya sedang menikmati makan malam di bawah bintang-bintang yang gemerlapan ketika tiba-tiba terlintas di pikiran saya sebuah kisah lama yang susah terlupakan. Kisah ini merupakan kejadian nyata dari cucu Mahatma Gandhi (Arun Gandhi). Inilah pengalaman beliau:

Waktu itu Arun masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orang tua disebuah lembaga yang didirikan oleh kakeknya yaitu Mahatma Gandhi, di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika selatan. Mereka tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tidak heran bila Arun dan dua saudara perempuannya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.

Suatu hari ayah Arun meminta Arun untuk mengantarkan ayahnya ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan Arun sangat gembira dengan kesempatan ini. Tahu bahwa Arun akan pergi ke kota, ibunya memberikan daftar belanjaan untuk keperluan sehari-hari. Selain itu, ayahnya juga minta untuk mengerjakan pekerjaan yang lama tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.

Pagi itu, setiba di tempat konferensi, ayah berkata, “Ayah tunggu kau disini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama. “. Segera Arun menyelesaikan pekerjaan yang diberikan ayahnya.

Kemudian, Arun pergi ke bioskop, dan dia benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjukkan pukul 17:30, langsung Arun berlari menuju bengkel mobil dan terburu-buru menjemput ayahnya yang sudah menunggunya sedari tadi. Saat itu sudah hampir pukul 18:00.

Dengan gelisah ayahnya menanyakan Arun “Kenapa kau terlambat?”.
Arun sangat malu untuk mengakui bahwa dia menonton film John Wayne sehingga dia menjawab “Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu”. Padahal ternyata tanpa sepengetahuan Arun, ayahnya telah menelepon bengkel mobil itu. Dan kini ayahnya tahu kalau Arun berbohong.

Lalu Ayahnya berkata, “Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kau sehingga kau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran kepada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang ke rumah dengan berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik- baik.”.

Lalu, Ayahnya dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap, sedangkan jalanan sama sekali tidak rata. Arun tidak bisa meninggalkan ayahnya, maka selama lima setengah jam, Arun mengendarai mobil pelan-pelan dibelakang beliau, melihat penderitaan yang dialami oleh ayahnya hanya karena kebodohan bodoh yang Arun lakukan.

Sejak itu Arun tidak pernah akan berbohong lagi.

Pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita diatas tentu berbeda-beda untuk tiap orang. Namun ada satu nilai moral yang membuat saya tersentak saat itu dan bertekad untuk melakukan hal yang sama. Inilah yang saya tangkap dari cerita diatas:

Jangan pernah menyalahkan orang lain atas apapun yang terjadi pada diri sendiri. Atas satu kesalahan yang dilakukan seseorang, boleh jadi terdapat banyak kontribusi kita sehingga dia melakukan hal tersebut. Maka introspeksi selalu lebih berarti daripada emosi.

Labels:

Memilih Lagi

Hidup itu tentang pilihan kan ya ? Bahkan untuk tidak memilih pun juga suatu pilihan. Memilih, mungkin akan terasa mudah jika kita dihadapkan pada 2 hal yang bertolak belakang. Antara baik dan buruk. Antara yang kita sukai dengan yang tidak kita sukai. Namun permasalahannya, hidup itu tidak hitam putih. Ada merah, hijau, kuning, abu-abu, dan sejenisnya. Begitu juga pilihan yang tersedia. Tidak selalu antara suka dan tidak suka. Ingin atau tidak ingin. Ada juga masa-masa ketika kita dihadapkan pada 2 hal yang sama-sama kita inginkan. Dan tentu saja setiap pilihan akan membawa pada jalan yang berbeda.

Memilih akan lebih sulit ketika kita berada di akhir suatu fase dan hendak melangkah ke fase selanjutnya. Seperti halnya ketika kita berjalan dengan suatu tujuan, tikungan atau halangan tetap akan membawa kita ke tujuan tersebut. Bagaimana ketika kita sudah sampai tujuan ? Mau berjalan kemana lagi ? Kiri ? Kanan ? Loncat ? Atau diam menunggu hingga seseorang menunjukkan tujuan yang baru ?

Berbicara tentang akhir, saya sudah berada hampir di titik akhir dari masa-masa sebagai mahasiswa S1. Nah karena saya sudah sampai di akhir, saya harus mulai memikirkan akan kemana arah tujuan hidup saya selanjutnya. Well, saya sebenarnya sudah memikirkan itu sejak FYP selesai. Tapi pilihan yang saya ambil saat itu, ternyata tidak sinkron lagi dengan keadaan saat ini. Pada saat itu saya berpikir untuk kerja selepas kuliah. S2 memang menggiurkan. Apalagi kalau scholarship. Akan tetapi saya merasa bahwa saya sudah cukup penat untuk kuliah. Saya ingin mengaplikasikan apa yang saya dapat. Ingin menjajal sejauh mana saya bisa survive di dunia yang sesungguhnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, saya mendapatkan tawaran untuk mendapatkan gelar master by research di universitas saya saat ini. Jadi selain digaji, saya juga tidak usah membayar lagi untuk biaya master. At that time, I was so excited. Tidak semua orang mendapatkan tawaran tersebut. Apalagi tidak ada persyaratan yang memberatkan untuk mengambil scholarship tersebut. Dan orangtua saya juga mendukung. So, there is no problem, isn't it ? I will get paid and my master for free. Not to mention that the payment is gonna higher than in Indonesia. Apalagi yang kurang ? Well, ada beberapa hal yang masih mengganjal. Pertama, 3 taun di sini sepertinya sudah cukup. Saya ingin melanjutkan langkah saya di tempat lain. Saya ingin berkenalan dengan orang-orang yang baru, pengalaman-pengalaman baru, dan budaya-budaya yang baru. Intinya saya ingin hidup, ingin merasakan saripati hidup melalui perjalanan. Kedua, seperti yang saya katakan sebelumnya, saya ingin mengaplikasikan ilmu saya. Merasakan manfaat dari apa yang selama ini saya pelajari.

Dan seperti koin yang selalu mempunyai 2 sisi, begitu pula tawaran itu. Ada buruk pasti ada juga baiknya. And here goes the good part. Pertama, payment. Jangan samakan biaya research disini dengan di Indonesia, dimana jarang ada researcher yang bisa hidup dari gaji research yang dibayar oleh pemerintah, disini nominalnya lebih dari cukup untuk hidup buat satu orang. Jadi sekali dayung 2 pulau terlampui, gelar master di tangan, hidup juga terjamin.

Kedua, akses ke conference. Well, supervisor saya memberi target untuk bisa menghasilkan setidaknya satu journal setiap 3 bulan. Dan journal itu harus dimasukkan ke dalam conference, baik local ataupun international. Jadi saya akan mendapatkan kesempatan untuk presentasi research saya di depan publik. Dan jangan lupa, it's gonna free! (Bandingkan dengan harga registration untuk conference yang biasanya berkisar di bilangan ratusan atau bahkan ribuan). Ketiga, disamping jadi researcher, saya juga akan diminta untuk mengajar. Saya tidak tau apakah ini suatu hal yang baik atau buruk, akan tetapi karena saya sudah terbiasa mengajar, I think I'm gonna enjoy this part. Ah iya, saya tidak pernah terpikir untuk menjadi guru atau dosen sebelumnya, meskipun banyak orang yang menyarankan seperti itu. Alasannya simple, saya takut terkena karma selama saya menjadi murid. I ain't gonna tell you how bad I am as a student. Sudah cukup fakta bahwa saya sering tidur di kelas sejak SMP sebagai bukti kalau saya bukan murid yang baik, apalagi rajin.

Jadi apa pilihan yang saya ambil? Saya sudah konfirmasi ke supervisor saya bahwa saya menerima tawaran tersebut. Akan tetapi entah kenapa saya masih merasa ada yang mengganjal. Mungkin saya akan menemukan jawabannya ketika saya bertukar pendapat dengan sahabat saya di Indonesia. Hal yang membuat saya tidak sabar untuk menanti tanggal 16 Februari. Namun satu hal yang saya sadari, apapun pilihan yang saya ambil, itulah yang terbaik bagi saya dan saya harus bertanggung jawab sepenuhnya. Tidak akan mungkin saya menyalahkan orang lain, apalagi Allah, atas apa yang sudah saya putuskan bagi diri saya sendiri. Anyway, I'm having my exams by next week. Wish me luck to pass through it well.

Labels:

Quotes of the Day

Recent Comments

Followers

Shev's bookshelf: read

OutliersKetika Cinta Bertasbih5 cmLaskar PelangiSang PemimpiEdensor

More of Shev's books »
Shev Save's  book recommendations, reviews, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists