>>>Wise Words

Meloncat Mainstream

Posted on 03 Februari 2010 | 2 Comments
tags : |

oleh: Muhammad Zulifan


"Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya."
-- peribahasa .

Mungkin peribahasa itu tepat untuk menggambarkan kondisi keberjamaahan kita. Kedirian kita telah sedikit banyak terkonstruk pada satu mainstream tertentu. Mulai dari hal-hal yang besar semisal paradigma sampai hal kecil semisal ciri fisik.

Ciri fisik (pemampilan) seseorang sering merupakan representasi jamaah (baca: harokah ) yang ia geluti. Sampai-sampai pilihan celana dan warna hijab bisa menggambarkan seluruh kedirian seseorang, mulai dari prinsip-prinsipnya tentang kehidupan hingga gambaran aktivitasnya sehari-hari. Begitu juga tentang alur berfikir . Dalam konteks jamaah (baca
: Harokah) sering alur berfikir atau paradigma seseorang senantiasa mewakili jamaahnya. Yang terakhir inilah yang ingin saya bahas.

MAINSTREAM ITU

Fenomena umum, seorang aktivis HT senantiasa istiqomah dengan pemikirannya yang tidak jauh dari satu kata keramat “Khilafah”. Apapun kasusnya, ujung-ujungnya adalah Khilafah. Ketika ada kasus penjara mewah, komennya tegakkan khilafah, ada kasus korupsi, komennya tegakkan khilafah, dan
mungkin jika ada percekcokan suami istri maka mereka akan berkomentar tegakkan khilafah, itu solusinya.

Lain lagi aktivis ikhwan, mereka lebih suka pada jurus pamungkas “membina” dan slogan “Palestina danYahudi”. Ketika target dakwah tidak tercapai atau gagal, komen mereka adalah: “ini karena banyak ihwan yang tidak membina”. Ketika kasus Namru atau flu babi mencuat, mereka berkomentar ini rekayasa AS dan Yahudi. Ketika Hamas dan Fatah tidak bersatu, dikatakan Fatah telah bersekongkol dengan Yahudi. Hingga mereka melupakan faktor internal umat Islam yang sulit bersatu. Yahudi seolah begitu kuatnya hingga bisa melakukan apapun di dunia ini.

Sedangkan ikhwan salaf, apapun permasalah bangsa ini yang rumit, mau ada korupsi, kemiskinan, kejahatan, komennya tidak jauh dari : laksanakanlah
sunnah, tinggalkan bid’ah, maka Islam akan tegak dengan sendirinya
. Tidak perlu yang namaya harokah dan tanzim dakwah apalagi sampai ikut berpolitik.

BERFIKIR LEBIH KOMPREHENSIF

Entah mengapa umat Islam kini menyukai budaya simple dan enggan berfikir lebih rumit dan detail. Mungin itu pengaruh budaya post modern kini.

Simplifikasi masalah bangsa pada satu muara; belum tegakkanya khilafah, menjadikan anggota jamaah tersilap untuk memikirkan hal-hal yang lebih rumit, akibat pola pikir yang terlalu simple tadi. Ide kreatif menjadi beku karena adanya semacam chine wall dalam alur berfikir tiap anggota. Bagaimana berpartisipasi mengihslah negara, ishlah sistem birokrasinya, sistem sistem
politik hingga sistem militernya. Semua itu butuh kajian yang tidak simple. Bila mereka memberikan solusi, itupun sebatas solusi normatif yang amat sangat sulit konteks implementasinya ke dalam Indonesia kini. Pemikiran simple inilah yang mematikan potensi kader. Nampaknya untuk ini, HT harus terbuka pada pemikiran bahwa untuk menegakkan Al-Islam, tidak harus mendirikan negara Islam; kuasai hukumnya, undang-undangnya, ekonominya, pendidikannya, birokratnya, militernya, pers medianya, maka Islam akan tegak dengan sendirinya.

Selanjutnya, pemikiran fatalis yang mengarahkan segala kerusakan di dunia ini adalah karena rekayasa Yahudi membawa akibat umat tidak dewasa. Aktivis dakwah kurang berfikir dengan kajian yang lebih luas dan komprehensif. Contoh Kasus Namru. Saya sepakat bahwa lembaga ini harus hengkang dari bumi Indonesia. Namun, kajian atasnya jangan hanya berhenti pada statemen bahwa
Namru adalah rekayasa Yahudi dan AS untuk menghancurkan Indonesia. Terbukalah pada sudut pandang lain. Dari sudut pandang ketarahan nasional misalnya, bahwa sebuah negara (dalam hal ini AS) wajib melindungi rakyatnya dari segala ancaman. Apalagi sebagai negara terbuka, AS di kunjungi oleh orang dari seluruh dunia tiap harinya. Menjadi kewajiban pemerintah untuk mewaspadai virus-virus yang akan membahayakan negaranya. Karena itu didirikanlah lembaga riset di seluruh dunia. Dan begitulah juga seharusnya sikap Indonesia ketika menjadi negara super power dan pusat peradaban dunia nanti.

Juga masalah pemberian bantuan dana terorisme untuk POLRI. Ini adalah upaya pencegahan negara (sekali lagi dalam konteks AS) dari dampak negatif teroris. Sebagaimana kita ketahui, stabilitas kemanan akan berbanding lurus dengan stabilitas ekonomi, terkait iklim investasi dll. Karenanya, ketika POLRI menangkap Imam Samudera, Nurdin M Top dan kawan-kawan, jangan hanya dilihat dari sudut pandang bahwa itu pesanan AS, tapi sebagai sebuah negara yang butuh stabilitas kemanan, langkah itu sangat perlu dilakukan. Bahwa ada misi yahudi, iya. Tapi perlu diingat pula bahwa semua militer (intel) di dunia ini juga melakukan misi tertentu, termasuk penyusupan organ
intel pada setiap Kedubes di penjuru dunia yang juga dilakukan oleh Indonesia.

Masalah Palestina, selalu yang disalahkan Yahudi. Padahal kritik internal sangat perlu dilakukan. Yang ada, aktivis kampus lebih banyak fanatik dengan gerakan Hamas, tanpa mau mengkaji lebih lanjut kelemahan strategi yang selama ini dilakukannya. Nyatanya, Hamas belum mampu menyatukan gerakan perlawaan Palestina. Strategi ikut Pemilu dan menangnya Hamas juga tidak berdampak banyak pada Palestina yang lebih baik. Nyatanya, kini Palestina --sebagai entitas muslim-- terpecah. Dengan kondisi terpecah, amat sulit bagi
Palestina mendapat dukungan dunia Internasional.

Lebih susah lagi pemikiran yang menganggap semua masalah akan selesai dengan kita melaksanakan sunnah dan meninggalkan bidah, hingga acuh tak acuh pada permasalahan umat kontemporer, cukup taat dengan Pemerintah (meskipun tidak dipilih berdasar prinsip Syuro), jangan protes terhadapnya apalagi berdemonstrasi. Mereka telah lupa bahwa mengishlah negara, berpolitik (termasuk berperang dan persiapannya ) adalah bagian dari sunnah yang Rasul ajarkan juga.

LONCAT MAINSTREAM, MUNGKINKAH?

Melihat Fenomena aktivis dakwah di kampus, nampaknya sulit bagi anggota jamaah untuk bisa melampaui pemikiran mainstream jamaah. Ada semacam lingkaran imaginer yang membatasi. Hal ini merupakan konsekuensi logis berjamaah dengan tuntutan harus selalu taat pada satu pilihan fiqh, di tengah pilihan fiqh yang lain yang mungkin dipilih. Pada tataran akar rumput, ketaatan kadang menjadikan potensi mereka jadi tidak berkembang. Menunggu taklimat dan perintah adalah budaya sehari-hari. Lama-kelamaan, ketaatan yang tidak terkelola dengan baik, apalagi tidak diimbangi dengan pemahaman atas gerakan yang dinamis, menimbulkan perpecahan seperti dialami banyak harokah. Adanya HDI dan FKP adalah salah satu contohnya.

Habit anggota selama ini yang tidak memungkinkan adanya pandangan yang luas. Bacaan aktivis HT tidak jauh dari buku karya Taqiyuddin An-Nabhani atau buku lain tentang khilafah dan Daulah. Sedangkan bacaan ikhwan tidak jauh dari buku-buku karangan Hasan Al-banna, Sayid Qutb, dan Yusuf Qardhawi, atau buku-buku ulama IM lainnya. Sedangkan Salafi setia (dan cenderung fanatik) pada bacaan karya-karya Syaikh Al-albani dan Syaikh Bin Baz. Ditambah forum kajian yang hanya mengundang ustadz dari harokahnya masing-masing, maka lengkap sudah faktor untuk menjadikan seseorang tertuju pada fanatisme harokah.

Yang susah, alur berfikir linear sejalan mainstream harokah ini sering menjadikan sesorang sulit untuk bersikap terbuka, bahkan yang lebih parah amat susah untuk menerima pemikiran ataupun sekedar pembahasan dari harokah yang berbeda.

KHATIMAH..

Bukan hal yang salah untuk setia pada mainstream harokah, tapi harusnya setiap anggota tidak menutup diri pada solusi harokah lain. Adanya cita-cita menegakkan Islam di bumi Indonesia itu tidak cukup dengan alur berfiir yang simple-simple semacam itu. Perlu kedalaman kajian multidsiplin ilmu (bio,sosio, psiko, eco, hankam) hingga masyarakat indonesia mampu mencernanya.
Atau jika tidak, cita-cita itu hanya akan jadi simbol-simbol usang.

Karenanya, sikap terbuka pada tawaran solusi atau ijtihad harokah lain nampaknya harus dibuka lebar-lebar. Bagaimanapun, tidak ada jamaah (baca: harokah) yang sempurna. Masing-masing jamaah punya kelebihan dan kekurangan
. Sesekali cobalah berfikir di luar mainstream harokah masing-masing karena dakwah tak selebar harokahmu saja...

[+]Read More...

Share/Save/Bookmark
Posted by Ahmad Sheva and filed under , | 2 Comments »

Don't Crack Under Pressure

Posted on 01 Februari 2010 | 2 Comments
tags :

Oleh: Sonny Wibisono *


"Anda tidak bisa memilih bagaimana atau kapan Anda akan mati. Anda hanya dapat memilih cara menjalani hidup. Sekarang."

-- Joan Baez, penyanyi dan penulis lagu

ANDA tentu sudah sering menonton televisi. Apakah Anda termasuk melihat iklannya pula? Coba Anda perhatikan salah satu iklan minuman ringan terkemuka dari negeri Paman Sam. Tema dari iklan minuman tersebut umumnya mengenai optimisme. Bahkan menjelang pergantian tahun, di bulan Desember, mereka memperkenalkan jingle baru, yang intinya mengajak untuk senantiasa menjalani hidup dengan penuh optimisme dan memperbaharui semangat setiap hari. Menjalani kehidupan seharusnya seperti itu pula. Tak perlu berputus asa bila menghadapi kesulitan. Jika kita mampu menjalani kehidupan dengan bersemangat, maka beban seberat apapun akan terasa ringan. Bila kita selalu optimis dan tak pernah kehilangan asa, percayalah, kita akan selalu menemukan jalan keluar dari suatu masalah. Tak percaya? Mari kita simak kisah berikut.

Anda mengenal nama Hee Ah Lee? Ah Lee dilahirkan dari seorang ibu bernama Woo Kap Sun pada 9 Juli 1985 di Korea Selatan. Sama halnya dengan seorang ibu lainnya dibelahan dunia manapun, Kap Sun mencintai anak perempuannya dengan sepenuh hati, walau sejak dalam kandungan ia mengetahui bila anaknya akan lahir dalam keadaan cacat. Ah Lee diketahui menderita down syndrome. Down syndrome merupakan kelainan kromosom yang dapat dikenal dengan melihat manifestasi klinis yang cukup khas. Kelainan ini berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental anak. Ah Lee juga terlahir dengan kaki hanya sebatas lutut. Penderitaan awal Ah Lee bukan hanya itu saja, selain mengalami down syndrome dan memiliki kaki yang mungil, Ah Lee juga hanya memiliki empat jari. Dua dikanan dan dua dikiri. Kelainan ini dikenal dengan lobster claw syndrome, keadaan dimana jarinya berbentuk seperti capit udang, tanpa telapak tangan.

Ketika dilahirkan, banyak yang menyarankan agar Ah Lee dikirim ke panti asuhan. Tetapi Kap Sun dengan tegas menolaknya. Kap Sun justeru menerimanya hal itu sebagai anugerah. Ia kemudian merawat dan mendidik anaknya dalam dunia nyata. Untuk melatih kekuatan otot jarinya, Ah Lee diajarkan untuk bermain piano saat berusia 7 tahun. Tentu sangat sulit untuk mengajarkan bermain piano dengan 'nada-nada yang harus dihitung' bagi anak dengan kondisi mental terbelakang, ditambah dengan keterbatasan fisik. Sulit, bukan berarti tidak bisa. Ah Lee bahkan sempat mogok bermain piano setelah mengetahui ayahnya sakit keras ditambah ibundanya yang terkena kanker payudara. Akan tetapi sang ibunda, Kap Sun terus memompakan semangat kepada anaknya. Sang ibunda berusaha mengembalikan rasa percaya diri Ah Lee. Kap Sun terus membimbing Ah Lee agar dapat tumbuh mandiri, dan tetap penuh percaya diri dalam menghadapi hidup.

Untuk bisa memainkan karya Chopin Fantasie Impromptu, Ah Lee dengan tekun berlatih lima hingga sepuluh jam sehari selama lima tahun. Hasilnya sungguh luar biasa. Pada 1992, Ah Lee memenangkan Penghargaan Pertama dalam the Korean National Student Music Contest. Dan sejak saat itu, berbagai penghargaan atas keterampilan bermain piano telah diraih Ah Lee. Ah Lee pun telah merasakan bagaimana rasanya berkeliling dunia, termasuk bermain bersama para artis terkenal. Pada 2007, Ah Lee melakukan konser piano tunggal di Balai Kartini, Jakarta. Konsernya ini merupakan bagian dari program tur Hee Ah Lee ke beberapa negara di Asia Tenggara termasuk dalam penampilannya di Indonesia.

Mari kita beralih ke belahan dunia lain. Anda mengenal nama Nick Vujicic? Vujicic lahir di kota Melbourne, tanggal 4 Desember 1982. Seorang ibu manapun ketika melihat bayinya yang baru lahir, tentu mencoba untuk segera memeluknya, tetapi itu tidak dilakukan oleh sang Ibunda Vujicic. Saat
Vujicic dilahirkan, ia tidak mempunyai kaki dan tangan. Ketika ibunya melihat Vujicic lahir tidak dalam keadaan normal, ia memerintahkan para perawat untuk membawa Vujicic keluar dari kamar. Dokter, perawat, dan keluarga tertegun melihat pemandangan menyedihkan ini. Para dokter tak dapat menerangkan secara medis bagaimana Vujicic dilahirkan dalam keadaan seperti itu. Ibu Vujicic adalah seorang perawat. Ia menjelaskan bahwa selama kehamilannya, ia merawat dengan baik bayinya. Ia selalu menjaga kesehatan dan memakan asupan makanan bergizi.

Diperlukan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, bagi keluarga Vujicic untuk menerima hal ini sebagai suatu kenyataan yang harus dihadapi. Tahun-tahun awal dilewati Vujicic dengan penuh rintangan dan hambatan. Hingga pada akhirnya, Vujicic bersekolah di sekolah umum. Pada awalnya Vujicic mengalami kesulitan dalam menjalankan kegiatan di sekolah umum. Vujicic memang mampu mengikuti pendidikan umum, karena hanya fisiknya saja yang terganggu, sedangkan otak dan pikirannya berjalan dengan baik. Tetapi lingkungan sekolah berkata lain, Vujicic harus menerima kenyataan pahit. Ia mendapat perlakuan yang membuatnya menderita, dimana Vujicic dikucilkan oleh teman-teman kelasnya. Vujicic jelas merasa amat tertekan. Pada umur 8 tahun, Vujicic sempat memikirkan untuk bunuh diri. Lambat laun, Vujicic menyadari kekurangannya, ia terus berdoa agar
hidupnya lebih baik dengan apa yang ia miliki. Vujicic mencoba untuk bersyukur atas apa yang telah diberikan olehNya. Hingga akhirnya Vujicic berhasil menyelesaikan pendidikannya, bahkan mendapatkan dua gelar, dalam bidang Akuntan dan Keuangan Terpadu. Itu terjadi ketika Vujicic berusia 17 tahun. Vujicic kemudian memulai kariernya dengan menjadi pembicara motivasi yang fokus pada kehidupan remaja masa kini. Ia pun menjadi pembicara dalam sektor perusahaan yang bertujuan menjadi pembicara inspirasi tingkat internasional. Saat ini Vujicic telah berkeliling dunia untuk memberikan motivasi dan inspirasi bagi setiap orang. Baik bagi penyandang cacat, maupun manusia normal lainnya.

Vujicic dan Ah Lee, hanyalah seorang pria dan wanita dengan keterbatasan fisik. Namun dengan segala keterbatasannya, tidak menjadikan Vujicic dan Ah Lee putus asa dalam menghadapi jalannya kehidupan. Vujicic dan Ah Lee bahkan mampu memperlihatkan kepada dunia apa yang telah mereka lakukan, sekaligus memberikan inspirasi bagi siapapun untuk tidak pernah menyerah dan putus asa
dalam menghadapi kehidupan. Seperti sebuah slogan jam tangan terkemuka yang diperkenalkan tahun 1991, 'Don't crack under pressure', yang menggambarkan bahwa keberhasilan seorang atlet dalam bertanding ditentukan oleh kekuatan mentalnya, bukan fisiknya. Begitu pula dalam menjalani hidup ini. Don't crack under pressure. Betul. Jangan mudah menyerah! (250110)

*) Sonny Wibisono, penulis buku 'Message of Monday', PT Elex Media
Komputindo, 2009

[+]Read More...

Share/Save/Bookmark
Posted by Ahmad Sheva and filed under | 2 Comments »

Personality Test

Posted on 22 Desember 2009 | 2 Comments
tags :

Iseng - iseng ambil online personality test . gak tau ini bener apa enggak .


Click to view my Personality Profile page

[+]Read More...

Share/Save/Bookmark
Posted by Ahmad Sheva and filed under | 2 Comments »




Lyric - Japan :

Hi Mother, Haikei, genki ni shitemasuka?
Saikin renraku shinakute gomen Boku wa nantoka yattemasu...

Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai

Chikaku ni iru to iradatsu kuse ni Tooku ni iru to sabishiku kanji
Anata wa sonna sonzai Donna mondai mo Mi wo kezutte kaiketsu suru
Soshite Boku no shitteru dare yori mo Ichi-ban gamandzuyoku TAFU desu
Itsumo massaki ni ki ni suru Jibun janaku boku no karada de

Suiji sentaku Souji ni ikuji Amatta jikan sara ni shigoto shi
Ichi-ban hikui basho ni aru mono shika Motomenakattano Anata yo
Atarimae sugi wakaranakatta Hitori de kurashi hajimete wakatta
Anata no sugosa Taihensa Sore wo omoeba Kyou mo boku ganbareru sa

Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai

"Ashita asa shichi-ji ni okoshite" to itte
Anata jikan doori ni okoshite kurete
Shikashi Rifujin na boku wa
Neboke nagara ni iu kotoba wa "Urusee!"
Konna kurikaeshi no RUUTIN Iyana kao hitotsu sezu ni
Anata Mainichi okoshite kureta
Donna mezamashi yori atatakaku seikaku datta

Sore de mo aru hi Gakkou wo ZURUyasumi "Ikitakunai" to ii
FUton kara ichido mo denu boku mae ni Kao wo ryoute de ooikakushi
Oogoe agete naita Boku mo kanashikute naita
Sono toki boku wa "Nante baka na koto wo shitan da" to jibun semeta

Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Kanshashitemasu My Mother

Kodomo ni sakidattareru hodo Tsurai koto nante Kono yo ni nai no dakara
Tatta ichi-byou de mo Anata yori nagaku ikiru koto Kore dake wa mamoru
Kore dake wa...

Anata no kodomo de yokatta Anata ga boku no haha de yokatta
Itsu made mo kawaranai Zutto zutto kawaranai
Boku wa anata no ikiutsushi dakara...

Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai

Zutto boku no haha de ite Zutto genki de ite
Anata ni wa mada shigoto ga aru kara Boku no oyakoukou uketoru shigoto ga...


Lyric - English :


Hi Mother, Dear Mother, how are you doing?
Sorry I haven’t called recently, I’m getting by okay…
*Your body is small and so are your hands
White hairs are mixed in and you’ve grown more genial
But to me you’re still bigger than anything, stronger than anyone
I want to tell my kids about this love that supported me

Even though I grow impatient when I’m near you
When you’re far away from me I grow lonely
That’s who you are to me, you can cut through any problem and solve it
And you have the most patience and toughness of anyone I know
You would always be concerned over my well-being before your own

Cooking, doing the laundry, cleaning, raising a child
You even worked during your free time
You would only require things from the lowest places
I didn’t understand even though it was so obvious
It wasn’t until I started living by myself that I understood
Whenever I think of how much you’ve accomplished
And how hard it must have been, I feel like I can try my best today

(Repeat*)

I’d say, “Wake me up at seven a.m.”
And you would wake me up right on time
But I would be unfair to you
And say the words “shut up” while I was still half-asleep
This was the daily routine
You never made one tired face
And woke me up every day
Warmer and more accurately than any alarm clock

But then one day I skipped school and said, “I don’t wanna go”
I wouldn’t leave my futon and you stood in front of me
Hid your face with both hands and cried loudly
I also felt sad and cried
At that time I blamed myself wondering, “How could I be so stupid?”

Your body is small and so are your hands
White hairs are mixed in and you’ve grown more genial
But to me you’re still bigger than anything, stronger than anyone
I give you thanks for this love that supported me, my mother

I know there’s nothing more painful in the world
Than a parent burying their child
So I’ll make sure it never happens
Even if I only live one second longer than you
I’ll make sure of it…

I’m glad I’m your child
I’m glad you’re my mother
And that won’t ever change
It won’t ever change for all time
Because I am the very image of you…

(Repeat*)

Be my mother forever
Be well forever
You still have one more job left to do
And that’s to accept your son’s love and respect for you…

[+]Read More...

Share/Save/Bookmark
Posted by Ahmad Sheva and filed under | 0 Comments »

Antara Minah , Tiga Biji Kakao , dan Koruptor

Posted on 21 November 2009 | 10 Comments
tags :

Kompas - Minah (55) hanya dapat meremas kedua belah tangannya untuk menepis kegalauan agar tetap tegar saat menyampaikan pembelaan atau pleidoi di hadapan majelis hakim di Pengadilan Negeri Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (19/11).

Tanpa didampingi pengacara, ia menceritakan bahwa alasannya memetik tiga buah kakao di kebun PT Rumpun Sari Antan 4, pertengahan Agustus lalu, adalah untuk dijadikan bibit.

Nenek tujuh cucu yang buta huruf ini sesekali melemparkan pandangan kepada beberapa orang yang dikenal guna memperoleh kekuatan. Ia berusaha memastikan bahwa pembelaannya dapat meyakinkan majelis hakim.

Dengan menggunakan bahasa Jawa ngapak (dialek Banyumasan) bercampur bahasa Indonesia, Minah menuturkan, tiga buah kakao itu untuk menambah bibit tanaman kakao di kebunnya di Dusun Sidoharjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas. ”Kalau dipenjara, inyong (saya) enggak mau Pak Hakim. Namung (cuma) tiga buah kakao,” ujar Minah kepada majelis hakim.

Minah mengaku sudah menanam 200 bibit pohon kakao di kebunnya, tetapi ia merasa jumlah itu masih kurang. Namun, belum sempat buah tersebut dibawa pulang, seorang mandor perkebunan, Sutarno, menegurnya. Minah lantas meminta maaf dan meminta Sutarno untuk membawa ketiga buah kakao tersebut.

Alih-alih permintaan maafnya diterima, manajemen PT RSA 4 malah melaporkan Minah ke Kepolisian Sektor Ajibarang, akhir Agustus lalu. Laporan itu berlanjut pada pemeriksaan kepolisian dan berakhir di meja hijau.

Minah sudah berusaha melepaskan diri dari jerat hukum. Tapi usahanya sia-sia. Hukum yang mestinya mengayomi masyarakat dengan menegakkan keadilan, bagi nenek Minah, ternyata tak punya nurani. Hukum kita rupanya tak memberi ampun bagi orang kecil seperti Minah. Tetapi, koruptor pencuri miliaran rupiah uang rakyat melenggang bebas dari sanksi hukum.

Di Jawa Tengah, misalnya, empat bekas anggota DPRD dan aparat Pemerintah Kota Semarang yang menjadi terpidana kasus korupsi dana APBD Kota Semarang tahun 2004 sebesar Rp 2,16 miliar divonis bebas. Mereka bebas dari sanksi hukum setelah Mahkamah Agung (MA) mengabulkan permohonan peninjauan kembali mereka. MA menyatakan keempat terpidana itu tidak melakukan tindak pidana.

Muramnya penuntasan masalah hukum di Jateng masih ditambah lagi dengan putusan hakim yang hanya memberikan hukuman percobaan kepada pelaku tindak pidana korupsi. Salah satunya dijatuhkan kepada Ketua DPRD Jateng periode 1999-2004, Mardijo. Terdakwa korupsi dobel anggaran APBD Jateng sebesar Rp 14,8 miliar ini hanya diberi hukuman percobaan selama dua tahun.

Minah memang tak mengerti masalah hukum seperti para terpidana dan terdakwa kasus korupsi itu. Namun, dengan berkata jujur, ia memiliki keyakinan bahwa ia mampu menghadapi rimba hukum formal yang tidak dimengertinya sama sekali.

Terhitung tanggal 13 Oktober sampai 1 November, Minah menjadi tahanan rumah, yakni sejak kasusnya dilimpahkan dari kepolisian kepada Kejaksaan Negeri Purwokerto. Sejak itu hingga sekarang, ia harus lima kali pergi pulang memenuhi panggilan pemeriksaan di Kejaksaan Negeri Purwokerto, dan persidangan di Pengadilan Negeri Purwokerto.

Rumah Minah di dusun, di pelosok bukit. Letaknya sekitar 15 kilometer dari jalan utama Ajibarang-Wangon. Perjalanan ke Purwokerto masih menempuh jarak sejauh 25 kilometer lagi. Jarak sepanjang itulah yang harus ditempuh Minah setiap kali memenuhi panggilan Kejaksaan Negeri Purwokerto dan Pengadilan Negeri Purwokerto.

Satu kali perjalanan ke Purwokerto, Minah mengaku, bisa menghabiskan Rp 50.000 untuk naik ojek dan angkutan umum. Ditambah lagi untuk makan selama di perjalanan. ”Kadang disangoni anak kula (kadang dibiayai anak saya),” katanya.

Sebelum menyampaikan putusan, majelis hakim juga pernah bertanya kepada Minah, siapa lagi yang memberikannya ongkos ke Purwokerto. ”Saya juga pernah dikasih Rp 50.000 sama ibu jaksa, untuk ongkos pulang,” kata Minah sambil menoleh kepada jaksa penuntut umum Noor Haniah.

Noor Haniah yang mendengar jawaban itu hanya dapat memandang lurus ke Minah.

Elegi Minah tentang tiga kakao yang diambilnya melarutkan perasaan majelis hakim. Saat membacakan pertimbangan putusan hukum, Ketua Majelis Hakim Muslich Bambang Luqmono sempat bersuara tersendat karena menahan tangis.

Muslich mengaku tersentuh karena teringat akan orangtuanya yang juga petani.

Majelis hakim memutuskan, Minah dihukum percobaan penjara 1 bulan 15 hari. Jadi, Minah tak perlu menjalani hukuman itu, dengan catatan tidak melakukan tindak pidana lain selama masa percobaan tiga bulan.

Persidangan ditutup dengan tepuk tangan para warga yang mengikuti persidangan tersebut.

Kasus Minah bisa menjadi contoh bahwa penuntasan masalah hukum di negeri ini masih saja berlangsung tanpa mendengarkan hati nurani, yaitu rasa keadilan....



Mengutip pernyataan seseorang dari milis yang saya ikuti :

"Terus terang.... Saya sangat malu. Saya jadi teringat perdebatan saya dengan kakak saya dan suaminya yang berdiam di Malaysia. Mereka benar......

Mereka berkata:
"Indonesia punya banyak orang pintar. Sebagian besar guru, dosen, peneliti, ilmuwan di Malaysia bahkan guru mengaji berasal dari Indonesia, tapi Indonesia tidak pintar mengurus negeri. Indonesia tidak tahu mengatur hukum. Indonesia terlalu egois melihat kekurangan
diri sendiri dan terlalu sibuk membela diri daripada memperbaiki kesalahan itu sendiri....."


Saya hanya memandang ke tanah... dan bergumam, "Kakak dan abang, mungkin kalian benar"


Ironi, disaat para koruptor yang merugikan negara puluhan milyar masih bebas berkeliaran dan masalahnya menjadi semakin berlarut-larut tanpa penyelesaian, untuk pelanggaran hukum yang tidak sebanding yang dilakukan oleh rakyat kecil, maka hukum dengan serta merta ditegakkan. Sudah hilangkah rasa kemanusiaan di hati para pejabat? Di saat mereka masih sibuk menentukan siapa yang benar dan salah dalam kasus KPK, di saat itu pula setiap harinya 13 orang meninggal di kabupaten Yahukimo, Papua. Nasionalisme ditelan egoisme, eh??

[+]Read More...

Share/Save/Bookmark
Posted by Ahmad Sheva and filed under | 10 Comments »

Sepertinya Saya Tahu Rasanya

Posted on 02 Oktober 2009 | 19 Comments
tags :

seperti biasa, malam ini begitu sampai rumah hal pertama yang saya lakukan adalah menyalakan komputer (lebih tepatnya login ke desktop, karena komputer saya sudah menyala sejak 2 hari yang lalu tanpa berhenti) . tak ada yang spesial dengan apa yang saya lakukan pada malam ini . sebagaimana hari-hari sebelumnya, saya membuka application yang ada di dock secara berurutan . gak ada perubahan juga dari sistematika application openingnya . firefox, pidgin, songbird . selalu begitu . dan begitu firefox terbuka, urutan sites yang saya buka pun tak berubah dari beberapa bulan yang lalu . yahoo mail, gmail, facebook . baru setelah itu membuka news site macam kompas, detik, washingtonpost, jakartapost . di lanjutkan dengan membuka forum favorit saya, kaskus dan warez-bb . forum pertama untuk cari info, yang kedua untuk cari stuff buat di download .



email terbuka dan muncullah berbagai macam diskusi dari milis yang saya ikuti . dari yang hanya debat kusir tentang hal gak jelas sampai pembahasan ilmiah yang menarik . facebook terbuka dan muncullah notification yang bejibun . gak ada yang menarik , selain foto bergaya lucu salah seorang teman . dan jadilah foto itu ajang saling mengejek . lumayan lah jadi hiburan anak kuliah yang lagi stres . hal yang sama pun terjadi ketika membuka pidgin . hanya offline massage yang seperti biasa . kecewa , karena tidak ada message darinya . bahkan sekedar buzz .

dan yah , sepertinya hari ini saya harus menunggu lagi . menunggu saat dimana saya bisa tersenyum sendiri karena kata-katanya yang hampir selalu lebay dan nasihatnya secara tidak langsung . mengingat itu, rencana untuk belajar buat exam terlupa . ah, sepertinya saya mulai sedikit tahu jawaban dari pertanyaan yang saya ajukan beberapa tahun lalu ke salah seorang teman saya, "gimana sih rasanya jatuh cinta?"

[+]Read More...

Share/Save/Bookmark
Posted by Ahmad Sheva and filed under | 19 Comments »

Pernah Ada Masa-Masa

Posted on 26 September 2009 | 6 Comments
tags :

oleh : Salim A. Fillah

pernah ada masa-masa dalam cinta kita
kita lekat bagai api dan kayu
bersama menyala, saling menghangatkan rasanya
hingga terlambat untuk menginsyafi bahwa
tak tersisa dari diri-diri selain debu dan abu

pernah ada waktu-waktu dalam ukhuwah ini
kita terlalu akrab bagai awan dan hujan
merasa menghias langit, menyuburkan bumi,
dan melukis pelangi
namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai

di satu titik lalu sejenak kita berhenti, menyadari
mungkin hati kita telah terkecualikan dari ikatan di atas iman
bahkan saling nasehatpun tak lain bagai dua lilin
saling mencahayai, tapi masing-masing habis dimakan api

kubaca cendikiawan dinasti ming, feng meng long
menuliskan sebaitnya dalam ‘yushi mingyan’;
“bungapun layu jika berlebih diberi rawatan
willow tumbuh subur meski diabaikan”

maka kitapun menjaga jarak dan mengikuti nasihat ‘ali
“berkunjunglah hanya sekali-sekali, dengan itu cinta bersemi”

padahal saat itu, kau sedang dalam kesulitan
seperti katamu, kau sedang perlu bimbingan
maka seolah aku telah membiarkan
orang bisu yang merasakan kepahitan
menderita sendiri, getir dalam sunyi
-ataukah memang sejak dulu begitulah aku?-

dan sekarang aku merasa bersalah lagi
seolah hadirku kini cuma untuk menegur
hanya mengajukan keberatan, bahkan menyalahkan
bukan lagi penguatan, bukan lagi uluran tangan
-kurasa uluran tanganku yang dulupun membuat kita
hanya berputar-putar di kubangan yang kau gali itu-

kini aku hanya menangis rindu membaca kisah ini;
satu hari abu bakr, lelaki tinggi kurus itu menjinjing kainnya
terlunjak jalannya, tertampak lututnya, gemetar tubuhnya
“sahabat kalian ini”, kata Sang Nabi pada majelisnya, “sedang kesal
maka berilah salam padanya dan hiburlah hatinya..”

“antara aku dan putera al khaththab”, lirih abu bakr
dia genggam tangan nabi, dia tatap mata beliau dalam-dalam
“ada kesalahfahaman. lalu dia marah dan menutup pintu rumah.
kuketuk pintunya, kuucapkan salam berulangkali untuk memohon maafnya,
tapi dia tak membukanya, tak menjawabku, dan tak juga memaafkan.”

tepat ketika abu bakr selesai berkisah, ‘umar datang dengan resah
“sungguh aku diutus pada kalian”, Sang Nabi bersabda
“lalu kalian berkata ‘engkau dusta!’, wajah beliau memerah
“hanya abu bakr seorang yang langsung mengiya, ‘engkau benar!’
lalu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya.
masihkah kalian tidak takut pada Allah untuk menyakiti sahabatku?”

‘umar berlinang, beristighfar dan berjalan simpuh mendekat
tapi tangis abu bakr lebih keras, air matanya bagai kaca jendela lepas
katanya, “tidak ya Rasulallah.. tidak.. ini bukan salahnya..
demi Allah akulah memang yang keterlaluan. .”
lalu diapun memeluk ‘umar, menenangkan bahu yang terguncang

ya Allah jika kelak mereka berpelukan lagi di sisiMu
mohon sisakan bagian rengkuhannya untuk kami
pada pundak, pada lengan, pada nafas-nafas ini.

[+]Read More...

Share/Save/Bookmark
Posted by Ahmad Sheva and filed under | 6 Comments »
 

blog.o.share © 2008 by blog.o.share | Original Designed by Design Blog | Blogger Template by ThemeLib.com