Transkrip Pidato Ibu Sri Mulyani di Hotel Ritz-Carlton

Saya rasanya lebih berat berdiri disini daripada waktu dipanggil Pansus Century. Dan saya bisa merasakan itu karena sometimes dari moral dan etikanya jelas berbeda. Dan itu yang membuat saya jarang sekali merasa grogi sekarang menjadi grogi.

Saya diajari Pak Marsilam untuk memanggil orang tanpa mas atau bapak, karena diangap itu adalah ekspresi egalitarian. Saya susah manggil ‘Marsilam’, selalu pakai ‘pak’, dan dia marah. Tapi untuk Rocky saya malam ini saya panggil Rocky (Rocky Gerung dari P2D) yang baik. Terimakasih atas…… (tepuk tangan)

Tapi saya jelas nggak berani manggil Rahmat Toleng dengan Rahmat Tolengtor, kasus. Terimakasih atas introduksi yang sangat generous. Saya sebetulnya agak keberatan diundang malam hari ini untuk dua hal. Pertama karena judulnya adalah memberi kuliah. Dan biasanya kalau memberi kuliah saya harus, paling tidak membaca textbook yang harus saya baca dulu dan kemudian berpikir keras bagaimana menjelaskan.

Dan malam ini tidak ada kuliah di gedung atau di hotel yang begitu bagus tu biasanya kuliah kelas internasional atau spesial biasanya. Hanya untuk eksekutif yang bayar SPP nya mahal. Dan pasti neolib itu (disambut tertawa). Oleh karena itu saya revisi mungkin namanya lebih adalah ekspresi saya untuk berbicara tentang kebijakan publik dan etika publik.

Yang kedua, meskipun tadi mas Rocky menyampaikan, eh salah lagi. Kalau tadi disebutkan mengenai ada dua laki-laki, hati kecil saya tetap saya akan mengatakan sampai hari ini saya adalah pembantu laki-laki itu (tepuk tangan). Dan malam ini saya akan sekaligus menceritakan tentang konsep etika yang saya pahami pada saat saya masih pembantu, secara etika saya tidak boleh untuk mengatakan hal yang buruk kepada siapapun yang saya bantu.

Jadi saya mohon maaf kalau agak berbeda dan aspirasinya tidak sesuai dengan amanat pada hari ini. Tapi saya diminta untuk bicara tentang kebijakan publik dan etika publik. Dan itu adalah suatu topik yang barangkali merupakan suatu pergulatan harian saya, semenjak hari pertama saya bersedia untuk menerima jabatan sebagai menteri di kabinet di Republik Indonesia itu.

Suatu penerimaan jabatan yang saya lakukan dengan penuh kesadaran, dengan segala upaya saya untuk memahami apa itu konsep jabatan publik. Pejabat negara yang pada dalam dirinya, setiap hari adalah melakukan tindakan, membuat pernyataan, membuat keputusan, yang semuanya adalah dimensinya untuk kepentingan publik.

Disitu letak pertama dan sangat sulit bagi orang seperti saya karena saya tidak belajar, seperti anda semua, termasuk siapa tadi yang menjadi MC, tentang filosofi. Namun saya dididik oleh keluarga untuk memahami etika di dalam pemahaman seperti yang saya ketahui. Bahwa sebagai pejabat publik, hari pertama saya harus mampu untuk membuat garis antara apa yang disebut sebagai kepentingan publik dengan kepentingan pribadi saya dan keluarga, atau kelompok.

Dan sebetulnya tidak harus menjadi muridnya Rocky Gerung di filsafat UI untuk pintar mengenai itu. Karena kita belajar selama 30 tahun dibawah rezim presiden Soeharto. Dimana begitu acak hubungan, dan acak-acakan hubungan antara kepentingan publik dan kepentingan pribadi. Dan itu merupakan modal awal saya untuk memahami konsekuensi menjadi pejabat publik yang setiap hari harus membuat kebijakan publik dengan domain saya sebagai makhluk, yang juga punya privacy atau kepentingan pribadi.

Di dalam ranah itulah kemudian dari hari pertama dan sampai lebih dari 5 tahun saya bekerja untuk pemerintahan ini. Topik mengenai apa itu kebijakan publik dan bagaimana kita harus, dari mulai berpikir, merasakan, bersikap, dan membuat keputusan menjadi sangat penting. Tentu saya tidak perlu harus mengulangi, karena itu menyangkut, yang disebut, tujuan konstitusi, yaitu kepentingan masyarakat banyak. Yaitu mencapai kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur.

Jadi kebijakan pubik dibuat tujuannya adalah untuk melayani masyarakat, Kebijakan publik dibuat melalui dan oleh kekuasaan. Karena dia dibuat oleh institusi publik yang eksis karena dia merupakan produk dari suatu proses politik dan dia memiliki kekuasaan untuk mengeluarkannya. Disitulah letak bersinggungan, apa yang disebut sebagai ingridient utama dari kebijakan publik, yaitu unsur kekuasaan. Dan kekuasaan itu sangat mudah menggelincirkan kita.

Kekuasaan selalu cenderung untuk corrupt. Tanpa adanya pengendalian dan sistim pengawasan, saya yakin kekuasaan itu pasti corrupt. Itu sudah dikenal oleh kita semua. Namun pada saat anda berdiri sebagai pejabat publik, memiliki kekuasan dan kekuasan itu sudah dipastikan akan membuat kita corrupt, maka pertanyaan ‘kalau saya mau menjadi pejabat publik dan tidak ingin corrupt, apa yang harus saya lakukan?’

Oleh karena itu, di dalam proses-proses yang dilalui atau saya lalui, jadi ini lebih saya cerita daripada kuliah. Dari hari pertama, karena begitu khawatirnya, tapi juga pada saat yang sama punya perasaan anxiety untuk menjalankan kekuasaan, namun saya tidak ingin tergelincir kepada korupsi, maka pada hari pertama anda masuk kantor, anda bertanya dulu kepada sistem pengawas internal anda dan staff anda. Apalagi waktu itu jabatan dari Bappenas menjadi Menteri Keuangan. Dan saya sadar sesadar sadarnya bahwa kewenangan dan kekuasaan Kementrian Keuangan atau Menteri Keuangan sungguh sangat besar. Bahkan pada saat saya tidak berpikir corrupt pun orang sudah berpikir ngeres mengenai hal itu.

Bayangkan, seseorang harus mengelola suatu resources yang omsetnya tiap tahun sekitar, mulai dari saya mulai dari 400 triliun sampai sekarang diatas 1000 triliun, itu omset. Total asetnya mendekati 3000 triliun lebih.(batuk2).

Saya lihat (ehem!) banyak sekali (ehem lagi) kalau bicara uang terus langsung…. (ada air putih langsung datang di iringi ketawa hadirin). Saya sudah melihat banyak sekali apa yang disebut tata kelola atau governance. pada saat seseorang memegang suatu kewenangan dimana melibatkan uang yang begitu banyak. Tidak mudah mencari orang yang tidak tergiur, apalagi terpeleset, sehingga tergoda bahwa apa yang dia kelola menjadi seoalh-olah menjadi barang atau aset miliknya sendiri.

Dan disitulah hal-hal yang sangat nyata mengenai bagaimana kita harus membuat garis pembatas yang sangat disiplin. Disiplin pada diri kita sendiri dan dalam, bahkan, pikiran kita dan perasaan kita untuk menjalankan tugas itu secara dingin, rasional, dengan penuh perhitungan dan tidak membolehkan perasaan ataupun godaan apapun untuk, bahkan berpikir untuk meng-abusenya.

Barangkali itu istilah yang disebut teknokratis. Tapi saya sih menganggap bahwa juga orang yang katanya berasal dari akademik dan disebut tekhnokrat tapi ternyata ‘bau’nya tidak seperti itu. Tingkahnya apalagi lebih-lebih.

Jadi saya biasanya tidak mengklasifikasikan berdasarkan label. Tapi berdasarkan genuine product nya dia hasilnya apa, tingkah laku yang esensial.

Nah, di dalam hari-hari dimana kita harus membicarakan kebijakan publik, dan tadi disebutkan bahwa kewenangan begitu besar, menyangkut sebuah atau nilai resources yang begitu besar. Kita mencoba untuk menegakkan rambu-rambu, internal maupun eksternal.

Mungkin contoh untuk internal hari pertama saya bertanya kepada Inspektorat Jenderal saya. “Tolong beri saya list apa yang boleh dan tidak boleh dari seorang menteri.” Biasanya mereka bingung, tidak perndah ada menteri yang tanya begitu ke saya bu. Saya menteri boleh semuanya termasuk mecat saya.

Kalau seorang menteri kemudian menanyakan apa yang boleh dan nggak boleh, buat mereka menjadi suatu pertanyaan yang sangat janggal. Untuk kultur birokrat, itu sangat sulit dipahami. Di dalam konteks yang lebih besar dan alasan yang lebih besar adalah dengan rambu-rambu. Kita membuat standart operating procedure, tata cara, tata kelola untuk membuat bagaimana kebijakan dibuat. Bahkan menciptakan sistem check and balance.

Karena kebijakan publik dengan menggunakan elemen kekuasaan, dia sangat mudah untuk memunculkan konflik kepentingan. Saya bisa cerita berhari-hari kepada anda. Banyak contoh dimana produk-produk kebijakan sangat memungkinkan seorang, pada jabatan Menteri Keuangan, mudah tergoda. Dari korupsi kecil hingga korupsi yang besar. Dari korupsi yang sifatnya hilir dan ritel sampai korupsi yang sifatnya upstream dan hulu.

Dan bahkan dengan kewenangan dan kemampuannya dia pun bisa menyembunyikan itu. Karena dengan kewenangan yang besar, dia juga sebetulnya bisa membeli sistem. Dia bisa menciptakan network. Dia bisa menciptakan pengaruh. Dan pengaruh itu bisa menguntungkan bagi dirinya sendiri atau kelompoknya.

Godaan itulah yang sebetulnya kita selalu ingin bendung. Karena begitu anda tergelincir pada satu hal, maka tidak akan pernah berhenti. Namun, meskipun kita mencoba untuk menegakkan aturan, membuat rambu-rambu, dengan menegakkan pengawasan internal dan eksternal, sering bahwa pengawasan itu pun masih bisa dilewati. Disinilah kemudian muncul, apa yang disebut unsur etika. Karena etika menempel dalam diri kita sendiri. Di dalam cara kita melihat apakah sesuatu itu pantas atau tidak pantas, apakah sesuatu itu menghianati atau tidak menghianati kepentingan publik yang harus kita layani. Apakah kita punya keyakinan bahwa kita tidak sedang menghianati kebenaran. Etika itu ada di dalam diri kita.

Dan kemudian kalau kita bicara tentang total, atau di dalam bahasa ekonomi yang keren namanya agregat, setiap kepala kita dijumlahkan menjadi etika yang jumlahnya agregat atau publik, pertanyaannya adalah apakah di dalam domain publik ini setiap etika pribadi kita bisa dijumlahkan dan menghasilkan barang publik yang kita inginkan, yaitu suatu rambu-rambu norma yang mengatur dan memberikan guidance kepada kita.

Saya termasuk yang sungguh sangat merasakan penderitaan selama menjadi menteri. Karena itu tidak terjadi. Waktu saya menjadi menteri, sering saya harus berdiri atau duduk berjam-jam di DPR. Disitu anggota DPR bertanya banyak hal. Kadang-kadang bernada pura-pura sungguh-sungguh. Mereka mengkritik begitu keras. Tapi kemudian mereka dengan tenangnya mengatakan ‘Ini adalah panggung politik bu.’

Waktu saya dulu masuk menteri keuangan pertama saya masih punya dua Dirjen yang sangat terkenal, Dirjen Pajak dan Dirjen Bea Cukai saya. Mereka sangat powerfull. Karena pengaruhnya, dan respectability karena saya tidak tahu karena kepada angota dewan sangat luar biasa. Dan waktu saya ditanya, mulainya dari…? Segala macem. Setiap keputusan, statemen saya dan yang lain-lain selalu ditanya dengan sangat keras. Saya tadinya cukup naif mengatakan, “Oh ini ongkos demokrasi yang harus dibayar.” Dan saya legowo saja dengan tenang menulis pertanyaan-pertanyaan mereka. Waktu sudah ditulis mereka keluar ruangan, nggak pernah peduli mau dijawab atau tidak. Kemudian saya dinasehati oleh Dirjen saya itu, “Ibu tidak usah dimasukkan ke hati bu. Hal seperti itu hanya satu episod drama saja.”

Tapi kemudian itu menimbulkan satu pergolakan batin orang seperti saya. Karena saya kemudian bertanya. Tadi dikaitkan dengan etika publik, kalau orang bisa secara terus menerus berpura-pura, dan media memuat, dan tidak ada satu kelompokpun mengatakan bahwa itu kepura-puraan maka kita bertanya, apalagi? siapa lagi yang akan menjadi guidance? yang mengingatkan kita dengan, apa yang disebut, norma kepantasan. Dan itu sungguh berat. Karena saya terus mengatakan kalau saya menjadi pejabat publik, ongkos untuk menjadi pejabat publik, pertama, kalau saya tidak corrupt, jelas saya legowo nggak ada masalah. Tapi yang kedua saya menjadi khawatir saya akan split personality.

Waktu di dewan saya menjadi personality yang lain, nanti di kantor saya akan menjadi lain lagi, waktu di rumah saya lain lagi. Untung suami dan anak-anak saya tidak pernah bingung yang mana saya waktu itu. Dan itu sesuatu yang sangat sulit untuk seorang seperti saya untuk harus berubah-ubah.

Kalau pagi lain nilainya dengan sore, dan sore lain dengan malam. Malam lain lagi dengan tengah malam. Kan itu sesuatu yang sangat sulit untuk diterima. Itu ongkos yang paling mahal bagi seorang pejabat publik yang harus menjalankan dan ingin menjalankan secara konsisten. Nah, oleh karena itu, di dalam konteks inilah kita kan bicara mengenai kebijakan publik, etika publik yang seharusnya menjadi landasan, arahan bagi bagaimana

kita memproduksi suatu tindakan, keputusan, yang itu adalah untuk urusan rakyat. Yaitu kesejahteraan rakyat, mengurangi penderitaan mereka, menaikkan suasana atau situasi yang baik di masyarakat, namun di sisi lain kita harus berhadapan dengan konteks kekuasaan dan struktur politik. Dimana buat mereka norma dan etika itu nampaknya bisa tidak hanya double standrart, triple standart.

Dan bahkan kalau kita bicara tentang istilah dan konsep mengenai konflik kepentingan, saya betul-betul terpana. Waktu saya menjadi executive director di IMF, pertama kali saya mengenal apa yang disebut birokrat dari negara maju. Hari pertama saya diminta untuk melihat dan tandatangan mengenai etika sebagai seorang executive director, do dan don’ts. Disitu juga disebutkan mengenai konsep konflik kepentingan. Bagaimana suatu institusi yang memprodusir suatu policy publik, untuk level internasional, mengharuskan setiap elemen, orang yang terlibat di dalam proses politik atau proses kebijakan itu harus menanggalkan konflik kepentingannya. Dan kalau kita ragu kita boleh tanya, apakah kalau saya melakukan ini atau menjabat yang ini apakah masuk dalam domain konflik kepentingan. Dan mereka memberikan counsel untuk kita, untuk bisa membuat keputusan yang baik. Sehingga bekerja di institusi seperti itu menurut saya mudah. Dan kalau sampai anda tergelincir ya kebangetan aja anda.

Namun waktu kembali ke Indonesia dan saya dengan pemahaman mengenai konsep konflik kepentingan, saya sering menghadiri suatu rapat membuat suatu kebijakan, dimana kebijakan itu akan berimplikasi kepada anggaran, entah belanja, entah insentif, dan pihak yang ikut duduk dalam proses kebijakan itu adalah pihak yang akan mendapatkan keuntungan itu. Dan tidak ada rasa risih. Hanya untuk menunjukkan yang penting pemerintahan efektif, jalan. Kuenya dibagi ke siapa itu adalah urusan sekunder.

Anda bisa melihat bahwa kalau pejabat itu adalah background-nya pengusaha, meskipun yang bersangkutan mengatakan telah meninggalkan seluruh bisnisnya, tapi semua orang tahu bahwa adiknya, kakaknya, anaknya, dan teteh, mamah, aa’ semuanya masih run. Dan dengan tenangnya, berbagai kebijakan, bahkan yang membuat saya terpana, kalau dalam hal ini apa disebutnya? kalau dalam bahasa inggris apa disebutnya? i drop my job atau apa..bengong itu.

Kita bingung bahwa ada suatu keputusan dibuat, dan saya banyak catatan pribadi saya di buku saya. Ada keputusan ini, tiba-tiba besok lagi keputusan itu ternyata yang menimport adalah perusahaannya dia.

Nah ini merupakan sesuatu hal yang barangkali tanpa harus mendramatisir yang dikatakan oleh Rocky tadi seolah-olah menjadi the most reason phenomena. Kita semua tahu, itulah penyakit yang terjadi di jaman orde baru. Hanya dulu dibuatnya secara tertutup, tapi sekarang dengan kecanggihan, karena kemampuan dari kekuasaan, dia mengkooptasi decision making process juga.

Kelihatannya demokrasi, kelihatannya melalui proses check and balance, tapi di dalam dirinya, unsur mengenai konflik kepentingan dan tanpa etika begitu kental. Etika itu barang yang jarang disebut pak.

Ada suatu saat saya membuat rapat dan rapat ini jelas berhubungan dengan beberapa perusahaan. Kebetulan ada beberapa dari yang kita undang, dia adalah komisaris dari beberapa perusahaan itu. Kami biasa, dan saya mengatakan dengan tenang, bagi yang punya afiliasi dengan apa yang kita diskusikan silahkan keluar dari ruangan. Memang itu adalah tradisi yang coba kita lakukan di kementerian keuangan. Kebetulan mereka adalah teman-teman saya.

Jadi teman-teman saya itu dengan bitter mengatakan, “Mbak ani jangan sadis-sadis amat lah kayak gitu. Kalaupun kita disuruh keluar juga diem-diem aja. Nggak usah caranya kayak gitu.”

Saya ingin menceritakan cerita seperti ini kepada anda bagaimana ternyata konsep mengenai etika dan konflik kepentingan itu, bisa dikatakan sangat langka di republik ini. Dan kalau kita berusaha untuk menjalankan dan menegakkan, kita dianggap menjadi barang yang aneh. Jadi tadi kalau MC nya menjelaskan bahwa saya ingin menjelaskan bahwa di luar gua itu ada sinar dan dunia yang begitu bagus, di dalam saya dianggap seperti orang yang cerita yang nggak nggak aja. Belum kalau di dalam konteks politik besar, kemudian, wah ini konsep barat pasti ‘Lihat saja Sri Mulyani, neolib.’

Jadi saya mungkin akan mengatakan bagaimana ke depan di dalam proses politik. Tentu adalah suatu keresahan buat kita. Karena episod yang terjadi beberapa kali adalah bahwa di dalam ruangan publik, rakyat atau masyarakat yang harusnya menjadi the ultimate shareholder dari kekuasaan. Dia memilih, kepada siapapun CEO di republik ini dan dia juga memilih dari orang-orang yang diminta untuk menjadi pengawas atau check terhadap CEO nya.

Dan proses ini ternyata juga tidak murah dan mudah. Sudah banyak orang yang mengatakan untuk menjadi seorang jabatan eksekutif dari level kabupaten, kota, propinsi, membutuhkan biaya yang luar biasa, apalagi presiden pastinya.

Dan biayanya sungguh sangat tidak bisa dibayangkan untuk suatu beban seseorang. Saya menteri keuangan saya biasa mengurusi ratusan triliun bahkan ribuan, tapi saya tidak kaget dengan angka. Tapi saya akan kaget kalau itu menjadi beban personal.

Seseorang akan menjadi kandidat mengeluarkan biaya sebesar itu. Kalkulasi mengenai return of investment saja tidak masuk. Bagaimana anda mengatakan dan waktu saya mengatakan saya lihat struktur gaji pejabat negara sungguh sangat tidak rasional. Dan kita pura-pura tidak boleh menaikkan karena kalau menaikkan kita dianggap mau mensejahterakan diri sebelum mensejahterakan rakyat. Sehingga muncullah anomali yang sangat tidak bisa dijelaskan oleh logika akal sehat, bahkan Rocky bilangnya ada akal miring. Saya mencoba sebagai pejabat negara untuk mengembalikan akal sehat dengan mengatakan strukturnya harus dibenahi lagi. Namun toh tetap tidak bisa menjelaskan suatu proses politik yang begitu sangat mahalnya.

Sehingga memunculkan suatu kebutuhan untuk berkolaborasi dengan sumber finansialnya. Dan disitulah kontrak terjadi. Di tingkat daerah, tidak mungkin itu dilakukan dengan membayar melalui gajinya. Bahkan melalui APBD nya pun tidak mungkin karena size dari APBN nya kadang-kadang tidak sebesar atau mungkin juga lebih sulit. Sehingga yang bisa adalah melalui policy. Policy yang bisa dijual belikan. Dan itu adalah adalah bentuk hasil dari suatu kolaborasi.

Pertanyaan untuk kita semua, bagaimana kita menyikapi hal ini di dalam konteks bahwa produk dari kebijakan publik, melalui sebuah proses politik yang begitu mahal sudah pasti akan di stated dengan struktur yang membentuk awalnya.

Karena kebijakan publik adalah hilirnya, hasil akhir. Hulunya yang memegang kekuasaan, lebih hulu lagi adalah prosesnya untuk mendapatkan kekuasaan itu demikian mahal. Dan itu akan menjadi pertanyaan yang concern untuk sebuah sistem demokrasi. Maka pada saat kita dipilih atau diminta untuk menjadi pembantu atau menjadi bagian dari pemerintah, Tentu kita tidak punya ilusi bahwa ruangan politik itu vakum atau hampa dari kepentingan. politik dimana saja pasti tentang kepentingan.

Dan kepentingan itu kawin diantara beberapa kelompok untuk mendapatkan kekuasaan itu. Pasti itu perkawinannya adalah pada siapa saja yang menjadi pemenang.

Kalau pada hari ini tadi disebutkan ada yang menanyakan atau menyesalkan atau ada yang menangisi ada yang gelo (jawa:menyesal. red), kenapa kok Sri Mulyani memutuskan untuk mundur dari Menteri Keuangan. Tentu ini adalah suatu kalkulasi dimana saya menganggap bahwa sumbangan saya, atau apapun yang saya putuskan sebagai pejabat publik tidak lagi dikehendaki di dalam sistem politik. Dimana perkawinan kepentingan itu begitu sangat dominan dan nyata. Banyak yang mengatakan itu adalah kartel, saya lebih suka pakai kata kawin, walaupun jenis kelaminnya sama. (ketawa dan tepuk tangan), karena politik itu lebih banyak lakinya daripada perempuan makanya saya katakan tadi. Hampir semua ketua partai politik laki kecuali satu. Dan di dalam bahwa dimana sistem politik tidak menghendaki lagi atau dalam hal ini tidak memungkinkan etika publik itu bisa dimunculkan, maka untuk orang seperti saya akan menjadi sangat tidak mungkin untuk eksis. Karena pada saat saya menerima tangung-jawab untuk menjadi pejabat publik, saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri, saya tidak ingin menjadi orang yang akan menghianati dengan berbuat corrupt. Saya tidak mengatakan itu gampang. Sangat painful. Sungguh painful sekali. Dan saya tidak mengatakan bahwa saya tidak pernah mengucurkan atau meneteskan airmata untuk menegakkan prinsip itu. Karena ironinya begitu besar. Sangat besar. Anda memegang kekuasaan begitu besar. Anda bisa, anda mampu, anda bahkan boleh, bahkan diharapkan untuk meng abuse nya oleh sekelompok yang sebetulnya menginginkan itu terjadi agar nyaman dan anda tidak mau. (tepuk tangan) Pada saat yang sama anda tidak selalu di apresiasi. P2D kan baru muncul sesudah saya mundur (ketawa, disini dia terlihat mengusapkan saputangan ke matanya).

Jadi ya terlambat tidak apa-apa, terbiasa. Saya masih bisa menyelamatkan republik ini lah. Jadi saya tidak tahu tadi, Rocky tidak ngasih tahu saya berapa menit atau berapa jam. Soalnya diatas jam 9 argonya lain lagi nanti. Jadi saya gimana harus menutupnya. Nanti kayaknya nyanyi aja balik terus nanti. Mungkin saya akan mengatakan bahwa pada bagian akhir kuliah saya ini atau cerita saya ini saya ingin menyampaikan kepada semua kawan-kawan disini.

Saya bukan dari partai politik, saya bukan politisi, tapi tidak berarti saya tidak tahu politik. Selama lebih dari 5 tahun saya tahu persis bagaimana proses politik terjadi. Kita punya perasaan yang bergumul atau bergelora atau resah. Keresahan itu memuncak pada saat kita menghadapi realita jangan-jangan banyak orang yang ingin berbuat baik merasa frustasi. Atau mungkin saya akan less dramatic. Banyak orang-orang yang harus dipaksa untuk berkompromi dan sering kita menghibur diri dengan mengatakan kompromi ini perlu untuk kepentingan yang lebih besar.

Sebetulnya cerita itu bukan cerita baru, karena saya tahu betul pergumulan para teknokrat jaman pak Harto, untuk memutuskan stay atau out adalah pada dilema, apakah dengan stay saya bisa membuat kebijakan publik yang lebih baik sehingga menyelamatkan suatu kerusakan yang lebih besar. Atau anda out dan anda disitu akan punya kans untuk berbuat atau tidak, paling tidak resiko getting associated with menjadi less. Personal gain, public loss. If you are stay, dan itu yang saya rasakan 5 tahun, you suddenly feel that everybody is your enemy.

Karena no one yang sangat simpati dan tahu kita pun akan tidak terlalu happy karena kita tetap berada di dalam sistem. Yang tidak sejalan dengan ktia juga jengkel karena kita tidak bisa masuk kelompok yang bisa diajak enak-enakan. Sehingga anda di dalam sandwich di dua hal itu. Dan itu bukan suatu pengalaman yang mudah. Sehingga kita harus berkolaborasi untuk membuat space yang lebih enak, lebih banyak sehingga kita bisa menemukan kesamaan.

Nah kalau kita ingin kembali kepada topiknya untuk menutup juga, saya rasa forum-forum semacam ini atau saya mengatakan kelompok seperti anda yang duduk pada malam hari ini adalah kelompok kelas menengah. Yang sangat sadar membayar pajak. Membayarnya tentu tidak sukarela, tidak seorang yang patriotik yang mengatakan dia membayar pajak sukarela. Tapi meskipun tidak sukarela, anda sadar bahwa itu adalah suatu kewajiban untuk menjaga republik ini tetap berdaulat. Dan orang seperti anda yang tau membayar pajak adalah kewajiban dan sekaligus hak untuk menagih kepada negara, mengembalikan dalam bentuk sistim politik yang kita inginkan. Maka sebetulnya di tangan orang-orang seperti anda lah republik ini harus dijaga. Sungguh berat, dan saya ditanya atau berkali-kali di banyak forum untuk ditanya, kenapa ibu pergi?. Bagaimana reformasi, kan yang dikerjakan semua penting. Apakah ibu tidak melihat Indonesia sebagai tempat untuk pengabdian yang lebih penting dibandingkan bank dunia.

Seolah-olah sepertinya negara ini menjadi tanggungjawab Sri Mulyani. Dan saya keberatan. Dan saya ingin sampaikan di forum ini karena anda juga bertanggung-jawab kalau bertanya hal yang sama ke saya. Anda semua bertanggungjawab sama seperti saya. Mencintai republik ini dengan banyak sekali pengorbanan sampai saya harus menyampaikan kepada jajaran pajak, jajaran bea cukai, jajaran perbendaharaan, “Jangan pernah putus asa mencintai republik.”

Saya tahu, sungguh sulit mengurusnya pada masa-masa transisi yang sangat pelik. Kecintaan itu paling tidak akan terus memelihara suara hati kita. Dan bahkan menjaga etika kita di dalam betindak dan berbuat serta membuat keputusan. Dan saya ingin membagi kepada teman-teman disini, karena terlalu banyak di media seolah-olah ditunjukkan yang terjadi dari aparat di kementrian keuangan yang sudah direformasi masih terjadi kasus seperti Gayus.

Saya ingin memberikan testimoni bahwa banyak sekali aparat yang betul-betul genuinly adalah orang-orang yang dedicated. Mereka yang cinta republik sama seperti anda. Mereka juga kritis, mereka punya nurani, mereka punya harga diri. Dia bekerja pada masing-masing unit, mungkin mereka tidak bersuara karena mereka adalah bagian dari birokrat yang tidak boleh bersuara banyak tapi harus bekerja.

Sebagian kecil adalah kelompok rakus, dan dengan kekuasaan sangat senang untuk meng abuse. Tapi saya katakan sebagian besar adalah orang-orang baik dan terhormat. Saya ingin tolong dibantu, berilah ruang untuk orang-orang ini untuk dikenali oleh anda juga dan oleh masyarakat. Sehingga landscape negara ini tidak hanya didominasi oleh cerita, oleh tokoh, apalagi dipublikasi dengan seolah-olah menggambarkan bahwa seluruh sistem ini adalah buruk dan runtuh. Selama seminggu ini saya terus melakukan pertemuan dan sekaligus perpisahan dengan jajaran di kementrian keuangan dan saya bisa memberikan, sekali lagi, testimoni bahwa perasaan mereka untuk membuktikan bahwa reform bisa jalan ada disana. Bantu mereka untuk tetap menjaga api itu. Dan jangan kemudian anda disini bicara dengan saya, ya bisa diselamatkan kalau sri mulyani tetap menjadi Menteri keuangan. Saya rasa tidak juga.

Suasana yang kita rasakan pada minggu-minggu yang lalu, bulan-bulan yang lalu, seolah-olah persoalan negara ini disandera oleh satu orang, sri mulyani. Sedemikian pandainya proses politik itu diramu sedemikian sehingga seolah-olah persoalannya menjadi persoalan satu orang. Seseorang yang pada suatu ketika dia harus membuat keputusan yang sungguh tidak mudah, dengan berbagai pergumulan, kejengkelan, kemarahan, kecapekan, kelelahan, namun dia harus tetap membuat kebijakan publik. Dia berusaha, berusaha di setiap pertemuan, mencoba untuk meneliti dirinya sendiri apakah dia punya kepentingan pribadi atau kelompok, dan apakah dia diintervensi atau tidak, apakah dia membuat keputusan karena ada tujuan yang lain. Berhari-hari, berjam-jam dia bertanya, dia minta, dia mengundang orang dan orang-orang ini yang tidak akan segan mengingatkan kepada saya. Meskipun mereka tahu saya menteri, mereka lebih tua dari saya. Orang seperti pak Darmin, siapa yang bisa bilang atau marahin pak marsilam? wong semua orang dimarahin duluan sama dia.

Mereka ada disana hanya untuk mengingatkan saya berbagai rambu-rambu, berbagai pilihan dan pilihan sudah dibuat. Dan itu dilaporkan, dan itu diaudit dan itu kemudian dirapatkan secara terbuka. Dan itu kemudian dirapatkerjakan di DPR. Bagaimana mungkin itu kemudian 18 bulan kemudian dia seolah-olah menjadi keputusan individu seorang Sri Mulyani. Proses itu berjalan dan etika sunyi. Akal sehat tidak ada. Dan itu memunculkan suatu perasaan apakah pejabat publik yang tugasnya membuat kebijakan publik pada saat dia sudah mengikuti rambu-rambu, dia masih bisa divictimize oleh sebuah proses politik.

Saya hanya mengatakan, kalau dulu pergantian rezim orde lama ke orde baru, semua orang di stigma komunis, kalau ini khusus didisain pada era reformasi seorang distigma dengan sri mulyani identik dengan century. Mungkin kejadiannya di satu orang saja, tapi sebetulnya analogi dan kesamaan mengenai suatu penghakiman telah terjadi.

Sebetulnya disitulah letak kita untuk mulai bertanya, apakah proses politik yang di dorong, yang di motivate, yang ditunggangi oleh suatu kepentingan membolehkan seseorang untuk dihakimi, bahkan tanpa pengadilan. Divonis tanpa pengadilan. Itu barangkali adalah suatu episod yang sebetulnya sudah berturut-turut kita memahami konsekuensi sebagai pejabat publik yang tujuannya membuat kebijakan publik, dan berpura-pura seolah-olah ada etika dan norma yang menjadi guidance kita dibenturkan dengan realita-realita politik.

Dan untuk itu, saya hanya ingin mengatakan sebagai penutup, sebagian dari anda mengatakan apakah Sri mulyani kalah, apakah sri mulyani lari? Dan saya yakin banyak yang menyesalkan keputusan saya. Banyak yang menganggap itu adalah suatu loss atau kehilangan. Diantara anda semua yang ada disini, saya ingin mengatakan bahwa saya menang. Saya berhasil. Kemenangan dan keberhasilan saya definisikan menurut saya karena tidak didikte oleh siapapun termasuk mereka yang menginginkan saya tidak disini. (applause)

Saya merasa berhasil dan saya merasa menang karena definisi saya adalah tiga. Selama saya tidak menghianati kebenaran, selama saya tidak mengingkari nurani saya, dan selama saya masih bisa menjaga martabat dan harga diri saya, maka disitu saya menang. Terimakasih. (standing applause) . [18-05-2010 'Kuliah Umum tentang Kebijakan Publik dan Etika Publik']

[Ririn Radiawati, jurnalis Media Indonesia]

Note :

I did both read and hear the speech, tapi entah kenapa tiba-tiba terpikir untuk repost pidato terakhir dari bu Sri Mulyani pada tanggal 18 kemarin. Yah, it might be a bit late to post this article. But I believe that someday this maybe useful for me :D.

Labels:

Funny Lessons

  • Lesson 1
  • A sales rep, an administration clerk, and the manager are walking to lunch when they find an antique oil lamp. They rub it and a Genie comes out. The Genie says, “I’ll give each of you just one wish” “Me first! Me first!” says the admin. clerk. “I want to be in the Bahamas, driving a speedboat, without a care in the world.” Poof! She’s gone. “Me next! Me next!” says the sales rep. “I want to be in Hawaii,relaxing on the beach with my personal masseuse, an endless supply of Pina Coladas and the love of my life.” Poof! He’s gone. “OK, you’re up,” the Genie says to the manager. The manager says, “I want those two back in the office after lunch.”
    Moral of the story: Always let your boss have the first say.
  • Lesson 2
  • A crow was sitting on a tree, doing nothing all day. A rabbit asked him,”Can I also sit like you and do nothing all day long?” The crow answered: “Sure, why not.” So, the rabbit sat on the ground below the crow, and rested. A fox jumped on the rabbit and ate it.
    Moral of the story: To be sitting and doing nothing, you must be sitting very high up.
  • Lesson 3
  • A turkey was chatting with a bull “I would love to be able to get to the top of that tree,” sighed the turkey, but I haven’t got the energy.” “Well, why don’t you nibble on my droppings?” replied the bull. “They’re packed with nutrients.” The turkey pecked at a lump of dung and found that it gave him enough strength to reach the lowest branch of the tree. The next day, after eating some more dung, he reached the second branch. Finally after a fourth night, there he was proudly perched at the top of the tree. Soon he was spotted by a farmer, who shot the turkey out of the tree.
    Moral of the story: Bullshit might get you to the top, but it wont keep you there.
  • Lesson 4
  • A little bird was flying south for the winter. It was so cold the bird froze and fell to the ground into a large field. While he was lying there, a cow came by and dropped some dung on him. As the frozen bird lay there in the pile of cow dung, he began to realize how warm he was. The dung was actually thawing him out! He lay there all warm and happy, and soon began to sing for joy. A passing cat heard the bird singing and came to investigate. Following the sound, the cat discovered the bird under the pile of cow dung, and promptly dug him out and ate him.
    Moral of the story:
    1. Not everyone who shits on you is your enemy
    2. Not everyone who gets you out of shit is your friend
    3. And when you’re in deep shit, it’s best to keep your mouth shut!

Labels:

THIS IS MADNESS !

I AM MAD ! It is caused by neither my friends nor my foes. It is simply because of announced coursework for each subject. I dont get used to blame anyone or anything when I got bad mark. Instead I would consider it as a lesson to get higher. But what I experienced this week is an exception. I dont satisfy with the coursework for 2 subjects, Computer Network as well as Database Security. This is the reason why these stuffs get me mad :

  1. Computer Network

  2. I got only 32,5 out of 40. It aint bad. However I deserve to get more. The lecturer deducted my mark because during the presentation time my program didnt run smoothly. Well, it ISNT my fault nor my groupmate's. I already compiled in my own PC and it worked well. It can detect TCP/IP packet as well as other transport protocol. As being requested, it will only show TCP packet. I did it and added some informations so that it will show information about that TCP packet. Which part is the destination port, source port, window length, and so forth. The nightmare began during the presentation time. I was pretty confident back then. I was optimist I could explain anything regarding the code --since I was the one who did the code B-). However, the computer used for the presentation ruined everything ! I used computer in DIP Lab and the worst thing was CODEBLOCK WONT RUN ! I knew it already that my code would not run properly if I used dev-cpp so I used codeblock instead. But yeah, as I told you before, codeblock wont run and I had to compile with dev-cpp. What does it mean ? IT MEANS THAT I HAVE TO REWRITE MY CODE AGAIN ! In the end I got only 11 out of 15 instead of 15 out of 15. *dont ask me to have the lecturer reconsider it again. I already did. And she insisted that THAT is what I deserved. *sigh*.

  3. Database Security

  4. If you think that Computer Network is the worst, nope you're wrong. The worst part in this week came from Database Security coursework. I dont regret for the 16 out of 20 in midterm neither 5,5 out of 6 mark in assignment. What made me mad is 13 out of 20 mark for the project. I wouldnt blame the Computer Network lecturer for giving me 11 mark. I deserved it --even it aint my fault but yeah, maybe I lack of knowledge so that later on my coding should be run under any compilers. But this 13 out of 20 IS NOT WHAT I DESERVED ! I already fulfilled all of the requirements. I established database system using db2 and connected it with front-end application --which is Visual Basic. And everything worked well, even during presentation time. Is my project good ? Well, I wont say my project was the best. But most of my friends admitted that it should be one of the best. I spent 3 days with lack of sleeping time while doing the project. And I was satisfy with the result. Most of code were not lectured though --except for the database code which is common, I wanted to add function as being done in mySQL unfortunately I got errors while doing it, I knew how to create function in mySQL but it didnt work in DB2, dont know the problem. Unfortunately, it didnt amaze my lecturer at all. He gave me 11 whilst he gave another group 15 for the almost same idea --not to mention that theirs is worse than mine. I would not blame my friend who did the presentation. He did not understand the code well. Instead I AM mad with the lecturer. HE IS UNFAIR ! I already complained regarding that matter. Hope he will understand and boost up my mark. Well, I DESERVE IT ! :D

Footnote : I aint mad with Computer Network's lecturer. She has done her best. And for the other one, even I am mad with him, he is STILL my lecturer though. So I still respected him. I just dissatisfy with the mark given since I think --and my groupmates think-- we deserve more.

Labels:

Surat Kartini 2010

Surat Kartini 2010
Gemala Putri - Bogor


*) Apa yang akan ditulis Kartini kepada sahabatnya Stella Zeehandelaar jika beliau lahir pada abad ini, mungkin bukan surat yang diantar dengan kapal laut dan memakan waktu berbulan bulan, tapi mungkin sudah berupa email.

Emansipasi perempuan bukan lagi menjadi subyek keluhannya, karena sekarang perempuan sudah bebas bersekolah dan berkarir setinggi tingginya. Tapi mungkin kini ia mengeluhkan tingginya biaya bersekolah, karena pemerintah menarik subsidi pendidikan. Mengeluhkan penyelewengan yang berseliweran di negerinya.


Seperti inilah kurang lebih dalam imajinasi saya :

Bagiku Stella,.. masalah yang dihadapi oleh bangsaku kini adalah tingginya biaya pendidikan. Bayangkan Kalau dulu bangsamu perlahan membuka sekolah sekolah untuk para pribumi, ....kini para pembesar negeriku menutup kesempatan itu. Mereka merampas kesempatan satu satunya yang dimiliki saudaranya yang miskin dan melarat untuk merubah nasib melalui pendidikan. Pemerintahku mencabut subsidi yang sangat diperlukan oleh anak anak miskin untuk melanjutkan pendidikannya.

Kini perguruan tinggi kembali menjadi milik para pembesar dan kaum berpunya. Dengarlah Stella,.... keluhan orang tua tak berpunya yang membanting tulang siang malam demi biaya kuliah anak mereka. Berapa banyak tangan tengadah untuk memanjatkan doa di malam sepi, meminta agar diberikan sedikit rejeki demi sang anak.

Kini STOVIA hanya membuka pintunya sedikit saja untuk yang tidak ber-uang. Oh ya, STOVIA kini sudah berganti menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia jika kau belum tahu, tidak cukup otak pintar untuk menuju ke sana, tapi juga uang yang banyak.

Karena biaya pendidikan yang mahal itu, aku tidak heran jika para dokter menerapkan tariff mahal yang tidak mampu dijangkau oleh sebagian besar rakyat kami. Sementara penyakit penyakit aneh mulai bermunculan. Aku ingin bercerita tentang bayi berkepala besar yang terkatung katung di kampungnya. Orang tuanya tidak mampu membawanya berobat karena ketiadaan biaya. Surat miskin yang dikeluarkan oleh kepala desa tidaklah bermanfaat. Rumah sakit penuh dengan pasien melarat, pemerintah kami hanya mengeluarkan pernyataan tanpa tindakan.

Ingatkah kau akan Tjipto Mangoenkoesoemo? Betapa ia dulu dengan sukarela memberantas wabah pes yang merebak di seantero negeri, tanpa imbalan. Aku berharap akan ada Tjipto Tjipto lain, walaupun dengan rasa pesimis.

Duhai sahabatku,.. kini hatiku pedih oleh rintihan para pedagang, pengrajin dan petani kecil negeriku. Mereka orang orang yang tabah, membangun usahanya tanpa bantuan pemerintahku.

Berusaha mandiri dan tidak bersandar menjadi orang gajian semata. Tahukah kau Stella,.... setelah mereka memeras peluh memproduksi kebutuhan kami, sekonyong pasar diserbu oleh barang barang dari negeri seberang lautan. Pemerintah kami yang membuka pintu lebar lebar. Mereka tidak ingin bersusah payah mengurusi para petani dan pedagang kecil itu.


Bukankah rakyat negeriku sangat rajin Stella? Mereka berjuang beratus tahun, dari perang ke perang, dari tanam paksa, menjadi romusha sampai mengantar nyawa putra putra terbaik kami untuk meraih kemerdekaan.

Apakah kami sudah merdeka? Memang tidak ada lagi cambuk yang menggelegar menghantam tubuh kami. ....Tapi cambuk itu sudah berganti menjadi perjanjian perjanjian dagang bebas tarif antar Negara yang dengan cepat mencekik kami hingga sekarat.

Tapi kami masih tetap tegar tidak berputus asa, jika keadaan disini tidak tertahankan mengembaralah para lelaki dan perempuan kami ke negeri seberang. Apa pun kami lakukan demi mempertahankan daya hidup. Ketahuilah Stella kami bukan bangsa pemalas, saat rakyatmu masih bergelung dalam selimut di pagi buta, kami telah terjaga dan berjuang di jalanan, melawan situasi yang tak bersahabat.

Dulu, dibawah kekuasaan bangsamu ..kami masih mempunyai tanah untuk ditanami, sekarang semua musnah. Kau akan kaget... Sahabat, negeriku yang dulu hijau permai, kini penuh gedung tinggi. Di tanah kamilah gedung gedung itu berdiri, tidak semua untuk gedung, ada tanah kami yang terendam lumpur tanpa tahu apa dan siapa penyebabnya sehingga sebagian dari kami terlunta lunta kehilangan mata pencaharian.

Duh, sahabat, kini tanah kami mulai meranggas, namun masih tetap kaya raya. Kini orang orang asing itu kembali bukan untuk tanaman tapi untuk tambang...... Para pembesar negeri yang mengundang mereka. Mereka mengaduk ngaduk tanah kami untuk emas, tembaga, batu bara, minyak bahkan gas. Kami hanya bisa menonton tanpa menikmati. Kekayaan negeri tidak lagi digunakan untuk sebesar besarnya kemakmuran rakyat. Pasal pasal kesejahteraan rakyat yang susah payah dirancang oleh para Bapak bangsa kini tinggal arsip usang yang terabaikan.

----

Stella, aku tidak menyesal tidak jadi bersekolah di Belanda, di sini aku bisa tetap dekat dan melihat kondisi rakyatku. Aku akan berkeliling dari Sabang sampai Merauke mencoba bersama sama membangun industri rumah tangga yang nyaris binasa. Kau masih ingat kerajinan rakyat dari Jepara, tanah kelahiranku? Betapa indah bukan motif motif ukiran itu?

Ukiran itu adalah kekayaan rakyatku sejak ratusan tahun yang lalu, namun seakan belum puas masih ada bangsa asing yang tergiur dengan motif motif itu dan berusaha mengakui itu sebagai miliknya.

Stella, kenapa negeriku yang indah tak permanai ini terus menerus dirundung malang? Apa dosa kami.,,,, Mengapa anugerah yang kami terima selalu ingin dirampas oleh bangsa lain.

Tapi aku yakin, Tuhan tidak tidur. Ia tahu dan Ia menunggu.

Jika kau sempat ke Indonesia, kau akan kuajak menikmati hari hari di negeriku. Bangun pagi buta, memasak, pergi bekerja, berdesak desakan dalam kendaraan umum yang jauh dari nyaman sambil menghirup asap beracun dari saluran pembuangan kendaraan bermotor. ,,,,Sungguh berbeda dengan negerimu yang serba teratur.,,,, Di sini keringat kami biasa terperas tanpa mengeluh.


Datanglah sahabat, aku menunggu.

Rembang, 21 April 2010

footnote :
jika tidak bisa memperbaiki negara, perbaiki lingkungan, jika tidak bisa memperbaiki lingkungan, perbaiki diri sendiri. dan itulah hal yang paling mendasar yang harus kita lakukan.

What is what

Actually I'd like to share what I was experiencing during these weeks. 3 consecutive events and assignments gave me more experiences --and headache for sure :(. Starting from how hard it is to pursue people to do what they do not like to do but it is sufficient to be done, how I have to do what I never learnt how to do it before, and so forth. However, that is not what I want to share through this scramble-writing-of-mine. I have more interest in sharing what I got from a conversation between me and ayoub --one of my best friend here-- a few hours ago.

The conversation was about the importance of joining societies. It was unplanned conversation though. He just wanted to know the reference for upcoming quiz of Computer Network. I already had my quiz while he didn't. But the topic was changed when I said I was so tired of these past few days. His respond was interesting. He said that being tired caused by doing tasks in societies means tiring ourselves for nothing. Soon I was realized that he had different opinion about those societies stuffs and I thought it'd be interesting discussion as usual --FYI, every discussion I had with him IS always interesting. And it was !

30 minutes passed by without I noticed. There are more questions I wished to ask regarding his opinion but he had something else to do so that the conversation should be ended. My aim for posting it is to continue our discussion before as soon as he read this. Besides I am looking for your opinion based on your perspective also. Here is it :

[00:20:28] ­AYOUB just sent you a nudge!
­shev says:
[00:20:33] ­yep ?
[00:20:34] ­
­AYOUB says:
[00:20:52] ­how is it ?
­shev says:
[00:21:07] ­so tired for these past 3 days
­AYOUB says:
[00:21:14] ­cuz of iss
­shev says:
[00:21:19] ­not only iss
­AYOUB says:
[00:21:20] ­
[00:21:33] ­man
[00:21:40] ­wallahi u are tiring urself of nothing !!
[00:21:43] ­for*
­shev says:
[00:21:58] ­
[00:22:06] ­why ?
­AYOUB says:
[00:22:29] ­societies stuff are wasting of time
­shev says:
[00:22:44] ­and the reasons ?
­AYOUB says:
[00:22:55] ­no benefits at all
[00:23:03] ­name only one benefit ?
[00:23:11] ­and don't tell me gettin to know people
[00:23:18] ­
­shev says:
[00:23:22] ­hahaha
[00:24:01] ­there are alot of experiences i got from joining societies
[00:24:13] ­and i learnt alot
­AYOUB says:
[00:24:34] ­then u are imagining !!
[00:24:39] ­that u learn sth
[00:25:17] ­at least from my point of view
[00:25:33] ­anyway, have you had any computer network quiz ?
­shev says:
[00:25:38] ­yep
­AYOUB says:
[00:25:38] ­i mean for this week
[00:25:45] ­today ?
[00:25:54] ­what was about ?
­shev says:
[00:26:13] ­it was about DNS
[00:26:26] ­and SMI
[00:27:04] ­u ought to be able to distinguish among country domain, inverse domain , and generic domain
[00:27:23] ­then label and levels of hierarchy
­AYOUB says:
[00:27:37] ­which chapter was that ?
­shev says:
[00:27:44] ­9 and 10
[00:29:15] ­would u mind to tell me why u said that societies are useless ?
[00:29:42] ­*actually i did join societies not because of its benefit
[00:29:45] ­i jst liked
[00:29:51] ­*like
­AYOUB says:
[00:30:01] ­then should be ok
[00:30:22] ­cuz some people are trying to convince themselves that there are benefits
[00:30:29] ­or they are learning something
[00:31:08] ­i read some books of kevin paul about mind mapping and tricking
[00:31:29] ­some others about codes to minds
­shev says:
[00:31:58] ­then ?
­AYOUB says:
[00:31:58] ­most of them agree that people tend to trick their minds to satisfy the desire of wasting time
[00:32:15] ­or as they are referring to as time consumption !!
[00:32:41] ­the most valuable thing in our life is time
[00:33:58] ­The following are some of the most important duties demanded of Muslims:

1. Ensuring benefiting from time
2. Utilizing leisure time
3. Racing for good deeds
4. Learning from the passage of time
5. Seeking the superior times
6. Planning and organizing time
7. Fulfillment of time commitments
8. Necessary awareness of time wasters

[00:34:28] ­there are many hadiths, proverbs and some other quotes refer to the time imporance
[00:34:53] ­that is only from religious perspective
[00:35:04] ­going back to humanity's interpretation
[00:36:29] ­people are avoiding to do superior things (i.e study) and replace it with less important things

"There are two blessings which many people lose: (They are) health and free time for doing good." (Bukhari 8/421)
[00:36:59] ­i won't be able to talk fluently to explain why did i say that
[00:37:14] ­cuz english is not my native
[00:37:59] ­but ld like to ask u: going back through your mind to past few weeks, what are benefits you gain from those socities and club activities ?
­shev says:
[00:38:58] ­get to knw stuffs i didnt knw before
[00:39:05] ­hehehehe
­AYOUB says:
[00:39:15] ­for example
[00:39:16] ­??
­shev says:
[00:39:40] ­2 days ago there was an event called indonesian exhibition
[00:40:01] ­it showed performances and culture information about indonesia
[00:40:42] ­although i'm an indonesian, since i wasnt interested in stuff like this before, then i didnt knw
­AYOUB says:
[00:40:56] ­about my country
­shev says:
[00:40:56] ­after attending the event , at least i knw smthing
­AYOUB says:
[00:41:08] ­that what u were going to say ?
[00:41:36] ­opening youtube or reading through wikipedia for 10min let u know whatever you want ?
[00:41:48] ­much more than u knew
­shev says:
[00:41:57] ­lol
[00:42:03] ­indeed
[00:42:57] ­as a social-being, it is important for us to communicate with others , isnt it ?
[00:43:38] ­utube and wiki sure provide alot of information which either u or me hv
[00:44:14] ­bt the communication goes one-way
­AYOUB says:
[00:44:36] ­wiki and utube are one way of givin info
[00:44:59] ­they are not social websites as facebook and myspace do
[00:45:24] ­which i'm not persuaded by those too
[00:45:44] ­knowing people can be through different ways
[00:46:07] ­but sticking too much with people is really sucks
­shev says:
[00:46:36] ­is it ?
­AYOUB says:
[00:46:37] ­how long have u been doing these socities stuff ?
­shev says:
[00:46:50] ­since i was in high school
­AYOUB says:
[00:47:10] ­then, i would argue that i have much more friends than u do
[00:47:14] ­sorry for that
[00:47:20] ­but that works for me
[00:47:37] ­not from malaysia, indonesia or even asia
[00:47:41] ­but worldwide
[00:47:45] ­even in brazil
[00:48:01] ­without having to engage in any type of socities
­shev says:
[00:48:13] ­and the way u went ?
­AYOUB says:
[00:48:32] ­meeting someone somewhere
[00:49:02] ­i knew one guy his name is joseph at dubai airport
[00:49:27] ­met him only for 15 min at the lounge
[00:49:41] ­i got his handphone
[00:49:45] ­then email
[00:49:57] ­and next holiday i will meet him at austria
[00:50:06] ­15 min ONLY !!
[00:50:15] ­not 15 days
[00:50:21] ­and the list goes on !!
­shev says:
[00:50:28] ­
[00:51:53] ­u r rare *LOL
­AYOUB says:
[00:52:06] ­no i'm not
[00:52:21] ­but like to be frank with myself !!
[00:52:57] ­someone said: reading useless books like reading none
[00:54:08] ­and getting to know 2 or 3 good friends better than 100 partners
­shev says:
[00:54:27] ­AGREED !
­AYOUB says:
[00:54:35] ­again that was my perspective
[00:54:48] ­u have urs and i respect it
[00:55:00] ­all my greetings
­shev says:
[00:55:11] ­hahahahahaha
[00:55:16] ­dont say like that
[00:55:21] ­i appreciate urs
­AYOUB says:
[00:55:27] ­
[00:55:46] ­take care and be connected
­shev says:
[00:55:53] ­people are different in wht they're thinking
[00:56:00] ­bt yeah , urs is interesting
[00:56:17] ­i'd like to hv more time to discuss this kind of stuff w/ u
[00:56:39] ­nt to show u that mine is right and urs is wrong
­AYOUB says:
[00:56:41] ­that will be my maximum pleasure ya smart man
­shev says:
[00:57:10] ­bt to gain another perspective
[00:57:24] ­it might be someday i'll do what u did
[00:57:26] ­
­AYOUB says:
[00:57:45] ­I always learn from you
[00:58:04] ­u don't have to change or do what i did for someone
[00:58:15] ­cuz you are very smart man
[00:58:18] ­intellectual
[00:58:24] ­panctual
­shev says:
[00:58:40] ­compared to u , u're better
[00:58:44] ­you have sent a nudge!
­shev says:
[00:58:52] ­
­AYOUB says:
[00:58:53] ­no comparisons to be made
[00:59:02] ­you are the one i respect
[00:59:09] ­that won't change
[00:59:13] ­keep it up
[00:59:15] ­ya mohamed
[00:59:29] ­i beg ur pardon
[00:59:37] ­got to go
[01:00:09] ­nice to talk to you always and thanks so much for computer networks tips

So, how about yours ? :D

Footnote :
  • Some said connection is more important than knowledge and some said the opposite. Those who believe in importance of connection prefer to joining societies rather than studying. Oppositely, those who believe knowledge is the best main thing in order to succeed will study hard. I myself believe in what Mr. Andreas Raharso said --he explained by example-- ; connection will get you to Mrs. Sri Mulyani --current Minister of Economy of Indonesia--, but without knowledge you wont be able to talk much with her when it comes to economic stuff. So the ideal one --in my perspective-- is get to know people while at the same time you improve yourself.
  • Priorities are different for each of since. So are the opinions. However yours is not always true and neither is mine. What had undergone in our lives influences it. What is right for you not always be right for me when you are in my condition and vice versa. Bottom line, just choose your path. Gather all information you need but in the end you have to choose by yourself since it's your life and you have to be responsible for it.

@ayoub I look for another discussion :-"

Labels: ,

Untitled

I wouldn't say:

DEAR GOD, I HAVE GREAT PROBLEMS


instead I would say:

DEAR PROBLEMS, I HAVE A MIGHTY GOD


The (true) believers are those only who believe in Allah and His messenger and afterward doubt not, but strive with their wealth and their lives for the cause of Allah. Such are the sincere. --QS.49:15

Labels: ,

Hilangnya Etika di Public Sphere

Ketika saya masih duduk di Sekolah Dasar, ada beberapa hal yang sering di ucapkan oleh guru PPKn saya mengenai ciri-ciri masyarakat indonesia. Salah satunya adalah sifat santun sebagai salah satu ciri masyarakat Indonesia. Lalu setelah itu guru saya pun akan menjelaskan mengapa kesantunan bisa menjadi salah satu ciri dari bangsa Indonesia beserta contohnya.

Saat itu saya menganggap hal itu benar adanya. Karena selain merujuk pada realita di lingkungan sekitar saya, kesopanan dan kesantunan masih dijunjung tinggi. Menghina guru adalah tindakan yang tabu. Mencemooh kawan sendiri akan berakibat pada pengucilan, apalagi pada orang lain yang tidak kita kenal sebelumnya. Ada semacam barrier yang menghalangi kita untuk berperilaku di luar batas-batas sosial yang sudah ada.

But thanks to recent technology, hal-hal semacam itu yang dahulu dianggap melanggar norma dan etika yang berlaku, sekarang menjadi suatu hal yang lumrah. Psychological barrier yang sebelumnya menjadi dinding pembatas antara kita dengan orang yang tidak kita kenal sehingga mendorong kita untuk bersikap sopan, menjadi hilang ketika sudah berhadapan dengan dunia social networking seperti Facebook, Twitter, Plurk, Google Buzz. Dengan register sebuah account, kita sudah bisa menjadi siapa saja. Maka jangan heran ketika anak SMP berani menghina gurunya. Bahkan seorang siswa sekarang tidak segan-segan mengancam akan membunuh kepala sekolahnya melalui jaringan youtube. Saling menghina dan mengejek menjadi hal yang biasa saja. Tak perlu alasan yang jelas untuk menyudutkan seseorang. Hanya dibutuhkan sentimen pribadi dan sedikit waktu untuk berpikir hinaan mana yang kira-kira paling kasar.

Ketika kesopanan yang seharusnya kita terapkan sekalipun dalam dunia maya sudah terlanggar, maka sebagus apapun isi dan penyampaian akan dianggap sebagai angin lalu. Salah satu contoh yang paling membuat saya trenyuh adalah fenomena di kaskus. Memang saya mendapat banyak info berguna melalui forum tersebut. Akan tetapi dalam beberapa hal seperti perseteruan antara indonesia - malaysia, sedikit kritikan kepada rakyat indonesia akan disambut dengan ejekan. Penyebutan kata binatang dan kata-kata yang tidak pantas berulang-ulang diucapkan. Entah oleh orang yang sama dengan username yang berbeda, atau memang berbeda orang dalam setiap username, who knows. Bagaimana ketika yang mengkritik itu sesama orang Indonesia ? Jangan harap akan dibalas dengan santun, tidak dicap sebagai pengkhianat aja sudah termasuk keberuntungan. Untuk tulisan berbobot sekalipun, tetap saja di jadikan bahan ejekan, walau ejekan itu out of context dari isi artikel itu sendiri.

Setiap kali membaca kata cemoohan yang dilontarkan di forum ketika menanggapi artikel tertentu terutama yang berkaitan dengan indonesia, membuat saya tersenyum sendiri. Ternyata demokrasi yang selama ini kita agung-agungkan, tidak terwujud dalam pengaplikasian. Jika memang konsisten dalam demokrasi (bagi para pejuang demokrasi), seharusnya setiap kritikan diterima dengan lapang dada. Karena yang mengkritik sekalipun sama-sama mempunyai hak yang sama dalam demokrasi. Dan ini harus diterapkan sekalipun di Internet. Bukan karena tidak ada lagi psychological barrier lalu kita bisa menghina orang yang tidak sependapat dengan kita. Jika memang tidak setuju atas point-point yang disebutkan dalam artikel, beri argumen. Bisa jadi kita yang salah atau author yang salah. Atau bisa jadi dua-duanya salah. Dan kesalahan itu bisa diketahui ketika kedua belah pihak mengungkapkan apa yang menjadi dasar pemikirannya. Maka ketika hinaan, ancaman, cemoohan lebih diutamakan daripada beradu argumen secara sehat, tidak akan ada ilmu yang didapat. I'm sure of it.

Well, social networking bisa jadi peluang yang luar biasa untuk menjalin hubungan dengan orang lain, tapi tidak berarti nilai kesopanan akan kita tinggalkan begitu saja. Mengutip apa yang disampaikan oleh Alfito Deannova di artikelnya:

Manusia akan bisa begitu berbeda di dunia maya. Mereka yang sesungguhnya minderan, introvert, kikuk di dunia nyata, bisa begitu artikulatif, luwes dan supel dalam pergaulan di negeri cyber. Mereka yang tadinya tak punya keberanian menyampaikan protes, dapat meledak – ledak dan menjadi begitu militan dalam menyampaikan ide. Tentu selalu ada dampak positif dan negatifnya. Tetapi lagi – lagi akomodasinya atas aspirasi begitu besar. Anda yang tadinya tidak akan didengar jika berbicara di alam nyata, bahkan bisa menjadi ‘nabi baru’ yang mencerahkan buat para follower anda, sekalipun sesungguhnya anda adalah no one. Begitu berkhasiatnya wahana komunikasi baru ini, tak jarang bahkan membuat kita melakukan pengabaian atas komunikasi konvensional. Kita lebih asyik berbicara dalam senyap melalui internet, ketimbang beradu bunyi dengan orang – orang disekeliling kita.

Jika selama ini, media massa konvensional, tidak bisa menghadirkan ruang publik (public sphere) secara sempurna, maka media baru (internet salah satunya) menjamin itu. Ada semangat leberalisme yang begitu kuat, sekat – sekat kasta dan strata menjadi begitu cair dan lepas. Faktor – faktor ini menyebabkan dari situs jejaring sosial merupakan wahana yang mungkin dalam berbagai upaya pergerakan sosial pula. Apakah philanthropic sifatnya, sampai politik revolusioner.

Quotes of the Day

Recent Comments

Followers

Shev's bookshelf: read

OutliersKetika Cinta Bertasbih5 cmLaskar PelangiSang PemimpiEdensor

More of Shev's books »
Shev Save's  book recommendations, reviews, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists