Showing posts with label Katarsis. Show all posts
Showing posts with label Katarsis. Show all posts

Katarsis III : Pengingat

Hari ini 20 tahun yang lalu,
Seorang bayi tidak bisa berbuat apa-apa,
Tidak membawa apa-apa,
Dan nanti akan kembali tidak membawa apa-apa,
Tanpa bisa berbuat apa-apa.

Diantara rentang waktu yang telah terlewati,
Banyak hal yang terjadi,
Bagaimanapun pahitnya,
Bagaimanapun manisnya,
Semua hanya bertujuan agar bisa membawa 'sesuatu' ketika kembali kepadaNya.

Apa yang telah diperoleh tidak pantas berbuah kesombongan,
Apa yang terlewatkan tidak pantas untuk disesalkan,
Semua hanyalah ujian,
Apakah kamu akan menjadi seorang insan dengan makna,
Atau hanya berakhir menjadi seonggok nisan tak berguna.

Barakallah fi umruka.

Hanya sebuah pengingat dari seorang ayah yang saya hormati ibu yang amat saya sayangi yang disampaikan beberapa saat yang lalu. Beribu-ribu ucapan terima kasih tak akan bisa mengganti jasa mereka. I'm gonna make you proud of me, and I could. Love so much, abi wa umi.

Labels: ,

Allah, How do I Love You?

 I was doing my Lail when suddenly remembered these verses and started to weep:

كَمَثَلِ ٱلشَّيۡطَـٰنِ إِذۡ قَالَ لِلۡإِنسَـٰنِ ٱڪۡفُرۡ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّى بَرِىٓءٌ۬ مِّنكَ إِنِّىٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ (١٦) فَكَانَ عَـٰقِبَتَہُمَآ أَنَّہُمَا فِى ٱلنَّارِ خَـٰلِدَيۡنِ فِيہَا‌ۚ وَذَٲلِكَ جَزَٲٓؤُاْ ٱلظَّـٰلِمِينَ (١٧) يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٌ۬ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٍ۬‌ۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ (١٨) وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ نَسُواْ ٱللَّهَ فَأَنسَٮٰهُمۡ أَنفُسَہُمۡ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ (١٩) لَا يَسۡتَوِىٓ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِ وَأَصۡحَـٰبُ ٱلۡجَنَّةِ‌ۚ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡجَنَّةِ هُمُ ٱلۡفَآٮِٕزُونَ (٢٠) لَوۡ أَنزَلۡنَا هَـٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ عَلَىٰ جَبَلٍ۬ لَّرَأَيۡتَهُ ۥ خَـٰشِعً۬ا مُّتَصَدِّعً۬ا مِّنۡ خَشۡيَةِ ٱللَّهِ‌ۚ وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَـٰلُ نَضۡرِبُہَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ (٢١) هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِى لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ‌ۖ عَـٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَـٰدَةِ‌ۖ هُوَ ٱلرَّحۡمَـٰنُ ٱلرَّحِيمُ (٢٢) هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِى لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡقُدُّوسُ ٱلسَّلَـٰمُ ٱلۡمُؤۡمِنُ ٱلۡمُهَيۡمِنُ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡجَبَّارُ ٱلۡمُتَڪَبِّرُ‌ۚ سُبۡحَـٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِڪُونَ (٢٣) هُوَ ٱللَّهُ ٱلۡخَـٰلِقُ ٱلۡبَارِئُ ٱلۡمُصَوِّرُ‌ۖ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ‌ۚ يُسَبِّحُ لَهُ ۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۖ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ (٢٤)

The meaning:

(And the hypocrites are) on the likeness of the devil when he telleth man to disbelieve, then, when he disbelieveth saith: Lo! I am quit of thee. Lo! I fear Allah, the Lord of the Worlds. (16) And the consequence for both will be that they are in the Fire, therein abiding. Such is the reward of evil-doers. (17) O ye who believe! Observe your duty to Allah. And let every soul look to that which it sendeth on before for the morrow. And observe your duty to Allah. Lo! Allah is Aware of what ye do. (18) And be not ye as those who forgot Allah, therefor He caused them to forget their souls. Such are the evil-doers. (19) Not equal are the owners of the Fire and the owners of the Garden. The owners of the Garden, they are the victorious. (20) If We had caused this Qur'an to descend upon a mountain, thou (O Muhammad) verily hadst seen it humbled, rent asunder by the fear of Allah. Such similitudes coin We for mankind that haply they may reflect. (21) He is Allah, than Whom there is no other God, the Knower of the Invisible and the Visible. He is the Beneficent, Merciful. (22) He is Allah, than Whom there is no other God, the Sovereign Lord, the Holy One, Peace, the Keeper of Faith, the Guardian, the Majestic, the Compeller, the Superb. Glorified be Allah from all that they ascribe as partner (unto Him). (23) He is Allah, the Creator, the Shaper out of naught, the Fashioner. His are the most beautiful names. All that is in the heavens and the earth glorifieth Him, and He is the Mighty, the Wise. (24)

It was the meaning that made me weep. Thinking about how incredible the devil is. He convinced me so that I could spend hours to think of her while I couldn't spend an hour to think of Allah. I remember her during day and night but I am not able to remember Allah besides the praying time. I could spend money to call her without any hesitation but when it came to infaq, I always think not to give too much money. And there are many things I could do for anyone but not for Allah. Although I already knew that in the end of the day, when all of the deeds are counted, the devil said that he is irresponsible of what I have done. That's why during this holy month, it is my aim to clean my heart as well as my mind. Hence I don't have to bother myself to look for the way how to love Allah. O God, please give me strength to go through this!

Labels: ,

Important Things in Life

There was this philosophy professor in a prestigious university who loved to teach students about important theories of the subject. Once, while his lecture was about to begin, he just closed the book and instead stood before his class with some items on the table in front of him. Students were curious but the professor without looking at them silently picked up a very large and empty mayonnaise jar. Thereafter, he started to fill it with small rocks. Once the jar appeared full, professor proceeded to ask his students ‘whether the jar was full?’

Entire class unanimously agreed that jar was indeed full. Next, the professor picked up some pebbles and began pouring them into the jar. The moment pouring was complete, he shook the jar lightly. As a result of that, all the pebbles rolled into the open areas between the rocks and settled comfortably.

Professor again asked the students if the jar is full. Same response from the class like before and they all agreed that the jar was full. Professor smiled a bit and this time he picked up a box of sand. He poured the box into the jar and sand filled the entire remaining spaces. Professor repeated his question to the class, if the jar was full? Yes again, was the unanimous response of the students.

Professor now turned towards the class and said, this jar represents your life. The entire things I poured into the jar symbolise some important lessons. The rocks are the most important things, i.e., family, your partner, health and your children. Even if everything else in your life goes away but the rocks remains there, your life would still be full because the most important things are still present in your life.

Pebbles represent other significant things like car, house and job etc. And the sand is the small stuff or everything else.

So the lesson to be learnt here is, you all have to be very selective about what to fill in the jar first and in what order. If your time and energy is spent on small stuff then there is no room for the pebbles or the rocks or in other words, most important things of your life. Always pay attention to things that are most important to you and never take things for granted.

So take care of rocks first and rest everything will fall into place.

Small Things Matter

Ucapan ulang tahun mungkin suatu hal yang simpel. Dan itu bukanlah hal yang penting untuk dilakukan, setidaknya bagi saya. Akan tetapi ternyata hal yang simpel seperti itu, bagi beberapa orang bisa jadi dianggap sebagai hal yang penting. Bukan ucapannya yang penting, maknanyalah yang lebih penting. Saya sedang tidak ingin berdebat dari segi agama apakah mengucapkan dan merayakan ulang tahun itu patut untuk dirayakan. Hal yang ingin saya tekankan adalah, ketika kita mengucapkan doa bagi teman yang berulang tahun, setidaknya dia tau bahwa masih ada orang yang memperhatikan bahkan terhadap hal kecil seperti tanggal ulang tahun. Dan itu akan lebih terasa ketika diucapkan oleh seorang sahabat. Well, for me, it isn't a big deal. Mau inget ulang tahun saya ato tidak, saya tidak terlalu mempermasalahkan. Toh tidak berarti persahabatan putus hanya gara-gara hal itu. Tapi karena saya hidup di dunia dimana orang berbeda-beda dan tidak semua berpikir seperti saya, maka saya akan sedikit meluangkan space memory di otak saya untuk mengingat hari ulang tahun orang-orang yang saya anggap penting. Setidaknya mereka akan merasa bahwa di luar sana masih ada orang-orang yang perhatian tentang hidup mereka. Lalu bagaimana dengan Anda?

Labels: ,

Hilangnya Etika di Public Sphere

Ketika saya masih duduk di Sekolah Dasar, ada beberapa hal yang sering di ucapkan oleh guru PPKn saya mengenai ciri-ciri masyarakat indonesia. Salah satunya adalah sifat santun sebagai salah satu ciri masyarakat Indonesia. Lalu setelah itu guru saya pun akan menjelaskan mengapa kesantunan bisa menjadi salah satu ciri dari bangsa Indonesia beserta contohnya.

Saat itu saya menganggap hal itu benar adanya. Karena selain merujuk pada realita di lingkungan sekitar saya, kesopanan dan kesantunan masih dijunjung tinggi. Menghina guru adalah tindakan yang tabu. Mencemooh kawan sendiri akan berakibat pada pengucilan, apalagi pada orang lain yang tidak kita kenal sebelumnya. Ada semacam barrier yang menghalangi kita untuk berperilaku di luar batas-batas sosial yang sudah ada.

But thanks to recent technology, hal-hal semacam itu yang dahulu dianggap melanggar norma dan etika yang berlaku, sekarang menjadi suatu hal yang lumrah. Psychological barrier yang sebelumnya menjadi dinding pembatas antara kita dengan orang yang tidak kita kenal sehingga mendorong kita untuk bersikap sopan, menjadi hilang ketika sudah berhadapan dengan dunia social networking seperti Facebook, Twitter, Plurk, Google Buzz. Dengan register sebuah account, kita sudah bisa menjadi siapa saja. Maka jangan heran ketika anak SMP berani menghina gurunya. Bahkan seorang siswa sekarang tidak segan-segan mengancam akan membunuh kepala sekolahnya melalui jaringan youtube. Saling menghina dan mengejek menjadi hal yang biasa saja. Tak perlu alasan yang jelas untuk menyudutkan seseorang. Hanya dibutuhkan sentimen pribadi dan sedikit waktu untuk berpikir hinaan mana yang kira-kira paling kasar.

Ketika kesopanan yang seharusnya kita terapkan sekalipun dalam dunia maya sudah terlanggar, maka sebagus apapun isi dan penyampaian akan dianggap sebagai angin lalu. Salah satu contoh yang paling membuat saya trenyuh adalah fenomena di kaskus. Memang saya mendapat banyak info berguna melalui forum tersebut. Akan tetapi dalam beberapa hal seperti perseteruan antara indonesia - malaysia, sedikit kritikan kepada rakyat indonesia akan disambut dengan ejekan. Penyebutan kata binatang dan kata-kata yang tidak pantas berulang-ulang diucapkan. Entah oleh orang yang sama dengan username yang berbeda, atau memang berbeda orang dalam setiap username, who knows. Bagaimana ketika yang mengkritik itu sesama orang Indonesia ? Jangan harap akan dibalas dengan santun, tidak dicap sebagai pengkhianat aja sudah termasuk keberuntungan. Untuk tulisan berbobot sekalipun, tetap saja di jadikan bahan ejekan, walau ejekan itu out of context dari isi artikel itu sendiri.

Setiap kali membaca kata cemoohan yang dilontarkan di forum ketika menanggapi artikel tertentu terutama yang berkaitan dengan indonesia, membuat saya tersenyum sendiri. Ternyata demokrasi yang selama ini kita agung-agungkan, tidak terwujud dalam pengaplikasian. Jika memang konsisten dalam demokrasi (bagi para pejuang demokrasi), seharusnya setiap kritikan diterima dengan lapang dada. Karena yang mengkritik sekalipun sama-sama mempunyai hak yang sama dalam demokrasi. Dan ini harus diterapkan sekalipun di Internet. Bukan karena tidak ada lagi psychological barrier lalu kita bisa menghina orang yang tidak sependapat dengan kita. Jika memang tidak setuju atas point-point yang disebutkan dalam artikel, beri argumen. Bisa jadi kita yang salah atau author yang salah. Atau bisa jadi dua-duanya salah. Dan kesalahan itu bisa diketahui ketika kedua belah pihak mengungkapkan apa yang menjadi dasar pemikirannya. Maka ketika hinaan, ancaman, cemoohan lebih diutamakan daripada beradu argumen secara sehat, tidak akan ada ilmu yang didapat. I'm sure of it.

Well, social networking bisa jadi peluang yang luar biasa untuk menjalin hubungan dengan orang lain, tapi tidak berarti nilai kesopanan akan kita tinggalkan begitu saja. Mengutip apa yang disampaikan oleh Alfito Deannova di artikelnya:

Manusia akan bisa begitu berbeda di dunia maya. Mereka yang sesungguhnya minderan, introvert, kikuk di dunia nyata, bisa begitu artikulatif, luwes dan supel dalam pergaulan di negeri cyber. Mereka yang tadinya tak punya keberanian menyampaikan protes, dapat meledak – ledak dan menjadi begitu militan dalam menyampaikan ide. Tentu selalu ada dampak positif dan negatifnya. Tetapi lagi – lagi akomodasinya atas aspirasi begitu besar. Anda yang tadinya tidak akan didengar jika berbicara di alam nyata, bahkan bisa menjadi ‘nabi baru’ yang mencerahkan buat para follower anda, sekalipun sesungguhnya anda adalah no one. Begitu berkhasiatnya wahana komunikasi baru ini, tak jarang bahkan membuat kita melakukan pengabaian atas komunikasi konvensional. Kita lebih asyik berbicara dalam senyap melalui internet, ketimbang beradu bunyi dengan orang – orang disekeliling kita.

Jika selama ini, media massa konvensional, tidak bisa menghadirkan ruang publik (public sphere) secara sempurna, maka media baru (internet salah satunya) menjamin itu. Ada semangat leberalisme yang begitu kuat, sekat – sekat kasta dan strata menjadi begitu cair dan lepas. Faktor – faktor ini menyebabkan dari situs jejaring sosial merupakan wahana yang mungkin dalam berbagai upaya pergerakan sosial pula. Apakah philanthropic sifatnya, sampai politik revolusioner.

The Story of Two Frogs

A group of frogs were traveling through the woods, and two of them fell into a deep pit. When the other frogs saw how deep the pit was, they told the two frogs that they were as good as dead. The two frogs ignored the comments and tried to jump up out of the pit with all their might. The other frogs kept telling them to stop, that they were as good as dead. Finally, one of the frogs took heed to what the other frogs were saying and gave up. He fell down and died.

The other frog continued to jump as hard as he could. Once again, the crowd of frogs yelled at him to stop the pain and just die. He jumped even harder and finally made it out. When he got out, the other frogs said, "Did you not hear us?" The frog explained to them that he was deaf. He thought they were encouraging him the entire time.


This story teaches at least three lessons:

  • There is power of life and death in the tongue. An encouraging word to someone who is down can lift them up and help them make it through the day.
  • A destructive word to someone who is down can be what it takes to kill them.
  • Sometimes being deaf is necessary. When the others said that it is impossible to do, it is just a matter of time when you go beyond the impossibility if you keep struggling.
Be careful of what you say. Speak life to those who cross your path. The power of words; it is sometimes hard to understand that an encouraging word can go such a long way. Anyone can speak words that tend to rob another of the spirit to continue in difficult times. Special is the individual who will take the time to encourage another.

For those who feel like falling into a deep pit, just remember what is always being repeated by adidas, IMPOSSIBLE is NOTHING.



[+]image taken from here.

Music of The Month



------

[+] so when the time gets hard, there's no way to turn, as He promise He will always be there

Refleksi atau Katarsis ?

Ada beberapa hal yang sering ditanyakan oleh teman-teman saya. Salah satunya adalah 'hobi' saya untuk mengajari orang. Yang namanya hobi, tidak berarti harus dibayar bukan ? Well, itulah yang mungkin menjadi pertanyaan. Mengapa kok mau-maunya ngajarin orang tanpa dibayar, sudah hilang waktu, capek, belum lagi kalau yang diajari 'agak' susah menangkap bahan yang sedang diajarkan. Dapat dibayangkan ketika harus mengajar data structures and algorithms kepada mereka yang masih dalam tahap computer programming I. Jika boleh diumpamakan, hal ini sama saja dengan mengajar perpangkatan kepada anak sma dimana dasarnya adalah perkalian, dan parahnya anak sma ini tidak menguasai tentang konsep perkalian. Dan jangan dikira ini hanya terjadi pada saat saya kuliah, pada saat saya smp hingga sma pun mengalami kejadian yang serupa. Berhadapan dengan orang yang sebenarnya belum siap untuk belajar tentang hal itu namun dipaksakan. Mengenai hal ini, saya sering bertanya-tanya dalam hati, "What the hell did u do during lecture, heh ?". Tapi tentu saja, saya tidak sampai hati untuk mengucapkan hal tersebut. Karena pada saat yang bersamaan saya takut hal itu justru mengurangi semangat mereka belajar. Sudah bagus-bagus mau belajar kok malah dimarahi. Toh katanya gak ada kata terlambat buat belajar. 


Kembali ke masalah mengajar, sebenarnya hal yang mendasari saya untuk mau membantu kawan-kawan saya bukanlah karena prestige, fund, proud, or those kind of stuffs. Instead, ada perasaan bangga tersendiri ketika melihat result 'anak didik' saya yang lumayan. Sekalipun hanya B+, akan tetapi nilai itu sangat berarti ketika didapat dengan jerih payah dan keringat yang tidak sedikit. Melihat wajah-wajah gembira mereka ketika memahami subject atau bahasan tertentu rasanya sudah lebih dari cukup untuk waktu yang terbuang terbagi untuk mereka. Selain itu, saya merasa bahwa mengajar menjadi suatu remainder akan subject tersebut sehingga tidak terlupa. Thus teaching without getting paid is not bad at all, right ?

Labels: ,

Katarsis II

Aku belajar bahwa Aku tidak dapat membuat seseorang mencintaku.
Yang bisa Aku lakukan adalah menjadi seseorang yang dapat dicintai.
Sisanya terserah mereka.

Aku belajar bahwa tak peduli betapa dalam perhatianku pada seseorang,
beberapa orang tidak begitu peduli padaku.

Aku belajar bahwa dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun sebuah kepercayaan,
dan hanya butuh beberapa detik untuk menghancurkannya.

Aku belajar bahwa Aku dapat melakukan sesuatu,
dalam hitungan detik yang akan membuat hatinya sakit seumur hidup.

Aku belajar bahwa bukanlah apa yang aku miliki dalam hidup,
tapi siapa yang berharga dalam hidupku ini.

Aku belajar bahwa, tak peduli betapa tipisnya Aku mengiris sesuatu,
selalu ada dua sisi.

Aku belajar bahwa,
Aku harus selalu meninggalkan orang-orang yang aku sayangi dengan kata-kata cinta.
Mungkin itu terakhir kali aku melihatnya.

Aku belajar bahwa,
Aku harus bertanggung jawab untuk segala apa yang aku lakukan,
tidak peduli bagaimanapun akibatnya.

Aku belajar bahwa,
ada orang-orang yang mencintaiku begitu besar, tapi mereka tidak tahu bagaimana menunjukkannya.

Aku belajar bahwa persahabatan sejati akan terus tumbuh,
bahkan di atas jarak terpanjang. Juga berlaku sama untuk cinta sejati.

Aku belajar bahwa,
hanya karena seseorang tidak mencintaiku seperti yang aku inginkan,
tidak berarti mereka tidak mencintai ku dengan setulus hati.

Aku belajar bahwa,
kedewasaan lebih berkaitan dengan jenis pengalaman yang telah ku miliki
dan apa yang telah Ku pelajari darinya,
dan tidak ada hubungannya dengan berapa banyak ulang tahun yang telah aku rayakan.

Aku belajar bahwa,
tidak peduli seberapa baik seorang teman,
sesekali mereka akan menyakitiku, dan untuk itu aku harus memaafkan mereka.

Aku belajar bahwa,
tak peduli betapa hancur dan patah hatiku,
dunia tidak berhenti untuk kesedihanku.

Aku belajar bahwa, hanya karena dua orang bertengkar,
itu tidak berarti mereka tidak saling mencintai.
Dan hanya karena mereka tidak bertengkar,
itu tidak berarti mereka mengerti apa yang mereka lakukan.

Aku belajar bahwa,
kita tidak harus mengubah teman kita,
bila kita mengerti bahwa teman-teman kita berubah.

Aku belajar bahwa,
tidaklah baik telalu mencari tahu isi sebuah rahasia.
Karena rahasia itu bisa mengubah hidup ku selamanya.

Aku belajar bahwa, tak peduli berapa banyak teman yang ku miliki,
jika aku adalah pilar mereka,
aku akan merasa kesepian dan kehilangan pada waktu-waktu aku paling membutuhkan mereka.

Aku belajar bahwa,
orang-orang yang Aku sayangi dalam hidup ini, sebagian besar akan diambil dari ku, segera!.

Aku belajar bahwa,
meskipun kata "cinta" bisa memiliki banyak arti yang berbeda,
namun kata itu dapat kehilangan nilai, bila terlalu sering digunakan.

Aku belajar bahwa,
cinta bukanlah untuk kumiliki,
tetapi untuk ku sampaikan kepada orang-orang disekelilingku.

Aku belajar bahwa,
bahkan ketika Aku merasakan sakit hati,
kadang Aku tidak layak merasakan hal itu.

Aku belajar bahwa,
setiap hari Aku harus menjangkau dan menyentuh seseorang.
Orang yang cinta akan sentuhan manusia, berpegangan tangan, pelukan hangat, ataupun hanya dengan tepukan ramah di punggung.

Aku belajar bahwa, ternyata Aku harus masih banyak belajar...



---------------------
[+] quoted from here

Labels:

Katarsis I

Jika engkau terlalu sering makan di rumah makan mewah,
sesekali makanlah di warung kecil pinggir terminal
Jika engkau terlalu sering naik taksi atau mobil mewah,
sesekali nikmatilah berdesakan di dalam bus padat
Jika engkau terlalu sering berbelanja di mall atau supermarket megah,
sesekali rasakan indahnya berbelanja dan menawar di pasar rakyat
Jika engkau terlalu sering tidur di atas kasur empuk dan mewah,
sesekali nyenyaklah di pelataran masjid
Jika engkau terlalu sering berdiskusi dengan teman berbaju bagus,
sesekali bercandalah dengan anak kecil dan bapak di pinggir jembatan

Tidak, bukan untuk membuktikan dirimu peduli

Hanya sekedar untuk .. melembutkan hati*


Ketika membaca postingan ini, saya jadi teringat ketika beberapa hari yang lalu belanja ke pasar besar disini untuk mencari bahan membuat pecel yang lebih murah jika dibanding dengan di supermarket dengan salah seorang kawan saya. Saat itu, saya benar-benar terkejut karena keadaan di pasar itu jauh lebih buruk daripada supermarket yang biasa saya kunjungi. Bagaimana tidak, pasar ikan dan pasar sayur saling berpunggungan (yang saya maksud disini adalah jika pasar ikan menghadap ke utara, maka pasar sayur menghadap ke selatan dalam satu lot, entah apa katanya benar atau tidak). Bau amis dari pasar ikan langsung tercium ketika saya baru saja masuk. Maka suatu hal yang lumrah jika saya muntah saat itu juga karena gak kuat dengan baunya. Tapi karena tidak mau membuat pagi saya menjadi pagi yang buruk hanya gara-gara bau amis itu, saya mencoba untuk menahannya dan saya berhasil..!! Setelah beberapa menit di pasar besar tersebut, sepertinya hidung saya mulai terbiasa terhadap bau tersebut dan rasa ingin muntah sudah hilang dengan sendirinya.

Saat itu saya berpikir, ternyata di Melaka sekalipun masih banyak orang yang tidak menggantungkan hidupnya di supermarket. Saya dulu membayangkan bahwa di negara-negara maju, keberadaan pasar akan tergantikan dengan supermarket yang semakin menjamur. Dan saya menganggap hal itu benar, hingga beberapa hari yang lalu. Saya lalu berpikir bagaimana jika teman-teman saya (yang rata-rata orang berada) masuk dan belanja di pasar tersebut. Salut jika bisa untuk betah berada disitu dalam setengah jam saja. Memang ketika saya mencoba membandingkan antara kenyamanan dan kemudahan yang di tawarkan di supermarket, pasar besar bisa saja kalah. Bagaimana bisa membandingkan AC dengan bau amis? Barang-barang yang sudah tersusun rapi sehingga kita tidak harus mondar mandir hanya untuk mencari satu barang saja dengan lot yang berantakan? Namun ketika saya berpikir lebih jauh lagi, tidak selamanya supermarket jauh lebih baik daripada pasar rakyat. Interaksi antara pedagang dan pembeli bisa jadi salah satu nilai tambah di pasar besar. Selama 30 menit di pasar itu saya bisa berkenalan dengan 2 TKI Indonesia yang sudah lama tinggal di malaysia. Salah satunya berasal dari Tulungagung. Coba bandingkan dengan 2 tahun belanja di supermarket tanpa menambah kenalan satu orang pun. It's worth, isnt it?

Well, saya memang bukan termasuk orang yang kaya, tapi tinggal di lingkungan orang yang kaya saring membuat saya terlupa bahwa masih banyak orang yang tidak merasakan kenikmatan yang saya rasakan saat ini. Maka melihat ke bawah membuat mata saya terbuka dan hati saya terasa lebih lembut. Bahwa banyak orang yang bersusah payah untuk mendapatkan sesuap nasi. Dan tentu saja, ini mengingatkan akan orang tua saya yang sudah susah payah menyekolahkan saya di sini. In the end, keinginan saya untuk mandiri menjadi lebih besar. Bukan karena ingin melepaskan diri dari orang tua sehingga dapat berbuat apa saja, tapi lebih kepada perasaan bersalah saya yang telah membebani orang tua saya hingga saat ini dengan tanpa memberikan hasil yang memuaskan. Mengulang kembali apa yang ada di awal entri ini, jika anda terlalu sering mendapat kenikmatan, cobalah sesekali merasakan kesusahan. Maka dengan begitu anda akan merasakan bahwa hidup tidak selamanya seenak yang terlihat.

* credit goes to one of kaskuser

Labels:

Quotes of the Day

Recent Comments

Followers

Shev's bookshelf: read

OutliersKetika Cinta Bertasbih5 cmLaskar PelangiSang PemimpiEdensor

More of Shev's books »
Shev Save's  book recommendations, reviews, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists