Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Ilmu Bisul

Jika Anda bertanya kepada saya apa ilmu yang didapat dari sebuah bisul, ditinjau dari segi kesehatan atau hukum fisika manapun, tidak ada korelasi apapun antara ilmu dengan bisul. Akan tetapi bagi saya, bisul yang saya alami memberi saya setidaknya satu ilmu baru, secara tidak langsung tentu saja. Apa yang saya dapat bermula dari bisul yang tumbuh di kaki saya sejak beberapa hari yang lalu. Tidak ada masalah jika bisul itu terletak di tempat yang tidak strategis, seperti paha atau lengan misalnya. Sayangnya, bisul saya yang ini tumbuh di tempurung lutut sedikit melebar ke kanan. Apa bedanya ? Bayangkan saja ketika Anda sholat, dimana bagian tubuh yang pertama kali menginjak tanah pada saat hendak sujud adalah lutut, tepat di tempat itu pula terdapat luka. Sakit sekali bukan ? Itu untuk sholat, bagaimana ketika Anda jalan ? Dimana untuk berjalan lutut akan secara simultan menekuk dan melurus lagi, yang berakibat kulit di sekitar tempurung akan mengalami kontraksi dan relaksasi. Dengan kata lain, bisul saya ini seperti layangan yang ditarik dan diulur ketika saya berjalan. Jangan tanyakan kepada saya betapa tidak enaknya merasakan hal itu. Maka saat berjalan pun saya menyeret seperti orang pincang sebelah.

Efek dari bisul ini pula yang membuat saya membatalkan rencana saya sebelumnya untuk pergi ke Taylor University untuk mendukung roommate saya yang berpartisipasi di cabang basketball. Dan ini membuat saya menghabiskan weekend ini di kamar, sekalipun mau tidak mau besok atau senin saya harus pergi ke Melaka untuk mengurus persyaratan kelanjutan study saya selanjutnya. Bosan di rumah dan tidak tau harus berbuat apa, saya melakukan hal yang biasa saya lakukan saat bosan, mencari tulisan yang menarik untuk dibaca. Setelah blogwalking ke beberapa blog yang saya bookmark, saya membaca tulisan saudara Prama yang berkaitan tentang paradigma yang salah di sekolah. Saya tidak mengenal dia, sekalipun dia sekolah di STAN dan ada beberapa teman saya yang juga sekolah disana. Saya pertama kali membaca tulisan dia di kaskus dan suka ide dari tulisan yang dia pada bacaan pertama karena sebagian besar yang dia tulis, itu mirip dengan apa yang pernah saya pikirkan atau diskusikan.

Inti dari tulisan itu sebenarnya sederhana saja,

Sekolah itu tempat untuk mencari ilmu, bukan untuk mencari sertifikat. Dan ilmu yang didapat dari pendidikan itu sebisa mungkin membuat kita menjadi lebih bermanfaat kepada orang lain. Karena untuk apa Anda sekolah tinggi-tinggi, jauh ke luar negeri, jika nanti yang berhasil hanya bermanfaat untuk Anda seorang ?

Hal itu langsung membuat saya teringat dengan apa yang saya sering saya lakukan, mengajar. Sebenarnya, dibanding dengan mengajar, apa yang saya lakukan lebih ke arah memberikan les. Saya cenderung tidak bisa menolak ketika ada orang yang membutuhkan bantuan dalam memahami suatu pelajaran dimana saya cukup paham. Bahkan sekalipun saya harus datang ke rumahnya di malam hari atau dia datang ke rumah disaat itu jam santai saya, saya tetap bersedia. Bukan bayaran yang membuat saya melakukan hal tersebut, karena mereka hampir tidak pernah membayar apapun, yang saya cari adalah kebermanfaatan ilmu dari yang saya miliki. Bayangkan jika saya bisa menulis program untuk smartphone lalu ilmu tentang itu saya sebarkan, berapa banyak yang bisa mengambil manfaat dari hal kecil itu ? Dan hal yang paling menggembirakan bagi saya adalah ketika teman saya tersebut memahami apa yang saya pahami. Ini lebih terasa efek bahagianya dibanding saya hanya sekadar menerima bayaran.

Jika Anda bertanya, apakah tujuan dari tulisan ini untuk membesar-besarkan apa yang telah saya lakukan ? Well, it's not what I meant. Saya hanya ingin kita menerapkan inti dari pendidikan yang telah kita tempuh selama ini. Bukan gelar S.T, Lc.,B.Sc, Ph.D, Dr., atau apapun itu. Yang paling penting dari Anda menuntut ilmu adalah manfaat yang bisa Anda bagi setelah Anda mendapatkan ilmu tersebut. Bukankah ilmu yang bermanfaat akan menemani kita hingga di alam barzah bersama dengan amal dan doa anak yang shaleh ? Apa gunanya jika seorang yang bergelar Ph.D tapi tidak lebih bermanfaat dari seorang yang tidak tamat kuliah semacam Bob Sadino ? Apa yang Anda inginkan untuk diingat orang ketika Anda meninggal ? Tidak ada seorangpun yang akan mengingat gelar Anda. Bahkan orang akan lebih mengingat Bjarne Stroustrup sebagai inventor C++ daripada professor di Texas A&M University. Pernah dengar apa gelar Isaac Newton ? Saya jamin Anda bahkan tidak tau kalau Isaac Newton adalah seorang profesor di Trinity College. Jadi untuk apa sekolah tinggi-tinggi jika yang dicari adalah selembar kertas ?

Nah, untuk bisa berpikir seperti itu, maka peran orangtua tentu sangat dibutuhkan untuk membentuk pola pikir. Seperti apa yang saya alami. Orangtua saya selalu menekankan untuk bermanfaat bagi orang lain. Bagi umi atau abi, nilai jelek bukanlah suatu musibah. Sekalipun mereka tetap bangga ketika anak-anaknya mendapatkan nilai yang terbagus. Tidak hanya itu, abi saya bahkan mempunyai grand design untuk membangkitkan nama Islam. Salah satunya adalah dengan membangun sekolah yang bukan sembarang sekolah. Ini dimulai dari menyebar anak-anaknya ke berbagai bidang ilmu dan menyatukan mereka ketika sudah tiba saatnya. Sehingga tidak akan ada dikotomi antara ilmu dien dengan ilmu eksak. Berkaitan dengan sekolah ini pula, saya sudah mempunyai angan-angan akan seperti apa sekolah saya nanti. Visi, misi, target, dan tingkat keberhasilan. Saya akan membahas tentang sekolah ini suatu saat nanti. Sekalipun sekolah dalam pandangan saya mirip dengan yang dipikir oleh Prama disini. Well, I assume you already got the point of this post. If you did, it will be much better if you start to implement it immediately. In the end, together we will make the world better.


-----
[+] Tulisan tentang mitos uang belum sempat saya lanjutkan karena saya harus mencari beberapa data lagi yang berkaitan. Semoga bisa selesai secepatnya.

Teruntuk Orang Mulia

Salah satu dari beberapa nasihat abi saya yang masih saya ingat adalah perbedaan antara orang mulia dan orang biasa.

Apa yang dianggap biasa dilakukan oleh orang biasa, boleh jadi dianggap tercela jika dilakukan oleh orang yang mulia

Sebagian besar manusia ketika menganggap seseorang sebagai sosok yg mulia (atau jika dia belum sampai ke taraf mulia, anggap saja lebih baik dari kebanyakan orang) maka tidak mengharapkan adanya cela terhadap sosok tersebut. Sekalipun tak ada manusia yang tanpa cela.

Berkaca dari pengakuan salah seorang anggota DPR yang ketahuan membuka video porno, yang jadi masalah bukanlah apakah beliau sengaja atau 'tidak' sengaja untuk membuka video tersebut. Akan tetapi kapasitas beliau sebagai salah seorang kader dari partai yang mengaku sebagai bersih ini. Apapun alasan beliau, agaknya akan sulit bagi masyarakat untuk 'memaafkan' beliau. Pun jikalau 'termaafkan', stigma partai tempat beliau bernaung sudah tercoreng. Untuk kader partai, hal-hal seperti ini 'mungkin' tidak menggoyahkan keyakinan mereka untuk setia kepada partai. Akan tetapi bagaimana dengan pandangan orang awam? Apa yang mereka ketahui akan selalu berdasarkan informasi yang beredar di media. Maka bukan salah mereka jika nanti yang tertanam di dalam pikiran mereka adalah hal-hal semacam ini:

Ternyata semua partai sama saja ya. 'Bersih' itu hanya self-proclaimed.

Atau yang lebih menusuk lagi:

Orang yang katanya islami ternyata suka nonton video porno. Apa bedanya dengan orang biasa?

Dan saya yakin hampir seratus persen, sama yakinnya dengan ketika program saya sudah bug-free, bahwa itu yang kebanyakan orang pikirkan saat ini. Lalu apa yang sebaiknya dilakukan? Well, saya bukanlah seorang yang cukup mulia untuk menasihati para asatidz di partai tersebut, hanya saja saya ingin mengulang kembali apa yang abi saya sampaikan di awal:

Apa yang dianggap biasa dilakukan oleh orang biasa, boleh jadi dianggap tercela jika dilakukan oleh orang yang mulia

Hal inilah yang harus dicamkan terhadap setiap kader partai tersebut, apalagi yang bukan kader 'grass-root'. Begitu Anda memutuskan bergabung dengan partai itu, berarti Anda harus sudah siap untuk 'dicap' sebagai orang mulia. Tolong berhenti berpikir bahwa apapun yang Anda lakukan itu adalah hak Anda. Sebaliknya, tolong pikirkan apa dampak atau efek jika Anda melakukan suatu hal. Jika Allah tidak cukup membuat Anda takut, cukup Anda ingat dampak dari perbuatan Anda untuk anak-anak Anda. Tidakkah mereka malu melihat bapaknya dicap sebagai seorang yang porno? Yang korup? Apabila itu tidak cukup membuat Anda sadar, maka saya meragukan niat Anda ketika masuk ke partai tersebut. Atau malah niat sebagian besar kader dari partai tersebut.


Kuala Lumpur, 11 April 2011
Di sela-sela waktu break lunch


----

[+] Untuk informasi, yang bersangkutan sudah mengundurkan diri. Dan saya salut kali ini. Semoga menjadi pelajaran bagi beliau.

Indonesia dalam Pandangan Investor Asing

Saya masih teringat dengan perkataan saya kepada ustadz saya tentang penduduk Indonesia yang menjadi 'sapi perah' tanpa sadar akibat pola konsumsi yang tak terkendali. Televisi menjadi salah satu media ampuh untuk menyebarkan virus konsumerasisasi ini. Ditambah dengan lemahnya pendidikan moral, etika, serta skala prioritas kepada remaja sekarang, maka jadilah penduduk Indonesia menjadi target dari para produsen baik luar maupun dalam negeri. Permasalahannya adalah, apakah kita sadar kalau selama ini investor asing melihat Indonesia sebagai target yang sangat potensial? Anda boleh percaya atau tidak, tapi berikut akan saya sertakan artikel yang ditulis oleh George Joseph (seorang konsultan strategi yang tinggal di Amerika Serikat) di Business Times, sebuah surat kabar berbahasa Inggris di Singapura, yang memfokuskan kepada masalah ekonomi dan bisnis yang juga diulas oleh Aris Ananta, ekonom Indonesia, di sini.

Indonesia a Land of Opportunity for S’pore Firms
George Joseph

Business Times, 7 Februari 2011


INDONESIA is one of the hottest markets for businesses looking at tapping Asia’s rapid growth, and Singapore companies which already know the country should start looking at its mineral-and energy-rich eastern islands.

That’s the view of Stephen Bailey, chief executive officer of the Frontier Strategy Group (FSG), a Washington- based political risk consultancy with offices in the major markets of the world. In an interview with BT, Mr Bailey pointed out that given the size of its population and steady increases in household income, Indonesia is catching up with many higher-profile markets in Asia.

‘At 230 million, its population is significantly larger than Brazil’s. Income per capita is still low, comparable to India’s,but we expect to see 2010 having registered a 25 per cent increase. That translates into a huge opportunity for consumer-facing industries, which we expect to grow at least 15 per cent per year over the next four years,’ he said.

However, Mr Bailey cautioned against looking at Indonesia as one vast country. Rather, it should be viewed as a diverse mix, with multiple languages, significant intra-country transportation costs, and a pervasive ‘insider’ culture. With that in mind, executives are being advised to take a staged approach to investment – that is, start in Jakarta and the island of Java and then move to the eastern islands.

But Mr Bailey suggested that Singapore companies which know Indonesia well should start looking at the eastern islands, where the discovery and production of natural gas and other resources is drawing investors and funds from the region. This is despite the eastern islands being currently underdeveloped and underserved. These islands have significant business potential that is currently untapped by foreign companies, he added.

Big investments in agriculture too can be expected over the next five years as Indonesia adds a range of food crops to its plantations to support its booming population. ‘We are encouraging companies to build relationships with key government players now to position themselves for investment incentives for seeds, fertilisers and other inputs.’

The business mentality too is changing in the country as a new generation takes over family-owned businesses, bringing new demands for professional and technical services. ‘The previous generation would own a portfolio of small businesses and maintain less profitable businesses for the sake of relationships or diversification. The younger generation now taking over is focused on the bottom line and is selling non-core assets, expanding regionally, and upgrading the infrastructure. We recommend that executives in ICT, banking and other professional services focus on these opportunities.’

The business environment is also being helped by a forward-looking government in Jakarta, he said. This latest call to look to Indonesia comes just as the populous country moves closer to attaining a top investment rating. Rating agency Moody’s recently upgraded Indonesia’s sovereign debt to within one notch of investment grade at Ba1, placing Indonesia just slightly below the BRIC nations (Brazil, Russia, India and China).

Indonesia has also found favour with foreign investors in the past two years for having handled the global financial crisis well. The stock market was among the world’s top performers last year and its inflation has been kept reasonably under control. ‘Indonesia’s economic resilience is accompanied by sustained macroeconomic balance,’ Moody’s said when announcing the rating upgrade.

For the Frontier Strategy Group – which has now opened offices in Shanghai and Chengdu in China – Indonesia-watching has taken on a higher profile with more of its Western clients showing interest in diversifying and seizing opportunities in Asia. ‘Based on our ongoing tracking of executive priorities, Indonesia is the sixth most-watched country across global markets, coming in just after the BRIC nations and Mexico. This is up from 10th place in 2009,’ Mr Bailey told BT. ‘In 2009, only 30 per cent of our clients were monitoring Indonesia through our proprietary Market- View software. In 2010, that number passed 40 per cent and it is only going higher. Today, most consumer- oriented businesses remain centred in Jakarta and on the island of Java. But we see opportunities being thrown up in the eastern areas as growth accelerates and the economy opens up.’

While highlighting the positive aspects of Indonesia as a lucrative investing opportunity, the corporate attorney-turned-business and political risk consultant acknowledges that there are some major challenges in tackling this huge market. Corruption, distribution and product localisation are the key risks, he said.

‘Some questions had been raised about the (Indonesian) president’s commitment to fighting corruption. Still, many of the executives I speak to believe that Indonesia’s level of corruption is lower than Thailand’s or the Philippines.’ ‘We think Indonesia is squarely in the middle of the road when you compare its risk levels to other emerging markets in the region. Though we have seen a number of highly publicised political challenges in 2009, Indonesia’s democracy appears to be strong, and it is not plagued by the currency challenges that have destabilised Vietnam.’

Distribution is another major hurdle, given the scale and physical complexity of the region. Many multinationals choose to take a staged approach to investment, starting in Jakarta and on Java island, where modern retail is an attractive distribution channel. To penetrate deeper in the market, many MNCs rely on local wholesalers and distributors, and often face challenges monitoring and incentivising their partners.

‘A common mistake I see companies make is not conducting due diligence around consumer preferences and product localisation,’ said Mr Bailey. He pointed out, for instance, that multinationals often enter the market offering large packages that are too expensive for Indonesian consumers. ‘The consumer market is large enough that it is well worth the investment to conduct extensive market research,’ he advised. (*)

Jika Anda sudah merasa 'sedikit' sadar setelah membaca tulisan uncle George di atas atau malah sudah menyadarinya jauh sebelum saya menulis artikel ini, apakah Anda masih tetap akan berpikir untuk membeli iPad 2 'hanya' demi gengsi? Harap diingat, dalam setiap hal yang hendak kita lakukan, ada efek secara tidak langsung bagi orang-orang di sekeliling kita pada khususnya.

F for Free Lunch



After watching the video, you would reconsider again the idiom of “There is no such thing as free lunch”. By using this program, India could reduce the number of children out of school from 1 million to 70thousands. And it has fed around 120 millions students across the country. Considering the impact from such a simple program, when will government of indonesia start conducting the similar program?

Cara Ampuh Menggulingkan Pemerintahan

berhubung hari ini adalah hari "evaluasi" kinerja setahun pemerintahan sby-budiono
oleh mahasiswa se-indonesia, ane jadi pengen memberi masukan.

hehehe...

diterima sukur... ga juga ga papa, berarti emang ga bisa masuk.
(punya ane kegedean kali, jadi ga bisa masuk. :hammer: )

jadi gini, klo yg ane denger c.....
ada perkumpulan B*M Seluruh indonesia yg katanya ingin mengingatkan apa yg terlupakan oleh pemerintah indonesia, dalam aksinya tepat tanggal 20/10/2010.

tapi, koq ada pihak2 yang...
yah.. ntah itu mahasiswa atau bukan, menginginkan pemerintahan sekarang untuk digulingkan, turunkan presiden yang kata mereka lenjeh, lada-lede, itu... hhmmm....

nih ya.....klo boleh ane menyarankan, klo mo menurunkan pemerintahan, nih caranya....

hihihihi....

caranya adalah,,,,

buat supaya mereka tidak punya arti lagi untuk kita.

maksudnya?

ya.... klo pengen presidennya lengser, coba buat keadaan yg menegaskan bahwa kita ga butuh dia.
kita bisa sejahtera tanpa dia.

klo pengen pemerintahannya turun, bikin keadaan yg menegaskan, tanpa pemerintahan mereka, kita bisa lebih tentram.

caranya?

ya coba lah, lakukan sesuatu yg bisa menegaskan, bahwa kita bertanggung jawab atas kesejahteraan kita sendiri.
ga usah menyerahkan kesejahteraan kita di tangan orang lain.
kya ga punya kemampuan aja.

udah lah, ga usah nunggu pemerintah buat buka lapangan pekerjaan, coba bikin lapangan kerja sendiri, bikin ekonomi yg sukses tanpa bantuan pemerintah.
klo udah pada kerja semua, buat apa ada pemerintah, toh semua bisa kerja. bubarkan aja pemerintah. gitu kan?

ga usah nunggu pemerintah memberantas korupsi, kita coba ga usah nyontek, kerja jujur, etika dijaga, semua berjalan tanpa korupsi.
lalu buat apa ada pemerintah, tanpa mereka toh bisa bebas korupsi.

bubarkan aja mereka, gitu kan?

ga usah nunggu presiden ngurus ini itu, kita turun tangan aja ngurus ini itu, klo semua bisa terurus, buat apa ada presiden? ha? lengserkan aja dia. gitu kan?

kalau pengen menyingkirkan seseorang,
ya bikin keadaan, dimana kita tetap senang tanpa dia.
kita ga butuh dia.

ya sama kya orang pacaran lah...
klo pengen co/ce kita nyingkir,ya bikin keadaan dimana kita bisa tetap senang tanpa ada dia.
toh mau ada dia atau ga ada dia, sama aja.
daripada buang duit buat ngedate, putus aja.
toh tetep seneng aja tuh. wkwkw

makanya klo mo awet, bikin keadaan biar dia ga bisa tanpa kita.
caranya?
beri perhatian lebih, sampai titik dimana dia ga bisa tanpa perhatian kita.
jangan sampe dia bisa seneng walaupun tanpa kita.
kasih perhatian terus mpe dia ga bisa lupa ma kita.

memberi, bukan meminta.

ya sama, pemerintahan juga gitu.
presiden juga gitu.
jangan terus kita meminta, minta dan minta.

ah, percuma....

coba, bikin keadaan kita bisa senang tanpa mereka.
sejahtera tanpa mereka. makmur tanpa bantuan pemerintah.
nah klo dah gitu, daripada bayar gaji pemerintahan
yg ga pengaruh juga buat kita, udah kaya c...
ya lengserkan aja.

nah klo sekarang masih kekurangan, mau makan masih mikir harga, kos-kosan cari yg murah walaupun ukuran 2x2 m, cita-cita jadi pns yg ada pensiunnya...
bensin masih minta subsidi...

halah.... ga usah muluk2 dah....

klo dah bisa menyejahterakan diri sendiri, mandiri tanpa bantuan pemerintah,
baru, silahkan maju sana....gulingkan mereka yg ga ada gunanya.


metode jadul koq masih dipake aja.
melengserkan pemerintah pake cara menggalang massa,
demonstrasi ngepung gedung pemerintah.
itu 1998 bung, sekarang 2008 eh malah 2010.
masa 12 thn belajar ga ada perkembangan? ga ada kemajuan? wkwkw
selama ini belajar apa lo pada? hahaha

katanya.. mahasiswa..... wkwkwkw

(tom_ si orang gila, semoga bermanfaat)

taken from here

Hebatnya Akademi Khan, Keblingernya Kemenkominfo

Bukalah: www.khanacademy.org, Anda akan menyimak di sebuah kiri sebuah logo sosok sebelah jari tangan abu-abu dan 21 helai daun hijau mengitari. Di sampingnya tulisan Khan Academy. Inilah situs internet diprakarsai Salman Khan, memuat semua materi pelajaran berbentuk visual, memanfaatkan youtube.com. Setiap hari kini setidaknya 50 ribu murid sejagad belajar materi ajar “mahaguru” online, termasuk anak-anak SD negeri Cina. Ini semua dilakukan gratis sosok muda Salman Khan. Bandingkan dengan laku Kemenkominfo ingin menenderkan pinjaman lunak JICA senilai Rp 38 miliar untuk membuat materi ajar online khusus untuk daerah Jogjakarta tok? Komunitas open source di Bandung seperti Crayonpedia.org, sudah lebih dulu memulai. Gratis pula. Uang Rp 38 miliar pinjaman lunak JICA bisa dialihkan mendukung pengembangan konten dan aplikasi Indonesia go global, jika cerdas, tentu!.

JAKARTA masih bersuasana lebaran. Rabu pagi , 15 September 2010, saya hendak menyalakan komputer desktop tua. Seorang kenalan bergerak di dunia programing menyapa.

“Apakah Anda sudah pernah membuka Khan Academy?”

Saya jawab belum.

Melalui komputer i-pad-nya, saya diperlihatkan khanacademy.org.

Amboiii! Betapa telatnya saya baru tahu hal luar biasa telah dilakukan sosok Salman Kahn.

Ya, namanya Salman Khan!

Ia mendirikan Akademi Khan bertujuan menggunakan teknologi informasi bagi mendidik dunia.

Peraih gelar MBA dari Harvard Business School, meraih Master di bidang teknik listrik dan ilmu komputer, gelar BS (Bachelor of Science) di bidang teknik listrik dan ilmu komputer, dan gelar BS dalam matematika dari Institut Teknologi Massachusetts Intitute of Technology (MIT), Amerika Serikat (AS), itu seharusnya gamblang saja mendapatkan kerja di perusahaan papan atas AS.

Tetapi ia lebih memilih memanfaatkan www.youtube.com untuk menayangkan materi pelajaran. Kini jumlah video pelajaran telah digarapnya tak kepalang tanggung. Sudah lebih 18 ribu video. Saktinya, semua dikerjakannya sendiri, mulai dari menyusun materi, memvideokan, menjadi guru sekaligus. .

Kini dalam sehari tak kurang dari 50 ribu muridnya mengkases khanacademy.org, termasuk anak-anak SD dari negeri tirai bambu, Cina,mengikuti pelajarannya secara online.

Sosok bocah dari Korea menuliskan komentarnya:

“I’m from Korea, a small country and I’m eleven. Your lecture is so famous so we could know your skill! I’m loving this alot~ :), ” him204@naver.com, yang diposting lima hari lalu, di mata pelajaran video aljabar.

Dalam tutorial online-nya, Khan menyajikan berbagai materi pelajaran memudahkan pelajar memahami. Di antara pelajaran itu; matematika, kimia, biologi, sejarah, probabilitas, trigonometri, permainan asah otak, aljabar, ekonomi, perbankan dan uang, keuangan, geometri, statistik, kalkulus, fisika, persamaan diferensial. Tentu masih banyak lainnya.

Ada pula komentar orang tua murid, “Saya tidak tahu siapa Anda. Tapi dalam pikiran saya, Anda adalah penyelamat. Anak-anak saya benar-benar bersemangat dengan matematikanya. Terima kasih.”

Pria kelahiran New Orleans, Louisiana, AS, dengan orang tua imigran India dan Bangladesh, ini hanyalah mengawali Khan Academy untuk membantu keponakannya belajar matematika dengan menggunakan Yahoo! notepad pada tahun 2004. Lalu berkembang hingga seperti hari ini. Kini di bagian kanan situs internetnya, Salman Khan sudah berani menarok ikon donasi, dapat diklik bagi pengunjung yang mau menyumbang bagi upaya mulia itu.

Ketika orang lain melamar pekerjaan menjadi guru, Khan memilih menjadi guru praktis mendistribusikan tutorial di YouTube.

Hingga kini Salman Khan telah menerima 2009 Tech Award untuk Pendidikan. Tech Award merupakan program penghargaan internasional menghormati inovator dari seluruh dunia menerapkan teknologi bagi manfaat kemanusiaan.

Pada Desember 2009, Khan YouTube-host tutorial dilihat oleh 35.000 orang per hari. Setiap video Khan rata-rata berdurasi sepuluh menit. Hingga kini, versi offline video-video Khan telah didistribusikan secara gratis ke daerah-daerah pedesaan Asia, Amerika Latin, dan Afrika

SosokKhan, pernah tampil di jaringan teve CNN. Pada event Aspen Ideas 2010, sosok Bill Gates pendiri Microsoft, sengaja memaparkan keberhasilan prestasi Akademi Khan pada pada forum bergengi ajang bergengsi yang berlangusng pada Juli 2010 lalu di Kolorado, AS.. Upaya Salama Khan menjadi perbincangan hangat di forum itu.

Untuk skala nasional, khuisusnya lingkup komunitas open source di Bandung, pembuatan materi ajar baik sekadar dibaca, lengkap dengan audio visual itu sudah dimulai oleh www.crayonpedia.org. Melalui basis mesin wikipedia, para guru di seluruh tanah air dapat mengisi berkolaborasi materi ajar terbaik. Para murid di seluruh Indonesia dapat mengakses gratis.

Untuk upaya ini diperlukan energi melibatkan guru-guru berkenan mengisi konten.

Maka ketika di Kementerian Informasi dan Komunikasi saya dapatkan data ada rencana pengadaan materi ajar, hanya untuyk lingkup satu propinsi Jogjakarta. Saya lalu bertanya, mengapa bisa anggaran linjaman lunak dari JICA, harus mencapai Rp 38 miliar. Tak sampai separuh dana itu itu, seharusnay sudah mampu untuk melangkapi seluruh materi ajar tampil di crayonpedia. Misalnya.

ADALAH seorang kawan lainnya mengirim email kepada saya. Ia mengabarkan ada dugaan pemborosan anggaran negara berpeluang mengarah KKN terkait Pengadaan Materi Ajar (Paket 4) Yang Diselenggarakan Direktorat e-Government, Dirjen Aptel, Kemkominfo.

Ia memaparkan berdasarkan analisa Dokumen Pelelangan Umum, Pengadaan Jasa lainnya Untuk Pengadaan Materi Ajar (Paket 4) Yang Diselenggarakan Direktorat e-Government, Dirjen Aptel, Kemkominfo.

Judul Pelelangan : Pengadaan Materi Ajar Nama Proyek: Proyek Pemanfaatan TIK Untuk Peningkatan dan Pemerataan Mutu Pendidikan di DI Yogyakarta JICA Loan No. IP-542 Nilai Proyek : Rp 38 Milyar Dokumen Diterbitkan pada : 26 Agustus 2010, No : 01/PAN/PAKET-4/EGOV/8/2010

Perincian Sebenarnya Pelelangan:

1. Pengadaan Authoring Tools Sebanyak 130 Paket (110 Paket di Sekolah + 20 di IDC) di Yogyakarta dan 480 Paket di Kemkomifo, sehingga total menjadi 610 Paket

2. Pengadaan Mater Ajar Digital 9 Paket (Matematika Kelas 4, 5, 6, dan Matematika & IPA Kelas 7, 8, 9)

3. Pengadaan Materi Uji Digital 9 Paket (meliputi Materi Uji : Harian, Semesteran, Setara Ujian Nasional, Berstandar Internasional)

4. Implementasi ( Integrasi Materi Ajar & Uji ke dalam Sistem e-Learning (LMS/LCMS), Instalasi Authoring Tools di 110 Sekolah dan di IDC, Replikasi Sistem e-Learning (LMS/LCMS) ) di 110 Sekolah

5. Training Untuk 3 Kelas (1 Kelas 30 Orang) yi kelas : SD, SMP Matematika dan SMP IPA,

6. Dokumentasi Dalam Bentuk Hard & Soft Copy (Buku Panduan, Dok Pengembangan, dan Source Code)

7. Layanan Purna Jual (Hingga 31 Desember 2012)

Alasan pemborosan menurut kawan saya itu:

1. Diknas Sudah Membeli Hak Cipta 400 Buku Materi Ajar 400 (Informasi Terakhir Telah Mencapai 800 Buku Matei Ajar) Yang Pengadaanya Menelan Anggaran Rp 40 Milyar melalui Program/Proyek BSE (Buku Sekolahy Elektronik).

2. Apabila dibutuhkan Rp 40 Milyar untuk sekitar 400 Buku Materi Ajar, maka harga rata-rata pengadaan buku materi ajar adalah Rp 100 Juta per buku materi ajar. Sehingga biaya untuk pembuatan materi ajar seperti dalam proyek kominfo, untuk 9 materi ajar, seharusnya sekitar Rp 900 Juta. Bila diasumsikan biaya pembuatan materi uji adalah setara dengan biaya materi ajar, maka total biaya pengadaan materi ajar dan materi uji hanyalah sekitar Rp 1,8 Milyar)

3. Biaya Pelatihan dengan Asumsi Rp 5 Juta per orang untuk satu minggu pelatihan hanya dibutuhkan biaya Rp 450 Juta dan Paling Mahalnya Rp 900 Juta (untuk 2 minggu pelatihan).

4. Dokumentasi Hardcopy rasanya sudah bukan eranya dan cukup Softcopy yang biayanya maksimum Rp 900 Juta.

5. Implementasi (termasuk instalasi dan Integrasi) dan Support Untuk di Yogyakarta, untuk 110 sekolah dibutuhkan cukup 20 Orang. Untuk masa support selama satu setengah tahun dibutuhkan biaya biaya maksimum Rp 3,6 Milyar

6. Perhitungan hingga point 5) untuk sementara hanya dibutuhkan pendanaan sebesar Rp 7,2 Milyar . Lalu Apa yang Membuat Mahal ?

7. Karena LMS/LCMS (seperti Moodle) bisa didapat/download secara gratis, maka yang berpeluang menjadi mahal adalah Aplikasi AUTHORING TOOLS yang sudah dikunci spesifikasinya ?

8. Pantaskah Proyek Senilai Rp 7,2 Milyar, nilainya dibesarkan hanya untuk AUTHORING TOOLS sehingga menjadi senilai Rp 38 Milyar ?

Bagaimana jika melirik Crayonpedia?

1. Sempurnakan fitur Crayonpedia saat ini yang fokus hanya penyusunan Materi Ajar secara kolaborasi, sehingga Crayonpedia memiliki fitur penyusunan MATERI AJAR & MATERI UJI SECARA KOLABORASI Plus pengembangan fasilitas Sinkronisasi Program & Database antara Server Sekolah dengan Server di IDC, agar akses Materi Ajar & Materi Uji dari Sekolah tidak memerlukan koneksi internet yang besar, sehingga siswa cukup akses server lokal dari sekolah masing-masing, untuk pengembangan ini maksimum perlu anggaran Rp 1 Milyar

2. Belikan Laptop untuk 1.100 guru (satu sekolah 10 guru, dan untuk 110 sekolah pilot project) + pelatihannya (untuk menyusun materi ajar dan materi uji selama satu minggu dan gunakan materi ajar yang sudah ada BSE (dari diknas) sebagai referensi) untuk guru-guru di 110 sekolah dalam pilot project, bila harga laptop Rp 5 juta dan pelatihan Rp 5 juta … maka dibutuhkan anggaran Rp 11 Milyar. Wajibkan guru-guru tersebut (dengan insentif laptop (Rp 5 juta)) untuk menyusun materi uji minimal materi uji harian dan cukup per guru satu atau 2 materi uji harian (karena materi ajarnya sudah ada dari BSE). Untuk Materi Uji Semesteran dan Unas cukup diambil dari Materi Uji Sekolah/Unas yang pernah ada.

3. Support selama 1 tahun di IDC dan di Yogyakarta Maksimum Rp 3 Milyar

Hanya dengan Maksimum Rp 15 Milyar, bisa mendapatkan sesuatu yang dapat membawa dampak besar bagi seluruh Sekolah dan Pelajar di Indonesia, karena materi ajar dan materi uji disiapkan bisa dimanfaatkan oleh Seluruh Guru, Siswa, dan Sekolah di Indonesia dan yang paling penting adalah :

Materi ajar dan materi uji dapat disempurnakan secara berkesinambungan oleh guru-guru se Indonesia. Ingat ada 2,5 juta guru, dosen, dan dapat diakses bebas dan gratis oleh semua siswa - - lebih dari 50 juta siswa dan mahasiswa.

Tulis kawan itu pula: imajinasikan kelanjutannya, yaitu: dampak Kolaborasi & Interaksi Antara 2,5 Juta Guru dan 50 Juta Siswa !

Kesimpulan kawan saya itu:

Pelelangan yang ada adalah solusi pendidikan tidak cerdas dan berpeluang pemborosan anggaran negara - - hutang dari Jepang, meskipun berbunga murah tetap harus dibayar oleh rakyat.

Proyek tersebut berpeluang merupakan indikasi modus KKN canggih - - terutama untuk produk AUTHORING TOOLS - - dan atau kita dibodohin Jepang, bila spesifikasi teknologi Authoring Tools hanya dimiliki oleh Software Provider dari Jepang .

Sidang Pembaca Sketsa yang Budiman,

Begitulah Sketsa kali ini. Anda tentu dapat menyimak bagaimana Salman Khan, juga upaya anak negeri di Crayonpedia, dan langgam sebuah departemen terindikasi mengedepankan proyek, yang bukan mencerdaskan. ***

Iwan Piliang, literary citizen reporeter, blog-presstalk.com, posted in kompasiana

Bangsa Malas atau Dibuat Malas?

Suatu kali, saya baca sebuah judul tulisan yang mengasumsikan kalau bangsa ini adalah bangsa yang pemalas. Benarkah itu?

Dalam keseharian saya, pemalas merupakan kata yang sangat akrab. Profesi guru di sekolah dengan murid yang banyak berulah membuat kata malas menjadi lazim diucapkan. Tentu saja didukung dengan kemalasan sebagian anak tersebut; malas buat PR, malas mengerjakan latihan, malas aktif saat belajar, malas ikut wirid jumat, dan sebagainya. Kadang bahkan membuat saya jadi malas menegur atau menasehati. Tapi tentu saja tidak semua anak seperti itu.

Kembali ke topic di atas, benarkah bangsa ini bangsa pemalas?

Jujur, saya tidak punya pendapat. Terlalu sulit bagi saya untuk menganalisa bangsa besar ini. Apalagi dengan ilmu cetek saya. Saya ingin mengerucutkannya pada komunitas pelajar. Bukankah pelajar salah satu stoke holder dari bangsa besar ini? Jadi; benarkah pelajar kita pemalas?

Kembali, ini adalah tulisan yang sangat subjektif. Tidak ilmiah, karena saya tidak punya data dan tidak meneliti. Ini hanya oretan hati berdasarkan pengalaman saya yang masih seupil.

Dalam bergelut di sekolah, saya melihat semangat belajar anak-anak sekolah yang rendah. Bukan sekadar melihat, saya pun merasakan hal tersebut saat harus berdiri di depan kelas dan mengajar siswa/I saya. Memang tidak semuanya, tapi sering dan berulang kali, saya mendapatkan anak yang cuek dengan pendidikannya sendiri.

Mungkin mereka membekali diri dengan kursus di luar sekolah; begitu perkiraan saya. Tetapi ternyata tidak. Saat tes atau saya uji secara lisan, mereka jauh dari harapan. Kesalahan guru, itu juga menjadi pikiran saya. Barang kali, saya lah yang tidak pandai mengajar. Untuk introspeksi, saya berdiskusi dengan guru-guru lain dan juga guru senior. Ternyata oh ternyata, problem kami sama; anak-anak yang tidak peduli dengan pendidikan mereka.

Suatu kali, di sebuah local, saya marah. Untuk kesekian kalinya, anak-anak itu menyepelekan tugas rumah yang saya berikan. Padahal, tugas tersebut menjadi bahasan untuk belajar. Kali itu, hampir semua anak di local tersebut tidak mengerjakan tugas; hanya dua tiga orang yang mengumpulkan. Padahal telah berbusa mulut saya menasehati mereka sebelumnya.

Pada saat itu, saya bilang tidak akan pernah lagi memberi mereka tugas dan nilai rapor mereka hanya bergantung pada ulangan serta ujian saja. Ancaman itu saya lakukan. Saat terima rapor, saya memberi nilai murni olahan hasil ujian dan ulangan, serta beberapa aspek lainnya; minus tugas harian. Dan seperti dugaan, dari 40 orang, nilai hitam kurang dari 50%.

Saya pun menerima kritikan dari guru-guru lain. Bahkan ada yang bilang, kalau memberi nilai seperti itu bisa dianggap guru yang bodoh; bukan muridnya. Walau ada juga teman guru yang bilang kalau penilaianku itu adalah penilaian yang paling jujur karena dia juga sadar akan kualitas murid-murid kami; dan jujur belum tentu baik (??).

Saat semester baru, saya kembali masuk ke local tersebut. Lalu menjelaskan apa yang kurang dari mereka sehingga banyak dapat merah; malas buat tugas. Serta saya tegaskan, kalau masih malas terima lagi hasil yang sama. Sukses!! Walau tidak 100% namun grafiknya naik. Anak-anak itu tidak lagi berleha-leha membuat tugas atau latihan. Nilai mereka pun meningkat.

Tapi, suatu saat berkata pemilik rental playstation kepada teman sesama guru. Banyak anak-anak sekolah kami yang main ke tempatnya saat jam sekolah, lapornya. Saat ditegur, anak-anak itu malah bicara dengan santai kalau meskipun malas-malasan nanti bakalan lulus juga; karena sekolah mereka yang baik hati akan menyediakan joki saat ujian nasional biar tidak bermasalah.

Atau, saat seorang teman bicara sama saya tentang adiknya yang tidak mau belajar padahal mau ujian nasional. Ketika dinasehati supaya belajar dan peringati kalau bakalan tidak lulus, si adik dengan enteng menjawab; nanti juga dia dapat kunci jawaban soal ujian, jadi buat apa belajar lagi. Dan teman saya bertanya, “benarkah itu?”.

Jadi ini bangsa pemalas atau bangsa yang dibuat jadi malas?


* written by Rifky disini

She is Just an Exception

I just came from CEH course and found out that Ayoub had sent me an offline message through ym. What he said is unexpected. He read a news related to Julia Perez who is gonna go for upcoming regent election in Pacitan. Soon after he read the news, he gave me his comments. Here it is:

ayoub : what the ..........
"but Perez says people with deeply held religious beliefs still see sex as sinful"

ayoub : the most hilarious quoted
"’ I say, ‘No, I don’t agree about that.’ But if you don’t want to get sick, if you don’t want HIV, if you don’t want to have more kids, you use condoms."

ayoub : how about this
"People say I’m too young, that I don’t have the right to run because I’m too sexy. But politics is about honesty, it’s about having a good team. I can be like Barack Obama also."


As he asked me, I will give my comments here, instead of in the news. Since I think that there is a possibility there will be another similar case so I don't have to write the same comment again. According to the case, here are my opinions:

From the first time I heard this issue up until now, I do not agree with her decision to go for election, with any reasons. There are some reasons why I refuse to support her:
  1. She does not have any experience in people problems, in any fields. This is the main thing in order to proceed as a regent. How do you want your region to be developed if it is governed by a know-nothing person? Oke, there is a possibility that the team is great. However, the decision maker is still the head, which is going to be Julia Perez. Is she capable of it? To be honest, I really doubt it. What is she going to decide if she doesn't understand the problems at all? In the end, it will be her surrounding giving the influence.

  2. She is a sex symbol and allows free-sex. It is well-known in Indonesia that Julia Perez is an actress who is used to be in semi-sexual movies. Indonesia is a country having moslems as majority. So it does make sense if we act based on Al-Qur'an and Hadist. If Julia Perez becomes a regent, I have a feeling that prostitution will be increasing as well as raping. The leader represents the people under him/her. If the leader is bad, you can imagine what his/her people are going to be. And take note of this madam,
    FREE SEX IS PROHIBITED IN ISLAM WHETHER YOU ARE USING CONDOMS OR NOT.
    It is already stated clearly in AL-Qur'an and there is no objection among ulama'. Hence, why did you give a statement as if free sex is allowed as long as we use condom? It is not about HIV, it is about the foundation in our religion !!!

  3. She is a woman. Even there are some of ulama said that women are allowed to sit as a leader as long as it is in small scope, I prefer to follow another who said the opposite. It is not that I refuse to be ruled by a woman. However, if there are men who are still more capable of being such a leader, why should we choose a woman? Men are born to be a leader of women after all.

So, those are my opinions. Even I think it won't be satisfy him, I hope Ayoub will understand that she is not representing all of Indonesians. There are many Indonesians who still can think clearly not to support that woman during the election. And I really pray that she is not going to win.

Anyway, I am still an Indonesian, not a Hindonesian. :))

Transkrip Pidato Ibu Sri Mulyani di Hotel Ritz-Carlton

Saya rasanya lebih berat berdiri disini daripada waktu dipanggil Pansus Century. Dan saya bisa merasakan itu karena sometimes dari moral dan etikanya jelas berbeda. Dan itu yang membuat saya jarang sekali merasa grogi sekarang menjadi grogi.

Saya diajari Pak Marsilam untuk memanggil orang tanpa mas atau bapak, karena diangap itu adalah ekspresi egalitarian. Saya susah manggil ‘Marsilam’, selalu pakai ‘pak’, dan dia marah. Tapi untuk Rocky saya malam ini saya panggil Rocky (Rocky Gerung dari P2D) yang baik. Terimakasih atas…… (tepuk tangan)

Tapi saya jelas nggak berani manggil Rahmat Toleng dengan Rahmat Tolengtor, kasus. Terimakasih atas introduksi yang sangat generous. Saya sebetulnya agak keberatan diundang malam hari ini untuk dua hal. Pertama karena judulnya adalah memberi kuliah. Dan biasanya kalau memberi kuliah saya harus, paling tidak membaca textbook yang harus saya baca dulu dan kemudian berpikir keras bagaimana menjelaskan.

Dan malam ini tidak ada kuliah di gedung atau di hotel yang begitu bagus tu biasanya kuliah kelas internasional atau spesial biasanya. Hanya untuk eksekutif yang bayar SPP nya mahal. Dan pasti neolib itu (disambut tertawa). Oleh karena itu saya revisi mungkin namanya lebih adalah ekspresi saya untuk berbicara tentang kebijakan publik dan etika publik.

Yang kedua, meskipun tadi mas Rocky menyampaikan, eh salah lagi. Kalau tadi disebutkan mengenai ada dua laki-laki, hati kecil saya tetap saya akan mengatakan sampai hari ini saya adalah pembantu laki-laki itu (tepuk tangan). Dan malam ini saya akan sekaligus menceritakan tentang konsep etika yang saya pahami pada saat saya masih pembantu, secara etika saya tidak boleh untuk mengatakan hal yang buruk kepada siapapun yang saya bantu.

Jadi saya mohon maaf kalau agak berbeda dan aspirasinya tidak sesuai dengan amanat pada hari ini. Tapi saya diminta untuk bicara tentang kebijakan publik dan etika publik. Dan itu adalah suatu topik yang barangkali merupakan suatu pergulatan harian saya, semenjak hari pertama saya bersedia untuk menerima jabatan sebagai menteri di kabinet di Republik Indonesia itu.

Suatu penerimaan jabatan yang saya lakukan dengan penuh kesadaran, dengan segala upaya saya untuk memahami apa itu konsep jabatan publik. Pejabat negara yang pada dalam dirinya, setiap hari adalah melakukan tindakan, membuat pernyataan, membuat keputusan, yang semuanya adalah dimensinya untuk kepentingan publik.

Disitu letak pertama dan sangat sulit bagi orang seperti saya karena saya tidak belajar, seperti anda semua, termasuk siapa tadi yang menjadi MC, tentang filosofi. Namun saya dididik oleh keluarga untuk memahami etika di dalam pemahaman seperti yang saya ketahui. Bahwa sebagai pejabat publik, hari pertama saya harus mampu untuk membuat garis antara apa yang disebut sebagai kepentingan publik dengan kepentingan pribadi saya dan keluarga, atau kelompok.

Dan sebetulnya tidak harus menjadi muridnya Rocky Gerung di filsafat UI untuk pintar mengenai itu. Karena kita belajar selama 30 tahun dibawah rezim presiden Soeharto. Dimana begitu acak hubungan, dan acak-acakan hubungan antara kepentingan publik dan kepentingan pribadi. Dan itu merupakan modal awal saya untuk memahami konsekuensi menjadi pejabat publik yang setiap hari harus membuat kebijakan publik dengan domain saya sebagai makhluk, yang juga punya privacy atau kepentingan pribadi.

Di dalam ranah itulah kemudian dari hari pertama dan sampai lebih dari 5 tahun saya bekerja untuk pemerintahan ini. Topik mengenai apa itu kebijakan publik dan bagaimana kita harus, dari mulai berpikir, merasakan, bersikap, dan membuat keputusan menjadi sangat penting. Tentu saya tidak perlu harus mengulangi, karena itu menyangkut, yang disebut, tujuan konstitusi, yaitu kepentingan masyarakat banyak. Yaitu mencapai kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur.

Jadi kebijakan pubik dibuat tujuannya adalah untuk melayani masyarakat, Kebijakan publik dibuat melalui dan oleh kekuasaan. Karena dia dibuat oleh institusi publik yang eksis karena dia merupakan produk dari suatu proses politik dan dia memiliki kekuasaan untuk mengeluarkannya. Disitulah letak bersinggungan, apa yang disebut sebagai ingridient utama dari kebijakan publik, yaitu unsur kekuasaan. Dan kekuasaan itu sangat mudah menggelincirkan kita.

Kekuasaan selalu cenderung untuk corrupt. Tanpa adanya pengendalian dan sistim pengawasan, saya yakin kekuasaan itu pasti corrupt. Itu sudah dikenal oleh kita semua. Namun pada saat anda berdiri sebagai pejabat publik, memiliki kekuasan dan kekuasan itu sudah dipastikan akan membuat kita corrupt, maka pertanyaan ‘kalau saya mau menjadi pejabat publik dan tidak ingin corrupt, apa yang harus saya lakukan?’

Oleh karena itu, di dalam proses-proses yang dilalui atau saya lalui, jadi ini lebih saya cerita daripada kuliah. Dari hari pertama, karena begitu khawatirnya, tapi juga pada saat yang sama punya perasaan anxiety untuk menjalankan kekuasaan, namun saya tidak ingin tergelincir kepada korupsi, maka pada hari pertama anda masuk kantor, anda bertanya dulu kepada sistem pengawas internal anda dan staff anda. Apalagi waktu itu jabatan dari Bappenas menjadi Menteri Keuangan. Dan saya sadar sesadar sadarnya bahwa kewenangan dan kekuasaan Kementrian Keuangan atau Menteri Keuangan sungguh sangat besar. Bahkan pada saat saya tidak berpikir corrupt pun orang sudah berpikir ngeres mengenai hal itu.

Bayangkan, seseorang harus mengelola suatu resources yang omsetnya tiap tahun sekitar, mulai dari saya mulai dari 400 triliun sampai sekarang diatas 1000 triliun, itu omset. Total asetnya mendekati 3000 triliun lebih.(batuk2).

Saya lihat (ehem!) banyak sekali (ehem lagi) kalau bicara uang terus langsung…. (ada air putih langsung datang di iringi ketawa hadirin). Saya sudah melihat banyak sekali apa yang disebut tata kelola atau governance. pada saat seseorang memegang suatu kewenangan dimana melibatkan uang yang begitu banyak. Tidak mudah mencari orang yang tidak tergiur, apalagi terpeleset, sehingga tergoda bahwa apa yang dia kelola menjadi seoalh-olah menjadi barang atau aset miliknya sendiri.

Dan disitulah hal-hal yang sangat nyata mengenai bagaimana kita harus membuat garis pembatas yang sangat disiplin. Disiplin pada diri kita sendiri dan dalam, bahkan, pikiran kita dan perasaan kita untuk menjalankan tugas itu secara dingin, rasional, dengan penuh perhitungan dan tidak membolehkan perasaan ataupun godaan apapun untuk, bahkan berpikir untuk meng-abusenya.

Barangkali itu istilah yang disebut teknokratis. Tapi saya sih menganggap bahwa juga orang yang katanya berasal dari akademik dan disebut tekhnokrat tapi ternyata ‘bau’nya tidak seperti itu. Tingkahnya apalagi lebih-lebih.

Jadi saya biasanya tidak mengklasifikasikan berdasarkan label. Tapi berdasarkan genuine product nya dia hasilnya apa, tingkah laku yang esensial.

Nah, di dalam hari-hari dimana kita harus membicarakan kebijakan publik, dan tadi disebutkan bahwa kewenangan begitu besar, menyangkut sebuah atau nilai resources yang begitu besar. Kita mencoba untuk menegakkan rambu-rambu, internal maupun eksternal.

Mungkin contoh untuk internal hari pertama saya bertanya kepada Inspektorat Jenderal saya. “Tolong beri saya list apa yang boleh dan tidak boleh dari seorang menteri.” Biasanya mereka bingung, tidak perndah ada menteri yang tanya begitu ke saya bu. Saya menteri boleh semuanya termasuk mecat saya.

Kalau seorang menteri kemudian menanyakan apa yang boleh dan nggak boleh, buat mereka menjadi suatu pertanyaan yang sangat janggal. Untuk kultur birokrat, itu sangat sulit dipahami. Di dalam konteks yang lebih besar dan alasan yang lebih besar adalah dengan rambu-rambu. Kita membuat standart operating procedure, tata cara, tata kelola untuk membuat bagaimana kebijakan dibuat. Bahkan menciptakan sistem check and balance.

Karena kebijakan publik dengan menggunakan elemen kekuasaan, dia sangat mudah untuk memunculkan konflik kepentingan. Saya bisa cerita berhari-hari kepada anda. Banyak contoh dimana produk-produk kebijakan sangat memungkinkan seorang, pada jabatan Menteri Keuangan, mudah tergoda. Dari korupsi kecil hingga korupsi yang besar. Dari korupsi yang sifatnya hilir dan ritel sampai korupsi yang sifatnya upstream dan hulu.

Dan bahkan dengan kewenangan dan kemampuannya dia pun bisa menyembunyikan itu. Karena dengan kewenangan yang besar, dia juga sebetulnya bisa membeli sistem. Dia bisa menciptakan network. Dia bisa menciptakan pengaruh. Dan pengaruh itu bisa menguntungkan bagi dirinya sendiri atau kelompoknya.

Godaan itulah yang sebetulnya kita selalu ingin bendung. Karena begitu anda tergelincir pada satu hal, maka tidak akan pernah berhenti. Namun, meskipun kita mencoba untuk menegakkan aturan, membuat rambu-rambu, dengan menegakkan pengawasan internal dan eksternal, sering bahwa pengawasan itu pun masih bisa dilewati. Disinilah kemudian muncul, apa yang disebut unsur etika. Karena etika menempel dalam diri kita sendiri. Di dalam cara kita melihat apakah sesuatu itu pantas atau tidak pantas, apakah sesuatu itu menghianati atau tidak menghianati kepentingan publik yang harus kita layani. Apakah kita punya keyakinan bahwa kita tidak sedang menghianati kebenaran. Etika itu ada di dalam diri kita.

Dan kemudian kalau kita bicara tentang total, atau di dalam bahasa ekonomi yang keren namanya agregat, setiap kepala kita dijumlahkan menjadi etika yang jumlahnya agregat atau publik, pertanyaannya adalah apakah di dalam domain publik ini setiap etika pribadi kita bisa dijumlahkan dan menghasilkan barang publik yang kita inginkan, yaitu suatu rambu-rambu norma yang mengatur dan memberikan guidance kepada kita.

Saya termasuk yang sungguh sangat merasakan penderitaan selama menjadi menteri. Karena itu tidak terjadi. Waktu saya menjadi menteri, sering saya harus berdiri atau duduk berjam-jam di DPR. Disitu anggota DPR bertanya banyak hal. Kadang-kadang bernada pura-pura sungguh-sungguh. Mereka mengkritik begitu keras. Tapi kemudian mereka dengan tenangnya mengatakan ‘Ini adalah panggung politik bu.’

Waktu saya dulu masuk menteri keuangan pertama saya masih punya dua Dirjen yang sangat terkenal, Dirjen Pajak dan Dirjen Bea Cukai saya. Mereka sangat powerfull. Karena pengaruhnya, dan respectability karena saya tidak tahu karena kepada angota dewan sangat luar biasa. Dan waktu saya ditanya, mulainya dari…? Segala macem. Setiap keputusan, statemen saya dan yang lain-lain selalu ditanya dengan sangat keras. Saya tadinya cukup naif mengatakan, “Oh ini ongkos demokrasi yang harus dibayar.” Dan saya legowo saja dengan tenang menulis pertanyaan-pertanyaan mereka. Waktu sudah ditulis mereka keluar ruangan, nggak pernah peduli mau dijawab atau tidak. Kemudian saya dinasehati oleh Dirjen saya itu, “Ibu tidak usah dimasukkan ke hati bu. Hal seperti itu hanya satu episod drama saja.”

Tapi kemudian itu menimbulkan satu pergolakan batin orang seperti saya. Karena saya kemudian bertanya. Tadi dikaitkan dengan etika publik, kalau orang bisa secara terus menerus berpura-pura, dan media memuat, dan tidak ada satu kelompokpun mengatakan bahwa itu kepura-puraan maka kita bertanya, apalagi? siapa lagi yang akan menjadi guidance? yang mengingatkan kita dengan, apa yang disebut, norma kepantasan. Dan itu sungguh berat. Karena saya terus mengatakan kalau saya menjadi pejabat publik, ongkos untuk menjadi pejabat publik, pertama, kalau saya tidak corrupt, jelas saya legowo nggak ada masalah. Tapi yang kedua saya menjadi khawatir saya akan split personality.

Waktu di dewan saya menjadi personality yang lain, nanti di kantor saya akan menjadi lain lagi, waktu di rumah saya lain lagi. Untung suami dan anak-anak saya tidak pernah bingung yang mana saya waktu itu. Dan itu sesuatu yang sangat sulit untuk seorang seperti saya untuk harus berubah-ubah.

Kalau pagi lain nilainya dengan sore, dan sore lain dengan malam. Malam lain lagi dengan tengah malam. Kan itu sesuatu yang sangat sulit untuk diterima. Itu ongkos yang paling mahal bagi seorang pejabat publik yang harus menjalankan dan ingin menjalankan secara konsisten. Nah, oleh karena itu, di dalam konteks inilah kita kan bicara mengenai kebijakan publik, etika publik yang seharusnya menjadi landasan, arahan bagi bagaimana

kita memproduksi suatu tindakan, keputusan, yang itu adalah untuk urusan rakyat. Yaitu kesejahteraan rakyat, mengurangi penderitaan mereka, menaikkan suasana atau situasi yang baik di masyarakat, namun di sisi lain kita harus berhadapan dengan konteks kekuasaan dan struktur politik. Dimana buat mereka norma dan etika itu nampaknya bisa tidak hanya double standrart, triple standart.

Dan bahkan kalau kita bicara tentang istilah dan konsep mengenai konflik kepentingan, saya betul-betul terpana. Waktu saya menjadi executive director di IMF, pertama kali saya mengenal apa yang disebut birokrat dari negara maju. Hari pertama saya diminta untuk melihat dan tandatangan mengenai etika sebagai seorang executive director, do dan don’ts. Disitu juga disebutkan mengenai konsep konflik kepentingan. Bagaimana suatu institusi yang memprodusir suatu policy publik, untuk level internasional, mengharuskan setiap elemen, orang yang terlibat di dalam proses politik atau proses kebijakan itu harus menanggalkan konflik kepentingannya. Dan kalau kita ragu kita boleh tanya, apakah kalau saya melakukan ini atau menjabat yang ini apakah masuk dalam domain konflik kepentingan. Dan mereka memberikan counsel untuk kita, untuk bisa membuat keputusan yang baik. Sehingga bekerja di institusi seperti itu menurut saya mudah. Dan kalau sampai anda tergelincir ya kebangetan aja anda.

Namun waktu kembali ke Indonesia dan saya dengan pemahaman mengenai konsep konflik kepentingan, saya sering menghadiri suatu rapat membuat suatu kebijakan, dimana kebijakan itu akan berimplikasi kepada anggaran, entah belanja, entah insentif, dan pihak yang ikut duduk dalam proses kebijakan itu adalah pihak yang akan mendapatkan keuntungan itu. Dan tidak ada rasa risih. Hanya untuk menunjukkan yang penting pemerintahan efektif, jalan. Kuenya dibagi ke siapa itu adalah urusan sekunder.

Anda bisa melihat bahwa kalau pejabat itu adalah background-nya pengusaha, meskipun yang bersangkutan mengatakan telah meninggalkan seluruh bisnisnya, tapi semua orang tahu bahwa adiknya, kakaknya, anaknya, dan teteh, mamah, aa’ semuanya masih run. Dan dengan tenangnya, berbagai kebijakan, bahkan yang membuat saya terpana, kalau dalam hal ini apa disebutnya? kalau dalam bahasa inggris apa disebutnya? i drop my job atau apa..bengong itu.

Kita bingung bahwa ada suatu keputusan dibuat, dan saya banyak catatan pribadi saya di buku saya. Ada keputusan ini, tiba-tiba besok lagi keputusan itu ternyata yang menimport adalah perusahaannya dia.

Nah ini merupakan sesuatu hal yang barangkali tanpa harus mendramatisir yang dikatakan oleh Rocky tadi seolah-olah menjadi the most reason phenomena. Kita semua tahu, itulah penyakit yang terjadi di jaman orde baru. Hanya dulu dibuatnya secara tertutup, tapi sekarang dengan kecanggihan, karena kemampuan dari kekuasaan, dia mengkooptasi decision making process juga.

Kelihatannya demokrasi, kelihatannya melalui proses check and balance, tapi di dalam dirinya, unsur mengenai konflik kepentingan dan tanpa etika begitu kental. Etika itu barang yang jarang disebut pak.

Ada suatu saat saya membuat rapat dan rapat ini jelas berhubungan dengan beberapa perusahaan. Kebetulan ada beberapa dari yang kita undang, dia adalah komisaris dari beberapa perusahaan itu. Kami biasa, dan saya mengatakan dengan tenang, bagi yang punya afiliasi dengan apa yang kita diskusikan silahkan keluar dari ruangan. Memang itu adalah tradisi yang coba kita lakukan di kementerian keuangan. Kebetulan mereka adalah teman-teman saya.

Jadi teman-teman saya itu dengan bitter mengatakan, “Mbak ani jangan sadis-sadis amat lah kayak gitu. Kalaupun kita disuruh keluar juga diem-diem aja. Nggak usah caranya kayak gitu.”

Saya ingin menceritakan cerita seperti ini kepada anda bagaimana ternyata konsep mengenai etika dan konflik kepentingan itu, bisa dikatakan sangat langka di republik ini. Dan kalau kita berusaha untuk menjalankan dan menegakkan, kita dianggap menjadi barang yang aneh. Jadi tadi kalau MC nya menjelaskan bahwa saya ingin menjelaskan bahwa di luar gua itu ada sinar dan dunia yang begitu bagus, di dalam saya dianggap seperti orang yang cerita yang nggak nggak aja. Belum kalau di dalam konteks politik besar, kemudian, wah ini konsep barat pasti ‘Lihat saja Sri Mulyani, neolib.’

Jadi saya mungkin akan mengatakan bagaimana ke depan di dalam proses politik. Tentu adalah suatu keresahan buat kita. Karena episod yang terjadi beberapa kali adalah bahwa di dalam ruangan publik, rakyat atau masyarakat yang harusnya menjadi the ultimate shareholder dari kekuasaan. Dia memilih, kepada siapapun CEO di republik ini dan dia juga memilih dari orang-orang yang diminta untuk menjadi pengawas atau check terhadap CEO nya.

Dan proses ini ternyata juga tidak murah dan mudah. Sudah banyak orang yang mengatakan untuk menjadi seorang jabatan eksekutif dari level kabupaten, kota, propinsi, membutuhkan biaya yang luar biasa, apalagi presiden pastinya.

Dan biayanya sungguh sangat tidak bisa dibayangkan untuk suatu beban seseorang. Saya menteri keuangan saya biasa mengurusi ratusan triliun bahkan ribuan, tapi saya tidak kaget dengan angka. Tapi saya akan kaget kalau itu menjadi beban personal.

Seseorang akan menjadi kandidat mengeluarkan biaya sebesar itu. Kalkulasi mengenai return of investment saja tidak masuk. Bagaimana anda mengatakan dan waktu saya mengatakan saya lihat struktur gaji pejabat negara sungguh sangat tidak rasional. Dan kita pura-pura tidak boleh menaikkan karena kalau menaikkan kita dianggap mau mensejahterakan diri sebelum mensejahterakan rakyat. Sehingga muncullah anomali yang sangat tidak bisa dijelaskan oleh logika akal sehat, bahkan Rocky bilangnya ada akal miring. Saya mencoba sebagai pejabat negara untuk mengembalikan akal sehat dengan mengatakan strukturnya harus dibenahi lagi. Namun toh tetap tidak bisa menjelaskan suatu proses politik yang begitu sangat mahalnya.

Sehingga memunculkan suatu kebutuhan untuk berkolaborasi dengan sumber finansialnya. Dan disitulah kontrak terjadi. Di tingkat daerah, tidak mungkin itu dilakukan dengan membayar melalui gajinya. Bahkan melalui APBD nya pun tidak mungkin karena size dari APBN nya kadang-kadang tidak sebesar atau mungkin juga lebih sulit. Sehingga yang bisa adalah melalui policy. Policy yang bisa dijual belikan. Dan itu adalah adalah bentuk hasil dari suatu kolaborasi.

Pertanyaan untuk kita semua, bagaimana kita menyikapi hal ini di dalam konteks bahwa produk dari kebijakan publik, melalui sebuah proses politik yang begitu mahal sudah pasti akan di stated dengan struktur yang membentuk awalnya.

Karena kebijakan publik adalah hilirnya, hasil akhir. Hulunya yang memegang kekuasaan, lebih hulu lagi adalah prosesnya untuk mendapatkan kekuasaan itu demikian mahal. Dan itu akan menjadi pertanyaan yang concern untuk sebuah sistem demokrasi. Maka pada saat kita dipilih atau diminta untuk menjadi pembantu atau menjadi bagian dari pemerintah, Tentu kita tidak punya ilusi bahwa ruangan politik itu vakum atau hampa dari kepentingan. politik dimana saja pasti tentang kepentingan.

Dan kepentingan itu kawin diantara beberapa kelompok untuk mendapatkan kekuasaan itu. Pasti itu perkawinannya adalah pada siapa saja yang menjadi pemenang.

Kalau pada hari ini tadi disebutkan ada yang menanyakan atau menyesalkan atau ada yang menangisi ada yang gelo (jawa:menyesal. red), kenapa kok Sri Mulyani memutuskan untuk mundur dari Menteri Keuangan. Tentu ini adalah suatu kalkulasi dimana saya menganggap bahwa sumbangan saya, atau apapun yang saya putuskan sebagai pejabat publik tidak lagi dikehendaki di dalam sistem politik. Dimana perkawinan kepentingan itu begitu sangat dominan dan nyata. Banyak yang mengatakan itu adalah kartel, saya lebih suka pakai kata kawin, walaupun jenis kelaminnya sama. (ketawa dan tepuk tangan), karena politik itu lebih banyak lakinya daripada perempuan makanya saya katakan tadi. Hampir semua ketua partai politik laki kecuali satu. Dan di dalam bahwa dimana sistem politik tidak menghendaki lagi atau dalam hal ini tidak memungkinkan etika publik itu bisa dimunculkan, maka untuk orang seperti saya akan menjadi sangat tidak mungkin untuk eksis. Karena pada saat saya menerima tangung-jawab untuk menjadi pejabat publik, saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri, saya tidak ingin menjadi orang yang akan menghianati dengan berbuat corrupt. Saya tidak mengatakan itu gampang. Sangat painful. Sungguh painful sekali. Dan saya tidak mengatakan bahwa saya tidak pernah mengucurkan atau meneteskan airmata untuk menegakkan prinsip itu. Karena ironinya begitu besar. Sangat besar. Anda memegang kekuasaan begitu besar. Anda bisa, anda mampu, anda bahkan boleh, bahkan diharapkan untuk meng abuse nya oleh sekelompok yang sebetulnya menginginkan itu terjadi agar nyaman dan anda tidak mau. (tepuk tangan) Pada saat yang sama anda tidak selalu di apresiasi. P2D kan baru muncul sesudah saya mundur (ketawa, disini dia terlihat mengusapkan saputangan ke matanya).

Jadi ya terlambat tidak apa-apa, terbiasa. Saya masih bisa menyelamatkan republik ini lah. Jadi saya tidak tahu tadi, Rocky tidak ngasih tahu saya berapa menit atau berapa jam. Soalnya diatas jam 9 argonya lain lagi nanti. Jadi saya gimana harus menutupnya. Nanti kayaknya nyanyi aja balik terus nanti. Mungkin saya akan mengatakan bahwa pada bagian akhir kuliah saya ini atau cerita saya ini saya ingin menyampaikan kepada semua kawan-kawan disini.

Saya bukan dari partai politik, saya bukan politisi, tapi tidak berarti saya tidak tahu politik. Selama lebih dari 5 tahun saya tahu persis bagaimana proses politik terjadi. Kita punya perasaan yang bergumul atau bergelora atau resah. Keresahan itu memuncak pada saat kita menghadapi realita jangan-jangan banyak orang yang ingin berbuat baik merasa frustasi. Atau mungkin saya akan less dramatic. Banyak orang-orang yang harus dipaksa untuk berkompromi dan sering kita menghibur diri dengan mengatakan kompromi ini perlu untuk kepentingan yang lebih besar.

Sebetulnya cerita itu bukan cerita baru, karena saya tahu betul pergumulan para teknokrat jaman pak Harto, untuk memutuskan stay atau out adalah pada dilema, apakah dengan stay saya bisa membuat kebijakan publik yang lebih baik sehingga menyelamatkan suatu kerusakan yang lebih besar. Atau anda out dan anda disitu akan punya kans untuk berbuat atau tidak, paling tidak resiko getting associated with menjadi less. Personal gain, public loss. If you are stay, dan itu yang saya rasakan 5 tahun, you suddenly feel that everybody is your enemy.

Karena no one yang sangat simpati dan tahu kita pun akan tidak terlalu happy karena kita tetap berada di dalam sistem. Yang tidak sejalan dengan ktia juga jengkel karena kita tidak bisa masuk kelompok yang bisa diajak enak-enakan. Sehingga anda di dalam sandwich di dua hal itu. Dan itu bukan suatu pengalaman yang mudah. Sehingga kita harus berkolaborasi untuk membuat space yang lebih enak, lebih banyak sehingga kita bisa menemukan kesamaan.

Nah kalau kita ingin kembali kepada topiknya untuk menutup juga, saya rasa forum-forum semacam ini atau saya mengatakan kelompok seperti anda yang duduk pada malam hari ini adalah kelompok kelas menengah. Yang sangat sadar membayar pajak. Membayarnya tentu tidak sukarela, tidak seorang yang patriotik yang mengatakan dia membayar pajak sukarela. Tapi meskipun tidak sukarela, anda sadar bahwa itu adalah suatu kewajiban untuk menjaga republik ini tetap berdaulat. Dan orang seperti anda yang tau membayar pajak adalah kewajiban dan sekaligus hak untuk menagih kepada negara, mengembalikan dalam bentuk sistim politik yang kita inginkan. Maka sebetulnya di tangan orang-orang seperti anda lah republik ini harus dijaga. Sungguh berat, dan saya ditanya atau berkali-kali di banyak forum untuk ditanya, kenapa ibu pergi?. Bagaimana reformasi, kan yang dikerjakan semua penting. Apakah ibu tidak melihat Indonesia sebagai tempat untuk pengabdian yang lebih penting dibandingkan bank dunia.

Seolah-olah sepertinya negara ini menjadi tanggungjawab Sri Mulyani. Dan saya keberatan. Dan saya ingin sampaikan di forum ini karena anda juga bertanggung-jawab kalau bertanya hal yang sama ke saya. Anda semua bertanggungjawab sama seperti saya. Mencintai republik ini dengan banyak sekali pengorbanan sampai saya harus menyampaikan kepada jajaran pajak, jajaran bea cukai, jajaran perbendaharaan, “Jangan pernah putus asa mencintai republik.”

Saya tahu, sungguh sulit mengurusnya pada masa-masa transisi yang sangat pelik. Kecintaan itu paling tidak akan terus memelihara suara hati kita. Dan bahkan menjaga etika kita di dalam betindak dan berbuat serta membuat keputusan. Dan saya ingin membagi kepada teman-teman disini, karena terlalu banyak di media seolah-olah ditunjukkan yang terjadi dari aparat di kementrian keuangan yang sudah direformasi masih terjadi kasus seperti Gayus.

Saya ingin memberikan testimoni bahwa banyak sekali aparat yang betul-betul genuinly adalah orang-orang yang dedicated. Mereka yang cinta republik sama seperti anda. Mereka juga kritis, mereka punya nurani, mereka punya harga diri. Dia bekerja pada masing-masing unit, mungkin mereka tidak bersuara karena mereka adalah bagian dari birokrat yang tidak boleh bersuara banyak tapi harus bekerja.

Sebagian kecil adalah kelompok rakus, dan dengan kekuasaan sangat senang untuk meng abuse. Tapi saya katakan sebagian besar adalah orang-orang baik dan terhormat. Saya ingin tolong dibantu, berilah ruang untuk orang-orang ini untuk dikenali oleh anda juga dan oleh masyarakat. Sehingga landscape negara ini tidak hanya didominasi oleh cerita, oleh tokoh, apalagi dipublikasi dengan seolah-olah menggambarkan bahwa seluruh sistem ini adalah buruk dan runtuh. Selama seminggu ini saya terus melakukan pertemuan dan sekaligus perpisahan dengan jajaran di kementrian keuangan dan saya bisa memberikan, sekali lagi, testimoni bahwa perasaan mereka untuk membuktikan bahwa reform bisa jalan ada disana. Bantu mereka untuk tetap menjaga api itu. Dan jangan kemudian anda disini bicara dengan saya, ya bisa diselamatkan kalau sri mulyani tetap menjadi Menteri keuangan. Saya rasa tidak juga.

Suasana yang kita rasakan pada minggu-minggu yang lalu, bulan-bulan yang lalu, seolah-olah persoalan negara ini disandera oleh satu orang, sri mulyani. Sedemikian pandainya proses politik itu diramu sedemikian sehingga seolah-olah persoalannya menjadi persoalan satu orang. Seseorang yang pada suatu ketika dia harus membuat keputusan yang sungguh tidak mudah, dengan berbagai pergumulan, kejengkelan, kemarahan, kecapekan, kelelahan, namun dia harus tetap membuat kebijakan publik. Dia berusaha, berusaha di setiap pertemuan, mencoba untuk meneliti dirinya sendiri apakah dia punya kepentingan pribadi atau kelompok, dan apakah dia diintervensi atau tidak, apakah dia membuat keputusan karena ada tujuan yang lain. Berhari-hari, berjam-jam dia bertanya, dia minta, dia mengundang orang dan orang-orang ini yang tidak akan segan mengingatkan kepada saya. Meskipun mereka tahu saya menteri, mereka lebih tua dari saya. Orang seperti pak Darmin, siapa yang bisa bilang atau marahin pak marsilam? wong semua orang dimarahin duluan sama dia.

Mereka ada disana hanya untuk mengingatkan saya berbagai rambu-rambu, berbagai pilihan dan pilihan sudah dibuat. Dan itu dilaporkan, dan itu diaudit dan itu kemudian dirapatkan secara terbuka. Dan itu kemudian dirapatkerjakan di DPR. Bagaimana mungkin itu kemudian 18 bulan kemudian dia seolah-olah menjadi keputusan individu seorang Sri Mulyani. Proses itu berjalan dan etika sunyi. Akal sehat tidak ada. Dan itu memunculkan suatu perasaan apakah pejabat publik yang tugasnya membuat kebijakan publik pada saat dia sudah mengikuti rambu-rambu, dia masih bisa divictimize oleh sebuah proses politik.

Saya hanya mengatakan, kalau dulu pergantian rezim orde lama ke orde baru, semua orang di stigma komunis, kalau ini khusus didisain pada era reformasi seorang distigma dengan sri mulyani identik dengan century. Mungkin kejadiannya di satu orang saja, tapi sebetulnya analogi dan kesamaan mengenai suatu penghakiman telah terjadi.

Sebetulnya disitulah letak kita untuk mulai bertanya, apakah proses politik yang di dorong, yang di motivate, yang ditunggangi oleh suatu kepentingan membolehkan seseorang untuk dihakimi, bahkan tanpa pengadilan. Divonis tanpa pengadilan. Itu barangkali adalah suatu episod yang sebetulnya sudah berturut-turut kita memahami konsekuensi sebagai pejabat publik yang tujuannya membuat kebijakan publik, dan berpura-pura seolah-olah ada etika dan norma yang menjadi guidance kita dibenturkan dengan realita-realita politik.

Dan untuk itu, saya hanya ingin mengatakan sebagai penutup, sebagian dari anda mengatakan apakah Sri mulyani kalah, apakah sri mulyani lari? Dan saya yakin banyak yang menyesalkan keputusan saya. Banyak yang menganggap itu adalah suatu loss atau kehilangan. Diantara anda semua yang ada disini, saya ingin mengatakan bahwa saya menang. Saya berhasil. Kemenangan dan keberhasilan saya definisikan menurut saya karena tidak didikte oleh siapapun termasuk mereka yang menginginkan saya tidak disini. (applause)

Saya merasa berhasil dan saya merasa menang karena definisi saya adalah tiga. Selama saya tidak menghianati kebenaran, selama saya tidak mengingkari nurani saya, dan selama saya masih bisa menjaga martabat dan harga diri saya, maka disitu saya menang. Terimakasih. (standing applause) . [18-05-2010 'Kuliah Umum tentang Kebijakan Publik dan Etika Publik']

[Ririn Radiawati, jurnalis Media Indonesia]

Note :

I did both read and hear the speech, tapi entah kenapa tiba-tiba terpikir untuk repost pidato terakhir dari bu Sri Mulyani pada tanggal 18 kemarin. Yah, it might be a bit late to post this article. But I believe that someday this maybe useful for me :D.

Labels:

Surat Kartini 2010

Surat Kartini 2010
Gemala Putri - Bogor


*) Apa yang akan ditulis Kartini kepada sahabatnya Stella Zeehandelaar jika beliau lahir pada abad ini, mungkin bukan surat yang diantar dengan kapal laut dan memakan waktu berbulan bulan, tapi mungkin sudah berupa email.

Emansipasi perempuan bukan lagi menjadi subyek keluhannya, karena sekarang perempuan sudah bebas bersekolah dan berkarir setinggi tingginya. Tapi mungkin kini ia mengeluhkan tingginya biaya bersekolah, karena pemerintah menarik subsidi pendidikan. Mengeluhkan penyelewengan yang berseliweran di negerinya.


Seperti inilah kurang lebih dalam imajinasi saya :

Bagiku Stella,.. masalah yang dihadapi oleh bangsaku kini adalah tingginya biaya pendidikan. Bayangkan Kalau dulu bangsamu perlahan membuka sekolah sekolah untuk para pribumi, ....kini para pembesar negeriku menutup kesempatan itu. Mereka merampas kesempatan satu satunya yang dimiliki saudaranya yang miskin dan melarat untuk merubah nasib melalui pendidikan. Pemerintahku mencabut subsidi yang sangat diperlukan oleh anak anak miskin untuk melanjutkan pendidikannya.

Kini perguruan tinggi kembali menjadi milik para pembesar dan kaum berpunya. Dengarlah Stella,.... keluhan orang tua tak berpunya yang membanting tulang siang malam demi biaya kuliah anak mereka. Berapa banyak tangan tengadah untuk memanjatkan doa di malam sepi, meminta agar diberikan sedikit rejeki demi sang anak.

Kini STOVIA hanya membuka pintunya sedikit saja untuk yang tidak ber-uang. Oh ya, STOVIA kini sudah berganti menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia jika kau belum tahu, tidak cukup otak pintar untuk menuju ke sana, tapi juga uang yang banyak.

Karena biaya pendidikan yang mahal itu, aku tidak heran jika para dokter menerapkan tariff mahal yang tidak mampu dijangkau oleh sebagian besar rakyat kami. Sementara penyakit penyakit aneh mulai bermunculan. Aku ingin bercerita tentang bayi berkepala besar yang terkatung katung di kampungnya. Orang tuanya tidak mampu membawanya berobat karena ketiadaan biaya. Surat miskin yang dikeluarkan oleh kepala desa tidaklah bermanfaat. Rumah sakit penuh dengan pasien melarat, pemerintah kami hanya mengeluarkan pernyataan tanpa tindakan.

Ingatkah kau akan Tjipto Mangoenkoesoemo? Betapa ia dulu dengan sukarela memberantas wabah pes yang merebak di seantero negeri, tanpa imbalan. Aku berharap akan ada Tjipto Tjipto lain, walaupun dengan rasa pesimis.

Duhai sahabatku,.. kini hatiku pedih oleh rintihan para pedagang, pengrajin dan petani kecil negeriku. Mereka orang orang yang tabah, membangun usahanya tanpa bantuan pemerintahku.

Berusaha mandiri dan tidak bersandar menjadi orang gajian semata. Tahukah kau Stella,.... setelah mereka memeras peluh memproduksi kebutuhan kami, sekonyong pasar diserbu oleh barang barang dari negeri seberang lautan. Pemerintah kami yang membuka pintu lebar lebar. Mereka tidak ingin bersusah payah mengurusi para petani dan pedagang kecil itu.


Bukankah rakyat negeriku sangat rajin Stella? Mereka berjuang beratus tahun, dari perang ke perang, dari tanam paksa, menjadi romusha sampai mengantar nyawa putra putra terbaik kami untuk meraih kemerdekaan.

Apakah kami sudah merdeka? Memang tidak ada lagi cambuk yang menggelegar menghantam tubuh kami. ....Tapi cambuk itu sudah berganti menjadi perjanjian perjanjian dagang bebas tarif antar Negara yang dengan cepat mencekik kami hingga sekarat.

Tapi kami masih tetap tegar tidak berputus asa, jika keadaan disini tidak tertahankan mengembaralah para lelaki dan perempuan kami ke negeri seberang. Apa pun kami lakukan demi mempertahankan daya hidup. Ketahuilah Stella kami bukan bangsa pemalas, saat rakyatmu masih bergelung dalam selimut di pagi buta, kami telah terjaga dan berjuang di jalanan, melawan situasi yang tak bersahabat.

Dulu, dibawah kekuasaan bangsamu ..kami masih mempunyai tanah untuk ditanami, sekarang semua musnah. Kau akan kaget... Sahabat, negeriku yang dulu hijau permai, kini penuh gedung tinggi. Di tanah kamilah gedung gedung itu berdiri, tidak semua untuk gedung, ada tanah kami yang terendam lumpur tanpa tahu apa dan siapa penyebabnya sehingga sebagian dari kami terlunta lunta kehilangan mata pencaharian.

Duh, sahabat, kini tanah kami mulai meranggas, namun masih tetap kaya raya. Kini orang orang asing itu kembali bukan untuk tanaman tapi untuk tambang...... Para pembesar negeri yang mengundang mereka. Mereka mengaduk ngaduk tanah kami untuk emas, tembaga, batu bara, minyak bahkan gas. Kami hanya bisa menonton tanpa menikmati. Kekayaan negeri tidak lagi digunakan untuk sebesar besarnya kemakmuran rakyat. Pasal pasal kesejahteraan rakyat yang susah payah dirancang oleh para Bapak bangsa kini tinggal arsip usang yang terabaikan.

----

Stella, aku tidak menyesal tidak jadi bersekolah di Belanda, di sini aku bisa tetap dekat dan melihat kondisi rakyatku. Aku akan berkeliling dari Sabang sampai Merauke mencoba bersama sama membangun industri rumah tangga yang nyaris binasa. Kau masih ingat kerajinan rakyat dari Jepara, tanah kelahiranku? Betapa indah bukan motif motif ukiran itu?

Ukiran itu adalah kekayaan rakyatku sejak ratusan tahun yang lalu, namun seakan belum puas masih ada bangsa asing yang tergiur dengan motif motif itu dan berusaha mengakui itu sebagai miliknya.

Stella, kenapa negeriku yang indah tak permanai ini terus menerus dirundung malang? Apa dosa kami.,,,, Mengapa anugerah yang kami terima selalu ingin dirampas oleh bangsa lain.

Tapi aku yakin, Tuhan tidak tidur. Ia tahu dan Ia menunggu.

Jika kau sempat ke Indonesia, kau akan kuajak menikmati hari hari di negeriku. Bangun pagi buta, memasak, pergi bekerja, berdesak desakan dalam kendaraan umum yang jauh dari nyaman sambil menghirup asap beracun dari saluran pembuangan kendaraan bermotor. ,,,,Sungguh berbeda dengan negerimu yang serba teratur.,,,, Di sini keringat kami biasa terperas tanpa mengeluh.


Datanglah sahabat, aku menunggu.

Rembang, 21 April 2010

footnote :
jika tidak bisa memperbaiki negara, perbaiki lingkungan, jika tidak bisa memperbaiki lingkungan, perbaiki diri sendiri. dan itulah hal yang paling mendasar yang harus kita lakukan.

Media untuk Opini

Sekadar ingin menyegarkan kembali tentang peran media dalam pembentukan opini hingga saat ini. Sekalipun tulisan ini sudah lumayan lama, tapi isinya masih tetap berlaku hingga saat ini.


-------------------

Jurnalisme Kuning dan Isu Malaysia
Oleh Giri Ahmad Taufik

Kurang lebih seratus tahun lalu, rakyat Amerika berang dengan tenggelamnya USS Maine yang menewaskan seluruh awaknya di lepas Pantai Kuba. Rakyat Amerika menuduh Spanyol menyerang kapal tersebut yang menyebabkan pecahnya perang Spanyol-Amerika. Ironisnya, setelah perang usai diketahui USS Maine tenggelam karena kecelakaan di kapal tersebut, yang pada awal permulaan konflik diberitakan oleh media massa Amerika, dengan sensasionalitas yang luar biasa, karena diledakkan Spanyol. Untuk pertama kalinya kekuatan media unjuk gigi dalam memengaruhi kebijakan pemerintah untuk berperang dengan mempraktikkan apa yang disebut yellow journalism.

Berjarak seratus tahun dari peristiwa Spanish-America War, di belahan dunia lain, Indonesia dan Malaysia, dua negara serumpun terlibat ketegangan akibat salah satunya mengabaikan prinsip bertetangga yang baik. Klaim terhadap wilayah teritorial, penggunaan ikon pariwisata Indonesia yang tidak semestinya, dan perlakuan kasar warga negara Indonesia oleh Malaysia, menyebabkan masyarakat Indonesia menjadi berang. Keberangan itu bereskalasi menjadi dendam dan kebencian mendalam terhadap Malaysia. Ekspose media terhadap persoalan ini menjadi demikian hebat dengan sensasionalitas luar biasa.

Persoalan klaim budaya pun merembet ke isu lain yang tidak relevan, seperti mempersoalkan kehadiran mahasiwa Malaysia di Indonesia. Penyikapan pun menjadi semakin irasional dan tidak proposional, diiringi dengan pemberitaan yang sensasional dan berlebihan. Dengan derajat pemberitaan seperti ini, banyak media di Indonesia terindikasi mempraktikkan jurnalisme kuning.

Jurnalisme kuning

Pada dasarnya, jurnalisme kuning (yellow journalism) merupakan fenomena jurnalisme yang melanda AS di era akhir 1800-an dan awal 1900-an. Persaingan untuk meningkatkan penjualan oplah, atau dalam era sekarang untuk mendorong klik (dalam media dotcom) atau rating dalam media TV, membuat media di New York pada saat itu memberitakan skandal-skandal dan mengemas pemberitaan secara sensasional.

Jurnalisme kuning, tentu bukan fenomena baru dan bahkan tidak asing lagi bagi masyarakat kita. Dengan mudah kita akan mengidentifikasi sejumlah media yang terkategori media hiburan sebagai pengamal setia jurnalisme kuning di Indonesia. Terkait isu Malaysia misalnya, bagaimana Manohara tiba-tiba menjadi "pahlawan nasional" yang ditindas penguasa Malaysia, tanpa mempertimbangkan aspek-aspek lain untuk menciptakan proporsionalitas pemberitaan.

Pengamalan jurnalisme kuning tidak selamanya dimonopoli oleh media tidak serius, seperti media massa. Dalam derajat tertentu, media yang terkategori serius pun sering mengamalkan jurnalisme kuning, terutama media-media yang memiliki agenda tertentu dan berafiliasi terhadap garis pemikiran tertentu. Salah satu contoh, media-media yang bermunculan pada konflik Maluku di awal masa reformasi yang secara sensasionalitas mengumbar gambar-gambar vulgar disertai analisis-analisis dangkal dengan penyebutan kelompok agama tertentu sebagai musuh yang harus dibasmi.

Namun demikian, selalu terdapat dua sisi dalam mata uang. Jurnalisme kuning pada satu sisi, dapat mendorong dan menjadi alat efektif dalam mendorong perubahan. Namun dalam sisi lain, Jurnalisme kuning dapat pula memicu kekerasan dan radikalisasi.

Isu Malaysia

Indikasi menggejalanya jurnalisme kuning dalam isu Malaysia, secara masif dan sistemik dapat dilihat dalam isu "klaim tari pendet". Salah satu media elektronik di Indonesia memproduksi gambar secara berulang-ulang diikuti dengan narasi persuasif dengan mengulang-ulang kalimat "Malaysia kembali mengklaim". Dalam isu lainnya, yakni pemberitaan media lain di Indonesia tentang dilecehkannya lagu "Indonesia Raya". Dengan analisis spekulatif, pewarta media itu menyimpulkan, pelecehan lagu tersebut berasal dari Malaysia karena dibuat dalam style bahasa Malaysia dan dalam forum Malaysia. Dua contoh tadi, mengindikasikan dua hal. Yang pertama, pengejaran pada sensasi/berlebihan dan contoh yang kedua adalah pendasaran yang tidak reliabel dan kredibel yang masuk dalam karekteristik jurnalisme kuning.

Praktik jurnalisme kuning tersebut ditambah dengan kurangnya pemberitaan terhadap counter argument yang proposional terhadap versi lain dari isu Malaysia membuat banyak masyarakat Indonesia menarik kesimpulan, Malaysia adalah musuh dan pencuri. Labelisasi dan eksploitasi kebencian secara berulang-ulang dan massif ini akhirnya dapat menumbuhkan bibit radikalitas di kalangan masyarakat Indonesia, bukan tidak mungkin dapat mengaktifkan individu radikal frustrasi melakukan tindakan-tindakan kontraproduktif atau dalam teori paling konspiratif, membuka kemungkinan dimanfaatkan oleh kelompok kepentingan yang menginginkan destabilisasi.

Pertanyaan yang tersisa adalah apakah eksploitasi isu demi klik dan rating merupakan tawaran sesungguhnya dari komunitas pers Indonesia, dengan kedok kebebasan pers. Atau fenomena ini merupakan fenomena insindental yang berdiri sendiri dan tidak merefleksikan praktik jurnalistik Indonesia atau hal ini merupakan problematisasi penulis saja yang menafsir fenomena ini secara berlebihan. Jika kemudian jawaban yang benar adalah dua yang terakhir, sudah sewajarnya kita mengucap syukur mengingat kerusakan yang ditimbulkan oleh jurnalisme kuning dalam kesejarahannya.***

[+] Penulis, Postgraduate Student Law Faculty University of Melbourne dan pengajar Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran.

Labels:

Quotes of the Day

Recent Comments

Followers

Shev's bookshelf: read

OutliersKetika Cinta Bertasbih5 cmLaskar PelangiSang PemimpiEdensor

More of Shev's books »
Shev Save's  book recommendations, reviews, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists