source: Rumah Pintar Kembahr
Untuk jiwaku, yang sekarang sedang gundah, yang sekarang sedang gelisah…
Gelisah karena kau ingin segera tahu nasibmu kelak.. Apakah kau bisa membahagiakan keluargamu atau tidak? Apakah kau bisa membahagiakan orangtuamu atau tidak? Apakah kau bisa membahagiakan orang terkasihmu atau tidak?
Sabarlah wahai jiwaku, upaya hari ini memang bukan untuk kau tuai hari ini. Kau diciptakan untuk jadi orang besar, untuk jadi penerang disekitarmu, karena sebagian cahaya ada dalam dirimu.
Jiwaku yang sedang berhenti dan bingung.
Jika kau memang mau, berhentilah sejenak, nikmati kesedihanmu, rasakan kelelahanmu. Karena mungkin selama ini aku memaksamu terlalu keras. Tapi aku minta, jangan terlalu lama, karena aku membutuhkanmu, temanku membutuhkanmu, orang-orang terkasihmu membutuhkanmu.
Mereka rindu dengan diriku yang telah kau buat menjadi hebat, menjadi besar, menjadi pemimpin atau pemberani yang sering mereka lihat selama ini. Mereka ingin bertemu lagi dengan diriku yang telah kau buat menjadi penyemangat bagi orang lain, inspirator bagi kawan dan juga mentor bagi diriku sendiri dan orang terdekatku.
Selamat menikmati waktu istirahatmu wahai jiwaku… esok atau mungkin lusa atau mungkin kelak hari, ketika kau sudah siap menemaniku lagi, aku akan menyambutmu dengan diri yang lebih bijak dan tangguh, diri yang tak banyak mengeluh dan lebih mawas.
Dan saat itu, kau bisa menemaniku lagi untuk berbuat sesuatu hal yang membuat orang berdecak kagum. Dan saat itulah kita bisa menunggu hasil kerja kita dan kita tuai bersama hasilnya.
Dari Diriku..untukmu Jiwaku…
oleh: Darwis Tere Liye
Satu pemuda dgn mata berbinar-binar, di bawah temaram lampu kota Jakarta, dengan pemandangan jalanan yg super-macet, akan bilang dengan suara bergetar: "Aku cinta padamu!" Sementara di belahan China sana, di lorong-lorong toko yang ramai, kencan di bawah hiasan lampion dan naga-naga merah, asap mie kuah mengepul, serakan bebek peking, mereka akan bilang: "Wo ai ni". Lain pula satu pemuda bavaria, di dekat sisa tembok Berlin yang sekarang jadi hiasan toilet, menggunakan syal Bayern Muenchen, dia akan berbisik mesra ke pasangannya: "Ich liebe dich…" Sedangkan di India sana, dgn sedikit kerling mata, sedikit aca-aca, diiringi banyak tari dan lagu, mereka akan bilang: "Mein Tumse Pyar Karta Hoon", atau "Tane Prem Karoo Choo" bagi dialek Gujarat. Si cewek mengangguk, bukankah dia juga selama ini sudah "Kuch-kuch hota hai" pula? Bukan main….
Ah, di bawah menara Eiffel yg elok, bermandikan cahaya, lihatlah seorang pemuda Perancis, akan mengatakan dengan gagah kalimat: "Je t’aime"… Konon, katanya bahasa Perancis adalah bahasa yg paling indah, jadi bayangkan betapa super-indahnya pernyataan cinta itu ketika dikatakan. Indah di atas indah… Lain kisah teman Jepang kita yang sedang berduaan sambil menatap gunung Fuji yang juga indah, sakura-san akan bilang: "Kimi o ai shiteru". Dan pasangannya akan mengangguk malu-malu. Besok mereka akan bertamasya ke Menara Tokyo yang terkenal itu. "Ana behibek" kata pemuda Arab sambil tersipu ke pasangannya, maka sang gadis akan menjawab, "Ana behibak". Tak kalah tersipunya. Tp, jgn salah kalimatnya. Ada behibak, ada behibek. Huruf a dan e bisa membedakan arti di gurun pasir sana, kalian bisa disangka suka sesama jenis jika salah pakai….
Kakek-nenek kita dulu yang masih mengalami penjajahan Belanda, pasti pernah mendengar meneer dan nyonye Belande saling bilang: "ik hou van jou"… dan lucunya, kakekku dulu juga suka menirunya, cuek bilang: "ekhopanjo, istriku-" Tak masalah separuh2 begitu, tak masalah salah2 lafal, kan bibirnya tetap bibir inlander pribumi. Yang penting nenek mengerti, dan balas bilang "ekhopanjo juga". Beruntung kita tidak dijajah bangsa Hongaria atau Kazakhastan, kan susah banget nulis kalimat cinta mereka: "Szeretlek te’ged", "Men seny jaksy kuremyn"…. puh, apalagi pas bilangnya, tambah syusah, kebanyakan huruf konsonannya… tapi meski susah banget bagi lidah kita, nih kalimat mungkin sudah setengah mati ditunggu seorang gadis yang selalu menatap penuh harap seorang pemuda yang selalu berjalan lambat di gang depan rumahnya di kota Budapest yang eksotis itu… Oh, katakanlah "Szeret-zeret tadi padaku…."
"Mahal kita" kata orang Filipina, "Ya lyublyu tebya" kata orang Rusia, "Tora dust daram" seru orang Persia, "Ti amo" kata orang Italia, dan seterusnya dan seterusnya… Begitu banyak versi kalimat I Love You di belahan dunia. Saking banyaknya, tak terhitung… Karena bahasa-bahasa setempat juga punya versi sendiri. Di Indonesia saja ada lebih 300 bahasa lokal, maka akan ada 300 pula versi kalimat "Aku cinta padamu?" Di Sumedang, Banten sana, Padang, Pulau Enggano, Pelosok Papua, Sulawesi, pedalaman Kalimantan, dan entahlah…
Teman, pernahkah ada yang berpikir bagaimana manusia mengungkapkan "I Love You" pada jaman pra-sejarah? Saat bahasa belum ada? Saat manusia masih ber "a-a-a, u-u-u, a-a-a-a"… masih mengejar2 dan dikejar2 dinosaurus? Kan mereka belum punya kalimat sama sekali, jangankan "I Love You", mau bilang makan saja susah, "a-a-a-a… i-i-i…" Menurut temanku, yang amatiran soal antropologi dan sejarah manusia, katanya mereka menyampaikan rasa cintanya dengan pentungan batu. Benaran. Pakai pentungan batu. Jdut! Sang cowok akan memukul kepala cewek idamannya, terus berteriak-teriak…."i-i-i…u-u-u…" Nah, loh! Celakanya lagi, katanya semakin dalam cintanya, maka semakin keras sang cowok akan menggunakan pentungan batu yang sehari-hari buat melempar gajah purba tersebut. Si cewek mati karena digebuk? Ah, mana ada "kalimat cinta" membuat mati seseorang. Semaput sih iya. Si cewek cuma pingsan dikit, lantas akan siuman, kemudian tentu saja akan membalas memukul tak kalah kerasnya, "i-i-i…u-u-u…." Aku cinta kamu juga. BANGET LOH".
Teman, pernahkah kalian juga berpikir bagaimana pula dengan pasangan yang cacat, kurang beruntung? Pasangan yang buta dan tuli misalnya? Bagaimana mereka akan bilang cinta? Melihat tak bisa, mendengar juga tak bisa… Ah, Tuhan selalu punya skenario hebat untuk urusan ini… Aku pernah terkesima menyaksikan sepasang buta yang naik kendaraan umum. Mereka saling berpegangan tangan sejak memasuki pintu kereta. Mesra nian. Meski umur mereka berbilang lima puluhan. Yang laki dengan gentle membimbing yang wanita menuju kursi memakai tongkat-nya (meski sebenarnya penumpang lain yang membantu mereka menyibak padatnya kereta). Lantas mereka duduk bersisian. Yang wanita lantas meraba2 sakunya, mengambil dua butir permen. Membukakan satu untuk pasangannya, satu untuk dirinya sendiri. Mereka buta, jadi amat menyentuh hati melihat kemesraan dua butir permen Hexos itu. Butuh dua menit untuk membuka dua permen itu… Aku menghela nafas panjang… Bagi mereka, sungguh kecantikan wajah tak ada gunanya, ketampanan pasangan tidak penting… Cara tangan mereka meraba2, menyentuh lengan kekar pasangannya sudah bilang sejuta cinta… Dan aku mendadak jengah! Malu. Ya Tuhan, bandingkan cinta mereka dengan cinta yang kupahami dan kuinginkan… Sungguh mereka mengajarkan makna cinta yang sesungguhnya….
Teman, kita punya banyak cara menyampaikan cinta kita. Punya banyak kalimat. Bahasa. Tapi sadarilah, cara terbaik untuk menyampaikan cinta adalah dengan perlakuan. Dengan perbuatan. Dengan pengorbanan yang tulus. Tidak peduli apakah seseorang itu akan membalas cinta kita atau tidak. Tidak peduli apakah perlu kalimat itu diucapkan atau tidak… Ucapkanlah dengan memberi tanpa mengharap, memberi tanpa mengambil, itulah simbolisasi cinta yang paling indah…
Makanya tak perlu heran jika menemukan sepasang kekasih, berumur 90 tahun. Sudah menikah 70 tahun. Memiliki anak 12, cucu 30, cicit 67. Tinggal sederhana di kaki Gunung Kerinci. Kemarin lusa sang istri tercinta pergi… Dan saat sang suami yang tua menatap sedih butir demi butir tanah dimasukkan menutupi jasad istrinya, meski menangis, dia tersenyum rela… Sadahal sempurna. Dia sempurna tidak pernah bilang "Aku cinta padamu" kepada almarhum istrinya. Tidak pernah selama 70 tahun kebersamaan mereka. Karena kalimat itu selalu kelu saat akan diucapkan. Selalu tersumbat saat akan dikatakan… Tapi almarhum istrinya tahu persis, suaminya amat mencintainya… karena kalimat itu terukir indah bersama hari-hari mereka yang hebat… 25.500 hari… hari2 suka-cita, hari2 pertengkaran, hingga hari2 kepergian…
Depok, 11 April 2007
[+] Cinta bukan sekadar kata, eh ?
Bagian ini merupakan kelanjutan dari bagian I yang sudah saya post sebelumnya. Yang terdapat di bagian ini adalah klimaks dan permasalahan yang terjadi setelah Oliver memulai sistem perbankan miliknya. Ini bukanlah akhir dari 'dongeng' tentang mitos uang. Masih ada bagian berikutnya yang berisi pendapat dari Louis Even serta apa yang saya dapat setelah membaca cerita ini.
9. Sebuah Masalah Arimatika
Uang dari Oliver beredar dengan cepat di pulau tersebut. Perdagangan, karena dipermudah oleh adanya uang, pun meningkat dua kali lipat. Semua orang bahagia. Si bankir pun mulai mendapat status dan rasa hormat dari kelima orang tersebut.
Tetapi, mari kita lihat… Mengapa si Tom tampak murung? Karena Tom, sama seperti teman-temannya, telah menandatangani surat perjanjian kepada Oliver. Dalam waktu satu tahun, $200 + $16 bunga harus dikembalikan. Tetapi Tom hanya menyisakan beberapa dolar sekarang, dan waktu untuk membayar sudah semakin dekat.
Sudah lama juga dia bimbang.. Oliver meminjamkan $1000 kepada mereka berlima, tetapi uang yang harus dikembalikan adalah $1080. Sekalipun mereka berlima mengembalkan semua uang di tangan kepada Oliver, mereka masih kekurangan $80. Tak seorang pun memiliki $80 ini.
Memang mereka yang memproduksi barang, tetapi mereka tidak memproduksi uang. Oliver pada dasarnya bisa mengambil alih seluruh pulau ini, karena mereka berlima sama sekali tidak sanggup membayar kepada Oliver sesuai perjanjian.
Tom pun mulai berdiskusi dengan keempat temannya, Tom berhasil menjelaskan kepada mereka tentang anehnya sistem ini. Teman-teman Tom mulai mengerti, dan mereka pun memutuskan untuk mengadakan pertemuan dengan Oliver.
10. Bankir Yang Baik Hati
Lima orang ini pun berdebat dengan Oliver tentang masalah ini.
“Mana mungkin kami sanggup membayar $1080 kalau semua uang yang eksis hanya $1000?”
Oliver mendengarkan dengan tenang, dan kemudian menjawab kepada mereka, “Bankir yang baik selalu beradaptasi dengan keadaan. Mulai sekarang kalian hanya perlu membayar bunganya saja kepadaku. Pokok pinjaman bisa Anda simpan terus.”
“Maksudnya $200 pinjaman kami dianggap lunas?” Tanya salah satu dari mereka.
“Tentu saja tidak. Bankir tidak akan menghapuskan hutang. Yang saya maksudkan adalah mulai sekarang Anda hanya perlu membayar bunganya saja, $80 per tahun kepada saya. Mungkin di antara kalian ada yang kekurangan uang karena kurangnya perdagangan. Kalau begitu, organisasikan komunitas Anda seperti sebuah bangsa. Buat sebuah sistem kontribusi, yaitu apa yang kita sebut dengan pajak. Orang yang punya lebih harus membayar lebih, dan yang kekurangan membayar lebih sedikit.”
Kelima orang ini pun pergi dengan diam, tetapi dalam hati mereka masih bingung.
11. Oliver Yang Bersuka-Ria
Oliver kembali sendiri. Dia berpikir: “Bisnis lagi bagus. Orang-orang ini memang pekerja yang rajin, tetapi mereka bodoh. Ketidaktahuan dan kenaifan mereka adalah kekuatan saya. Mereka meminta uang, dan yang saya berikan kepada mereka adalah rantai perbudakan.”
“Tentu saja, mereka bisa saja membuang saya ke laut. But hei… Saya punya tanda tangan mereka. Mereka orang-orang jujur, mereka akan menepati perjanjiannya. Orang jujur dan pekerja keras memang ada di dunia untuk diperbudak para ahli finansial.”
“Oh Mammon! Saya merasakan kegeniusan perbankan merangkai keseluruhan hidupku. Oh Tuanku! Betapa benarnya kamu saat kamu berkata: Izinkan saya mengontrol uang sebuah negara, dan saya tidak peduli siapa yang membuat hukumnya. Sayalah tuan di pulau ini karena sayalah yang mengontrol uangnya.”
“Jiwaku penuh dengan antusiasme dan ambisi. Aku bisa mengenalikan seluruh alam semesta. Apa yang aku, Oliver, lakukan di sini bisa aku lakukan terhadap seluruh dunia. Oh! Andaikan saja saya bisa meninggalkan pulau ini, saya tahu pasti saya bisa mengendalikan seluruh dunia tanpa perlu mengenakan mahkota raja.”
“Kebahagiaan tertinggi saya adalah kalau saya bisa menerapkan filosofi ini di pikiran orang-orang yang akan memimpin masyarakat: bankir, industrialis, politisi, reforman, guru, jurnalis, dll, semuanya akan menjadi budakku. Publik akan merasa puas hidup dalam perbudakan di saat para elit di antara mereka akan menjadi pengawas mereka.”
12. Biaya Hidup Yang Tak Terjangkau
Situasi perlahan-lahan bertambah buruk di pulau ini. Produksi memang meningkat, dan aktifitas barter turun ke minimum. Oliver menerima bunga pinjamannya secara teratur. Yang lain harus berpikir bagaimana menyisakan uang untuknya. Dengan demikian, uang tidak benar-benar beredar dengan bebas.
Mereka yang membayar lebih banyak pajak memprotes. Mereka menaikkan harga jual barangnya sebagai kompensasi atas kerugiannya. Mereka yang tidak membayar pajak akhirnya harus menghadapi biaya hidup yang terus meningkat. Bila seseorang akhirnya bekerja untuk yang lain, dia akan terus-menerus meminta kenaikan gaji untuk memenuhi ongkos hidup yang terus meningkat.
Moral sudah sangat rendah, tidak ada lagi kesenangan dalam hidup. Tidak juga semangat dalam bekerja. Untuk apa juga? Penjualan sangat sulit. Kalaupun menjual, akhirnya harus membayar pajak. Ini benar-benar sebuah krisis. Dan kelima orang ini saling menuduh satu sama lain bahwa mereka menuntut terlalu banyak sumbangan dari yang lain.
Suatu hari, Harry, yang duduk merenungkan situasi mereka, akhirnya tiba pada sebuah kesimpulan akhir. Perubahan sejak kedatangan si perancang sistem moneter baru mereka telah merusak segalanya di pulau itu. Tentu saja, mereka berlima juga memiliki kesalahan, tetapi tetap saja sistem dari Oliverlah yang menyebabkan kerusakan terbesar.
Harry berhasil menjelaskan kepada teman-temannya. Satu demi satu dari mereka akhirnya paham, dan mereka pun memutuskan untuk mengadakan pembicaraan lagi dengan Oliver.
13. Diperbudak Oleh Oliver
Pertengkaran hebat pun terjadi.
“Uang benar-benar kurang di pulau ini kawan, karena Anda mengambilnya dari kami! Kami membayar dan membayar, dan tetap saja kami berhutang sama banyaknya seperti sebelumnya. Kami sudah bekerja dengan sangat keras, tetapi kondisi kami bahkan lebih buruk dibanding sebelumnya. Hutang! Hutang! Yang ada pada kami hanyalah hutang!”
“Oh, kawan, bicaralah yang masuk akal! Kehidupan kalian sudah lebih baik, terima kasih kepadaku. Sistem perbankan yang baik adalah aset terbaik sebuah bangsa. Tetapi supaya bisa berfungsi maksimal, Anda harus mempercayai bankirnya. Datanglah padaku seperti datang pada ayahmu. Apakah uang yang Anda inginkan? Tidak masalah, simpanan emasku masih cukup untuk menerbitkan ribuan dolar yang lain. Saya akan meminjamkan kepada kalian seribu dolar lagi, Anda tinggal menjaminkan aset Anda kepadaku.”
“Jadi sekarang hutang kami menjadi $2000! Dan kami harus membayar dua kali lipat bunga sepanjang sisa hidup kami!”
“Ya, benar --- Tetapi saya akan meminjami kalian lagi saat nilai properti Anda meningkat. Kalian tidak perlu membayar saya apapun selain bunga. Kalian bisa menggabungkan semua hutang kalian menjadi satu, kita akan menyebutnya konsolidasi hutang. Kalian bisa menambah hutang itu, tahun demi tahun.”
“Dan menaikkan pajak, tahun demi tahun?”
“Tentu saja, tetapi pendapatan Anda kan juga akan meningkat setiap tahun.”
“Jadi, semakin pulau ini maju karena usaha kami, semakin besar hutang publik kami!”
“Iya, emangnya kenapa! Sama seperti di manapun di peradaban yang lain. Tingkat peradaban sebuah komunitas selalu bisa dilihat dari seberapa besar ukuran hutang mereka kepada bankir.”
14. Srigala Memakan Domba
“Itukah yang namanya sistem moneter yang sehat, Pak Oliver?”
“Bapak-bapak, semua uang yang baik adalah berbasis emas, dan muncul dari bank dalam bentuk hutang. Hutang nasional adalah hal yang baik. Ini akan mencegah kalian merasa puas diri. Ini akan membuat pemerintahan manapun lebih bijak, yang diturunkan oleh bankir. Sebagai bankir, sayalah obor cahaya peradaban di pulau ini. Sayalah yang akan mendikte politik dan mengatur standar hidup kalian.”
“Pak Oliver, kami bukan orang berpindidikan, tetapi kami tidak ingin peradaban seperti itu di sini. Kami tidak akan meminjam satu sen pun lagi dari Anda. Tidak masalah uang baik atapun tidak baik, kami tidak ingin lagi bertransaksi denganmu.”
“Bapak-bapak, saya benar-benar kecewa dengan keputusan kalian. Tetapi bila kalian mengingkari perjanjian ini, ingat, saya punya tanda tangan kalian. Bayar saya semuanya – pokok pinjaman dan bunga.”
“Tetapi itu mustahil, Pak. Kalaupun kami mengembalikan semua uang yang ada di pulau ini, kami masih tidak bisa melunasinya.”
“Saya tidak bisa membantu. Kalian sudah menandatangani perjanjian ini sebelumnya, bukan?”
“Berdasarkan isi kontrak, dengan demikian saya berhak menyita semua properti kalian. Kalian harus mentaati apapun yang saya katakan sekarang. Kalian akan terus mengeksploitasi pulau ini, dan terus melayani saya. Sekarang kalian keluar! Dan tunggu perintah dari saya besok.”
15. Mengendalikan Media
Oliver tahu pasti siapa yang mengendalikan uang, dialah yang mengendalikan bangsa. Tetapi dia juga sadar, untuk mempertahankan kekuasaan, sangat penting untuk mempertahankan agar masyarakat tetap bodoh, dan terus mengalihkan perhatian masyarakat ke hal yang lain.
Oliver mengamati bahwa dari 5 orang itu, 2 termasuk konservatif dan 3 adalah liberal.
Harry, yang termasuk netral di antara mereka berlima, menyadari bahwa mereka semua memiliki kebutuhan dan aspirasi yang sama, menyarankan agar dibentuk sebuah perserikatan bersama, untuk memberikan tekanan kepada penguasa. Serikat semacam ini, tentu saja tidak diizinkan oleh Oliver. Ini akan berarti akhir dari kekuasaannya. Tidak ada diktator dan ahli finansial manapun yang sanggup menghadapi masyarakat yang bersatu, masyarakat yang terdidik.
Dan dengan demikian, Oliver pun mulai menciptakan perpecahan di antara mereka. Dia membiayai dua jenis Koran. “The Sun” untuk para liberal, dan “The Star” untuk para konservatif.
Topik umum “The Sun” adalah: Penderitaan terjadi karena kaum pengkhianat konservatif telah menjual kepentingan bersama kepada perusahaan besar. Dan topik umum “The Star” adalah: Hancurnya negara, bisnis pada umumnya, dan hutang publik adalah karena tanggung jawab para liberal.
(bersambung)
Ketika membaca serial BBB karya Darwis Tere-Liye yang di posting hampir setiap hari di facebook milik beliau, disitu beliau membahas tentang asal mula bank, walau hanya satu paragraf. Namun dari satu paragraf tersebut saya jadi teringat kembali akan karangan Louis Even yang berjudul "Money Myth Exploded". Kebetulan saat itu saya membaca versi terjemahannya di artikel ini. Membaca ulang artikel itu, saya berkesimpulan bahwa artikel ini harus disebarluaskan. Kenapa? Agar kita sadar asal muasal bank, bagaimana mereka mengambil keuntungan, dan apa yang sebenarnya terjadi. Well, ini memang hanya sebuah cerita yang tidak seberapa panjang. Manfaat yang akan Anda dapat, tergantung dari sejauh mana Anda memahami inti dari cerita ini. Dan yang paling saya harapkan, setelah membaca cerita ini Anda menyadari bahwa dinar dan dirham sudah sepatutnya menjadi nilai tukar disamping uang. Berhubung ceritanya sedikit panjang, saya akan membaginya menjadi 2 bagian. So, go grab your snack and your tea, and have a nice time reading this article.
Judul Asli : MONEY MYTH EXPLODED
Pengarang : Louis Even
1. Korban Kapal Tenggelam

Karena suatu kecelakaan sebuah kapal tenggelam. Pada akhirnya, tinggal 5 yang selamat, mereka menaiki sebuah rakit dan dibawa oleh arus ombak.
Kelima orang ini: Frank, si tukang kayu. Paul, seorang petani. Jim, peternak. Harry, penanam agrikultur. Dan Tom, seorang mineralogist.
2. Sebuah Pulau Yang Diberkati
Bagi kelima orang ini, menginjakkan kembali kaki ke daratan, bahagianya ibarat baru bangkit dari kuburan. Syukurnya pulau yang mereka datangi ini adalah tanah yang subur. Jim, si peternak, sepenuhnya yakin dia bisa beternak dengan baik binatang-binatang di pulau itu. Paul juga meyakini tanah di pulau ini mudah untuk ditanami. Harry menemukan bahwa beberapa pohon buah-buahan di sana, bila dirawat dengan baik, akan menghasilkan panen yang lumayan. Pulau itu juga penuh dengan pohon, Frank si tukang kayu akan dengan mudah mendapatkan kayu dan mulai membangunkan rumah-rumah. Dan si Tom, walaupun kekurangan alat kerja, tapi dengan keahliannya, masih sanggup menambang secara sederhana kekayaan alam di sana.
3. Kekayaan Yang Sebenarnya
Inilah mereka yang sedang bekerja. Si tukang kayu membangun rumah dan perabotan. Awalnya mereka mencari makanan seadanya. Tetapi dengan berlalunya waktu, tanah-tanah mulai dikerjakan dengan rapi di ditanami, dan si petani pun mulai bisa menikmati panennya.
Waktu terus berlalu, dengan kerja keras dari kelima orang ini, pulau yang mereka datangi ini pun menjadi semakin kaya. Kekayaan mereka bukanlah dalam bentuk emas atau kertas uang perbankan, tetapi kekayaan dari barang-barang yang benar-benar memiliki nilai, kekayaan dalam bentuk makanan, pakaian, hunian, dan segala yang lain yang diperlukan oleh manusia.
Setiap orang mengerjakan apa yang dia bisa. Surplus dari produksinya mereka saling bertukar satu sama lain. Walaupun kehidupan tidak gampang, karena masih banyak hal lainnya yang mereka nikmati sebelumnya sebelum kapal mereka tenggelam sekarang masih tidak ada, tetapi setidaknya mereka sekarang terbebas dari yang namanya pajak, atau rasa takut akan sitaan harta. Mereka hidup dengan sulit tetapi setidaknya bisa menikmati buah dari pekerjaan mereka.
Sambil berupaya untuk hidup, mereka tetap berdoa, berharap suatu hari mereka bisa kembali lagi berkumpul dengan keluarga mereka seperti dulunya.
4. Sebuah Ketidaknyamanan Yang Serius
Dengan berlalunya waktu, akhirnya mereka menemukan sebuah hal yang sangat menggangu, mereka tidak memiliki uang sebagai medium pertukaran yang lebih baik. Produk yang mereka pertukarkan, tidak selalu ada di tangan saat sebuah transaksi dijalankan. Contoh, kayu yang diberikan kepada petani tidak bisa dibayar oleh si petani sebelum 6 bulan masa tanam berakhir. Kadang-kadang lagi, seseorang memiliki sesuatu yang nilainya lebih besar daripada yang barang yang ada di tangan rekan dagangannya.
Orang-orang ini, walaupun mereka tahu cara memproduksi barang, kekayaan yang sebenarnya, tetapi bagaimana menciptakan uang, simbol dari kekayaan, adalah di luar kemampuan pikir mereka. Tentu saja, orang-orang berpindidikan juga kadang-kadang sama, demikian juga para pejabat di pemerintahan, semuanya tidak tahu bagaimana uang harus diciptakan.
5. Datangnya Seorang Pendatang
Suatu hari, saat kelima orang ini sedang duduk-duduk di pantai, mendadak datang sebuah kapal kecil dengan seorang penumpang. Orang ini ternyata adalah seorang korban yang selamat dari kapal lain yang juga tenggelam, nama orang ini adalah Oliver.
Bahagia karena memiliki teman baru, kelima orang ini memperlakukan dia dengan sangat baik, dan mereka pun bercerita kepada Oliver tentang kesulitan mereka karena tiadanya uang untuk digunakan.
“Oh, beruntunglah kalian” Kata Oliver, “Karena saya sebenarnya adalah seorang bankir. Dalam waktu singkat, saya akan merancang sebuah sistem keuangan yang saya jamin akan memuaskan kalian semua. Kalian akan mulai kembali ke peradaban.”
Kelima orang ini pun bersyukur luar biasa atas datangnya bankir tersebut, ibarat malaikat yang diutus oleh Tuhan. Bukankah kita-kita, yang hidup dalam peradaban yang maju, memang terbiasa memuja para bankir, sang penguasa dan darah dari sistem finansial kita?
6. Dewa Peradaban
“Oh Bapak Oliver, sebagai bankir kami, tugas Anda satu-satunya adalah menjaga uang kami, Anda tidak perlu bekerja di lapangan.”
Oliver mulai mengambil barang-barang yang dia selamatkan dari kapalnya yang tenggelam, kertas dan sebuah mesin cetak, lengkap dengan tintanya, dan juga sebuah tong besar.
Tong ini, kata Oliver, “Berisi harta yang paling berharga… Emas!”
“Wow…. Hebat, benar-benar malaikat utusan Tuhan. Barang kuning ini, walaupun lebih sering disembunyikan dan tidak kelihatan, tetapi senantiasa memiliki kekuasaan yang amat besar, bahkan bisa mempengaruhi nasib dari sebuah bangsa."
“Kawan-kawan, emas ini lebih dari cukup untuk kalian semua. Tetapi emas ini tidak untuk disirkulasikan. Emas harus tersembunyi. Emas adalah jiwa dari uang yang sehat, dan yang namanya jiwa selalu tidak kelihatan. Saya akan menjelaskannya nanti saat Anda mendapatkan suplai uang Anda yang pertama.”
7. Galian Rahasia
Oliver bertanya kepada kelima orang ini tentang berapa kira-kira yang mereka butuhkan untuk memulai perdagangan, dan mereka menjawab “$200 sudah cukup.”
Kelima orang ini bahagia sampai tidak bisa tidur, dalam kepala mereka sekarang penuh dengan gambaran emas di tangan mereka.
Oliver sendiri, bekerja penuh semangat karena bahagianya dia akan nasibnya sebagai bankir. Mula-mula dia menggali sebuah lubang untuk meletakkan tong yang berisi emas itu. Kemudian dia pun sibuk mencetak uang-uang kertas $1 baru sebanyak $1000.
“Hebat, betapa sederhananya membuat uang. Semua nilainya datang dari produk yang bisa dibelinya. Tanpa produksi, kertas-kertas ini sebenarnya sampah. Kelima customer saya yang naïf tidak menyadari ini. Mereka benar-benar berpikir uang ini nilainya datang dari emas. Kebodohan mereka adalah alasan mengapa saya adalah tuan mereka.”
Besoknya, kelima orang ini pun menghampiri Oliver.
8. Siapa Pemilik Uang Ini?
Lima set uang sudah siap di atas meja.
Oliver berkata, “Sebelum Anda mengambilnya, saya ingin perhatian dari Anda. Basis dari uang ini adalah emas. Dan emas yang saya simpan adalah emas saya. Konsekwensinya, uang ini adalah uang saya. Tapi jangan bersedih, saya akan meminjamkannya kepada Anda. Namun, Anda harus membayar bunga. Mengingat uang sangat susah didapat, saya rasa 8% tidaklah terlalu tinggi.”
“Oh, tentu saja, Pak Oliver,” Kata kelima orang itu.
Oliver menyambung, “Hal yang terakhir kawan, bisnis adalah bisnis, walaupun antara kawan akrab. Sebelum Anda mengambil uang ini, masing-masing dari Anda harus menandatangani surat ini. Anda berjanji akan membayar bunga dan juga pinjaman pokok, bila tidak saya akan memiliki hak untuk menyita aset Anda. Tentu saja, ini hanya formalitas. Properti Anda tidaklah menarik bagi saya, saya hanya ingin uang. Saya yakin saya akan mendapatkan uang saya kembali, dan Anda juga tidak akan berpisah dengan harta Anda.”
“Hm, masuk akal Pak Oliver. Kami akan bekerja lebih keras lagi supaya bisa membayar Anda kembali.” Dan kelima orang ini pun mengambil uang tersebut dan mulai menggunakannya.
9. Sebuah Masalah Arimatika
Uang dari Oliver beredar dengan cepat di pulau tersebut. Perdagangan, karena dipermudah oleh adanya uang, pun meningkat dua kali lipat. Semua orang bahagia. Si bankir pun mulai mendapat status dan rasa hormat dari kelima orang tersebut.
Tetapi, mari kita lihat… Mengapa si Tom tampak murung? Karena Tom, sama seperti teman-temannya, telah menandatangani surat perjanjian kepada Oliver. Dalam waktu satu tahun, $200 + $16 bunga harus dikembalikan. Tetapi Tom hanya menyisakan beberapa dolar sekarang, dan waktu untuk membayar sudah semakin dekat.
Sudah lama juga dia bimbang.. Oliver meminjamkan $1000 kepada mereka berlima, tetapi uang yang harus dikembalikan adalah $1080. Sekalipun mereka berlima mengembalkan semua uang di tangan kepada Oliver, mereka masih kekurangan $80. Tak seorang pun memiliki $80 ini.
Memang mereka yang memproduksi barang, tetapi mereka tidak memproduksi uang. Oliver pada dasarnya bisa mengambil alih seluruh pulau ini, karena mereka berlima sama sekali tidak sanggup membayar kepada Oliver sesuai perjanjian.
Tom pun mulai berdiskusi dengan keempat temannya, Tom berhasil menjelaskan kepada mereka tentang anehnya sistem ini. Teman-teman Tom mulai mengerti, dan mereka pun memutuskan untuk mengadakan pertemuan dengan Oliver.
10. Bankir Yang Baik Hati
Lima orang ini pun berdebat dengan Oliver tentang masalah ini.
“Mana mungkin kami sanggup membayar $1080 kalau semua uang yang eksis hanya $1000?”
Oliver mendengarkan dengan tenang, dan kemudian menjawab kepada mereka, “Bankir yang baik selalu beradaptasi dengan keadaan. Mulai sekarang kalian hanya perlu membayar bunganya saja kepadaku. Pokok pinjaman bisa Anda simpan terus.”
“Maksudnya $200 pinjaman kami dianggap lunas?” Tanya salah satu dari mereka.
“Tentu saja tidak. Bankir tidak akan menghapuskan hutang. Yang saya maksudkan adalah mulai sekarang Anda hanya perlu membayar bunganya saja, $80 per tahun kepada saya. Mungkin di antara kalian ada yang kekurangan uang karena kurangnya perdagangan. Kalau begitu, organisasikan komunitas Anda seperti sebuah bangsa. Buat sebuah sistem kontribusi, yaitu apa yang kita sebut dengan pajak. Orang yang punya lebih harus membayar lebih, dan yang kekurangan membayar lebih sedikit.”
Kelima orang ini pun pergi dengan diam, tetapi dalam hati mereka masih bingung.
(bersambung)
Saya masih teringat dengan perkataan saya kepada ustadz saya tentang penduduk Indonesia yang menjadi 'sapi perah' tanpa sadar akibat pola konsumsi yang tak terkendali. Televisi menjadi salah satu media ampuh untuk menyebarkan virus konsumerasisasi ini. Ditambah dengan lemahnya pendidikan moral, etika, serta skala prioritas kepada remaja sekarang, maka jadilah penduduk Indonesia menjadi target dari para produsen baik luar maupun dalam negeri. Permasalahannya adalah, apakah kita sadar kalau selama ini investor asing melihat Indonesia sebagai target yang sangat potensial? Anda boleh percaya atau tidak, tapi berikut akan saya sertakan artikel yang ditulis oleh George Joseph (seorang konsultan strategi yang tinggal di Amerika Serikat) di Business Times, sebuah surat kabar berbahasa Inggris di Singapura, yang memfokuskan kepada masalah ekonomi dan bisnis yang juga diulas oleh Aris Ananta, ekonom Indonesia, di sini.
Indonesia a Land of Opportunity for S’pore Firms
George Joseph
Business Times, 7 Februari 2011
INDONESIA is one of the hottest markets for businesses looking at tapping Asia’s rapid growth, and Singapore companies which already know the country should start looking at its mineral-and energy-rich eastern islands.
That’s the view of Stephen Bailey, chief executive officer of the Frontier Strategy Group (FSG), a Washington- based political risk consultancy with offices in the major markets of the world. In an interview with BT, Mr Bailey pointed out that given the size of its population and steady increases in household income, Indonesia is catching up with many higher-profile markets in Asia.
‘At 230 million, its population is significantly larger than Brazil’s. Income per capita is still low, comparable to India’s,but we expect to see 2010 having registered a 25 per cent increase. That translates into a huge opportunity for consumer-facing industries, which we expect to grow at least 15 per cent per year over the next four years,’ he said.
However, Mr Bailey cautioned against looking at Indonesia as one vast country. Rather, it should be viewed as a diverse mix, with multiple languages, significant intra-country transportation costs, and a pervasive ‘insider’ culture. With that in mind, executives are being advised to take a staged approach to investment – that is, start in Jakarta and the island of Java and then move to the eastern islands.
But Mr Bailey suggested that Singapore companies which know Indonesia well should start looking at the eastern islands, where the discovery and production of natural gas and other resources is drawing investors and funds from the region. This is despite the eastern islands being currently underdeveloped and underserved. These islands have significant business potential that is currently untapped by foreign companies, he added.
Big investments in agriculture too can be expected over the next five years as Indonesia adds a range of food crops to its plantations to support its booming population. ‘We are encouraging companies to build relationships with key government players now to position themselves for investment incentives for seeds, fertilisers and other inputs.’
The business mentality too is changing in the country as a new generation takes over family-owned businesses, bringing new demands for professional and technical services. ‘The previous generation would own a portfolio of small businesses and maintain less profitable businesses for the sake of relationships or diversification. The younger generation now taking over is focused on the bottom line and is selling non-core assets, expanding regionally, and upgrading the infrastructure. We recommend that executives in ICT, banking and other professional services focus on these opportunities.’
The business environment is also being helped by a forward-looking government in Jakarta, he said. This latest call to look to Indonesia comes just as the populous country moves closer to attaining a top investment rating. Rating agency Moody’s recently upgraded Indonesia’s sovereign debt to within one notch of investment grade at Ba1, placing Indonesia just slightly below the BRIC nations (Brazil, Russia, India and China).
Indonesia has also found favour with foreign investors in the past two years for having handled the global financial crisis well. The stock market was among the world’s top performers last year and its inflation has been kept reasonably under control. ‘Indonesia’s economic resilience is accompanied by sustained macroeconomic balance,’ Moody’s said when announcing the rating upgrade.
For the Frontier Strategy Group – which has now opened offices in Shanghai and Chengdu in China – Indonesia-watching has taken on a higher profile with more of its Western clients showing interest in diversifying and seizing opportunities in Asia. ‘Based on our ongoing tracking of executive priorities, Indonesia is the sixth most-watched country across global markets, coming in just after the BRIC nations and Mexico. This is up from 10th place in 2009,’ Mr Bailey told BT. ‘In 2009, only 30 per cent of our clients were monitoring Indonesia through our proprietary Market- View software. In 2010, that number passed 40 per cent and it is only going higher. Today, most consumer- oriented businesses remain centred in Jakarta and on the island of Java. But we see opportunities being thrown up in the eastern areas as growth accelerates and the economy opens up.’
While highlighting the positive aspects of Indonesia as a lucrative investing opportunity, the corporate attorney-turned-business and political risk consultant acknowledges that there are some major challenges in tackling this huge market. Corruption, distribution and product localisation are the key risks, he said.
‘Some questions had been raised about the (Indonesian) president’s commitment to fighting corruption. Still, many of the executives I speak to believe that Indonesia’s level of corruption is lower than Thailand’s or the Philippines.’ ‘We think Indonesia is squarely in the middle of the road when you compare its risk levels to other emerging markets in the region. Though we have seen a number of highly publicised political challenges in 2009, Indonesia’s democracy appears to be strong, and it is not plagued by the currency challenges that have destabilised Vietnam.’
Distribution is another major hurdle, given the scale and physical complexity of the region. Many multinationals choose to take a staged approach to investment, starting in Jakarta and on Java island, where modern retail is an attractive distribution channel. To penetrate deeper in the market, many MNCs rely on local wholesalers and distributors, and often face challenges monitoring and incentivising their partners.
‘A common mistake I see companies make is not conducting due diligence around consumer preferences and product localisation,’ said Mr Bailey. He pointed out, for instance, that multinationals often enter the market offering large packages that are too expensive for Indonesian consumers. ‘The consumer market is large enough that it is well worth the investment to conduct extensive market research,’ he advised. (*)
Jika Anda sudah merasa 'sedikit' sadar setelah membaca tulisan uncle George di atas atau malah sudah menyadarinya jauh sebelum saya menulis artikel ini, apakah Anda masih tetap akan berpikir untuk membeli iPad 2 'hanya' demi gengsi? Harap diingat, dalam setiap hal yang hendak kita lakukan, ada efek secara tidak langsung bagi orang-orang di sekeliling kita pada khususnya.
oleh : Emha Ainun Najib
Kalau ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak Depag, Polsek, dan Danramil harus menyalahkan Ustadz, sebab kalau tidak itu namanya diktator mayoritas. Mentang-mentang Ummat Islam mayoritas, asalkan yang mayoritas bukan yang selain Islam - harus mengalah dan wajib kalah. Kalau mayoritas kalah, itu memang sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan minoritasnya Kristen. Tapi kalau mayoritasnya Kristen dan minoritasnya Islam, Islam yang harus kalah. Baru wajar namanya.
Kalau Khadhafi kurang ajar, yang salah adalah Islam. Kalau Palestina banyak teroris, yang salah adalah Islam. Kalau Saddam Hussein nranyak, yang salah adalah Islam. Tapi kalau Belanda menjajah Indonesia 350 tahun, yang salah bukan Kristen. Kalau amerika Serikat jumawa dan adigang adigung adiguna kepada rakyat Irak, yang salah bukan Kristen. Bahkan sesudah ribuan bom dihujankan di seantero Bagdad, Amerika Serikatlah pemegang sertifikat kebenaran, sementara yang salah pasti adalah Islam.
"Agama" yang paling benar adalah demokrasi. Anti demokrasi sama dengan setan dan iblis. Cara mengukur siapa dan bagaiman yang pro dan yang kontra demokrasi, ditentukan pasti bukan oleh orang Islam. Golongan Islam mendapat jatah menjadi pihak yang diplonco dan dites terus menerus oleh subyektivisme kaum non-Islam.
Kaum Muslimin diwajibkan menjadi penganut demokrasi agar diakui oleh peradaban dunia. Dan untuk mempelajari demokrasi, mereka dilarang membaca kelakuan kecurangan informasi jaringan media massa Barat atas kesunyatan Islam.
Orang-orang non-Muslim, terutama kaum Kristiani dunia, mendapatkan privilege dari Tuhan untuk mempelajari Islam tidak dengan membaca Al-Quran dan menghayati Sunnah Rasulullah Muhammad SAW, melainkan dengan menilai dari sudut pandang mereka.
Maka kalau penghuni peradaban global dunia bersikap anti-Islam tanpa melalui apresiasi terhadap Qur'an, saya juga akan siap menyatakan diri sebagai anti-demokrasi karena saya jembek dan muak terhadap kelakuan Amerika Serikat di berbagai belahan dunia. Dan dari sudut itulah demokrasi saya nilai, sebagaimana dari sudut yang semacam juga menilai Islam.
Di Yogya teman-teman musik Kiai Kanjeng membuat nomer-nomer musik, yang karena bersentuhan dengan syair-syair saya, maka merekapun memasuki wilayah musikal Ummi Kaltsum, penyanyi legendaris Mesir. Musik Kiai Kanjeng mengandung unsur Arab, campur Jawa, jazz Negro dan entah apa lagi. Seorang teman menyapa: "Banyak nuansa Arabnya ya? Mbok lain kali bikin yang etnis 'gitu..."
Lho kok Arab bukan etnis?
Bukan. Nada-nada arab bukan etnis, melainkan nada Islam. Nada Arab tak diakui sebagai warga etno-musik, karena ia indikatif Islam. Sama-sama kolak, sama-sama sambal, sama-sama lalap, tapi kalau ia Islam-menjadi bukan kolak, bukan sambal, dan bukan lalap.
Kalau Sam Bimbo menyanyikan lagu puji-puji atas Rasul dengan mengambil nada Espanyola, itu primordial namanya. Kalau Gipsy King mentransfer kasidah "Yarim Wadi-sakib...", itu universal namanya. Bahasa jelasnya begini: apa saja, kalau menonjol Islamnya, pasti primordial, tidak universal, bodoh, ketinggalan jaman, tidak memenuhi kualitas estetik dan tidak bisa masuk jamaah peradaban dunia.
Itulah matahari baru yang kini masih semburat. Tetapi kegelapan yang ditimpakan oleh peradapan yang fasiq dan penuh dhonn kepada Islam, telah terakumulasi sedemikian parahnya. Perlakuan-perlakuan curang atas Islam telah mengendap menjadi gumpalan rasa perih di kalbu jutaan ummat Islam. Kecurangan atas Islam dan Kaum Muslimin itu bahkan diselenggarakan sendiri oleh kaum Muslimin yang mau tidak mau terjerat menjadi bagian dan pelaku dari mekanisme sistem peradaban yang dominan dan tak ada kompetitornya.
"Al-Islamu mahjubun bil-muslimin". Cahaya Islam ditutupi dan digelapkan oleh orang Islam sendiri.
Endapan-endapan dalam kalbu kollektif ummat Islam itu, kalau pada suatu momentum menemukan titik bocor - maka akan meledak. Pemerintah Indonesia kayaknya harus segera mervisi metoda dan strategi penanganan antar ummat beragama. Kita perlu menyelenggarakan 'sidang pleno' yang transparan, berhati jernih dan berfikiran adil. Sebab kalau tidak, berarti kita sepakat untuk menabuh pisau dan mesiu untuk peperangan di masa depan.
Prolog:
Dulu saya pernah bertanya-tanya, untuk apa seorang wanita membutuhkan pendidikan yang tinggi jika nanti 'hanya' akan menjadi seorang ibu rumah tangga? Toh, untuk menjadi seorang ibu tidak harus menjadi seorang sarjana. Lalu ilmu yang didapat sampai sarjana, apa ada manfaatnya? Masih mending kalau jurusan yang diambil berkaitan dengan ilmu-ilmu sosial, bagaimana dengan anak teknik sipil misalnya? Mau diajarin membuat bangunan? Dan karena pertanyaan diatas pula saya sempat membuat jengkel beberapa orang. Rupanya Allah baru memberi jawaban beberapa saat yang lalu melalu note di Facebook seorang teman. Jawaban itu bisa anda simpulkan sendiri setelah membaca note beliau di bawah ini:
Waktu itu, sekitar tahun 2000, datang seorang mahasiswi kepada seorang dosen. Dia menghampirinya dengan wajah yang muram, dan kemudian berkata,"Pak, beasiswa Program Magister dan Doktor saya lolos". Hanya itu saja kata2 yang keluar dari mulutnya, tanpa diikuti ekspresi apapun dari wajahnya. Padahal di luar sana berjuta - juta orang memimpikan pencapaian ini. Sang dosen tertegun, kemudia dia berkata, "Bagus dong dek, kamu bisa bikin bangga banyak orang, dan itu merupakan jalan hidup yang sangat baik. Lalu apa yang membuat kamu terlihat bimbang dek?"
Akhirnya mahasiswi itu bercerita kepada sang dosen. "Pak, sekolah hingga S2 dan S3 merupakan cita-cita saya sejak kecil, ini adalah mimpi saya, tidak terbayangkan rasa bahagia saya saat memperoleh surat penerimaan beasiswa ini. Tapi pak, saya ini akhwat, saya wanita, dan saya bahagia dengan keadaan ini. Saya tidak memiliki ambisi besar, saya hanya senang belajar dan menemukan hal baru, tidak lebih. Saya akan dengan sangat ikhlas jika saya menikah dan suami saya menyuruh saya untuk menjadi ibu rumah tangga. Lalu, dengan semua keadaan ini, apa saya masih harus sekolah?? saya takut itu semua menjadi mubazir, karena mungkin ada hal lain yang lebih baik untuk saya jalani."
Pak dosen pun terdiam, semua cerita mahasiswinya adalah logika ringan yang sangat masuk akal, dan dia tidak bisa disalahkan dengan pikirannya. Dosen itu pun berfikir, memejamkan mata.
Kemudian pak dosen berkata seperti ini kepada mahasiswinya
"Dek, sekarang bertanyalah kepada hati kecil mu, apa dia masih menginginkan dirimu untuk melanjutkan pendidikan ini hingga puncak nanti.."
Sang mahasiswi bingung, dia menunduk, air mata turun dari kedua matanya, seakan dia merasakan konflik hati yang sangat besar yang saling ingin meniadakan. Dosen itu melanjutkan nasehatnya.
"Dek, saya ingin bertanya kepadamu, kapan pertama kali engkau berhadapan dengan seorang S3 dan mendapat ilmu darinya?"
"Sejak saya kuliah di ITB , Pak." Jawab sang gadis.
Kemudian dosen itu melanjutkan "Ya dek, betul, saya pun demikian, saya baru diajar oleh seorang lulusan S3 semenjak saya kuliah di kampus ini. Tapi dek, coba adek pikirkan, bahwa saat engkau memiliki anak, maka orang pertama yang akan menyapih rambut anakmu adalah seorang lulusan S3. Orang yang pertama mengajaknya berjalan adalah seorang ilmuwan tinggi, dan sejak dia mulai membaca, dia akan dibimbing dan dijaga oleh seorang Doktor. Itulah peranmu sebagai ibu nanti, apakah engkau bisa membayangkan betapa beruntungnya anak manusia yang akan kau lahirkan nanti."
Dan itulah jawaban Allah SWT melalui pak dosen. Mahasiswi itu tersadar dari konflik panjangnya, dan ia tersenyum bahagia, sangat bahagia, air matanya menjadi air mata haru, dan ia berdiri, mengucapkan terima kasih nya kepada sang dosen, dan berkata , "Pak, terima kasih, akan saya lanjutkan pendidikan ini hingga tidak satupun puncak lagi yang menghalangi saya."
Betapa hidup itu sangat berarti, dan jadikan ia bermakna. Bukan uang yang nanti akan membuatmu bahagia, tetapi rasa syukur mu lah yang akan menjadi kebahagiaan yang hakiki,.
Pepatah mengatakan “Time is Waktu”, hehe.. intinya bahwa waktu bisa berarti uang, bisa juga ilmu, bisa juga amal baik, semua tergantung dari para pemakai waktu tersebut. Untuk itulah kita perlu mengetahui bagaimana mengelola waktu, agar bisa mendapatkan hasil yang optimal dari waktu yang kita lalui ini. Secara yang namanya waktu itu benar-benar rajin, dia tidak pernah berhenti barang sedetik pun. Semua orang diseret oleh waktu, suka atau tidak suka.
Gadis yg cantik bahenol suatu hari bisa berubah menjadi nenek-nenek yang ompong, bawel, keriput & encoknya sering kambuh. Pria yang ganteng dan gagah, nantinya bisa pula menjadi engkong-engkong yg ngompol, peyot & pikun.
Apakah hidup hanya seperti itu ? Sekolah, kuliah, kerja, lalu tua, dan mati ?
Tidak juga, kalo dilihat lebih teliti… Ada orang yg hidupnya singkat tapi sangat bermakna, ada orang yg hidupnya sangat panjang tapi sia-sia. Nah, kalau anda ingin agar hidup tidak sia-sia, mungkin tips berikut ini akan bisa memberi masukan kepada anda… yaitu bagaimana cara menghitung waktu dengan benar !!
Ada 4 cara menghitung waktu.
1. Cara Penjumlahan
Kalau hari ini kita berumur 17 tahun, maka tahun depan umur kita akan bertambah 1 tahun menjadi 18 tahun. Ini adalah cara menghitung umur yg paling sederhana, paling sesuai bagi anak kecil.
(kalau anda masih menghitung umur dengan cara ini, anda masih anak-anak)
2. Cara Pengurangan
Setelah semakin sering kita ber-ulang tahun, akhirnya kita sadar bahwa setiap kali kita ulang tahun, sebenarnya umur kita bukannya bertambah, tapi berkurang ! Setiap kali ulang tahun maka sisa umur kita semakin sedikit, kita semakin dekat pada akhir hayat. Orang yg sudah menyadari bahwa sisa hidupnya makin hari makin sedikit adalah orang yg sudah Dewasa.
3. Cara Perkalian
Setelah sadar bahwa umur kita terus berkurang, maka kita harus tahu cara menghitung waktu yg ketiga yaitu bagaimana caranya melipatgandakan waktu yg kita miliki.
Misalnya saat kena macet dijalan, kita membaca buku. Ini adalah contoh bagaimana kita melipatgandakan waktu.
Prinsipnya adalah : dalam waktu yg sama, kita memperoleh lebih banyak.
Contoh lain adalah :
McDonald membuka cabang diseluruh dunia. Saat pemiliknya sedang tidur pun, masih ada cabangnya dibagian belahan dunia lain yg sedang menghasilkan uang. Coba kalau McDonald hanya punya satu cabang, berapa waktu yg dibutuhkan untuk mengumpulkan uang sebanyak yg dimilikinya sekarang ? Mungkin butuh ribuan tahun… Cara ketiga ini adalah cara yg dipakai oleh orang-orang yg paling pandai diseluruh dunia. Mereka memikirkan bagaimana agar dalam hidup yg singkat bisa melakukan produktifitas yg lebih besar, bisa memperoleh sebanyak mungkin. Kalau kita berhasil memahami cara menghitung waktu yang ketiga maka kita adalah orang Pandai ! Tapi kita belum bisa dikatakan sebagai orang yg Bijaksana bila belum mengerti cara menghitung waktu yg keempat.
4. Cara Pembagian
Setelah berhasil melipatgandakan waktu yg kita miliki dan mendapat begitu banyak hal dalam hidup kita, maka yg harus kita lakukan kemudian adalah : Membagikannya. Kalau kita mendapat banyak ilmu, sebarkan semua sebelum kita mati, kalau kita mendapat banyak harta, bagikan semua sebelum ajal menjemput. Seorang filsuf berkata, “orang yg mati dalam keadaan kaya adalah orang yg paling bodoh” Maksudnya, uang itu buat apa ? kan gak bisa dibawa mati bukan ? Memang sudah menjadi tugas kita untuk membagikan semua berkat yg pernah kita peroleh kepada orang lain.
Dengan memahami cara menghitung waktu yg keempat maka hidup kita menjadi bermakna. Maka kita tak akan menyesal kapanpun kita harus mati.
Resume
4 Cara Menghitung Waktu
1. Cara Penjumlahan (caranya anak Kecil)
2. Cara Pengurangan (cara orang Dewasa)
3. Cara Perkalian (cara orang Pandai)
4. Cara Pembagian (cara orang Bijaksana)
source: milis sebelah
dear child,warmest love,
never look back with regret, of something you cannot undo
never live present with worries, of something that might not happen afterall
never face future with fears, we know not what lies ahead
it might be good, and not bad
never look down to people because one day you might have to look them up
never look up too much or you will get disappointed
never too kind, or you might be wronged
never too evil, or punishment awaits
never too patient, or you will wait forever
never too rush or you will stumble
never too bitter or you will miss sweetness
never too sweet or you will be boring
never too submissive or you will be pressured
never too stubborn or you might crack
never too hard or you will crush things
never too soft or you will be crushed instead
never too reluctant or you will be lazy
never too eager or you will be overwhelmed
never regret something bad, or something sad
because a burst of tears, might just be your open sesame to your box of happiness
mother life
source : here
Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda?
Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak?
Dan saling menyayangi bila ada ruang?
Kasih sayang akan membawa dua orang berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.
Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi.
Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali.
Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah.
Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.
Mari berkelana dengan rapat tapi tidak dibebat.
Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.
Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.
Persahabatan tanpa pernah ada jarak sama seperti kalimat tanpa spasi. Tak bermakna. Sahabat tak akan lekang oleh waktu, tak akan putus oleh jarak. Ah, saya jadi merindukan sahabat-sahabat saya. Ingin rasanya berbagi cerita sambil menikmati teh anget dan gorengan di pagi hari. Atau secangkir kopi di atas gunung. Apakah mimpi kita masih sama ? Apakah tujuan dan target kita masih seirama ? Biar kata wajah sudah berubah, selamanya Anda masih sahabat saya.
Prokrastinasi dengan Filosofi Kopi dan Perahu Kertas karya Dee. Diselesaikan dalam waktu kurang dari 24jam. Entah suatu kebanggaan atau bukan. Sedangkan untuk baca professional AJAX sudah berhari-hari kagak kelar-kelar. Yah, memang selamanya prokrastinasi itu lebih menggiurkan daripada carpe diem.
Manusia itu unik.
Tiap manusia, mempunyai cara yang berbeda-beda dalam menyampaikan perasaannya. Tiap manusia pun, mempunyai cara yang berbeda-beda dalam mengekspresikan perasaannya. Lama mengenal, bukanlah menjadi jaminan.
Jika sekarang aku bertanya, seberapa jauhkah kalian mengenalku, apa yang akan dijawab? Tidak kenal, sedikit kenal, atau menjawab kenal sekali? sungguh, apa yang terlihat di mata masih bisa menipu. Bilangan tahun, bukan menjadi jaminan bahwa seseorang bisa benar-benar saling memahami. Karena untuk memahami, harus ada yang dikorbankan. Mengorbankan hati. atau lebih tepatnya, mengorbankan perasaan. Untuk mengalah ketika ada permasalahan. Untuk bijak menerima kekurangan.
Manusia itu unik.
Ada kalanya, ekspresi cinta yang kita keluarkan, tak tersampaikan dengan baik. Mungkin, bagi sebagian orang, malah menyakiti.
Ada sebuah adegan film yang cukup menyentuh, bagiku.
Sang laki-laki, setelah sekian tahun tak bertemu, akhirnya bertemu dengan seorang perempuan yang ia sayangi di sebuah restoran. Lewat sebuah janji.
Di pertemuan itu, sang laki-laki berkata “kenapa kamu belum menikah? Aku sudah.”
Sang perempuan hanya menangis, sedangkan sang laki-laki hanya menatap lurus, sambil terus berceloteh. Dan, akhirnya sang perempuan pun tahu, sang laki-laki kini telah buta.
Adegan berganti. Sang perempuan kini telah menikah. Dengan orang lain. Dan beberapa tahun kemudian, ketika sang perempuan sedang bermain dengan anaknya di sebuah sungai, datanglah beberapa orang menyampaikan pesan. Bahwa sang laki-laki telah meninggal. Bahwa sang laki-laki, menikah tepat setelah sang perempuan menikah. Ya. Benar. Tepat setelah sang perempuan menikah. Sang laki-laki berbohong. Ekspresi cintanya, membuatnya harus berbohong.
Sejujurnya, aku sedikit tak bisa menerima. Apa salahnya sang laki-laki jujur, agar mereka bisa menikah dan hidup bahagia? Tapi, karena ini adalah film, dan aku hanya penonton, terang saja aku harus menerima akhir film yang seperti itu.
Setelah kupikir lagi. Sang perempuan memang merasa sakit, atas kebohongan yang dilakukan padanya. Tapi, apakah sang laki-laki tidak merasa sakit? Apakah sang laki-laki tidak merasa terluka, melihat sang perempuan menikah dengan orang lain?
Padahal, mungkin hanya beberapa kalimat yang perlu ia katakan, agar ia bisa hidup berbahagia dengan perempuan itu.
Tapi mungkin sang laki-laki sadar. Selain karena cinta tak harus memiliki, bisa juga karena tak selamanya kedekatan itu bisa menyehatkan. Mungkin bagi sang laki-laki, ia merasa takut jika kebutaannya akan merepotkan orang yang dia kasihi. Mungkin ia takut, kekurangan penglihatannya hanya akan membuat, suatu saat, sang perempuan tak sanggup bersamanya, dan mungkin ia malah akan mengutuk ketidakmampuannya melihat.
Karena itulah ia memilih berbohong. Karena ia cinta dengan perempuan itu, juga karena ia cinta dengan dirinya sendiri. ia tak mau menyakiti, pun tak mau tersakiti.
Ada kalanya. Dalam ukhuwah ini, hal seperti itu bisa terjadi. bukan hanya dalam hubungan cinta lawan jenis seperti yang kupaparkan di atas. Karena cinta bersifat universal.
Bisa jadi, ekspresi cinta kita malah menyakiti orang yang kita cinta. Saudara seiman kita. Padahal, mungkin kita merasa telah mengenalnya. Tapi ternyata pilihan ekspresi cinta kita masih salah. maksud hati ingin menyampaikan yang menurut kita baik untuknya. Tapi ternyata dianggap menyakiti. Padahal, tak jarang mungkin apa yang kita sampaikan bisa terucap karena dia meminta pendapat kita.
Bisa jadi juga, kita telah memilih kata-kata yang bijak ketika menyampaikannya. Tapi tetap, hal itu terus dianggap telah menyakiti. Jika seperti ini terus, apa yang harus dilakukan? Yang satu merasa tersakiti, menganggap bahwa dia terus disakiti. Tapi, tahukah, bahwa bisa saja yang mengatakan hal tersebut, yang dianggap telah menyakiti, juga merasa sakit?
Merasa sakit, karena tidak menyangka kata-katanya bisa menyakiti orang lain.
Merasa sakit,karena ia selalu dianggap menyakiti.
Padahal, semua itu dilakukan atas nama cinta. Cinta pada ukhuwah ini.
mungkin, kedekatan selama ini telah membuat kedua belah pihak tidak sehat. mungkin, kedekatan selama ini masih menyimpan ego masing-masing.
Saat seperti itu, mungkin menjauh adalah pilihan yang terbaik. Memilih untuk tidak bertemu. Memilih untuk hanya sesekali menyapa.
Menjauh, pada sebuah jarak. Bukan menjauh yang tak peduli, justru menjauh karena peduli. Menjauh karena cinta ini, jika dipaksakan, akan terus menyakitkan dua belah pihak. Menjauh, agar mungkin rindu yang tercipta bisa sedikit melembutkan hati.
"Karena itu, izinkanlah, jika hal ini menimpa kita semua, izinkanlah agar aku menjauh,sampai pada titik yg aman bagi kita berdua. Karena aku cinta, padamu dan diriku sendiri".
written by :
Aisha Putrina Sari
quote by :
pemikir ulung
---
ngena banget !! aku mau menjauh hingga tiba saatnya. dan kali ini, semoga aku konsisten.
jika ia sebuah cinta..... ia tidak mendengar... namun senantiasa bergetar....
jika ia sebuah cinta..... ia tidak buta.. namun senantiasa melihat dan merasa..
jika ia sebuah cinta..... ia tidak menyiksa.. namun senantiasa menguji..
jika ia sebuah cinta..... ia tidak memaksa.. namun senantiasa berusaha..
jika ia sebuah cinta..... ia tidak cantik.. namun senantiasa menarik..
jika ia sebuah cinta..... ia tidak datang dengan kata-kata.. namun senantiasa menghampiri dengan hati..
jika ia sebuah cinta..... ia tidak terucap dengan kata.. namun senantiasa hadir dengan sinar mata..
jika ia sebuah cinta..... ia tidak hanya berjanji.. namun senantiasa mencoba menenangi..
jika ia sebuah cinta..... ia mungkin tidak suci.. namun senantiasa tulus..
jika ia sebuah cinta..... ia tidak hadir karena permintaan.. namun hadir karena kesadaran...
jika ia sebuah cinta..... ia tidak hadir dengan kekayaan dan kebendaan... namun hadir karena pengorbanan dan kesetiaan..
taken from here
by: Paulo Coelho
Life is like a big bike race where the goal is to fulfill you personal legend.
At the start, we are riding together, sharing the camaraderie and enthusiasm. But as the race progresses, the initial joy gives way to the real challenges: tiredness, monotony and doubts about our own abilities.
We notice that some have withdrawn. They are still running, but only because they cannot stop in the middle of a road. They are numerous, pedaling alongside the support car, talking to each other and performing only their obligations.
Eventually we distance ourselves from them and we are forced to face the loneliness and the surprises of the unknown curves with the bikes. And after a while, we begin to wonder if it’s worth the effort.
Yes, it is worth it. Just don’t quit.
----
I DO love most of his writing. They really have meaning.
berhubung hari ini adalah hari "evaluasi" kinerja setahun pemerintahan sby-budiono
oleh mahasiswa se-indonesia, ane jadi pengen memberi masukan.
hehehe...
diterima sukur... ga juga ga papa, berarti emang ga bisa masuk.
(punya ane kegedean kali, jadi ga bisa masuk. :hammer: )
jadi gini, klo yg ane denger c.....
ada perkumpulan B*M Seluruh indonesia yg katanya ingin mengingatkan apa yg terlupakan oleh pemerintah indonesia, dalam aksinya tepat tanggal 20/10/2010.
tapi, koq ada pihak2 yang...
yah.. ntah itu mahasiswa atau bukan, menginginkan pemerintahan sekarang untuk digulingkan, turunkan presiden yang kata mereka lenjeh, lada-lede, itu... hhmmm....
nih ya.....klo boleh ane menyarankan, klo mo menurunkan pemerintahan, nih caranya....
hihihihi....
caranya adalah,,,,
buat supaya mereka tidak punya arti lagi untuk kita.
maksudnya?
ya.... klo pengen presidennya lengser, coba buat keadaan yg menegaskan bahwa kita ga butuh dia.
kita bisa sejahtera tanpa dia.
klo pengen pemerintahannya turun, bikin keadaan yg menegaskan, tanpa pemerintahan mereka, kita bisa lebih tentram.
caranya?
ya coba lah, lakukan sesuatu yg bisa menegaskan, bahwa kita bertanggung jawab atas kesejahteraan kita sendiri.
ga usah menyerahkan kesejahteraan kita di tangan orang lain.
kya ga punya kemampuan aja.
udah lah, ga usah nunggu pemerintah buat buka lapangan pekerjaan, coba bikin lapangan kerja sendiri, bikin ekonomi yg sukses tanpa bantuan pemerintah.
klo udah pada kerja semua, buat apa ada pemerintah, toh semua bisa kerja. bubarkan aja pemerintah. gitu kan?
ga usah nunggu pemerintah memberantas korupsi, kita coba ga usah nyontek, kerja jujur, etika dijaga, semua berjalan tanpa korupsi.
lalu buat apa ada pemerintah, tanpa mereka toh bisa bebas korupsi.
bubarkan aja mereka, gitu kan?
ga usah nunggu presiden ngurus ini itu, kita turun tangan aja ngurus ini itu, klo semua bisa terurus, buat apa ada presiden? ha? lengserkan aja dia. gitu kan?
kalau pengen menyingkirkan seseorang,
ya bikin keadaan, dimana kita tetap senang tanpa dia.
kita ga butuh dia.
ya sama kya orang pacaran lah...
klo pengen co/ce kita nyingkir,ya bikin keadaan dimana kita bisa tetap senang tanpa ada dia.
toh mau ada dia atau ga ada dia, sama aja.
daripada buang duit buat ngedate, putus aja.
toh tetep seneng aja tuh. wkwkw
makanya klo mo awet, bikin keadaan biar dia ga bisa tanpa kita.
caranya?
beri perhatian lebih, sampai titik dimana dia ga bisa tanpa perhatian kita.
jangan sampe dia bisa seneng walaupun tanpa kita.
kasih perhatian terus mpe dia ga bisa lupa ma kita.
memberi, bukan meminta.
ya sama, pemerintahan juga gitu.
presiden juga gitu.
jangan terus kita meminta, minta dan minta.
ah, percuma....
coba, bikin keadaan kita bisa senang tanpa mereka.
sejahtera tanpa mereka. makmur tanpa bantuan pemerintah.
nah klo dah gitu, daripada bayar gaji pemerintahan
yg ga pengaruh juga buat kita, udah kaya c...
ya lengserkan aja.
nah klo sekarang masih kekurangan, mau makan masih mikir harga, kos-kosan cari yg murah walaupun ukuran 2x2 m, cita-cita jadi pns yg ada pensiunnya...
bensin masih minta subsidi...
halah.... ga usah muluk2 dah....
klo dah bisa menyejahterakan diri sendiri, mandiri tanpa bantuan pemerintah,
baru, silahkan maju sana....gulingkan mereka yg ga ada gunanya.
metode jadul koq masih dipake aja.
melengserkan pemerintah pake cara menggalang massa,
demonstrasi ngepung gedung pemerintah.
itu 1998 bung, sekarang 2008 eh malah 2010.
masa 12 thn belajar ga ada perkembangan? ga ada kemajuan? wkwkw
selama ini belajar apa lo pada? hahaha
katanya.. mahasiswa..... wkwkwkw
(tom_ si orang gila, semoga bermanfaat)
taken from here
Suatu kali, saya baca sebuah judul tulisan yang mengasumsikan kalau bangsa ini adalah bangsa yang pemalas. Benarkah itu?
Dalam keseharian saya, pemalas merupakan kata yang sangat akrab. Profesi guru di sekolah dengan murid yang banyak berulah membuat kata malas menjadi lazim diucapkan. Tentu saja didukung dengan kemalasan sebagian anak tersebut; malas buat PR, malas mengerjakan latihan, malas aktif saat belajar, malas ikut wirid jumat, dan sebagainya. Kadang bahkan membuat saya jadi malas menegur atau menasehati. Tapi tentu saja tidak semua anak seperti itu.
Kembali ke topic di atas, benarkah bangsa ini bangsa pemalas?
Jujur, saya tidak punya pendapat. Terlalu sulit bagi saya untuk menganalisa bangsa besar ini. Apalagi dengan ilmu cetek saya. Saya ingin mengerucutkannya pada komunitas pelajar. Bukankah pelajar salah satu stoke holder dari bangsa besar ini? Jadi; benarkah pelajar kita pemalas?
Kembali, ini adalah tulisan yang sangat subjektif. Tidak ilmiah, karena saya tidak punya data dan tidak meneliti. Ini hanya oretan hati berdasarkan pengalaman saya yang masih seupil.
Dalam bergelut di sekolah, saya melihat semangat belajar anak-anak sekolah yang rendah. Bukan sekadar melihat, saya pun merasakan hal tersebut saat harus berdiri di depan kelas dan mengajar siswa/I saya. Memang tidak semuanya, tapi sering dan berulang kali, saya mendapatkan anak yang cuek dengan pendidikannya sendiri.
Mungkin mereka membekali diri dengan kursus di luar sekolah; begitu perkiraan saya. Tetapi ternyata tidak. Saat tes atau saya uji secara lisan, mereka jauh dari harapan. Kesalahan guru, itu juga menjadi pikiran saya. Barang kali, saya lah yang tidak pandai mengajar. Untuk introspeksi, saya berdiskusi dengan guru-guru lain dan juga guru senior. Ternyata oh ternyata, problem kami sama; anak-anak yang tidak peduli dengan pendidikan mereka.
Suatu kali, di sebuah local, saya marah. Untuk kesekian kalinya, anak-anak itu menyepelekan tugas rumah yang saya berikan. Padahal, tugas tersebut menjadi bahasan untuk belajar. Kali itu, hampir semua anak di local tersebut tidak mengerjakan tugas; hanya dua tiga orang yang mengumpulkan. Padahal telah berbusa mulut saya menasehati mereka sebelumnya.
Pada saat itu, saya bilang tidak akan pernah lagi memberi mereka tugas dan nilai rapor mereka hanya bergantung pada ulangan serta ujian saja. Ancaman itu saya lakukan. Saat terima rapor, saya memberi nilai murni olahan hasil ujian dan ulangan, serta beberapa aspek lainnya; minus tugas harian. Dan seperti dugaan, dari 40 orang, nilai hitam kurang dari 50%.
Saya pun menerima kritikan dari guru-guru lain. Bahkan ada yang bilang, kalau memberi nilai seperti itu bisa dianggap guru yang bodoh; bukan muridnya. Walau ada juga teman guru yang bilang kalau penilaianku itu adalah penilaian yang paling jujur karena dia juga sadar akan kualitas murid-murid kami; dan jujur belum tentu baik (??).
Saat semester baru, saya kembali masuk ke local tersebut. Lalu menjelaskan apa yang kurang dari mereka sehingga banyak dapat merah; malas buat tugas. Serta saya tegaskan, kalau masih malas terima lagi hasil yang sama. Sukses!! Walau tidak 100% namun grafiknya naik. Anak-anak itu tidak lagi berleha-leha membuat tugas atau latihan. Nilai mereka pun meningkat.
Tapi, suatu saat berkata pemilik rental playstation kepada teman sesama guru. Banyak anak-anak sekolah kami yang main ke tempatnya saat jam sekolah, lapornya. Saat ditegur, anak-anak itu malah bicara dengan santai kalau meskipun malas-malasan nanti bakalan lulus juga; karena sekolah mereka yang baik hati akan menyediakan joki saat ujian nasional biar tidak bermasalah.
Atau, saat seorang teman bicara sama saya tentang adiknya yang tidak mau belajar padahal mau ujian nasional. Ketika dinasehati supaya belajar dan peringati kalau bakalan tidak lulus, si adik dengan enteng menjawab; nanti juga dia dapat kunci jawaban soal ujian, jadi buat apa belajar lagi. Dan teman saya bertanya, “benarkah itu?”.
Jadi ini bangsa pemalas atau bangsa yang dibuat jadi malas?
* written by Rifky disini














