Showing posts with label Chicken Soup. Show all posts
Showing posts with label Chicken Soup. Show all posts

Just A Second

The minute you are thinking of giving up, think about the reason why you held on so long. --Luqe

Labels:

Salahkan Diri Anda

Saya sedang menikmati makan malam di bawah bintang-bintang yang gemerlapan ketika tiba-tiba terlintas di pikiran saya sebuah kisah lama yang susah terlupakan. Kisah ini merupakan kejadian nyata dari cucu Mahatma Gandhi (Arun Gandhi). Inilah pengalaman beliau:

Waktu itu Arun masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orang tua disebuah lembaga yang didirikan oleh kakeknya yaitu Mahatma Gandhi, di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika selatan. Mereka tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tidak heran bila Arun dan dua saudara perempuannya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.

Suatu hari ayah Arun meminta Arun untuk mengantarkan ayahnya ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan Arun sangat gembira dengan kesempatan ini. Tahu bahwa Arun akan pergi ke kota, ibunya memberikan daftar belanjaan untuk keperluan sehari-hari. Selain itu, ayahnya juga minta untuk mengerjakan pekerjaan yang lama tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.

Pagi itu, setiba di tempat konferensi, ayah berkata, “Ayah tunggu kau disini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama. “. Segera Arun menyelesaikan pekerjaan yang diberikan ayahnya.

Kemudian, Arun pergi ke bioskop, dan dia benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjukkan pukul 17:30, langsung Arun berlari menuju bengkel mobil dan terburu-buru menjemput ayahnya yang sudah menunggunya sedari tadi. Saat itu sudah hampir pukul 18:00.

Dengan gelisah ayahnya menanyakan Arun “Kenapa kau terlambat?”.
Arun sangat malu untuk mengakui bahwa dia menonton film John Wayne sehingga dia menjawab “Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu”. Padahal ternyata tanpa sepengetahuan Arun, ayahnya telah menelepon bengkel mobil itu. Dan kini ayahnya tahu kalau Arun berbohong.

Lalu Ayahnya berkata, “Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kau sehingga kau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran kepada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang ke rumah dengan berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik- baik.”.

Lalu, Ayahnya dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap, sedangkan jalanan sama sekali tidak rata. Arun tidak bisa meninggalkan ayahnya, maka selama lima setengah jam, Arun mengendarai mobil pelan-pelan dibelakang beliau, melihat penderitaan yang dialami oleh ayahnya hanya karena kebodohan bodoh yang Arun lakukan.

Sejak itu Arun tidak pernah akan berbohong lagi.

Pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita diatas tentu berbeda-beda untuk tiap orang. Namun ada satu nilai moral yang membuat saya tersentak saat itu dan bertekad untuk melakukan hal yang sama. Inilah yang saya tangkap dari cerita diatas:

Jangan pernah menyalahkan orang lain atas apapun yang terjadi pada diri sendiri. Atas satu kesalahan yang dilakukan seseorang, boleh jadi terdapat banyak kontribusi kita sehingga dia melakukan hal tersebut. Maka introspeksi selalu lebih berarti daripada emosi.

Labels:

It's Worth It

by: Paulo Coelho

Life is like a big bike race where the goal is to fulfill you personal legend.

At the start, we are riding together, sharing the camaraderie and enthusiasm. But as the race progresses, the initial joy gives way to the real challenges: tiredness, monotony and doubts about our own abilities.

We notice that some have withdrawn. They are still running, but only because they cannot stop in the middle of a road. They are numerous, pedaling alongside the support car, talking to each other and performing only their obligations.

Eventually we distance ourselves from them and we are forced to face the loneliness and the surprises of the unknown curves with the bikes. And after a while, we begin to wonder if it’s worth the effort.

Yes, it is worth it. Just don’t quit.

----

I DO love most of his writing. They really have meaning.

Important Things in Life

There was this philosophy professor in a prestigious university who loved to teach students about important theories of the subject. Once, while his lecture was about to begin, he just closed the book and instead stood before his class with some items on the table in front of him. Students were curious but the professor without looking at them silently picked up a very large and empty mayonnaise jar. Thereafter, he started to fill it with small rocks. Once the jar appeared full, professor proceeded to ask his students ‘whether the jar was full?’

Entire class unanimously agreed that jar was indeed full. Next, the professor picked up some pebbles and began pouring them into the jar. The moment pouring was complete, he shook the jar lightly. As a result of that, all the pebbles rolled into the open areas between the rocks and settled comfortably.

Professor again asked the students if the jar is full. Same response from the class like before and they all agreed that the jar was full. Professor smiled a bit and this time he picked up a box of sand. He poured the box into the jar and sand filled the entire remaining spaces. Professor repeated his question to the class, if the jar was full? Yes again, was the unanimous response of the students.

Professor now turned towards the class and said, this jar represents your life. The entire things I poured into the jar symbolise some important lessons. The rocks are the most important things, i.e., family, your partner, health and your children. Even if everything else in your life goes away but the rocks remains there, your life would still be full because the most important things are still present in your life.

Pebbles represent other significant things like car, house and job etc. And the sand is the small stuff or everything else.

So the lesson to be learnt here is, you all have to be very selective about what to fill in the jar first and in what order. If your time and energy is spent on small stuff then there is no room for the pebbles or the rocks or in other words, most important things of your life. Always pay attention to things that are most important to you and never take things for granted.

So take care of rocks first and rest everything will fall into place.

The Buzzard, The Bat, and The Bumblebee

If you put a buzzard in a pen six or eight feet square and entirely open at the top, the bird, in spite of his ability to fly, will be an absolute prisoner. The reason is that a buzzard always begins a flight from the ground with a run of ten or twelve feet. Without space to run, as is his habit, he will not even attempt to fly, but will remain a prisoner for life in a small jail with no top.

The ordinary bat that flies around at night, a remarkable nimble creature in the air, cannot take off from a level place. If it is placed on the floor or flat ground, all it can do is shuffle about helplessly and, no doubt, painfully, until it reaches some slight elevation from which it can throw itself into the air. Then, at once, it takes off like a flash.

A Bumblebee if dropped into an open tumbler will be there until it dies, unless it is taken out. It never sees the means of escape at the top, but persists in trying to find some way out through the sides near the bottom. It will seek a way where none exists, until it completely destroys itself.

In many ways, there are lots of people like the buzzard, the bat and the bee. They are struggling about with all their problems and frustrations, not realizing that the answer is right there above them.

Mencintai dalam Diam

Bila belum siap melangkah lebih jauh dengan seseorang, cukup cintai ia dalam diam ...
karena diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya ...
kau ingin memuliakan dia, dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang, kau tak mau merusak kesucian dan penjagaan hatinya..

karena diammu memuliakan kesucian diri dan hatimu.. menghindarkan dirimu dari hal-hal yang akan merusak izzah dan iffahmu ..

karena diammu bukti kesetiaanmu padanya ..
karena mungkin saja orang yang kau cinta adalah juga orang yang telah ALLAH swt. pilihkan untukmu ...

ingatkah kalian tentang kisah Fathimah Az-Zahra dan 'Ali bin Abi Thalib kw?
yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan ...
tapi pada akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan suci nan indah

karena dalam diammu tersimpan kekuatan ... kekuatan harapan ...
hingga mungkin saja Allah akan membuat harapan itu menjadi nyata hingga cintamu yang diam itu dapat berbicara dalam kehidupan nyata ...
bukankah Allah tak akan pernah memutuskan harapan hamba yang berharap pada-Nya?

dan jika memang 'cinta dalam diammu' itu tak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata,
biarkan ia tetap diam ...

jika dia memang bukan milikmu, toh Allah, melalui waktu akan menghapus 'cinta dalam diammu' itu dengan memberi rasa yang lebih indah dan orang yang tepat ...

biarkan 'cinta dalam diammu' itu menjadi memori tersendiri dan sudut hatimu menjadi rahasia antara kau dengan Sang Pemilik hatimu ...

taken from here

Funny Lessons

  • Lesson 1
  • A sales rep, an administration clerk, and the manager are walking to lunch when they find an antique oil lamp. They rub it and a Genie comes out. The Genie says, “I’ll give each of you just one wish” “Me first! Me first!” says the admin. clerk. “I want to be in the Bahamas, driving a speedboat, without a care in the world.” Poof! She’s gone. “Me next! Me next!” says the sales rep. “I want to be in Hawaii,relaxing on the beach with my personal masseuse, an endless supply of Pina Coladas and the love of my life.” Poof! He’s gone. “OK, you’re up,” the Genie says to the manager. The manager says, “I want those two back in the office after lunch.”
    Moral of the story: Always let your boss have the first say.
  • Lesson 2
  • A crow was sitting on a tree, doing nothing all day. A rabbit asked him,”Can I also sit like you and do nothing all day long?” The crow answered: “Sure, why not.” So, the rabbit sat on the ground below the crow, and rested. A fox jumped on the rabbit and ate it.
    Moral of the story: To be sitting and doing nothing, you must be sitting very high up.
  • Lesson 3
  • A turkey was chatting with a bull “I would love to be able to get to the top of that tree,” sighed the turkey, but I haven’t got the energy.” “Well, why don’t you nibble on my droppings?” replied the bull. “They’re packed with nutrients.” The turkey pecked at a lump of dung and found that it gave him enough strength to reach the lowest branch of the tree. The next day, after eating some more dung, he reached the second branch. Finally after a fourth night, there he was proudly perched at the top of the tree. Soon he was spotted by a farmer, who shot the turkey out of the tree.
    Moral of the story: Bullshit might get you to the top, but it wont keep you there.
  • Lesson 4
  • A little bird was flying south for the winter. It was so cold the bird froze and fell to the ground into a large field. While he was lying there, a cow came by and dropped some dung on him. As the frozen bird lay there in the pile of cow dung, he began to realize how warm he was. The dung was actually thawing him out! He lay there all warm and happy, and soon began to sing for joy. A passing cat heard the bird singing and came to investigate. Following the sound, the cat discovered the bird under the pile of cow dung, and promptly dug him out and ate him.
    Moral of the story:
    1. Not everyone who shits on you is your enemy
    2. Not everyone who gets you out of shit is your friend
    3. And when you’re in deep shit, it’s best to keep your mouth shut!

Labels:

The Story of Two Frogs

A group of frogs were traveling through the woods, and two of them fell into a deep pit. When the other frogs saw how deep the pit was, they told the two frogs that they were as good as dead. The two frogs ignored the comments and tried to jump up out of the pit with all their might. The other frogs kept telling them to stop, that they were as good as dead. Finally, one of the frogs took heed to what the other frogs were saying and gave up. He fell down and died.

The other frog continued to jump as hard as he could. Once again, the crowd of frogs yelled at him to stop the pain and just die. He jumped even harder and finally made it out. When he got out, the other frogs said, "Did you not hear us?" The frog explained to them that he was deaf. He thought they were encouraging him the entire time.


This story teaches at least three lessons:

  • There is power of life and death in the tongue. An encouraging word to someone who is down can lift them up and help them make it through the day.
  • A destructive word to someone who is down can be what it takes to kill them.
  • Sometimes being deaf is necessary. When the others said that it is impossible to do, it is just a matter of time when you go beyond the impossibility if you keep struggling.
Be careful of what you say. Speak life to those who cross your path. The power of words; it is sometimes hard to understand that an encouraging word can go such a long way. Anyone can speak words that tend to rob another of the spirit to continue in difficult times. Special is the individual who will take the time to encourage another.

For those who feel like falling into a deep pit, just remember what is always being repeated by adidas, IMPOSSIBLE is NOTHING.



[+]image taken from here.

Beyond Prediction

Once upon a time in China, there lived an old man along with his wife and his son. Besides his family, he also had a beautiful horse which he loved so much. One day, he lost his horse. He searched anywhere but he did not find it. Even when his neighbours gave a hand to looked for, the horse still could not be found. One of his neighbours felt a pity and said , "What an unlucky day for you. You lost the best horse I've ever seen." "Oooh . You don't have to pity me. I do lose my horse, but it might not be as worst as you think. It might be a good news for me.", the old man replied wisely.

A few days after that incident, he heard voice outside his house when he slept. The voice which he already got used to hear before, voice of his beloved horse. He opened the door and saw his horse was back. More surprisingly, his horse brought along 2 wild-horse which were more beautiful than itself. He was very grateful. Nevertheless, he was not overjoyed. Thus when his neighbours congratulated him for getting back his horse plus 2 beautiful horses in addition effortlessly, he said, "I am grateful that I got back my horse and 2 new horses effortlessly. However, I can't be overjoyed. Since I can't predict the future, it is possible that this good news will turn into bad news."

What he said was true, his only son got accident when he rode his new horse. He slipped and fallen down. Because of it, the son broke his legs and could not walk properly for a few days. The respond from his neighbours was obvious, they responded with a pity look and said that it would be better for him if he released the horses before. The old man stayed calm and said to his son, "They may think that this is a bad news for us, but as I said before, it might be a good news someday."

One year after the accident, king of his kingdom commanded every youngster to join military in order to protect the kingdom from invasion. While every youngster in his village went with their parents crying, the old man smiled with his son beside him. Because of his injury, the king gave an excuse not to join military.

Even I have read only twice, I could not forget moral of the story. It said that

Not every bad news is a disaster whereas not every good news is a gift. Good news today could be tomorrow's bad news and yesterday's bad news could be good news for today.

According to news I received a few days ago about my father's illness, I don't have to think that it is a calamity. Instead I could think that there must be a good news beyond my prediction. Besides, I have Allah and He know the best for His believer. Thus my praying should be enough

And for those who fear Allah, He (ever) prepares a way out. And He provides for him from (sources) he never could imagine. And if anyone puts his trust in Allah, sufficient is (Allah) for him. For Allah will surely accomplish His purpose: verily, for all things has Allah appointed a due proportion. (Q.S. Ath-Thalaq : 2-3)

----

[+] get well soon, abi. I still ain't close to fulfil my duties as a child.

Progress

I was taught that the way of progress is neither swift nor easy
--Marie Curie

When I was in elementary school, I used to think that I could not change the fact that I was not good at any sports. The fact that makes me feel I was unbalanced. And yeah, I felt insecure in many times. When I saw my friends swam, I was envy with them. When I saw my friends were good at football, I was staring at them.

But my way of thinking was changed when I graduated from senior high school. During my first year in university, I still thought the same. I thought that I was not able to do any sports. It changed when my friends asked me to join them swimming. I said that I could not. But they resisted and I felt it would be all right since I won't get drowned. Since then, I started to learn swimming. Almost every week I planned to swim at least once. With my friend's instruction, I could do it little by little. Of course the progress could not be seen in 2-3 times after I learnt. Instead I felt the impact after 3-4 months doing practice.

Since then, I got back my self-confidence. I could do anything I wished to. However, as I quoted above, the way of progress is neither swift nor easy. And I believe that as long as I struggle on something, I could master it. Thus if you are currently struggling on something, keep in your mind that the progress won't be either swift or easy. Do not give up after what you have done so far. It might be the next step which brings you to success. Just cheer it up as always .

Alternatif Jalur Menuju Pakar

oleh : Onno W. Purbo

Kadang saya suka geli & senyum-senyum sendiri melihat rekan-rekan jurnalis ada yang menjuluki saya Pakar Internet, Professor Internet (sekarang tanpa perguruan tinggi), bahkan Menteri Internet (tanpa KEPPRES). Padahal modal saya betul-betul modal dengkul, saya tidak pernah belajar formal tentang teknologi informasi, tidak pernah belajar formal tentang Internet, saya jelas lebih bodoh daripada adik-adik mahasiswa di ITB lha wong sering nanya ke mereka koq saya ini. Terus terangnya, saya praktis tidak punya apa-apa secara formal.

Saya pikir, mungkin karena gelar saya yang S3 dari Canada itu? Padahal jelas-jelas gelar tersebut bidangnya adalah teknologi pembuatan IC, S2 saya di fiber optik - tidak ada hubungannya sama sekali dengan Internet. Terus terang Internet saya pelajari sendiri & berguru secara informal. Jadi secara formal harusnya saya tidak berhak atas semua gelar, julukan yang diberikan rekan jurnalis di atas :) ..

Mungkin pendidikan informal yang akhirnya lebih banyak membentuk saya seperti sekarang ini. Saya rasa proses bersosialisasi, berteman, belajar dari teman, kemampuan untuk mengolah / mengembangkan pengetahuan merupakan kunci sukses selama ini. Di tulisan ini saya mencoba mengupas beberapa hal praktis yang saya lalui hingga mencapai kondisi sekarang ini, yang saya yakin masih jauh dari kondisi sempurna. Paling tidak jalur tersebut saya harap bisa memberikan wawasan bagi rekan-rekan untuk mulai menjalankan karir-nya di hal-hal yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya. Sebuah karir dimana reward, acknowledgement, dan akreditasi diberikan langsung oleh masyarakat - tidak harus tergantung 100% kepada ijazah, ujian negara dan sebangsanya.

Tampaknya sebagian besar jalan hidup saya berawal dari hobby amatir radio, nge-brik begitu barangkali bahasa gaul-nya. Dengan modal awal tidak punya apa-apa; hanya keinginan untuk nge-brik dengan CB seperti teman-teman SMP yang lain - saya akhirnya membeli buku "teknik membuat pemancar transistor". Kebetulan sekali di buku itu di tulis bahwa teman-teman yang suka membuat pemancar sendiri suka mangkal di frekuensi 3.5 MHz (80 meter) band. Jaman itu tahun 1978-an waktu itu mungkin masih jaman susah jadi memaksa orang untuk kreatif untuk membuat sendiri pemancar-pemancarnya.Diskusi antar pembuat pemancar ini dilakukan cukup aktif di 80 meter-band. Hampir setiap hari selama 2+ tahun monitoring 80 meter band dan obrolan rekan-rekan ini, radio merupakan barang yang hampir tidak pernah lepas dari sisi saya. Dari pembicaraan mereka saya tahu kita bisa membuat pemancar sederhana menggunakan tabung 6V6, 6L6, 807 dll. Di kemudian hari ternyata pola belajar informal yang paling baik adalah secara serius mendengarkan, membaca diskusi yang dilakukan oleh rekan-rekan se-hobby. Belajar dan mengerjakan apa-apa yang kita sukai memang paling menyenangkan.

Akhirnya pada tahun 1979 saya bisa membuat pemancar sendiri dari tabung bekas & buku amatir radio yang saya peroleh dari teman sekelas saya Krishna Ariadi Pribadi. Dengan bermodal buku & tabung bekas saya mengudara di 80 meter band dengan peralatan yang dibuat sendiri, sangat sederhana memang. Di sini saya sangat beruntung dapat berinteraksi dengan banyak rekan-rekan amatir radio yang senior dan belajar teknik-teknik elektronika kepada pada senior tersebut secara lebih interaktif. Memang harus di akui bahwa pasif mendengar saja tidak cukup, harus dibarengi dengan kemauan keras untuk membaca buku-buku dan aktif berinteraksi dengan orang yang lebih ahli di bidangnya. Tanpa terasa pembentukan karakter, pola pengembangan diri terpatri sejak dini di dunia amatir radio.

Sekitar tahun 1981-an saya mengenal komputer dari Bachti Alisyahbana (putra dari Prof. Iskandar Alisyahbana), sering saya ke rumahnya untuk ngoprek dan mengobok-obok komputer Radio Shack-nya karena memang saya tidak punya komputer. Saya mencoba programming BASIC di komputer beliau. Saya suka sekali dengan komputer ini, belum pernah terbayangkan ada alat hitung seperti komputer yang bisa di program dan di mainkan sedemikian menarik. Tampaknya jika ada kemauan yang kuat biasanya ada saja jalan untuk memperoleh pengetahuan-pengetahuan tersebut.

Pada tahun 1986-an saya mulai diperkenalkan oleh rekan-rekan amatir senior seperti Mas Robby Soebiakto YB1BG, Pak Achmad Zaini YB1HR cs. bahwa kita bisa menggunakan komputer untuk saling berkomunikasi satu dengan lainnya menggunakan radio. Sebuah gabungan dua teknologi yang menarik sekali bagi saya. Di tahun 1986-an kami pada saat itu merupakan belasan amatir radio di Indonesia yang merintis teknik komunikasi data packet radio di 7MHz 40 meter band. Teknik yang dipakai dikenal sebagai teknik packet radio yang menggunakan protokol komunikasi data AX.25. Itu mula pertama saya berkenalan dengan teknik komunikasi data yang relatif canggih. Terkagum saya melihat dilayar komputer bisa kita bercakap melalui keyboard, masuk ke Packet Bulletin Board System (PBBS) rekan lain seperti Pak IGK Manila YB1GM (sekarang YB0AA) dan mengirimkan berita e-mail ke seluruh dunia melalui jaringan store-and-forward PBBS amatir radio. Komunikasi digital sederhana ini kami lakukan di tahun 1986-an, mungkin belum terbayangkan oleh sebagian besar dari kita yang menikmati Internet pada hari ini. Kekaguman demi kekaguman terus dirasakan dan mendorong untuk terus membaca dan mempelajari teknik-teknik komunikasi data secara autodidak.

Tahun 1987, berangkat ke Canada untuk meneruskan S2 - beruntung saya memilih kota Hamilton dan menjadi satu-satu-nya orang Indonesia di kota itu sehingga memaksa saya untuk bisa bergaul dalam bahasa Inggris. Kebetulan sekali di kota Hamilton ada perkumpulan packet radio yang cukup aktif di amerika utara yaitu Hamilton Amateur Packet Network (HAPN) yang mengembangkan peralatan packet radio sendiri. Saya bergabung dengan HAPN dan belajar banyak dari mereka. Pada 1987 itu Mas Robby YB1BG mengirimkan surat kepada saya dan menyarankan bahkan mungkin sangat mendorong untuk mempelajari lebih dalam lagi teknik TCP/IP karena akan menjadi dasar utama bagi jaringan komputer dimasa mendatang.

Alhamdullilah, saya betul-betul mengikuti nasihat mas Robby YB1BG yang bekerja di USI/IBM. Saya harus mengakui bahwa nasihat Mas Robby YB1BG yang banyak mempengaruhi saya di bidang Internet, tanpa arahan beliau tidak mungkin saya menjadi seperti sekarang. Saya masuk ke beberapa mailing list amatir radio di jaringan perguruan tinggi seperti BITNET & NSFNet. Pada tahun 1987 belum ada Internet seperti yang kita kenal sekarang. Mailing list umumnya menggunakan listserv pada jaringan BITNET yang berbasis SNA (IBM). Berbekal akses e-mail BITNET di kampus, saya banyak belajar dengan membaca berbagai mailing list amatir radio dan mengambil software untuk amatir radio khususnya NOS yang menjadi ujicoba jaringan TCP/IP packet radio pada PC dengan sistem operasi DOS. Metoda banyak mendengarkan, banyak membaca berbagai diskusi ternyata sangat ampuh untuk belajar secara autodidak. Beruntung sekali dengan adanya mailing list proses belajar menjadi tidak lagi dibatasi batas dimensi institusi, dimensi ruang dan dimensi waktu.

Sebagian besar informasi sebetulnya ada di manual maupun arsip diskusi. Pola belajar yang terbaik adalah "membaca" dengan baik, istilahnya rekan-rekan di mailing list biasanya adalah RTFM (Read The F*cking Manual). Atau cari FAQ (Frequently Asked Question) dan whitepaper dari berbagai topik yang ada. Belakangan khususnya di komunitas UNIX / Linux juga ditulis dokumentasi dalam bentuk HOWTO. Membaca, menganalisa, mengerti dengan baik ilmu yang ada di Internet merupakan modal awal yang sangat manjur untuk tahap selanjutnya. Sampai tahap ini saya rasa kita masih berada pada posisi penerima pengetahuan dan mengkonsumsi informasi. Konsumen merupakan posisi terendah dalam rantai supply-demand, konsumen biasanya yang mengeluarkan uang - hanya produsen yang akan memperoleh keuntungan yang maksimal.

Menjadi posisi produsen informasi & pengetahuan dilakukan secara perlahan dan bertahap. Menjadi produsen pengetahuan sebetulnya tidaklah terlalu sulit yang paling sederhana adalah menjawab pertanyaan di mailing list / newsgroup, mau tidak mau kita harus menjawab dengan baik dan benar dengan berbekal pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh sebelumnya. Komunitas mailing list akan mengevaluasi secara langsung apakah jawaban kita betul atau salah, jika salah sering kali hujatan (istilahnya flame) akan dilontarkan kepada kita. Audit kepakaran akan secara langsung dilakukan oleh komunitas mailing list yang biasanya terbatas jumlahnya sekitar puluhan atau ratusan anggota.Kecepatan meresponds diskusi / interaksi mailing list akan menunjukan komitmen kita kepada masyarakat. Di Internet, rekan-rekan akan sangat mengharapkan kita me-responds dalam waktu yang cepat berorde menit kalau bisa detik.

Saya rasa langkah yang harus dilakukan selanjutnya adalah secara serius mensintesa ilmu pengetahuan yang kita peroleh selama ini. Hal ini mulai saya lakukan secara serius di tahun 1992, dengan menulis artikel-artikel pendek di KOMPAS. Kemudian berlanjut ke berbagai media seperti infokomputer.com, dotcom, detik.com dll. Kritik tidak lagi dibatasi dalam komunitas mailing list, tapi mulai berkembang ke masyarakat banyak. Audit masyarakat sering kali lebih keras, kritik lebih tajam. Pengalaman menunjukan sangat sulit untuk memuaskan semua orang, sama sulitnya untuk menerangkan sebuah konsep dalam bahasa yang sederhana yang mudah dimengerti oleh para pembaca yang mungkin bukan berlatar belakang teknik. Kadang bahkan sangat sulit untuk mencari kompromi dari berbagai kondisi yang ada, keberpihakan bagi keuntungan masyarakat banyak biasanya akan lebih menguntungkan; dengan konsekuensi badai yang dahsyat terutama jika konsep yang dilontarkan akan merugikan pihak yang berkuasa. Transparansi seluas-luasnya pengetahuan & informasi kepada masyarakat banyak tampaknya yang akan menyelamatkan diri kita pada tingkat tersebut. Tampaknya penggunaan konsep GPL, copyleft, copywrong, public domain yang menguntungkan rakyat banyak akan memproteksi secara alamiah dari badai & topan yang dahsyat tadi. Badai itu telah saya alami dan tampaknya akan terus saya alami, seperti pohon semakian tinggi sebuah pohon semakin keras anginnya.

Saat ini kita cukup diuntungkan dengan maraknya media online, keterbatasan halaman yang ada di media cetak menjadi hilang - artikel, paper menjadi jauh lebih mudah untuk di publikasi diberbagai portal. Persaingan menjadi lebih gampang, sangat berbeda dengan masa lalu yang sangat ketat karena media masih dibatasi halaman. Society audit menjadi kenyataan, tidak lagi redaksi sebagai penentu utama kualitas sebuah tulisan.

Tentunya jangan berhenti di menulis artikel, lanjutkan ke menulis buku. Menulis buku merupakan kelanjutan dari menulis artikel, kita perlu mengidentifikasi siapa yang akan membaca buku. Mengapa buku tersebut menjadi penting? Apakah pembaca di untungkan dengan ilmu yang dijelaskan? Cara paling sederhana untuk menulis yang saya alami adalah mulai dari outline power point, berlanjut pada penyiapan gambar yang dibutuhkan. Buku akan terjadi dengan sendirinya pada saat kita mengelaborasi outline power point yang kita buat di awal. Kadang teman mulai menjuluki kita pakar pada saat buku telah selesai ditulis dan diterbitkan, padahal sebagian besar ilmu yang dituangkan dalam bentuk buku diperoleh dari akumulasi pengetahuan dari berbagai diskusi mailing list, membaca FAQ, whitepaper, howto yang diperoleh selama beberapa tahun. Dalam kasus saya, mulai dari tahun 1980-an hingga tahun 1998-an baru mulai menulis buku jadi merupakan proses yang sangat panjang hampir 20 tahun sebelum mampu menulis buku. Saya yakin generasi muda Indonesia hari ini tidak harus menunggu sedemikian lama lagi, informasi & pengetahuan akan menjadi amat sangat mudah diperoleh dengan menggunakan Internet, beberapa mahasiswa saya bahkan sanggup menulis buku setelah aktif berdiskusi dan surfing di Internet dalam waktu 1-2 tahun saja. Society audit bahkan dapat terjadi secara cepat dan langsung melihat hasil buah karya mereka dalam berbagai media baik cetak, elektronik maupun online. Sebuah proses pembelajaran yang jauh lebih effisien daripada apa yang saya alami sendiri. Proses society audit yang demikian effisien akhirnya akan mempercepat proses reward, acknowledgement dan akreditasi langsung oleh masyarakat kepada si penulis yang menjadi sumber pengetahuan baru tadi. Akhirnya seluruh proses akan mempertanyakan konsep konvensional seperi ijazah, ujian negara, badan akreditasi sampai sejauh mana merepresentasikan acknowledgement masyarakat?

Mudah-mudahan setelah membaca tulisan ini, pembaca dapat melihat sebuah alternatif jalan menuju seorang "Pakar". Pendidikan formal bukan satu-satunya jalan menuju "pakar", pendidikan informal autodidak justru akan sangat dominan untuk menjadikan anda seorang "pakar". Pola pendidikan informal ini bahkan memungkinkan belajar dan mengerjakan hal-hal yang kita sukai saja. Internet memungkinkan untuk membentuk “pakar” dalam waktu singkat tanpa perlu bergantung sepenuhnya pada pendidikan formal. Apalagi sekarang untuk meneruskan kuliah saja kadang sangat sulit. Pengakuan "pakar" akan diberikan oleh masyarakat di nilai dari besarnya bantuan yang kita berikan kepada masyarakat, semakian banyak masyarakat di untungkan maka semakin tinggi tingkat "kepakaran". Dalam bahasa yang lebih religius semakin banyak amal & ibadah semakin banyak pahala yang akan diperoleh dan tentunya rizki.

Music of The Month






Lyric - Japan :

Hi Mother, Haikei, genki ni shitemasuka?
Saikin renraku shinakute gomen Boku wa nantoka yattemasu...

Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai

Chikaku ni iru to iradatsu kuse ni Tooku ni iru to sabishiku kanji
Anata wa sonna sonzai Donna mondai mo Mi wo kezutte kaiketsu suru
Soshite Boku no shitteru dare yori mo Ichi-ban gamandzuyoku TAFU desu
Itsumo massaki ni ki ni suru Jibun janaku boku no karada de

Suiji sentaku Souji ni ikuji Amatta jikan sara ni shigoto shi
Ichi-ban hikui basho ni aru mono shika Motomenakattano Anata yo
Atarimae sugi wakaranakatta Hitori de kurashi hajimete wakatta
Anata no sugosa Taihensa Sore wo omoeba Kyou mo boku ganbareru sa

Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai

"Ashita asa shichi-ji ni okoshite" to itte
Anata jikan doori ni okoshite kurete
Shikashi Rifujin na boku wa
Neboke nagara ni iu kotoba wa "Urusee!"
Konna kurikaeshi no RUUTIN Iyana kao hitotsu sezu ni
Anata Mainichi okoshite kureta
Donna mezamashi yori atatakaku seikaku datta

Sore de mo aru hi Gakkou wo ZURUyasumi "Ikitakunai" to ii
FUton kara ichido mo denu boku mae ni Kao wo ryoute de ooikakushi
Oogoe agete naita Boku mo kanashikute naita
Sono toki boku wa "Nante baka na koto wo shitan da" to jibun semeta

Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Kanshashitemasu My Mother

Kodomo ni sakidattareru hodo Tsurai koto nante Kono yo ni nai no dakara
Tatta ichi-byou de mo Anata yori nagaku ikiru koto Kore dake wa mamoru
Kore dake wa...

Anata no kodomo de yokatta Anata ga boku no haha de yokatta
Itsu made mo kawaranai Zutto zutto kawaranai
Boku wa anata no ikiutsushi dakara...

Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai

Zutto boku no haha de ite Zutto genki de ite
Anata ni wa mada shigoto ga aru kara Boku no oyakoukou uketoru shigoto ga...


Lyric - English :


Hi Mother, Dear Mother, how are you doing?
Sorry I haven’t called recently, I’m getting by okay…
*Your body is small and so are your hands
White hairs are mixed in and you’ve grown more genial
But to me you’re still bigger than anything, stronger than anyone
I want to tell my kids about this love that supported me

Even though I grow impatient when I’m near you
When you’re far away from me I grow lonely
That’s who you are to me, you can cut through any problem and solve it
And you have the most patience and toughness of anyone I know
You would always be concerned over my well-being before your own

Cooking, doing the laundry, cleaning, raising a child
You even worked during your free time
You would only require things from the lowest places
I didn’t understand even though it was so obvious
It wasn’t until I started living by myself that I understood
Whenever I think of how much you’ve accomplished
And how hard it must have been, I feel like I can try my best today

(Repeat*)

I’d say, “Wake me up at seven a.m.”
And you would wake me up right on time
But I would be unfair to you
And say the words “shut up” while I was still half-asleep
This was the daily routine
You never made one tired face
And woke me up every day
Warmer and more accurately than any alarm clock

But then one day I skipped school and said, “I don’t wanna go”
I wouldn’t leave my futon and you stood in front of me
Hid your face with both hands and cried loudly
I also felt sad and cried
At that time I blamed myself wondering, “How could I be so stupid?”

Your body is small and so are your hands
White hairs are mixed in and you’ve grown more genial
But to me you’re still bigger than anything, stronger than anyone
I give you thanks for this love that supported me, my mother

I know there’s nothing more painful in the world
Than a parent burying their child
So I’ll make sure it never happens
Even if I only live one second longer than you
I’ll make sure of it…

I’m glad I’m your child
I’m glad you’re my mother
And that won’t ever change
It won’t ever change for all time
Because I am the very image of you…

(Repeat*)

Be my mother forever
Be well forever
You still have one more job left to do
And that’s to accept your son’s love and respect for you…

Labels:

Ku Beli Waktu Kamu, Nak

should we leave behind our parents after what they did to us?
Al kisah, seorang pemuda yang dibesarkan dengan belaian kasih ibu tercintanya.
setelah berajak usia produktif, muncul keinginan besar dari pemuda tersebut ingin mandiri dan membahagiakan ibunya.
wal hasil.. dengan kerelaan yang berat, sang ibu merelakan anaknya merantau ke negeri seberang yang konon perekonomiannya jauh diatas bangsa ini, apa lagi dibandingkan dengan ekonomi di kampungnya.

seiring waktu dan secara bertahap sang anak mengalami kesuksesan di rantau, kesuksesan yang disertai dengan kesibukan yang seimbang. Gajinya yang tergolong besar bahkan sangat besar jika dibanding dengan pembesar yang ada di negeri ini memang layak diterima sang anak jika dilihat dengan aktivitas dan kesibukannya.

keinginan untuk membahagikan ibunya di kampung tetap merupakan skala prioritasnya. Hampir tiap bulan sang anak memberi ibunya uang yang nilainya sangat besar. Sang ibu membuat kantong dari kain, setiap kali sang ibu mendapatkan uang kiriman anaknya, sang ibu menyimpannya di kantong kain tersebut.


waktu terus berlalu.., sudah bertahun tahun sang anak tidak pulang. uang kiriman sang anak sudah memenuhi isi kantong kain milik ibunya, tidak terhitung lagi jumlah bersihnya. yang jelas jumlahnya jauuuh melebihi gaji sang anak untuk tiap bulannya.

Pagi hari raya pun tiba...
ini adalah pagi hari raya ke 5 kalinya sang anak tidak pulang ke kampung halamannya. Sang ibu duduk sendirian dikursi santainya, secarik kertas yang bertuliskan sederet nomor terlihat erat digenggaman sang ibu, beberapa kali dibacanya, kemudian digenggamnya kembali. Dengan bantuan seseorang di kampungnya, sang ibu meminta untuk dapat berbicara kepada anaknya lewat beberapa digitit nomor yang tercantum dikertas lusuh akibat eratnya genggaman.

Jauh dirantau sana, terdengar dering telpon selluler milik sang anak. Terlihat dilayar handphone beberapa digit nomor yang tidak dikenal.
komunikasi pun tersambungkan. .
"siapa ini..??" kata anaknya.
"ini ibumu mau bicara", jawaban dari seseorang yang membantu ibunya tersebut yang sejurus kemudian memberikan ganggang telpon ke ibu pemuda tersebut.
ganggang telpon sudah ditangan sang ibu, untuk beberapa saat tidak ada kata yang bisa diucapkan sang ibu. akhirnya hanya sebait kalimat aja yang keluar dari mulut sang ibu saat itu.
"Bisa kau pulang walau untuk satu hari, Nak??". sejurus kemudian sang ibu langsung meletakkan ganggang telpon ke dudukannya semula, bersamaan dengan itu dari handphon sang anak langsung terdengar nada bit berulang-ulang yang menunjukkan putusnya komunikasi.

Sang anak sudah tidak bisa konsentrasi lagi saat itu, naluri sebagai seorang anak mencuat, sosok sang ibu langsung terlintas ditiap butiran darah yang mengaliri otaknya, otaknya benar-benar buntu untuk memikirkan apapun, yang ada dalam isi otaknya adalah "pulang dengan amat sangat segera".

Tanpa persiapan dan perencanaan apapun, sang anak membatalkan apapun yang menjadi agendanya hari itu. Dirinya segera menuju arah bandara dan menaiki pesawat yang paling cepat keberangkatannya hari itu menuju ibu kota propinsi dimana kampungnya berada. Dari ibu kota propinsi tersebut sang anak harus menaiki bus beberapa jam untuk sampai kekampung halamannya.

Tiba dikampung... .
Lama sang anak berdiri di depan halaman rumah. sebuah rumah yang sudah lama ia tinggalkan dan terlihat sepi. Air matanya mengalir sebelum sosok ibunya terlihat olehnya, sang ibu yang sudah bertahun tahun ia tinggalkan. Sang ibu masih berada dikursi santainya, tidak ada kata-kata yang terlontar ketika itu melainkan hanya sembah sujud yang disertai isak tangis dan air mata sang anak. sementara sang ibu belum menampakkan reaksi apapun, belum terlihat butiran air mata yang merembes di pelupuk matanya. sikapnya masih sulit untuk ditebak ketika itu.

Beberapa menit kemudian...
situasi pun mereda, suasana sudah mulai sedikit kondusif untuk berbicara. Segala gejolak emosi yang tadinya tertahankan dan mendesak didada telah mulai mencair dan keluar beserta deraian air mata sang anak. Mereka berdua kemudian duduk dilantai dengan alas sebuah tikar pandan. Terlihat beberapa potong kue hari raya dan gelas minuman menghiasi jarak antara mereka berdua.

"berapa gaji kau sebulan nak..??", ibunya memulai pertanyaan.
"kalau dihitung dengan mata uang kita sekitar 50 juta". Jawab sang anak.

Kemudian sang ibu beranjak dari tempat duduknya, menuju kekamarnya dan mengambil sebuah kantong kain yang berisi penuh dengan uang kiriman anaknya. Kemudian sang ibu duduk kembali ditempat duduknya semula yang berada tepat didepan anaknya. Kemudian ibunya berkata :

"Sekarang dengarkan ibu, nak." Ibunya berkata dengan suara yang berat.
"Ibu mohon kepadamu untuk satu kali ini saja…" terdengar suara ibunya yang semakin berat, dan kemudia terlihat butiran air mata yang mulai merebes dipelupuk mata ibunya.
"engkau duduk disini selama 1 jam saja bersama ibu, dan ibu bayar waktumu ini dengan semua uang ini".

author : unknown

---

orang tua saya tidak menyekolahkan saya jauh-jauh hanya untuk jadi anak durhaka. semoga hingga saat saya tiba, orangtua saya tetap menjadi prioritas dalam hidup saya. Amin.

Labels:

How Many Other Things We Are Missing ?

Washington, DC Metro Station on a cold January morning in 2007. The man with a violin played six Bach pieces for about 45 minutes. During that time approx. 2 thousand people went through the station, most of them on their way to work. After 3 minutes a middle aged man noticed there was a musician playing. He slowed his pace and stopped for a few seconds and then hurried to meet his schedule.


  • 4 minutes later:

  • the violinist received his first dollar: a woman threw the money in the hat and, without stopping, continued to walk.

  • 6 minutes:

  • A young man leaned against the wall to listen to him, then looked at his watch and started to walk again.

  • 10 minutes:

  • A 3-year old boy stopped but his mother tugged him along hurriedly. The kid stopped to look at the violinist again, but the mother pushed hard and the child continued to walk, turning his head all the time. This action was repeated by several other children. Every parent, without exception, forced their children to move on quickly.

  • 45 minutes:

  • The musician played continuously. Only 6 people stopped and listened for a short while. About 20 gave money but continued to walk at their normal pace. The man collected a total of $32.

  • 1 hour:

  • He finished playing and silence took over. No one noticed. No one applauded, nor was there any recognition.


No one knew this, but the violinist was Joshua Bell, one of the greatest musicians in the world. He played one of the most intricate pieces ever written, with a violin worth $3.5 million dollars. Two days before Joshua Bell sold out a theater in Boston where the seats averaged $100.

This is a true story. Joshua Bell playing incognito in the metro station was organized by the Washington Post as part of a social experiment about perception, taste and people's priorities. The questions raised: in a common place environment at an inappropriate hour, do we perceive beauty? Do we stop to appreciate it? Do we recognize talent in an unexpected context?

One possible conclusion reached from this experiment could be this: If we do not have a moment to stop and listen to one of the best musicians in the world, playing some of the finest music ever written, with one of the most beautiful instruments ever made. How many other things are we missing?

--

for me, i missed the spirit of ramadhan. the worst ramadhan i've ever had.

Labels:

Art of War

As swift as the wind ,
As fierce as the fire ,
As gentle as a forest ,
As immovable as mountain ,
As strong as thunder . - Sun Tzu


Quote yang saya kutip di atas merupakan quote yang sangat terkenal . Terutama dalam dunia militer . Namun dalam penerapannya , ternyata quote ini tidak hanya bisa di terapkan dalam peperangan , tp juga dalam kehidupan . Karena menurut saya dalam hidup ini kita sebenranya juga sedang berperang . Berperang yang saya maksud tidak melulu bawa senapan , pake tank baja , pesawat tempur canggih , dsb . Tp pada dasarnya kita sedang berperang melawan hal yang lebih menakutkan dari itu . Yaitu waktu dan hawa nafsu . Waktu di dunia nyata enggak seperti di dalam game . Yang klo gagal ato hasil g sesuai ama kemauan kita bisa di restart . Waktu akan terus berjalan . Whether we want or not . Berikut sedikit penjelasan tentang quote di atas .

  • As swift as the wind
    secepat angin


  • Hidup itu adalah kumpulan dari berbagai pilihan . Setiap pilihan yang kita ambil akan menentukan masa depan kita . Sebanding dengan banyaknya pilihan , kesempatan untuk menjadi lebih baik muncul setiap saat dalam hidup kita . Namun sayangnya , seringkali kita membiarkan kesempatan tersebut lewat hanya karena kita terlalu lama menimbang . Think fast and wisely . Kesempatan yang datang tidak memberikan kita waktu yang lama buat memutuskan . Selalu ada batasan waktu dalam setiap kesempatan yang datang . Maka ketika ada kesempatan emas yang datang , u ought to move as swift as the wind . Klo enggak , ya silahkan ucap selamat tinggal pada kesempatan tersebut . Dan patut di ingat , ketika kita tidak mengambil kesempatan yang ada , akan ada orang laen yang bakal ngambil .

  • As fierce as fire
    segarang api



  • Ada saatnya kita harus menjadi seperti api . Ketika kita harus mempertahankan apa yang kita punya . Ketika harga diri kita di injak . Ketika ada seseorang yang harus kita lindungi . Ketika kita harus mempertahankan idealisme kita . Pada saat - saat tersebut , enggak ada salahnya kita garang kayak api . Kenapa harus seperti api ? Api , jika tidak di gunakan secara proporsional , akan merusak apa yang ada di sekitarnya . Jadi , as long as it is needed , mungkin kegarangan seperti api akan kita butuhkan untuk menghancurkan penghalang kita .

  • As immovable as mountain
    sekokoh gunung



  • Nah , , klo sudah menetapkan keputusan , harus di pertahankan . Jadi orang tuh kayak gunung . Kokoh . Begitu pun kita . Ketika kita sudah memutuskan tujuan hidup kita , perjuangkan . Jangan mudah terpengaruh ama lingkungan . Lingkungan akan membawa kebaikan bagi kita jika sesuai dengan tujuan kita . Klo ternyata lingkungan kita berbeda dengan apa yang kita inginkan , ya mau g mau harus berjuang sendirian . Walopun itu tidak selalu berarti dengan meninggalkan lingkungan kita saat ini . Sapa tau kita bisa merubahnya . Asal jangan sampe kita melupakan tujuan yang telah lebih dulu kita tetapkan hanya gara - gara lingkungan tidak mendukung . Sebagus atau seburuk apapun lingkungan kita , tetap kitalah yang memutuskan masa depan kita ntr kayak gimana .

  • As strong as thunder
    sekuat petir



  • artinya dalam peperangan kita tidak hanya mengandalkan strategi dan taktik,, tp juga harus mempertimbangkan kekuatan pasukan kita,, begitu juga dalam kehidupan,, jika kita ingin mendapatkan kesuksesan,, selain dengan strategi kita,, kita juga harus memikirkan kemampuan kita dalam mengatasi masalah yg kita hadapi,,

  • As gentle as forest
    setenang hutan



  • coba anda perhatika hutan sebelum anda masuk kedalamnya,, begitu tenang .namun bukan berarti ini tidak ada bahayanya . justru hutan yang terlalu tenang membawa bahaya tersendiri . begitulah seharusnya kita bersikap . enggak usah banyak bicara . tapi banyak berbuat . seperti air yang mengalir , , walaupun tenang , dia bisa menghanyutkan . walo terkadang perkataan di butuhkan , perbuatan yang kita lakukan lebih dinilai orang daripada perkataan yang kita katakan .

    mengendalikan emosi . itulah yang terpenting dari bagian terakhir ini . betapapun pintar Anda , selama Anda tidak bisa mengendalikan emosi Anda , , just wait for the time .


alhamdulillah . selesae juga . semoga tulisan ini bisa bermanfaat .
oh ya , , mungkin ada yang bertanya - tanya napa kq tiba - tiba nulis tentang Art of War . ini karena red cliff 2 yang saya tonton beberapa hari yang lalu . seperti biasa , , saya cari apa hikmah yang bs di ambil dari setiap film . dan akhirnya dapat Art of War ini .
bukan berarti saya telah mengamalkan semuanya . tapi saya sedang berusaha untuk melaksanakannya . dan sebagai pengingat , , saya tulis sebagai catatan .
sekali lagi , semoga bermanfaat . apabila ada yang salah , , silahkan di koreksi . karena saya bukan orang yang sempurna , pasti ada kesalahan . entah dalam penulisan atau pemaknaan .



Labels:

Sekolah Kehidupan

Sekolah mendidik manusia untuk mengetahui sesuatu (to know), tapi masyarakat menempa manusia untuk melakukan sesuatu (to do) sampai akhirnya manusia itu menjadi sesuatu (to be). Akibatnya, mereka sampai pada posisi memiliki sesuatu (to have).
- (Bob Sadino, 2009)



hidup tidak hanya berkutat pada persoalan seputar dengan sekolah . pendidikan yang didapat di bangku sekolah sebenarnya hanya merupakan alat untuk mengamalkan di masyarakat .

ketika sudah lulus dari tingkat SD , maka sebenarnya permasalahan tidak hanya bagaimana cara agar dapat lanjut ke tingkat SMP . tp lebih dari itu , bagaimana mengamalkan apa yang sudah kita dapat semasa SD . pun ketika lulus SMP , ada tantangan untuk mengamalkan ilmu yang sudah didapat sebelumnya . maka hidup tidak sekadar merupakan loncatan tingkatan pendidikan saja , tp merupakan kumpulan aplikasi dari ilmu yang di ajarkan saat sekolah .

hidup terkadang lebih susah dari sekadar kalkulus . lebih susah dari teori De Morgan . dan tentu saja lebih susah dari sekadar C++-nya Bjarne Stroustrup . maka , , ketika menghadapi hidup yang serba susah , apalagi di jaman sekarang , banyak orang yang sudah terlebih dulu menyerah dengan tidak mencoba melakukan sesuatu . melakukan hal yang biasa - biasa saja . sehingga pada akhirnya , , jadi orang biasa juga .

yah , , hidup memang mengajarkan banyak hal . seperti bagaimana keuletan seorang Bob Sadino menyebabkan dia menjadi pengusaha yang terkenal dengan Kim Chick dan Kim Food-nya . lalu , , bagaimana dengan kita ? anda sendiri yang menentukan .

Labels:

Our Happiness


When one door of happiness closes, another opens; but often we look so long at the closed door that we do not see the one which has been opened for us.


ya . itulah kita . terlalu terpaku pada kebahagiaan pada satu hal . ada yang mencari kebahagiaan dalam bentuk harta . maka ketika dapat harta banyak , bahagialah dia . walo mungkin hanya sesaat .

ada yang mencari kebahagiaan pada jabatan dan ketenaran . maka di dedikasikanlah hidupnya buat jabatan tersebut . walo sekali lagi , mungkin hanya sesaat .

ada yang mencari kebahagiaan dalam wanita (karena saya pria :D) . di carilah wanita yang paling sempurna menurutnya . pintar , cantik , kaya , setia (klo ada yang kayak gini saya mau juga deh :D) .

tapi ketika kita g dapat apa yang kita anggap akan membahagiakan kita , lalu apa yang hendak kita lakukan ? sedih ? kecewa ? mengutuk Allah karena merasa bahwa Allah tidak adil ? mungkin sebagian besar dari kita akan melakukan hal tersebut . nah , , kalo sudah begitu , cobalah berhenti sejenak dan merenung . benarkah kebahagiaan sudah tertutup dari diri kita ? Allah tidak adil karena tidak memberikan kebahagiaan yang kita inginkan ?

wake up gays . . ! ! ketika ada satu kebahagiaan yang tertutup , maka Allah akan bersikap adil dengan memberikan kebahagiaan yang serupa , tapi dalam lain hal . cuman ya itu . kita terkadang terlalu bodoh dan tolol untuk melihat kebahagiaan yang telah Allah berikan . cobalah lihat di sekeliling kita . bandingkan dengan keadaan kita . masihkah kita perlu untuk tidak merasa bersyukur atas kebahagiaan yang telah Allah berikan ?

kita mungkin tidak di beri harta yang melimpah , karena Allah tahu besar kemungkinan kita akan menjadi kikir dan sombong dengan harta yang ada pada kita . tapi sebagai gantinya , Allah memberi kita keluarga yang lengkap , teman yang mencintai , dan saudara yang menopang kita ketika kita lemah .

kita mungkin tidak di beri jabatan yang tinggi , karena Allah tahu , besar kemungkinan kita akan dzolim kepada bawahan kita . tapi sebagai gantinya , Allah memberi kita kemudahan untuk menimba ilmuNya agar kita merasa selalu rendah di hadapan ilmu yang begitu luas .

kita mungkin tidak di beri oleh Allah istri yang cantik , pintar , kaya , dsb . Karena Allah tahu , besar kemungkinan kita akan mudah terbakar cemiburu oleh orang lain hanya karena orang lain memandang istri kita . tapi sebagai gantinya , Allah memberi kita istri yang setia dan taat beribadah . agar kita selalu ingat bahwa Allah ada di atas segalalnya .

pun ketika pada akhirnya kita tidak mendapatkan itu semua , kita masih di beri kebahagiaan di beri anggota tubuh yang lengkap . sehingga bisa kita manfaatkan untuk menolong orang lain .

bahkan seandainya Allah menghendaki kita lahir dalam keadaan buta atau tuli (yang akan mengakibatkan kebisuan) , maka yakinlah Allah selalu adil pada kita . selalu ada kebahagiaan yang di berikan olehNya , pada jalan yang berbeda .

so , , wake up guys . . ! ! life is not as bad as u think .
tidak hanya satu pintu saja yang terbentang di hadapan kita . pilihan ada beribu bahkan berjuta .
tinggal kita saja mau memilih yang mana .
menuju pintu lain yang terbuka dan mensyukurinya atau tetap tercenung di hadapan pintu yang tertutup dan menyesalinya .

dan pada akhirnya , saya hanya bisa berdoa semoga pilihan Anda adalah pilihan yang tepat .

====

[+] quote di atas di ucapkan oleh Helen Keller . penderita buta dan tuli pertama di dunia yang mampu lulus dari universitas . jika Anda merasa bahwa dia pantas mendapatkan hal tersebut karena pintar lah , orang tua mendukung lah , guru yang berpengalaman lah , dan apapun itu , maka walaupun hal tersebut ada benarnya , faktor di atas tidak akan bisa menjadikan dia di kenang hingga saat ini jika dia tidak mau berubah . lingkungan hanya mendukung . kita yang menentukan .

Slumdog Millionaire



Have u ever seen this movie ? I think almost 90% movieholic had seen this movie . There is no doubt that this one will be the must-be-watched movie . There’s no denying that I loved this movie, and for the most part, is deserving of the accolades it has received to date. That being said, though, it wasn’t my favorite movie of all time.

I really want to tell u all of the part of this movie . But it will be useless if u know the story then u don't see the movie . For ours sake , I just tell u a summary and a trailer . So u can decide whether this movie is good or not . If u think this movie is good enough , u can download by links given in the end of this article .

I got many lessons from this movie . First , life isn't meaningless as we think . Maybe we get a hard life today , but who knows that our experience today will give us something better ? Second , it told me the meaning of love . Love among brothers and sisters or both couldn't be changed with anything . Just like what Salim do for Jamal's sake . Even it means Salim has to exchange with his death . Third , Money isn't everything . Look what Jamal's feeling when he knows that Talika is safe . He is happier than knowing that he win 20 millions rupee .

~~~~~


SUMMARY :

As the opening , u've to know that this story based on an amazing TV game show which is well known around the world . That's 'Who Wants to Be A Millionaire' show . As if u don't know about this show yet , I'll tell u a bit . This show offers very large cash prizes for correctly answering 15 (or in some countries, 12) consecutive multiple-choice questions of increasing difficulty. The format is owned and licensed by the Japanese production company Sony Pictures Television International. The maximum cash prize (in the original British version) is one million pounds. Most international versions offer a top prize of one million units of the local currency, though the actual value of the prize varies widely, depending on the currency's exchange rate. In the United States the top cash prizes have been changed to annuities.

The programme originated in the United Kingdom, where it is hosted by Chris Tarrant. It is based on a format devised by David Briggs, who, along with Steve Knight and Mike Whitehill, devised a number of the promotional games for Chris Tarrant's breakfast show on Capital FM radio. The original working title for the show was Cash Mountain. When it first aired in the UK on 4 September 1998, it was a surprising twist on the game show genre. Only one contestant plays at a time (similar to some radio quizzes) and the emphasis is on suspense rather than speed. There are no time limit (except for the US and Italian versions) to answer the questions and contestants are given the question before they must decide whether to attempt an answer. There are three lifelines to helps the contestant if they don't know the answer. They can do call-a-friend , fifty-fifty , and ask the audience .

Okey . I think u've got ur mind about Who Wants to Be A Millionaire television show . And I'll begin to tell u the summary of this movie :

The story of Jamal Malik (Patel), an 18 year-old orphan from the slums of Mumbai, who is about to experience the biggest day of his life. With the whole nation watching, he is just one question away from winning a staggering 20 million rupees on India’s “Who Wants To Be A Millionaire?” But when the show breaks for the night, police arrest him on suspicion of cheating; how could a street kid know so much? Desperate to prove his innocence, Jamal tells the story of his life in the slum where he and his brother grew up, of their adventures together on the road, of vicious encounters with local gangs, and of Latika (Pinto), the girl he loved and lost. Each chapter of his story reveals the key to the answer to one of the game show’s questions. Each chapter of Jamal’s increasingly layered story reveals where he learned the answers to the show’s seemingly impossible quizzes. But one question remains a mystery: what is this young man with no apparent desire for riches really doing on the game show? When the new day dawns and Jamal returns to answer the final question, the Inspector and sixty million viewers are about to find out. At the heart of its exuberant storytelling lies the intriguing question of how anyone comes to know the things they know about life and love.

~~~~~~


TRAILER :



~~~~~~


DOWNLOAD LINK :



Labels: ,

In Spite Of

Balbalan adalah seorang wiraniaga makanan yg sungguh luar biasa . Aktivitasnya sehari-hari adalah menjual produk makanan anak-anak dari pintuke pintu [door to door service] .Setiap pagi Alban - demikian Balbalan biasa d panggil- berangkat ke kantornya untuk mengambil barang yg akan d jual menggunakan sepeda motornya yg berjarak kuran glebih 15 km. Hingga suatu saat tiba-tiba motornya d tabrak sebuah truk yg ugal-ugalan d sebuah jalan by pass . Dia pingsan dan kakinya remuk sehingga harus d amputasi . Sejak sadar dan mendengar kakinya d amputasi , dunia terasa gelap dan putus harapan serta cita-cita yg sedah d impikannya selama ini menjadi sales manager d perusahaan tersebut .

Tindakan amputasi merupakan satu-satunya jalan untuk membuat dia lebih sehat dan pulih mengingat kakinya remuk. Bertambah remuk lagi perasaannya ketika ia menandatangani surat pernyataan kesanggupan untuk d amputasi . Operasi pun dilakukan untuk mengangkat kaki kanannya .

Sejak d amputasi dan tinggal sementara d ruang pemulihan , Balbalan betul-betul berubah dan terus menerus menyesali dirinya . Hingga suatu ketika seorang laki-laki d atas kursi roda datang menghampirinya . Kedua kaki laki-laki itu telah d amputasi . Beliau berkata kepada Alaban :

"Hai anak muda , mengapa engkau bersedih dengan hilangnya kaki kananmu ? Mestinya kau bersyukur masih selamat . Banyak orang meninggal dalam kecelakaan by pass tersebut . Sekarang , kau buktikan pada lingkungan sekelilingmu , bahkan teman-teman d kantormu bahwa walaupun kakimu sudah d amputasi , penjualan barang-barangmu tidak menurun . Buktikan mimpimu itu menjadi kenyataan dan kalahkan dirimu sendiri yg selalu ingin dimanjakan dan melakukan pembenaran diri . Selamat berjuang , dan jangan lupa berdoa !" kata laki-laki tersebut seraya berlalu dari ruangan tersebut .

Perkataan laki-laki tersebut sungguh menyentuh dan memotivasi dirinya untuk bangkit , walaupun (In Spite Of) dirinya kini cacat dan tidak memiliki kaki . Dengan seusah payah Balbalan belajar berjalan menggunakankaki palsu dan menerima keadaan diri .

Tiga tahun kemudian , ia bisa mewujudkan mimpinya menjadi sales manager dengan satu kaki . Bukan hanya itu , kariernya bakal menanjak dengan cepat mengingat selalu menjual dengan jumlah yg tinggi dibanding rekan-rekannya yg berfisik normal . Balbalan telah menjadi motivator ulung d perusahaannya . Pengalaman hidupnya sungguh menjaid penguat keyakinan sekaligus motivasi bagi armada pemasarannya . Kata-kata yg selalu d ucapkannya adalah hidup memang keras dan penuh perjuangan , namun jika disikapi dengan kelemahlembutan maka qt akan termotivasi untuk terus menggali sisi baik dari kehidupan ini .

Fulfilling Life


Terlampau sering kita mengeluh . Menjadikan kekurangan kita sebagai tameng untuk membenarkan ketidakmampuan kita untuk survive dan bersaing dengan orang - orang di sekitar kita . Ketika sekolah , kita sering merasa minder jika bukan orang yang pinter , ganteng , atau kaya . Minder saat melihat lingkungan kita terlihat 'lebih' daripada kita . Dan akibatnya jiwa kompetisi kita akan menurun . Karena sudah merasa diri 'kurang' .

Ada alasan yang pernah saya dengar ketika saya masih SMP saat ada teman saya di tanya ,"Kenapa kamu tidak belajar ?" . Jawabnya,"Buat apa susah - susah belajar lha wong ntr hasilnya udah pasti jelek kok ."

Sebuah jawaban yang simpel dan amat sering kita jumpai . Berpikir yang terjelek sebelum mencoba untuk melakukan . Padahal tidak ada salahnya bagi kita untuk mencoba belajar . Toh hasil akhir bukan tujuan . Proses lebih penting daripada hasil bukan ? Bisa saja kita tidak berhasil pada usaha yang pertama , akan tetapi siapa tau pada usaha selanjutnya keberhasilan akan menjadi milik kita ?

Bukan hanya dalam masa sekolah saja kita menjumpai banyak kondisi yang memungkinkan untuk mengeluh . Bahkan ketika sudah memasuki usia dewasa dan kerja , mengeluh akan menjadi kebiasaan kita jika kita tidak pandai memenejnya . Pernahkah kita berpikir bahwa orang - orang di bawah ini adalah orang biasa (bahkan cenderung di sepelekan oleh lingkungan) sebelum mereka melakukan suatu yang fenomenal ?

  • NANCY MATTHEWS EDISON (1810-1871)



  • Suatu hari, seorang bocah berusia 4 tahun, agak tuli dan bodoh di
    sekolah, pulang ke rumahnya membawa secarik kertas dari gurunya.
    ibunya membaca kertas tersebut, " Tommy, anak ibu, sangat bodoh. kami
    minta ibu untuk mengeluarkannya dari sekolah."


    Sang ibu terhenyak membaca surat ini, namun ia segera membuat tekad
    yang teguh, " anak saya Tommy, bukan anak bodoh. saya sendiri yang
    akan mendidik dan mengajar dia."


    Tommy bertumbuh menjadi Thomas Alva Edison, salah satu penemu terbesar
    di dunia. dia hanya bersekolah sekitar 3 bulan, dan secara fisik agak
    tuli, namun itu semua ternyata bukan penghalang untuk terus maju.


    Tak banyak orang mengenal siapa Nancy Mattews, namun bila kita
    mendengar nama Edison, kita langsung tahu bahwa dialah penemu paling
    berpengaruh dalam sejarah. Thomas Alva Edison menjadi seorang penemu
    dengan 1.093 paten penemuan atas namanya. siapa yang sebelumnya
    menyangka bahwa bocah tuli yang bodoh sampai" diminta keluar dari
    sekolah, akhirnya bisa menjadi seorang genius? jawabannya adalah ibunya!


    Ya, Nancy Edison, ibu dari Thomas Alva Edison, tidak menyerah begitu
    saja dengan pendapat pihak sekolah terhadap anaknya. Nancy yang
    memutuskan untuk menjadi guru pribadi bagi pendidikan Edison dirumah,
    telah menjadikan puteranya menjadi orang yang percaya bahwa dirinya
    berarti. Nancy yang memulihkan kepercayaan diri Edison , dan hal itu
    mungkin sangat berat baginya. namun ia tidak sekalipun membiarkan
    keterbatasan membuatnya berhenti.

  • JOANNE KATHLEEN ROWLING



  • Sejak kecil, Rowling memang sudah memiliki kegemaran menulis. bahkan
    di usia 6 tahun, ia sudah mengarang sebuah cerita berjudul Rabbit. ia
    juga memiliki kegemaran tanpa malu" menunjukan karyanya kepada teman"
    dan orangtuanya. kebiasaan ini terus dipelihara hingga ia dewasa. daya
    imajinasi yang tinggi itu pula yang kemudian melambungkan namanya di
    dunia.

    Akan tetapi, dalam kehidupan nyata, Rowling seperti tak henti didera
    masalah. Keadaan yang miskin, yang bahkan membuat ia masuk dalam
    kategori pihak yang berhak memperoleh santunan orang miskin dari
    pemerintah Inggris, itu masih ia alami ketika Rowling menulis seri
    Harry Potter yang pertama. Ditambah dengan perceraian yang ia alami,
    kondisi yang serba sulit itu justru semakin memacu dirinya untuk
    segera menulis dan menuntaskan kisah penyihir cilik bernama Harry
    Potter yang idenya ia dapat saat sedang berada dalam sebuah kereta
    api. Tahun 1995, dengan susah payah, karena tak memiliki uang untuk
    memfotocopy naskahnya, Rowling terpaksa menyalin naskahnya itu dengan
    mengetik ulang menggunakan sebuah mesin ketik manual.

    Naskah yang akhirnya selesai dengan perjuangan susah payah itu tidak
    lantas langsung diterima dan meledak di pasaran. Berbagai penolakan
    dari pihak penerbit harus ia alami terlebih dahulu. Diantaranya,
    adalah karena semula ia mengirim naskah dengan memakai nama aslinya,
    Joanne Rowling. Pandangan meremehkan penulis wanita yang masih kuat
    membelenggu para penerbit dan kalangan perbukuan menyebabkan ia
    menyiasati dengan menyamarkan namanya menjadi JK Rowling. Memakai dua
    huruf konsonan dengan harapan ia akan sama sukses dengan penulis
    cerita anak favoritnya CS Lewis.

    Akhirnya keberhasilan pun tiba. Harry Potter luar biasa meledak
    dipasaran. Semua itu tentu saja adalah hasil dari sikap pantang
    menyerah dan kerja keras yang luar biasa. tak ada kesuksedan yang
    dibayar dengan harga murah.

  • OPRAH WINFREY



  • Bermodal keberanian "Menjadi Diri Sendiri", Oprah menjadi presenter
    paling populer di Amerika dan menjadi wanita selebritis terkaya versi
    majalah Forbes, dengan kekayaan lebih dari US $ 1 Milyar. Copy acara
    "The Oprah Winfrey Show" telah diputar di hampir seluruh penjuru bumi ini.

    TAHUKAH ANDA?

    Lahir di Mississisipi dari pasangan Afro-Amerika dengan nama Oprah
    Gail Winfrey. Ayahnya mantan serdadu yang kemudian menjadi tukang
    cukur, sedang ibunya seorang pembantu rumah tangga. Karena keduanya
    berpisah maka Oprah kecil pun diasuh oleh neneknya di lingkungan yang
    kumuh dan sangat miskin. Luarbiasanya, di usia 3 tahun Oprah telah
    dapat membaca Injil dengan keras.

    "Membaca adalah gerai untuk mengenal dunia" katanya dalam suatu
    wawancaranya.

    Pada usia 9 tahun, Oprah mengalami pelecehan sexual, dia diperkosa
    oleh saudara sepupu ibunya beserta teman-temannya dan terjadi berulang
    kali. Di usia 13 tahun Oprah harus menerima kenyataan hamil dan
    melahirkan, namun bayinya meninggal dua minggu setelah dilahirkan.

    Setelah kejadian itu, Oprah lari ke rumah ayahnya di Nashville .
    Ayahnya mendidik dengan sangat keras dan disiplin tinggi. Dia
    diwajibkan membaca buku dan membuat ringkasannya setiap pekan.
    Walaupun tertekan berat, namun kelak disadari bahwa didikan keras
    inilah yang menjadikannya sebagai wanita yang tegar, percaya diri dan
    berdisiplin tinggi.

    Prestasinya sebagai siswi teladan di SMA membawanya terpilih menjadi
    wakil siswi yang diundang ke Gedung Putih. Beasiswa pun di dapat saat
    memasuki jenjang perguruan tinggi. Oprah pernah memenangkan kontes
    kecantikan, dan saat itulah pertama kali dia menjadi sorotan publik..

    Karirnya dimulai sebagai penyiar radio lokal saat di bangku SMA. Karir
    di dunia TV di bangun diusia 19 tahun. Dia menjadi wanita negro
    pertama dan termuda sebagai pembaca berita stasiun TV lokal tersebut.
    Oprah memulai debut talkshow TVnya dalam acara People Are Talking. Dan
    keputusannya untuk pindah ke Chicago lah yang akhirnya membawa Oprah
    ke puncak karirnya. The Oprah Winfrey Show menjadi acara talkshow
    dengan rating tertinggi berskala nasional yang pernah ada dalam
    sejarah pertelevisian di Amerika. Sungguh luar biasa!

    Latar belakang kehidupannya yang miskin, rawan kejahatan dan
    diskriminatif mengusik hatinya untuk berupaya membantu sesama.
    Tayangan acaranya di telivisi selalu sarat dengan nilai kemanusiaan,
    moralitas dan pendidikan. Oprah sadar, bila dia bisa mengajak seluruh
    pemirsa telivisi, maka bersama, akan mudah mewujudkan segala impiannya
    demi membantu mereka yang tertindas.

    Oprah juga dikenal dengan kedermawanannya. Berbagai yayasan telah
    disantuni, antara lain, rumah sakit dan lembaga riset penderita AIDs,
    berbagai sekolah, penderita ketergantungan, penderita cacat dan banyak
    lagi.

    Dan yang terakhir, pada 2 januari 2007 lalu, Oprah menghadiri peresmian sekolah khusus anak-anak perempuan di kota Henley-on-Klip, di luar Johannesburg, Afrika selatan, yang didirikannya bersama dengan pemirsa acara televisinya. Oprah menyisihkan 20 juta pounsterling ( 1 pons kira2 rp. 17.000,- )atau 340 milyiar rupiah dari kekayaannya. "Dengan memberi pendidikan yang baik bagi anak2 perempuan ini, kita akan memulai mengubah bangsa ini" ujarnya berharap.

    Kisah Oprah Winfrey ialah kisah seorang anak manusia yang tidak mau meratapi nasib. Dia berjuang keras untuk keberhasilan hidupnya, dan dia berhasil. Dia punya mental baja dan mampu mengubah nasib, dari kehidupan nestapa menjadi manusia sukses yang punya karakter.



Dan masih banyak kisah lain yang sejenis dengan yang saya sebutkan di atas . Apa manfaat yang bisa kita ambil ? Selalu ada 1001 alasan untuk menyerah, namun orang - orang yg berhasil adalah orang - orang yg tidak memutuskan untuk menyerah . Dia selalu bisa menemukan sebuah alasan untuk tidak menyerah .


~~~~~~~~~~~~~~~~


Istilah In Spite Of (walaupun) sebenarnya menegaskan bahwa setiap manusia memiliki potensi dan harapan untuk menjadi lebih baik walo dia punya kekurangan yang amat sangat . Istilah ini juga dapat di artikan sebagai upaya untuk membantah kelemahan dalam diri kita dan mengubah cara pandang untuk menjadikan kelemahan sebagai motivator untuk menjadikan diri kita lebih berkembang serta menjadikannya peluang untuk maju .

Jadi masalah sebenarnya bukan pada apa yang kurang melainkan bagaimana cara pandang kita untuk menghadapi kekurangan yang kita miliki sehingga walo kekurangan kita segedhe gunung , kita menganggap itu sebagai lahan untuk di tanami pepohonan biar tidak tandus atau bisa juga di bikin villa di gunung tersebut .

Sebagai ilustrasi , ketika kita dihadapkan pada masalah sebesar Goliath , dengan cara apa kita mengatasinya ? Ada dua pilihan . Menggunakan paradigma ,"Ia terlalu besar untuk dipukul ." atau mengubah paradigma menjadi , "Ia terlalu besar sehingga tidak mungkin terluput !"

Paradigma pertama akan membuat kita ragu untuk melakukan pukulan . Pun ketika kita melakukan solusi untuk mengatasinya , solusi kita cenderung kurang maksimal dikarenakan prediksi kita akan kecilnya kemungkinan untuk menyelesaikan masalah tersebut .

Paradigma kedua akan membuat kita yakin . Sebesar apapun masalah yang kita hadapi , kita akan berhasil menyelesaikannya . Entah pada solusi yang keberapa .

Maka , , jangan jadikan mengeluh sebagai salah satu kepribadian kita . Percayalah , , kita tidak SELEMAH yang kita bayangkan . Ada banyak potensi terpendam dalam diri kita . Sedang sakit ? Jangan jadikan itu sebagai bahan untuk mengeluh . Tapi jadikan pelajaran apa yang bisa kita ambil ketika sakit sedang menyerang kita . Merasa bodoh ? Jangan jadikan sebagai sumber keluhan . Kebodohan dalam satu bidang pada diri kita berarti kepintaran dalam bidang lain . Toh orang pintar tidak selamanya pintar .

===

[+] untuk mbak jovie dan dek ama . sakit tidak selamanya menjadi bencana . Tapi bisa jadi anugerah yang tersembunyi . Keep ur spirit . . ! !

Ikuti tulisan saya via e-mail

Jangan Mempermainkan Allah [Sebuah Nasehat untuk Saya dan Anda]

Manshur bin Amar berkata “Saya mempunyai seorang kawan yang tak henti-hentinya melakukan maksiat.Suatu saat ia bertobat.Saya melihatnya banyak melakukan ibadah dan shalat tahajud.Beberapa hari saya kehilangan dia,ternyata saya mendapat kabar bahwa dia sakit.Saya pergi menjenguknya,sungguh terkejut ketika saya menyaksikan mukanya kelihatan hitam,matanya belalakan,dan bibirnya sangat keras.

Saat berbicara dengannya saya sangat takut,”Kawan,perbanyaklah mengucapkan La Illaha Illallah!” Ia membuka matanya melihat padaku,lalu pingsan. Setelah ia sadar,saya berkata lagi,”kawan perbanyaklah mengucapkan La Illaha Illallah!” Ia membuka mata dan berkata padaku “Mansur saudaraku,Kalimat itu telah terhalang olehku.”

Mendengar kata-katanya saya lantas berkata,”Tidak ada daya dan kekuatan kecuali oleh Allah Yang Maha Luhur & Maha Agung. Dimana sholatmu,puasa,tahajud dan ibadah lainmu itu?” Ia menjawab,” Semua itu saya persembahkan bukan untuk Allah.Saya lakukan berpura-pura supaya disebut orang banyak bahwa saya telah sadar dan termasuk orang yang soleh. Ketika saya sendiri saya kembali melakukan maksiat.Saya masuk kamar,saya kunci,dan saya kembali meneguk minuman keras serta melakukan maksiat yang lain di hadapan Allah.”

“Suatu hari saya tertimpa penyakit bahaya,saya minta putri saya untuk mengambil Al-Quran,kemudian saya berkata,” Ya Allah demi kebenaran Al-Quran yang agung ini,berikanlah kesembuhan untukku dan saya tidak akan melakukan dosa lagi.” Allahpun memberi kesembuhan padaku.Tapi aku kembali melakukan kebiasaanku bermaksiat,aku sepenuhnya sadar hal tsb salah tapi aku melakukannya terus..Setanpun melupakan janji yang telah saya buat dengan Allah. Sayapun meneruskan kebiasaan berdosa,tetap beribadah tetapi tetap melanggar larangannya.

Sampai suatu saat saya menderita sakit yang hampir merenggut nyawa, sayapun kembali mengambil Al-Quran,dan memohon kesembuhan kepada Allah dengan berjanji tidak akan melakukan dosa lagi.Dan Allahpun mengabulkan doa saya,menyembuhkan saya untuk kedua kalinya.Tetapi apa lacur,saya susah meninggalkan kebiasaan saya berbuat dosa. Sampai saya sakit untuk ketiga kalinya. Kali ini sayapun memohon kepada Allah kembali untuk disembuhkan dengan membawa Al-Quran seperti sebelumnya.

Tapi kali ini aneh..ketika saya buka Al-Quran itu,tidak tampak satu hurufpun yang bisa saya baca. Saya tahu mungkin Allah marah pada saya,karena berkali-kali saya berjanji taubat namun tidak saya tepati. Lalu saya mendengar suara dari atas seperti ini:
” Engkau bertobat ketika sakit dan kembali kepada dosa ketika sehat.
Sering sekali kesusahanmu,berkali-kali engkau dijauhkan dari petaka yang menimpamu.
Apakah engkau tidak khawatir kematian datang menemuimu?
Padahal dirimu dalam dosa yang terus engkau lupakan..”

Manshur bin Amar berkata,”Demi Allah tidaklah saya keluar dari rumahnya,melainkan mataku penuh dengan berbagai pelajaran.Belum sampai saya keluar pintu,tiba-tiba saya mendengar ia meninggal.”

Quotes of the Day

Recent Comments

Followers

Shev's bookshelf: read

OutliersKetika Cinta Bertasbih5 cmLaskar PelangiSang PemimpiEdensor

More of Shev's books »
Shev Save's  book recommendations, reviews, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists