Showing posts with label Suka-Suka. Show all posts
Showing posts with label Suka-Suka. Show all posts

Jika

Jika ada satu kata yang sangat akrab diucapkan oleh hampir setiap orang, maka aku yakin kata itu adalah 'JIKA'. Dengan 'jika', kita bisa melepaskan diri dari kenyataan, dan bergelut dengan impian tentang hal yang kita harapkan terjadi. 'Jika', entah itu seorang pemuda yang tegar ataupun seorang gadis yang cengeng, pasti ada suatu saat dimana dia merasa 'jika' adalah hal yang seharusnya dia lakukan. Tetapi tentu saja, kenyataan tidak akan berubah bahkan dengan beratus-ratus 'jika', bukan? Eh, maaf aku salah. Ternyata ada satu 'jika' yang bisa mengubah masa depan. 'Jika' yang diucapkan oleh mereka yang mempunyai pikiran jauh ke depan, atau mungkin mereka yang terlalu banyak pikiran? 'Jika' yang berfungsi sebagai pencegah. Pencegah untuk melakukan suatu keburukan, atau malah sebagai penghalang atas kebaikan yang akan kita lakukan. 'Jika' yang diucapkan oleh pencuri yang akan mencuri sesuatu karena takut akan hukuman yang akan dia terima, tentu adalah sebuah 'jika' yang baik. Sebaliknya, 'jika' yang diucapkan oleh seorang yang kaya yang akan menyumbang sebagian hartanya lalu takut hartanya akan berkurang. Nah, dari berbagai macam 'jika' diatas, aku masih bingung 'jika aku tidak mengenalmu' ini sepantasnya ditaruh mana. Penyesalan? Mengenalmu adalah suatu keberuntungan dalam hidupku, bagaimana aku bisa menyesal? Pencegahan? Well, jika memang menikahimu, yang memang adalah rencanaku, adalah suatu keburukan, maka bisa jadi pikiran itu adalah suatu hal yang baik. Jadi 'jika' yang itu, kira-kira masuk ranah yang mana ya?

Kenapa harus Menyesal?

Once you choose, don't ever regret it.
- Historina Safitri Hakim

Diantara salah satu sifat jelek saya adalah gak mau kalah dengan orang lain. Apalagi ketika saya mempunyai kemampuan untuk mendapatkan hal tersebut, tetapi tidak saya lakukan karena pilihan yang berbeda. Sebagai contoh, ketika masa-masa awal internship, saya pernah merasa 'menyesal' kenapa tidak melamar untuk magang di petronas. Karena dalam bayangan saya saat itu, dan sebagian besar teman saya, bahwa dengan diterima magang di perusahaan ternama, maka untuk mencari kerja bisa jadi lebih mudah. Ternyata kenyataan tidak semanis pengharapan. Beberapa teman saya yang magang di perusahaan besar bercerita kalau ilmu yang mereka dapat tidak sebanyak dengan mereka yang magang di perusahaan kecil. Dan tentu saja, perusahaan kecil disini bukan perusahaan yang skala UKM di Indonesia, melainkan perusahaan yang jaringannya sudah multinasional sekalipun jumlah karyawan tidak seberapa. Akhirnya saya menyadari bahwa saat itu saya sudah membuat pilihan yang tepat.

Apa yang saya rasakan saat awal internship itu, rupanya saya rasakan lagi saat ini, ketika masa job hunting untuk para fresh graduate. Mungkin saya harus belajar untuk lebih bersyukur lagi kali ya. Saya merasakan sedikit rasa iri ketika teman-teman saya bercerita perusahaan tempat mereka akan bekerja dan salary yang akan mereka terima. Rasa iri ini muncul karena jika saya mau, saya yakin insya Allah saya bisa mendapatkan hal yang sama, atau bahkan lebih. Darimana keyakinan itu datang? Pertama, anjuran dari mereka yang sudah diterima di berbagai perusahaan. Mereka berkata kalau mereka saja bisa, maka seharusnya saya pun bisa. Kedua, karena beberapa dari mereka ada yang meminta bantuan saya untuk menyelesaikan soal interview. Dan mereka lolos.

Bermula dari application process yang lumayan ribet, karena saya belum officially graduated, dari situ sempat berulang kali saya berpikir untuk melepas saja tawaran scholarship dan mencari kerja saja sebagai gantinya. Berpikir sendiri ternyata masih bingung, maka saya berdiskusi dengan senior dan kawan. Tapi hasilnya pun sama saja. Saya masih tetap belum mantap untuk melanjutkan studi. Jika bukan karena dorongan dari orangtua saya, maka saya pasti sudah melepas tawaran itu. Hingga akhirnya saya pun pasrah dan melakukan hal yang sama seperti saat saya memilih universitas, meminta petunjuk dari Dia yang Maha Tahu akan Segalanya. Apa yang saya minta simple saja, jika memang melanjutkan studi adalah jalan yang terbaik buat saya, maka saya minta agar dimudahkan jalan menuju kesana dan jika tidak, maka saya minta petunjuk untuk jalan yang terbaik bagi saya. Dan ternyata jalan yang dimudahkan adalah melanjutkan studi. Jadi sudah tidak seharusnya saya mundur saat ini, karena saya yakin inilah jalan saya. Dan jika saya merasa kurang atas apa yang saya dapat saat ini atau yang akan datang, semoga begitu membaca postingan yang ini saya kembali teringat, bahwa tidak seharusnya saya menyesal atas pilihan saya sendiri. Karena ini jalan saya, dan akan saya buktikan bahwa saya tidak akan kalah dengan mereka yang memilih untuk bekerja. Let's see !!

Labels: ,

'I Love You'

oleh: Darwis Tere Liye

Satu pemuda dgn mata berbinar-binar, di bawah temaram lampu kota Jakarta, dengan pemandangan jalanan yg super-macet, akan bilang dengan suara bergetar: "Aku cinta padamu!" Sementara di belahan China sana, di lorong-lorong toko yang ramai, kencan di bawah hiasan lampion dan naga-naga merah, asap mie kuah mengepul, serakan bebek peking, mereka akan bilang: "Wo ai ni". Lain pula satu pemuda bavaria, di dekat sisa tembok Berlin yang sekarang jadi hiasan toilet, menggunakan syal Bayern Muenchen, dia akan berbisik mesra ke pasangannya: "Ich liebe dich…" Sedangkan di India sana, dgn sedikit kerling mata, sedikit aca-aca, diiringi banyak tari dan lagu, mereka akan bilang: "Mein Tumse Pyar Karta Hoon", atau "Tane Prem Karoo Choo" bagi dialek Gujarat. Si cewek mengangguk, bukankah dia juga selama ini sudah "Kuch-kuch hota hai" pula? Bukan main….

Ah, di bawah menara Eiffel yg elok, bermandikan cahaya, lihatlah seorang pemuda Perancis, akan mengatakan dengan gagah kalimat: "Je t’aime"… Konon, katanya bahasa Perancis adalah bahasa yg paling indah, jadi bayangkan betapa super-indahnya pernyataan cinta itu ketika dikatakan. Indah di atas indah… Lain kisah teman Jepang kita yang sedang berduaan sambil menatap gunung Fuji yang juga indah, sakura-san akan bilang: "Kimi o ai shiteru". Dan pasangannya akan mengangguk malu-malu. Besok mereka akan bertamasya ke Menara Tokyo yang terkenal itu. "Ana behibek" kata pemuda Arab sambil tersipu ke pasangannya, maka sang gadis akan menjawab, "Ana behibak". Tak kalah tersipunya. Tp, jgn salah kalimatnya. Ada behibak, ada behibek. Huruf a dan e bisa membedakan arti di gurun pasir sana, kalian bisa disangka suka sesama jenis jika salah pakai….

Kakek-nenek kita dulu yang masih mengalami penjajahan Belanda, pasti pernah mendengar meneer dan nyonye Belande saling bilang: "ik hou van jou"… dan lucunya, kakekku dulu juga suka menirunya, cuek bilang: "ekhopanjo, istriku-" Tak masalah separuh2 begitu, tak masalah salah2 lafal, kan bibirnya tetap bibir inlander pribumi. Yang penting nenek mengerti, dan balas bilang "ekhopanjo juga". Beruntung kita tidak dijajah bangsa Hongaria atau Kazakhastan, kan susah banget nulis kalimat cinta mereka: "Szeretlek te’ged", "Men seny jaksy kuremyn"…. puh, apalagi pas bilangnya, tambah syusah, kebanyakan huruf konsonannya… tapi meski susah banget bagi lidah kita, nih kalimat mungkin sudah setengah mati ditunggu seorang gadis yang selalu menatap penuh harap seorang pemuda yang selalu berjalan lambat di gang depan rumahnya di kota Budapest yang eksotis itu… Oh, katakanlah "Szeret-zeret tadi padaku…."

"Mahal kita" kata orang Filipina, "Ya lyublyu tebya" kata orang Rusia, "Tora dust daram" seru orang Persia, "Ti amo" kata orang Italia, dan seterusnya dan seterusnya… Begitu banyak versi kalimat I Love You di belahan dunia. Saking banyaknya, tak terhitung… Karena bahasa-bahasa setempat juga punya versi sendiri. Di Indonesia saja ada lebih 300 bahasa lokal, maka akan ada 300 pula versi kalimat "Aku cinta padamu?" Di Sumedang, Banten sana, Padang, Pulau Enggano, Pelosok Papua, Sulawesi, pedalaman Kalimantan, dan entahlah…

Teman, pernahkah ada yang berpikir bagaimana manusia mengungkapkan "I Love You" pada jaman pra-sejarah? Saat bahasa belum ada? Saat manusia masih ber "a-a-a, u-u-u, a-a-a-a"… masih mengejar2 dan dikejar2 dinosaurus? Kan mereka belum punya kalimat sama sekali, jangankan "I Love You", mau bilang makan saja susah, "a-a-a-a… i-i-i…" Menurut temanku, yang amatiran soal antropologi dan sejarah manusia, katanya mereka menyampaikan rasa cintanya dengan pentungan batu. Benaran. Pakai pentungan batu. Jdut! Sang cowok akan memukul kepala cewek idamannya, terus berteriak-teriak…."i-i-i…u-u-u…" Nah, loh! Celakanya lagi, katanya semakin dalam cintanya, maka semakin keras sang cowok akan menggunakan pentungan batu yang sehari-hari buat melempar gajah purba tersebut. Si cewek mati karena digebuk? Ah, mana ada "kalimat cinta" membuat mati seseorang. Semaput sih iya. Si cewek cuma pingsan dikit, lantas akan siuman, kemudian tentu saja akan membalas memukul tak kalah kerasnya, "i-i-i…u-u-u…." Aku cinta kamu juga. BANGET LOH".

Teman, pernahkah kalian juga berpikir bagaimana pula dengan pasangan yang cacat, kurang beruntung? Pasangan yang buta dan tuli misalnya? Bagaimana mereka akan bilang cinta? Melihat tak bisa, mendengar juga tak bisa… Ah, Tuhan selalu punya skenario hebat untuk urusan ini… Aku pernah terkesima menyaksikan sepasang buta yang naik kendaraan umum. Mereka saling berpegangan tangan sejak memasuki pintu kereta. Mesra nian. Meski umur mereka berbilang lima puluhan. Yang laki dengan gentle membimbing yang wanita menuju kursi memakai tongkat-nya (meski sebenarnya penumpang lain yang membantu mereka menyibak padatnya kereta). Lantas mereka duduk bersisian. Yang wanita lantas meraba2 sakunya, mengambil dua butir permen. Membukakan satu untuk pasangannya, satu untuk dirinya sendiri. Mereka buta, jadi amat menyentuh hati melihat kemesraan dua butir permen Hexos itu. Butuh dua menit untuk membuka dua permen itu… Aku menghela nafas panjang… Bagi mereka, sungguh kecantikan wajah tak ada gunanya, ketampanan pasangan tidak penting… Cara tangan mereka meraba2, menyentuh lengan kekar pasangannya sudah bilang sejuta cinta… Dan aku mendadak jengah! Malu. Ya Tuhan, bandingkan cinta mereka dengan cinta yang kupahami dan kuinginkan… Sungguh mereka mengajarkan makna cinta yang sesungguhnya….

Teman, kita punya banyak cara menyampaikan cinta kita. Punya banyak kalimat. Bahasa. Tapi sadarilah, cara terbaik untuk menyampaikan cinta adalah dengan perlakuan. Dengan perbuatan. Dengan pengorbanan yang tulus. Tidak peduli apakah seseorang itu akan membalas cinta kita atau tidak. Tidak peduli apakah perlu kalimat itu diucapkan atau tidak… Ucapkanlah dengan memberi tanpa mengharap, memberi tanpa mengambil, itulah simbolisasi cinta yang paling indah…

Makanya tak perlu heran jika menemukan sepasang kekasih, berumur 90 tahun. Sudah menikah 70 tahun. Memiliki anak 12, cucu 30, cicit 67. Tinggal sederhana di kaki Gunung Kerinci. Kemarin lusa sang istri tercinta pergi… Dan saat sang suami yang tua menatap sedih butir demi butir tanah dimasukkan menutupi jasad istrinya, meski menangis, dia tersenyum rela… Sadahal sempurna. Dia sempurna tidak pernah bilang "Aku cinta padamu" kepada almarhum istrinya. Tidak pernah selama 70 tahun kebersamaan mereka. Karena kalimat itu selalu kelu saat akan diucapkan. Selalu tersumbat saat akan dikatakan… Tapi almarhum istrinya tahu persis, suaminya amat mencintainya… karena kalimat itu terukir indah bersama hari-hari mereka yang hebat… 25.500 hari… hari2 suka-cita, hari2 pertengkaran, hingga hari2 kepergian…

Depok, 11 April 2007

[+] Cinta bukan sekadar kata, eh ?

Untitled Again

People become attached to their burdens sometimes more than the burdens are attached to them. George Bernard Shaw

Mendekati sidang skripsi hari selasa depan, saya sedikit banyak deg-degan juga. Setelah melihat beberapa sidang senior dan kawan, saya jadi berpikir bagaimana dengan sidang saya. Rata-rata dari mereka memang tidak mendapatkan masalah yang berarti. It's either they had the project done perfectly or the panels were too kind to ask something difficult. Panel saya memang boleh terbilang baik, kata senior juga sih. Tapi gimana-gimana saya tetap khawatir kalau beliau tanya hal-hal yang diluar prediksi. Masih untung kalau pertanyaan itu bakalan teoritis. Lha kalau yang menyangkut bagian yang tidak di implementasikan di sistem gimana ? Walhasil saya jadi pikir-pikir lagi apa yang kurang dari sistem saya. Dan semakin dipikir semakin banyak lagi kurangnya yang keliatan. Memang om Bernard bener banget, saya terlalu terikat dengan beban saya. Padahal supervisor sudah fine-fine aja tuh sama sistemnya. Dan mereka yang under same supervision juga ndak ada nambahin yang macem-macem. Nah kalau mau tau, ini nih yang dinamakan dengan 'MEMBUAT MUDAH YANG SUSAH'.

Labels: ,

Indonesia Mengajar

Setaun Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi

Registrasi untuk Indonesia Mengajar II sudah dibuka di website resmi mereka. Tertarik sih, tapi apa mau dikata, saya belum lulus S1 sedangkan syarat utamanya adalah minimal S1. Dan dengan terpaksa saya menunggu gelombang berikutnya. Semoga saya bisa ikut berpartisipasi di program ini.

Open Sesame

dear child,

never look back with regret, of something you cannot undo

never live present with worries, of something that might not happen afterall

never face future with fears, we know not what lies ahead

it might be good, and not bad

never look down to people because one day you might have to look them up

never look up too much or you will get disappointed

never too kind, or you might be wronged

never too evil, or punishment awaits

never too patient, or you will wait forever

never too rush or you will stumble

never too bitter or you will miss sweetness

never too sweet or you will be boring

never too submissive or you will be pressured

never too stubborn or you might crack

never too hard or you will crush things

never too soft or you will be crushed instead

never too reluctant or you will be lazy

never too eager or you will be overwhelmed

never regret something bad, or something sad

because a burst of tears, might just be your open sesame to your box of happiness
warmest love,

mother life



source : here

Untitled II

I read back some articles in this blog and I realized that I rarely wrote articles related to IT stuffs. I was aware since along time ago though. The reason I did not write about either my subjects or IT issues was just simply I considered myself not suitable yet to write those kind of stuffs. I was afraid what I was gonna write was wrong yet people who read that think that it is true. But being a final year student, it means that I have to apply, or share, my knowledge in regard to technology. There is no such reason like does not have necessary information to pass on. From now on, I plan to write random articles about IT. It may be what I get from subjects I took or my opinion in regard to current issues of IT world. But still, economic, politic, and worldwide issues are more interesting. Maybe I should apply to economic or politic faculty instead of IT faculty ! *laughing*


------

[+] now reading : Everything You Know about English is Wrong
[+] now playing : D' Cinnamons - Semua yang Ada

Untitled

jika ia sebuah cinta..... ia tidak mendengar... namun senantiasa bergetar....

jika ia sebuah cinta..... ia tidak buta.. namun senantiasa melihat dan merasa..

jika ia sebuah cinta..... ia tidak menyiksa.. namun senantiasa menguji..

jika ia sebuah cinta..... ia tidak memaksa.. namun senantiasa berusaha..

jika ia sebuah cinta..... ia tidak cantik.. namun senantiasa menarik..

jika ia sebuah cinta..... ia tidak datang dengan kata-kata.. namun senantiasa menghampiri dengan hati..

jika ia sebuah cinta..... ia tidak terucap dengan kata.. namun senantiasa hadir dengan sinar mata..

jika ia sebuah cinta..... ia tidak hanya berjanji.. namun senantiasa mencoba menenangi..

jika ia sebuah cinta..... ia mungkin tidak suci.. namun senantiasa tulus..

jika ia sebuah cinta..... ia tidak hadir karena permintaan.. namun hadir karena kesadaran...

jika ia sebuah cinta..... ia tidak hadir dengan kekayaan dan kebendaan... namun hadir karena pengorbanan dan kesetiaan..

taken from here

Kening Hitam

Kening Hitam


Penulis : Zaenal Radar T.



Kau tentu pernah bertemu dengan lelaki berkening hitam. Hitam tidak secara keseluruhan, melainkan hanya pada bagian kening tengah atas di antara dua alis, persis dibawah ujung rambut bagian depan. Tepatnya, bagian kening yang digunakan untuk mencium sajadah setiap kali solat.

Apa yang kau pikirkan ketika melihat lelaki berkening hitam seperti itu ? Tentu kau akan berkesimpulan, bahwa lelaki tersebut adalah lelaki yang alim, lelaki yang rajin mencium sajadah, lelaki yang tak pernah meninggalkan solat lima waktu, lelaki yang rajin bangun malam-malam untuk tahajud dikala orang lain molor di tempat tidur.

Lelaki berkening hitam tidak hanya ditemukan di masjid-masjid. Kau bisa menemukan di kampus, di kantor, pasar tradisional, kantor pos, bahkan mungkin di mal-mal. Bisa jadi dia seorang dosen, kyai, mahasiswa, pedagang, sopir angkutan kota, atau profesi lainnya.

Dan tahukah kau, malam ini, Markum, seorang pelajar berotak pas-pasan sebuah SMA swasta di Jakarta, saat ini tengah memikirkan keningnya yang tidak hitam. Markum bingung luar biasa. Bukan apa-apa, belakangan ini dia tak pernah meninggalkan solat lima waktu. Dia selalu mengerjakan solat sunat, baik sunat bakdiah maupun sunat qobliah. Bahkan, setiap kali solat, Markum sengaja menekan-nekan bagian ujung keningnya supaya bisa hitam. Namun, tetap saja tidak pernah menjadi hitam.

Kau tentu paham maksudnya. Markum ingin sekali punya kening hitam, seperti kening lelaki berkening hitam yang ia temukan di berbagai tempat. Keinginan punya kening hitam ini bermula ketika ia bertemu dengan seorang gadis bernama Elliza. Elliza adalah gadis cantik berkerudung, putri tunggal seorang guru agama di sekolahnya. Hanya saja, Elliza bersekolah di ibtidaiyah.

Pertemuan Markum dengan Elliza terjadi secara tidak sengaja. Waktu itu Markum mengantar Pak Habiburahman Saerozi, guru pendidikan agama Islam lulusan Mesir yang tak lain wali kelasnya, pulang dari mengajar. Pak Habib menyuruh Markum mampir sebentar untuk minum.

Markum, dengan senang menuruti kemauan Pak Habib yang baik hati. Saat itulah Markum melihat Elliza, yang membawa minuman untuknya. Pak Habib pun memperkenalkan Markum pada putrinya itu, dan juga keponakan laki-lakinya, serta istrinya. Istri Pak Habib perempuan Mesir. Berwajah Arab dengan hidungnya yang mancung. Wajah Elliza mirip sekali dengan ibunya.

Saat bertemu itulah Markum merasa tertarik ingin menjadikan Elliza seorang teman dekat. Tetapi tentu tidak mudah mewujudkan keinginannya itu. Markum pun melakukan berbagai usaha. Di antaranya adalah, menjadi cowok yang alim. Cowok yang tekun ibadah.

Kau tentu sulit membedakan, siapakah di antara anak-anak lelaki yang rajin ibadah atau tidak? Dan Markum berkesimpulan, bahwa lelaki yang bisa disebut alim adalah lelaki yang rajin solat. Lalu, bisakah orang lain menentukan apakah seorang cowok seperti dirinya rajin solat atau tidak. Hmmm… lihat saja keningnya!

Markum selalu membayangkan seandainya keningnya bisa menjadi hitam, seperti seoarang lelaki yang rajin solat. Pak Habib, guru agamanya yang sangat baik hati itu, keningnya hitam. Keponakan laki-laki Pak Habib, keningnya juga agak hitam. Kenapa kening Markum tidak bisa hitam?

Selain berkening hitam, masih menurut Markum, lelaki yang bisa dicirikan sebagai orang alim, adalah lelaki yang berjenggot. Tetapi janggut Markum tak tumbuh jenggot. Licin. Seperti kepala profesor yang botak. Seandainya jenggotnya lebat, ditambah lagi keningnya menghitam, oh… Markum pasti akan senang sekali. Sayang beribu-ribu sayang, semua itu hanya mimpi.

Untuk mewujudkan keinginannya, Markum pun berencana melakukan berbagai cara. Salah satunya, setiap malam, Markum akan menempelkan jidatnya di lantai, dengan kedua kaki berada di posisi atas, menempel di tembok. Namun untuk melakukannya tidak semudah yang dibayangkan. Masalahnya, orang-orang rumah selalu iseng bertanya padanya, mengapa ia melakukan hal itu.

”Bang Markum, Abang lagi ngapain?” tanya salah satu adiknya, ketika Markum mulai menempelkan keningnya di lantai, dengan posisi kedua kaki menempel di dinding.

Markum pun menjawab, bahwa ia sedang olahraga senam.

”Senam apa?!!”

Senam apa? Markum jadi bingung. Tapi Markum tidak hilang akal, ”Ini namanya senam keseimbangan!” jawabnya kemudian. Adiknya yang bertanya mengangguk-angguk. Di kemudian hari, setiap kali Markum melakukan hal yang sama, yakni ’senam keseimbangan’ itu, adiknya latah ikut-ikutan.

Setelah kurang lebih dua minggu melakukan kegiatan seperti itu, tidak disangka-sangka, kening adiknya menjadi hitam! Boleh jadi, kening itu sering menempel di lantai, menjadi tumpuan beban tubuhnya yang berada di atas saat melakukan gerakan senam asal-asalan itu.

Meskipun begitu, tidak bagi Markum. Kening Markum ya tetap begitu-begitu saja. Tidak hitam sama sekali seperti kening adiknya. Mengetahui keningnya menjadi hitam, adiknya menjadi marah pada Markum.

”Bang, ini kening Markam kok jadi item?” protes Markam, adiknya Markum.

”Salah kamu sendiri! Kenapa ikut-ikutan senam itu?”

”Wah, gimana dong, Bang? Markam jadi malu nih…”

”Biarkan saja. Nanti juga hilang sendiri!”

Benar saja, setelah tidak lagi melakukan senam itu, kening Markam tidak jadi hitam. Tapi aneh bagi Markum, meskipun masih melanjutkan gerakan-gerakan senam itu keningnya masih juga belum hitam.

Suatu malam, saat tengah sendirian di kamarnya, Markum pun menatap keningnya di cermin, sambil tangannya memegang pisau dapur. Apakah yang hendak Markum lakukan??!

”Kenapa keningku masih tetap nggak bisa hitam?” tanya Markum pada dirinya sendiri.

Markum meraba-raba ujung keningnya itu, membayangkan seandainya bisa menjadi hitam. Lalu ia tatap pisau di tangan kanannya, dan menempelkannya di kening. Rupanya, Markum berniat untuk melukai keningnya dengan pisau, agar menjadi luka. Dengan begitu, kemungkinan kening menjadi hitam bisa terwujud dari luka keningnya nanti. Demikian pikir Markum.

Belum sempat melukai keningnya, Ibunya membuka pintu kamarnya yang tidak terkunci, membuat Markum terkejut.

”Markum! Kamu lagi ngapain?”

”Eee… eee….” Markum gugup. Ibunya menatap pisau dapur di tangan Markum dengan tatapan menyelidik.

”Bu, Markum lagi mencukur jenggot…” ucap Markum kemudian, sambil mengarahkan bagian pisau yang tajam ke dagunya. Ibunya bertambah bingung.

”Cukur jenggot? Memangnya kamu punya jenggot?!”

”Baru mulai tumbuh, Bu.”

”Kalau kamu mau mencukur jenggot, kenapa nggak pakai cukur jenggot Ayah?”

Markum terdiam, lalu menurunkan pisaunya.

”Tunggu sebentar ya, akan Ibu ambilkan.”

Ibu Markum keluar. Tak lama kemudian ibu Markum sudah kembali sambil memberikan alat cukur pada Markum. Setelah itu ibu Markum keluar lagi. Markum memegangi alat cukur jenggot itu, lalu menatap wajahnya di cermin sambil menempelkan cukur jenggot ke dagunya. Apa yang akan ia cukur, sementara dagunya tak tumbuh jenggot?

Pekan berikutnya, ketika keningnya masih belum bisa jadi hitam, Markum mendapat undangan dari Pak Habib. Pak Habib mengundang Markum berkenaan perpisahan Pak Habib yang sudah tidak lagi mengajar di sekolah Markum. Pak Habib pindah mengajar di sekolah lain.

Ini merupakan kesempatan emas buat Markum. Markum merasa menjadi sangat terhormat. Markum tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Sebelum berangkat ke rumah Pak Habib, Markum mempersiapkan dirinya sebaik mungkin. Pikir Markum, di rumah Pak Habib nanti, Markum tidak hanya bertemu dengan Pak Habib saja. Ada istrinya, sepupunya, dan tentu saja putrinya yang cantik, Elliza!

Markum berpikir keras bagaimana ia bisa mempersiapkan diri sebaik mungkin. Aha! Markum punya akal. Markum yakin usahanya kali ini tidak akan gagal, yakni bagaimana membuat keningnya menjadi hitam. Kening seorang laki-laki alim. Markum meraih spidol di meja belajarnya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Markum memoles keningnya dengan spidol itu. Hitam!!

Kini kening Markum benar-benar hitam, layaknya kening laki-laki yang rajin solat! Dengan bangga, Markum pun segera berangkat ke rumah Pak Habib. Tak peduli orang-orang di rumah pada keheranan, Markum dengan percaya diri siap menghadapi undangan Pak Habib dan keluarganya.

Di rumah Pak Habib, Markum disambut dengan ramah. Menurut Markum, keluarga Pak Habib tidak bersikap aneh seperti orang-orang di rumahnya, soal keningnya yang hitam. Markum duduk di dekat Pak Habib, di antara sepupu Pak Habib, istrinya, dan Elliza. Mereka bercakap-cakap seputar kehidupan dan kegiatan masing-masing.

“Keluarga Pak Habib sekarang sudah tahu, bila keningku ini hitam,” ucap Markum dalam hati, ketika tengah bersama-sama keluarga Pak Habib.

Betapa bangganya Markum, memperlihatkan keningnya yang hitam di depan Pak Habib sekeluarga. Pasti Pak Habib dan keluarga sekarang tahu, bahwa dirinya lelaki yang alim, karena berkening hitam.

Menjelang maghrib, sebelum makan malam, Pak Habib mengajak semua orang untuk solat maghrib. Dengan semangat empat lima, Markum bangkit dan segera mengambil air wudlu. Ini pertama kalinya bagi Markum, solat berjamaah dengan keluarga Pak Habib.

Saat selesai mengambil wudlu, Markum merasakan sesuatu yang aneh. Air di lantai kamar mandi menjadi hitam. Markum mendapati telapak tangannya juga hitam. Markum menatap wajahnya di cermin kamar mandi, dan keningnya yang tadi hitam perlahan luntur. Markum mengusap keningnya. Tidak lagi hitam!

Markum pusing, karena saat itu ia tidak akan mampu mengembalikan hitam di keningnya. Markum kebingungan. Bila kau menjadi Markum, tentu kau juga akan bingung. Tapi aku yakin, kau tentu tak akan bertindak sebodoh Markum.

Dan tahukah kau, siapakah Markum sesungguhnya? Markum tak lain adalah aku!

Mengingat kejadian itu, aku suka tersenyum sendiri. Aku tidak mau menceritakan bagaimana sikap Pak Habib dan keluarganya waktu itu, setelah melihat aku tak lagi berkening hitam. Aku malu menceritakannya.

Kau tak perlu risau, sekarang aku sadar. Aku tak harus berkening hitam. Tetapi aku semakin rajin solat. Hanya Tuhan yang tahu. Tanpa ada tanda-tanda pada diriku, atau terlihat oleh manusia lainnya, bahwa aku lelaki yang sering mencium sajadah, baik siang maupun tengah malam.

Pamulang Barat, Banten, 22 Maret 2006.





Diambil dari Majalah Annida, No. 12/XV/15 Agustus – 15 September 2006.

Sekarang aku tau, hal yang paling bikin bete buat seorang penulis itu saat banyak yang mau ditulis tapi tidak bisa menuliskan hal-hal tersebut. Ya sama seperti apa yang akhir-akhir ini aku alami. I got many ideas in my head yet I won't be able to write it down. Not that I didn't want to, it's just when I want to write those stuffs, I had other things to do as well. Akibatnya ya gak ada update sejak akhir september lalu. Padahal ada banyak hal yang menarik buat dibahas. Mulai dari pengalaman idul fitri bareng verde (he taught me lessons), SBI yang menuai protes, and so on. Tapi tadi ada hal menarik yang bikin aku posting juga. It is the article above. I copied it from someone's note in facebook. I dont know her though.

Back to the article, kening hitam memang salah satu tolak ukur yang umum digunakan oleh orang dalam menilai tingkat keimanan. Banyak yang beranggapan kalau dengan kening hitam, maka itu berarti dia rajin tahajud, sholat 5 waktu gak pernah bolong, puasa, alim, dsb. It makes sense and it happened to me. Sewaktu di high school, secara 'tidak sengaja' keningku menghitam. Well, itu berakibat banyak orang yang menganggapku terlalu tinggi (read: alim). To be honest, aku gak sealim itu. Okelah klo dalam masalah sholat 5 waktu gak pernah bolong. Tapi dalam hal lain? Tahajud aja masih males-malesan. Ngaji masih jarang. Pada saat itulah aku mulai berpikir bahwa kening hitam itu burden. Tentu saja, burden bagi mereka yang merasa dengan adanya hal itu akan mengganggu keikhlasan mereka beribadah. For me, aku lebih memilih tidak diketahui oleh orang lain apakah aku rajin ibadah atau tidak. Karena aku tau, bagiku hal itu bisa mengganggu niat dan tujuan dari ibadah itu sendiri. Biarlah hanya Allah saja yang tau tentang kedekatan aku dan Dia.


*teringat dengan salah seorang teman semasa junior high school yang begitu ngebet ingin punya dahi hitam. sama seperti di artikel di atas, dia menggunakan cara-cara konyol hanya untuk menghitamkan dahi. well, remember him during that time, I am smiling.

Labels: ,

The Buzzard, The Bat, and The Bumblebee

If you put a buzzard in a pen six or eight feet square and entirely open at the top, the bird, in spite of his ability to fly, will be an absolute prisoner. The reason is that a buzzard always begins a flight from the ground with a run of ten or twelve feet. Without space to run, as is his habit, he will not even attempt to fly, but will remain a prisoner for life in a small jail with no top.

The ordinary bat that flies around at night, a remarkable nimble creature in the air, cannot take off from a level place. If it is placed on the floor or flat ground, all it can do is shuffle about helplessly and, no doubt, painfully, until it reaches some slight elevation from which it can throw itself into the air. Then, at once, it takes off like a flash.

A Bumblebee if dropped into an open tumbler will be there until it dies, unless it is taken out. It never sees the means of escape at the top, but persists in trying to find some way out through the sides near the bottom. It will seek a way where none exists, until it completely destroys itself.

In many ways, there are lots of people like the buzzard, the bat and the bee. They are struggling about with all their problems and frustrations, not realizing that the answer is right there above them.

Small Things Matter

Ucapan ulang tahun mungkin suatu hal yang simpel. Dan itu bukanlah hal yang penting untuk dilakukan, setidaknya bagi saya. Akan tetapi ternyata hal yang simpel seperti itu, bagi beberapa orang bisa jadi dianggap sebagai hal yang penting. Bukan ucapannya yang penting, maknanyalah yang lebih penting. Saya sedang tidak ingin berdebat dari segi agama apakah mengucapkan dan merayakan ulang tahun itu patut untuk dirayakan. Hal yang ingin saya tekankan adalah, ketika kita mengucapkan doa bagi teman yang berulang tahun, setidaknya dia tau bahwa masih ada orang yang memperhatikan bahkan terhadap hal kecil seperti tanggal ulang tahun. Dan itu akan lebih terasa ketika diucapkan oleh seorang sahabat. Well, for me, it isn't a big deal. Mau inget ulang tahun saya ato tidak, saya tidak terlalu mempermasalahkan. Toh tidak berarti persahabatan putus hanya gara-gara hal itu. Tapi karena saya hidup di dunia dimana orang berbeda-beda dan tidak semua berpikir seperti saya, maka saya akan sedikit meluangkan space memory di otak saya untuk mengingat hari ulang tahun orang-orang yang saya anggap penting. Setidaknya mereka akan merasa bahwa di luar sana masih ada orang-orang yang perhatian tentang hidup mereka. Lalu bagaimana dengan Anda?

Labels: ,

Mencintai dalam Diam

Bila belum siap melangkah lebih jauh dengan seseorang, cukup cintai ia dalam diam ...
karena diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya ...
kau ingin memuliakan dia, dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang, kau tak mau merusak kesucian dan penjagaan hatinya..

karena diammu memuliakan kesucian diri dan hatimu.. menghindarkan dirimu dari hal-hal yang akan merusak izzah dan iffahmu ..

karena diammu bukti kesetiaanmu padanya ..
karena mungkin saja orang yang kau cinta adalah juga orang yang telah ALLAH swt. pilihkan untukmu ...

ingatkah kalian tentang kisah Fathimah Az-Zahra dan 'Ali bin Abi Thalib kw?
yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan ...
tapi pada akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan suci nan indah

karena dalam diammu tersimpan kekuatan ... kekuatan harapan ...
hingga mungkin saja Allah akan membuat harapan itu menjadi nyata hingga cintamu yang diam itu dapat berbicara dalam kehidupan nyata ...
bukankah Allah tak akan pernah memutuskan harapan hamba yang berharap pada-Nya?

dan jika memang 'cinta dalam diammu' itu tak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata,
biarkan ia tetap diam ...

jika dia memang bukan milikmu, toh Allah, melalui waktu akan menghapus 'cinta dalam diammu' itu dengan memberi rasa yang lebih indah dan orang yang tepat ...

biarkan 'cinta dalam diammu' itu menjadi memori tersendiri dan sudut hatimu menjadi rahasia antara kau dengan Sang Pemilik hatimu ...

taken from here

Congratulation

I don't know to say. When I was told that an acquaintance of mine got 3rd place in Imagine Cup, I was speechless. It's not that I wasn't happy. I was and am happy ! I am proud of them. They could make something to get other countries know about Indonesia. At the same time, I still do nothing. However, do I have to regret of what I didn't do ? Deep in my heart, yes I do. But it won't make any change. In the end, I'd like to do what I was going to do. I want to congratulate them.


YOU ALL ARE THE BEST, LIFE !



====

An oath : Someday I will surpass them.

Labels:

Music of The Month

I opened my rhytmbox, then it shuffled to this song. This song inspired me when I was down. To always believe that in the end of the day, I could be one of the brightest star.

Labels: , ,

Untitled

I wouldn't say:

DEAR GOD, I HAVE GREAT PROBLEMS


instead I would say:

DEAR PROBLEMS, I HAVE A MIGHTY GOD


The (true) believers are those only who believe in Allah and His messenger and afterward doubt not, but strive with their wealth and their lives for the cause of Allah. Such are the sincere. --QS.49:15

Labels: ,

Hilangnya Etika di Public Sphere

Ketika saya masih duduk di Sekolah Dasar, ada beberapa hal yang sering di ucapkan oleh guru PPKn saya mengenai ciri-ciri masyarakat indonesia. Salah satunya adalah sifat santun sebagai salah satu ciri masyarakat Indonesia. Lalu setelah itu guru saya pun akan menjelaskan mengapa kesantunan bisa menjadi salah satu ciri dari bangsa Indonesia beserta contohnya.

Saat itu saya menganggap hal itu benar adanya. Karena selain merujuk pada realita di lingkungan sekitar saya, kesopanan dan kesantunan masih dijunjung tinggi. Menghina guru adalah tindakan yang tabu. Mencemooh kawan sendiri akan berakibat pada pengucilan, apalagi pada orang lain yang tidak kita kenal sebelumnya. Ada semacam barrier yang menghalangi kita untuk berperilaku di luar batas-batas sosial yang sudah ada.

But thanks to recent technology, hal-hal semacam itu yang dahulu dianggap melanggar norma dan etika yang berlaku, sekarang menjadi suatu hal yang lumrah. Psychological barrier yang sebelumnya menjadi dinding pembatas antara kita dengan orang yang tidak kita kenal sehingga mendorong kita untuk bersikap sopan, menjadi hilang ketika sudah berhadapan dengan dunia social networking seperti Facebook, Twitter, Plurk, Google Buzz. Dengan register sebuah account, kita sudah bisa menjadi siapa saja. Maka jangan heran ketika anak SMP berani menghina gurunya. Bahkan seorang siswa sekarang tidak segan-segan mengancam akan membunuh kepala sekolahnya melalui jaringan youtube. Saling menghina dan mengejek menjadi hal yang biasa saja. Tak perlu alasan yang jelas untuk menyudutkan seseorang. Hanya dibutuhkan sentimen pribadi dan sedikit waktu untuk berpikir hinaan mana yang kira-kira paling kasar.

Ketika kesopanan yang seharusnya kita terapkan sekalipun dalam dunia maya sudah terlanggar, maka sebagus apapun isi dan penyampaian akan dianggap sebagai angin lalu. Salah satu contoh yang paling membuat saya trenyuh adalah fenomena di kaskus. Memang saya mendapat banyak info berguna melalui forum tersebut. Akan tetapi dalam beberapa hal seperti perseteruan antara indonesia - malaysia, sedikit kritikan kepada rakyat indonesia akan disambut dengan ejekan. Penyebutan kata binatang dan kata-kata yang tidak pantas berulang-ulang diucapkan. Entah oleh orang yang sama dengan username yang berbeda, atau memang berbeda orang dalam setiap username, who knows. Bagaimana ketika yang mengkritik itu sesama orang Indonesia ? Jangan harap akan dibalas dengan santun, tidak dicap sebagai pengkhianat aja sudah termasuk keberuntungan. Untuk tulisan berbobot sekalipun, tetap saja di jadikan bahan ejekan, walau ejekan itu out of context dari isi artikel itu sendiri.

Setiap kali membaca kata cemoohan yang dilontarkan di forum ketika menanggapi artikel tertentu terutama yang berkaitan dengan indonesia, membuat saya tersenyum sendiri. Ternyata demokrasi yang selama ini kita agung-agungkan, tidak terwujud dalam pengaplikasian. Jika memang konsisten dalam demokrasi (bagi para pejuang demokrasi), seharusnya setiap kritikan diterima dengan lapang dada. Karena yang mengkritik sekalipun sama-sama mempunyai hak yang sama dalam demokrasi. Dan ini harus diterapkan sekalipun di Internet. Bukan karena tidak ada lagi psychological barrier lalu kita bisa menghina orang yang tidak sependapat dengan kita. Jika memang tidak setuju atas point-point yang disebutkan dalam artikel, beri argumen. Bisa jadi kita yang salah atau author yang salah. Atau bisa jadi dua-duanya salah. Dan kesalahan itu bisa diketahui ketika kedua belah pihak mengungkapkan apa yang menjadi dasar pemikirannya. Maka ketika hinaan, ancaman, cemoohan lebih diutamakan daripada beradu argumen secara sehat, tidak akan ada ilmu yang didapat. I'm sure of it.

Well, social networking bisa jadi peluang yang luar biasa untuk menjalin hubungan dengan orang lain, tapi tidak berarti nilai kesopanan akan kita tinggalkan begitu saja. Mengutip apa yang disampaikan oleh Alfito Deannova di artikelnya:

Manusia akan bisa begitu berbeda di dunia maya. Mereka yang sesungguhnya minderan, introvert, kikuk di dunia nyata, bisa begitu artikulatif, luwes dan supel dalam pergaulan di negeri cyber. Mereka yang tadinya tak punya keberanian menyampaikan protes, dapat meledak – ledak dan menjadi begitu militan dalam menyampaikan ide. Tentu selalu ada dampak positif dan negatifnya. Tetapi lagi – lagi akomodasinya atas aspirasi begitu besar. Anda yang tadinya tidak akan didengar jika berbicara di alam nyata, bahkan bisa menjadi ‘nabi baru’ yang mencerahkan buat para follower anda, sekalipun sesungguhnya anda adalah no one. Begitu berkhasiatnya wahana komunikasi baru ini, tak jarang bahkan membuat kita melakukan pengabaian atas komunikasi konvensional. Kita lebih asyik berbicara dalam senyap melalui internet, ketimbang beradu bunyi dengan orang – orang disekeliling kita.

Jika selama ini, media massa konvensional, tidak bisa menghadirkan ruang publik (public sphere) secara sempurna, maka media baru (internet salah satunya) menjamin itu. Ada semangat leberalisme yang begitu kuat, sekat – sekat kasta dan strata menjadi begitu cair dan lepas. Faktor – faktor ini menyebabkan dari situs jejaring sosial merupakan wahana yang mungkin dalam berbagai upaya pergerakan sosial pula. Apakah philanthropic sifatnya, sampai politik revolusioner.

Beyond Prediction

Once upon a time in China, there lived an old man along with his wife and his son. Besides his family, he also had a beautiful horse which he loved so much. One day, he lost his horse. He searched anywhere but he did not find it. Even when his neighbours gave a hand to looked for, the horse still could not be found. One of his neighbours felt a pity and said , "What an unlucky day for you. You lost the best horse I've ever seen." "Oooh . You don't have to pity me. I do lose my horse, but it might not be as worst as you think. It might be a good news for me.", the old man replied wisely.

A few days after that incident, he heard voice outside his house when he slept. The voice which he already got used to hear before, voice of his beloved horse. He opened the door and saw his horse was back. More surprisingly, his horse brought along 2 wild-horse which were more beautiful than itself. He was very grateful. Nevertheless, he was not overjoyed. Thus when his neighbours congratulated him for getting back his horse plus 2 beautiful horses in addition effortlessly, he said, "I am grateful that I got back my horse and 2 new horses effortlessly. However, I can't be overjoyed. Since I can't predict the future, it is possible that this good news will turn into bad news."

What he said was true, his only son got accident when he rode his new horse. He slipped and fallen down. Because of it, the son broke his legs and could not walk properly for a few days. The respond from his neighbours was obvious, they responded with a pity look and said that it would be better for him if he released the horses before. The old man stayed calm and said to his son, "They may think that this is a bad news for us, but as I said before, it might be a good news someday."

One year after the accident, king of his kingdom commanded every youngster to join military in order to protect the kingdom from invasion. While every youngster in his village went with their parents crying, the old man smiled with his son beside him. Because of his injury, the king gave an excuse not to join military.

Even I have read only twice, I could not forget moral of the story. It said that

Not every bad news is a disaster whereas not every good news is a gift. Good news today could be tomorrow's bad news and yesterday's bad news could be good news for today.

According to news I received a few days ago about my father's illness, I don't have to think that it is a calamity. Instead I could think that there must be a good news beyond my prediction. Besides, I have Allah and He know the best for His believer. Thus my praying should be enough

And for those who fear Allah, He (ever) prepares a way out. And He provides for him from (sources) he never could imagine. And if anyone puts his trust in Allah, sufficient is (Allah) for him. For Allah will surely accomplish His purpose: verily, for all things has Allah appointed a due proportion. (Q.S. Ath-Thalaq : 2-3)

----

[+] get well soon, abi. I still ain't close to fulfil my duties as a child.

Progress

I was taught that the way of progress is neither swift nor easy
--Marie Curie

When I was in elementary school, I used to think that I could not change the fact that I was not good at any sports. The fact that makes me feel I was unbalanced. And yeah, I felt insecure in many times. When I saw my friends swam, I was envy with them. When I saw my friends were good at football, I was staring at them.

But my way of thinking was changed when I graduated from senior high school. During my first year in university, I still thought the same. I thought that I was not able to do any sports. It changed when my friends asked me to join them swimming. I said that I could not. But they resisted and I felt it would be all right since I won't get drowned. Since then, I started to learn swimming. Almost every week I planned to swim at least once. With my friend's instruction, I could do it little by little. Of course the progress could not be seen in 2-3 times after I learnt. Instead I felt the impact after 3-4 months doing practice.

Since then, I got back my self-confidence. I could do anything I wished to. However, as I quoted above, the way of progress is neither swift nor easy. And I believe that as long as I struggle on something, I could master it. Thus if you are currently struggling on something, keep in your mind that the progress won't be either swift or easy. Do not give up after what you have done so far. It might be the next step which brings you to success. Just cheer it up as always .

Ain't A Coward



go get a hit but make sure you are not coward by pointing to anyone and saying that you are what you are now because of him, her, or anybody .
Take what happens to you as your responsibility .

Quotes of the Day

Recent Comments

Followers

Shev's bookshelf: read

OutliersKetika Cinta Bertasbih5 cmLaskar PelangiSang PemimpiEdensor

More of Shev's books »
Shev Save's  book recommendations, reviews, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists